Tampilkan postingan dengan label palestina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label palestina. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 28 April 2012
"ane kuat akh..."
entahlah,
mungkin akan selalu dicap begitu,
molor saja waktunya,
entah dimana kedisiplinan,
dan sejak aku tau kalau molor itu pemakluman,
aku optimalkan waktu ketelatanku,
ini malam kedua mabit gabungan,
untuk merapatkan barisan sesama aktivis dakwah,
bagiku....sarana mabit sebagai carger keimanan,
berhimpun dengan ratusan orang sholeh dan berpadu dalam khusuk,
aku harus mengerjakan beebrapa tugas,
untuk kemudian melanjutkan aktivitas menghadiri malam bina iman itu,
hingga waktu agak malam,
bersama kawan seperjuangan,
kami akhirnya meluncur ke tempat berlangsungnya acara, El-Nusa,
ditengah perjalanan kami berbelok,
mengajak bersama seorang pemuda lain,
saat kami masuk ke ruangan sempit ber-AC itu,
dia terlihat sedang berbaring,
Innalillah...
sekujur tubuhnya memar memerah,
aku tau pasti pasti perih dan ngilu sedang dirasakannya,
sebelum shalat jum'at,
dia ada urusan untuk kuliahnya,
karena banyaknya urusan, dia harus mengejar sebelum jum'at sampai ke masjid dimana dia berkhidmat,
mengejar tanggungjawab untuk bisa diselesaikan semua,
dan diperjlanan menuju masjidnya itulah kecelakaan terjadi,
motornya tertabrak di sebuah belokan sempit,
bagian depan hancur,
dia terperosok ke selokan,
kedua lengan memear dan lecet,
darah mengalir di beberapa bagian tubuh,
dan sore itu,
aku saksikan dia sedang menikmati istirahatnya,
karena jum'at siang dia harus menyimpan rasa sakit dan mengerjakan seluruh kewajibannya,
memasang sound dan menggelar beberapa karpet untuk jum'atan,
dan malam itu kawan,
ajakan kami padanya untuk ikut mabit berubah menjadi simpati,
beberap menit kami menemaninya,
tapi inilah pejuang,
dia bahkan tak menghindarkan apa yang dialaminya,
"yuk akh berangkat..."
dengan semangat dia tetap ingin datang ke mabit itu,
dan aku menyaksikan,
dengan motor yang rusak itu dia masih bisa melaju cepat menuju tempat mabit,
dan bergabung dengan ratusan pemuda lain membina iman,
dalam kesyahduan,
dalam tangir di rakaat panjang,
dalam syahdu tilawah berjam-jam,
dan dalam kantuk mendengar tausiyah,
dia tetap pejuang,
seolah sakit itu hanya tambahan pahala,
hanya makin menyemangatinya,
seolah memang itu belum apa-apa,
dibanding luka lara pemuda palestina,
"ane kuat akh"
demikian pernyataannya,
dia tetap tangguh dalam segala daya,
dia tetap kokh dengan semangatnya,
"ane kuat akh.."
sebuah refleksi kekuatan azzam,
sebuah ekspresi keimanan,
bahwa tak ada alasan untuk melemah,
"ane kuat akh.."
pagi ini kubagi untuk semua,
mendung di ibukota,
09.38 WIB, 29 April 2012
Mokhamad Kusnan
Minggu, 26 Februari 2012
seri heroik 3: belum setetespun darah, yang sudah kita persembahkan
seri heroik anak smp 3:
sore itu aku agak telat,
setelah mengurus urusan pribdadi dan keluarga,
aku langsung menuju sekolah para mujahid itu,
sesampai disana beberapa anak terlihat sedang bermain basket,
yang putri terlihat lari kejar-kejaran,
beberapa terlihat mengangkat bangku dan meja menyiapkan kelas untuk menginap,
"kak kita menginap di sekolah kan?"
demikian ucap salah satu anak kecil kelas 7 padaku
"iya, kita menginap di sekolah, tapi kita ke UI dulu ya"
jawabku,
seusai semua menyiapkan tempat dan perbekalan,
sore itu kami melangkahkan kaki meninggalkan SMP 182 menuju stasiun terdekat,
seluruh peserta dengan tas ransel beratnya,
seluruh perbekalan yang terdiri dari sebotol air mineral 1,5 liter,
baju ganti dan makanan, alat mandi, keperluan pribadi,
dan bekal makan malam,
tiap anak mungkin membawa beban rata-rata 5 kilo.
"kak, katanya LDKnya di sekolah? kok kita ke UI?"
sang anak kelas 7 bertanya,
"iya, di UI ada materi menembus batas dulu. nanti selesai baru ke sekolah, menginap di sekolah"
jawabku.
dalam desak,
sempit berhimpit,
sumuk, gerah, panas,
deraian keringat mengalir deras,
sekitar 30 menit kami menikmati "sauna gratis" di kereta listrik,
membawa kami dari jakarta sampai depok,
sampai "yellow campus".
"kak, dua anak ketinggalan,
tadi pas mau naik gabisa, terlalu penuh sesak. gimana nih?"
demikian salah satu anak putri gelisah.
dua peserta putri tertinggal,
kondisi penuh sesak kereta tak bisa diterobosnya,
maklum akupun tak bisa banyak membantu,
saat naik kami terpisah di beberapa pintu,
yang besertaku berhasil,
yang lain belum berhasil, dua anak tertinggal
"katakan ke mereka naik kereta selanjutnya,
harus berani, nanti ditunggu di sini ama alumni lain" kataku
hujan lebat mengguyur "yellow campus",
membuat kami sedikit kuyuup,
"kak, kita jalan atau naik bus lagi?" tanya seorang anak.
"kita naik bikun aja, bus kuning anak UI. hujan terlalu lebat"
kamipun naik bikun,
"kak, ongkosnya berapa? biar kita kumpulkan?"
peserta putri menanyakan.
"ongkosnya ucapan terimakasih, nanti pas mau turun bilang terimakasih ke sopir, ongkosnya itu"
mereka agak terbengong saat kukatakan seperti itu,
beberapa penumpang lain yang mungkin mahasiswa UI memperhatikan kami,
sekitar 20an anak-anak SMP kelas 1 sampai 3 dengan ransel berat, baju setengah kuyup,
dan ikat kepala hijau memenuhi bus kuning itu. dialog demi dialog kami didengarkan mereka.
"kak kita menginap di UI?. kak nanti kita gabung mahasiswa UI? kak di UI ngapain aja nanti?"
bikun berhenti di depan masjid UI,
hujan masih turun lebat,
puluhan anak-anak mungil itu keluar serentak,
"terimakasih pak sopir...." demikian serentak kami ucapkan,
seluruh penumpang lain memperhatikan kami,
raut binar wajah sopir terlihat,
senyumnya makin lebar,
beliau senang telah membantu kami,
"hati-hati ya..." demikian kudengar terucap dari mulut sopir itu,
mungkin hanya untuk kami...20 anak-anak ini..
juga di masjid UI,
hampir seluruh orang yang ada disana memperhatikan kami,
celotehan demi celotehan anak-anak itu membuat ramai,
ransel besar dan ikat kepala hijau,
ah...mungkin mereka berpikir banyak hal "anak-anak hammas nih..."
"baik, agenda pertama kita adalah makan malam,tausiyah,
setelah itu semua harus tilawah minimal satu jus. baru kita ke sekolah lagi"
demikian acara kami seusai shalat magrib berjamaah,
ada sedikit kekagetan pada peserta, "TILAWAH SATU JUS"
ya...
seluruh peserta harus tilawah satu jus,
syarat mutlah mengikuti LDK terpadu itu,
rangkain acara demi acara,
saat itu seolah kami menguasai masjid UI,
sekitar 30an total peserta dan panitia,
smeuanya masih SMP, beberapa alumni yang sekarang kelas 1 SMA.
membuat lingkaran besar, tilawah kami seperti dengungan lebah,
menguasai dan menembus setiap sudut masjid itu,
mengalahkan bunyi rintikan hujan,
suara anak-anak itu menguasai masjid UI.
alhamdulillah,
sekitar jam 21.00 kami tuntas membaca 1 jus.
semuanya, tanpa kecuali,
dari yang bacanya cepat juga yang lambat,
bahkan yang terbata,
tak ada kompromi, semua harus melahap 1 jus.
dan...30 anak itu menghatamkannya,
di masjid Ukhuwah Islamiyah itu.
"kak, udah malam gini emang ada kereta? nanti kita naik apa pulangnya?"
salah satu perserta bertanya.
"kereta udah gak ada, kita pulang jalan kaki"
demikian ucapku.
banyak yang tidak setuju,
banyak yang menyesal,
mengeluh,
meminta pulang dengan taksi,
dan sebagainya,
aku kumpulkan mereka di depan masjid itu,
melingkar rapat,
dengan ransel berat dan baju kuyup,
dengan ikat kepala hijau,
aku menceritakan perjuangan para sahabat,
perjuangan Rasulullah hijrah,
perjuangan Ali hijrah,
perjuangan ratusan sampai ribuan anak-anak belia palestina,
"mereka tidak pernah mengeluh, mereka berani, mereka percaya, dan mereka kuat. dan Allah memberikan mereka pertolongan..meski akhir cerita mereka adalah kematian. tapi kematian itulah kemenangan. perjumpaan dengan Rabbnya. syahid cita-cita tertinggi mereka" demikian orasiku.
"Allohuakbar...Allohuakbar..Allohuakbar.."
lantang takbir mereka teriakkan,
masjid UI menajdi saksi,
30 anak-anak itu kian bersemangat,
siap menempuh berpuluh kilo,
menembus malam dan rintikan hujan,
dari depok sampai pancoran,
malam itu masjid UI bergetar,
30 anak-anak kecil menggetarkan,
bahkan menggetarkan hati para mahasiswa yang seringkali ketakutan,
membakar semangat pejuang jaket kuning,
menggetarkan seluruh aktivis dakwah yang masih tersisa disana,
seluruh mata tertuju pada kami,
30 anak-anak itu,
jam menunjukkan pukul 21.30,
kuprediksikan perjalanan kami memakan waktu 5-6 jam.
terlebih sebagian besar peserta adalah anak putri,
dengan bawaan ransel berat mereka,
dengan sendal wanitanya,
dengan rok panjangnya,
kami harus memahami kondisi,
tapi perjalanan harus dilalui,
dan demikian,
langkah demi langkah,
meninggalakn masjid UI,
menyusuri jalan ke gerbatama,
melanjutkan ke Universitas Pancasila,
disana ada pos pertama,
mereka akan digembleng dengan serangkain acara,
tantangan demi tantangan,
malam kian larut,
perjalanan masih harus diselesaikan,
pos kedua di kantor pusat parta PDIP,
disana kami diizinkan masuk,
dan memakain pelataran untuk acara kami,
sampai para satpam agak curiga saat kami berulangkali meneriakkan takbir,
keluhan demi keluhan,
kadang harus kukumpulkan untuk menyemangati,
sejanak istirahat di pelataran masjid,
atau di bawah jembatan, atau di halte,
untuk skedar meluruskan kaki,
meneguk dikit demi sedikit air minum,
atau mengisi perut dengan makanan ringan,
keluhan demi keluhan,
terus kutepis dengan semangat,
menceritakan heroiknya pejuang belia palestina,
"belum setetspun darah, yang sudah kita persembahkan...untuk islam ini"
demikian diakhir cerita heroikku menyemangati mereka.
mereka kembali bersemangat, melanjutkan perjalanan.
pergantian hari,
kami nikmati dalam perjalanan berat,
"ini belum apa-apa dik, perjuangan anak-anak belia Palestina berakhir syahid, nyawa yang mereka persembahkan. tapi tak ada sedikitpun keluhan" demikian aku terus menyemangati.
perjalanan demi perjalanan,
keluhan demi keluhan,
tertatih,
terseok,
alhamdulillah akhirnya kami berhasil,
sekitar 5 jam perjalanan,
kami berhasil menembus batas,
melakukan yang mungkin sering dikeluhkan,
bahkan dikatakan tak mungkin,
seluruhnya tepar,
tergeletak di ruang kelas yang sudah disiapkan,
terpisah antara putra dan putri,
30an anak mungil itu,
telah menembus batas,
menyusuri jalan perjuangan anak palestina,
meski sebenarnya belum seberapa.
==
sehari kemudian,
aha...lagi-lagi,
aku diintrograsi,
tentang acara LDK itu,
yang dilakukan di sekolah,
menjadi perjalanan dari UI sampai sekolah,
pihak sekolah sangat khawatir,
kalau-kalau anak-anak itu mengadukan ke orang tua,
hingga saat aku diintrograsi di ruangan kepala sekolah,
salah satu wali murid datang,
"bisa saya ketemu kak Kusnan pembina ROHIS itu?"
demikian sang ibu bertanya pada petugas,
langkah ibu itu mendekati kami, menujuku yang sedang diintrograsi,
raut muka kepala sekolah memerah,
takut kalau-kalau sang ibu memarahi,
dan aku pasti akan menjadi bulan-bulanan sekolah
"Assalamualaikum...ini ya kak Kusnan itu?"
demikian sang ibu membuka pervcakapan,
raut mukanya dipenuhi senyum berbinar,
aku aneh melihatnya.
"terimaksih ya kak Kusnan...anak saya seneng banget tuh,
katanya sudah menoreh prestasi,
jalan kaki puluhan kilo ditengah malam,
yang katanya ngeluh mulu, tapi akhirnya bangga"
demikian ucap sang ibu.
"kemarin sore pulang-pulang minta dipeluk,
katanya janji mau jadi anak sholehah.
katanya janji mau nurut ama orang tua.
katanya janji gakmau ngeluh lagi,
sampai katanya ingin seperti anak-anak Palestina.
yang gagah berani meski masih kecil"
tambah sang ibu.
aku dan kepa sekolah hanya bisa terbengong,
saling berpandangan,
seolah tak percaya apa yang dikatakan sang ibu
"saya mendukung terus ROHIS 182,
terus maju yah...terus didik anak-anak jadi pemberani"
ucap sang ibu sebelum meninggalkan kami,
kepala sekolah masih terdiam,
sampai akhirnya aku meminta izin,
ada urusan lain,
dan diizinkan,
dan ROHIS diizinkan terus, membina generasi..
belum setettespun darah, yang sudah kita persembahkan,
kalau jalan kaki puluhan kilo mah gaada apa-apanya,
kalau tak tidur semalam saja mah masih cemen,
belum setetespun darah, yang sudah kita persembahkan,
lalu kenapa kita masih banyak mengeluh?
lalu kenapa kita masih segan dan ogah-ogahan,
belum setetspun darah, yang sudah kita persembahkan,
namun anak-anak belia Palestina bahkan telah memberikan nyawanya,
sedang kita belum berbuat apa-apa,
hanya amalan kecil yang sering kita banggakan,
lalu bagaimana kita akan menghadapNya?
apa yang akan kita banggakan untukNya?
belum setetespun darah, yang sudah kita persembahkan,
pagi syahdu seusai setoran hafalan yang tak seberapa,
sementara di Palestiuna sana ribuan anak belia sudah melahap 30 jus hafalan.
ibukota yang mendung,
06:46 WIB
27 Februari 2012
Mokhamad Kusnan
sore itu aku agak telat,
setelah mengurus urusan pribdadi dan keluarga,
aku langsung menuju sekolah para mujahid itu,
sesampai disana beberapa anak terlihat sedang bermain basket,
yang putri terlihat lari kejar-kejaran,
beberapa terlihat mengangkat bangku dan meja menyiapkan kelas untuk menginap,
"kak kita menginap di sekolah kan?"
demikian ucap salah satu anak kecil kelas 7 padaku
"iya, kita menginap di sekolah, tapi kita ke UI dulu ya"
jawabku,
seusai semua menyiapkan tempat dan perbekalan,
sore itu kami melangkahkan kaki meninggalkan SMP 182 menuju stasiun terdekat,
seluruh peserta dengan tas ransel beratnya,
seluruh perbekalan yang terdiri dari sebotol air mineral 1,5 liter,
baju ganti dan makanan, alat mandi, keperluan pribadi,
dan bekal makan malam,
tiap anak mungkin membawa beban rata-rata 5 kilo.
"kak, katanya LDKnya di sekolah? kok kita ke UI?"
sang anak kelas 7 bertanya,
"iya, di UI ada materi menembus batas dulu. nanti selesai baru ke sekolah, menginap di sekolah"
jawabku.
dalam desak,
sempit berhimpit,
sumuk, gerah, panas,
deraian keringat mengalir deras,
sekitar 30 menit kami menikmati "sauna gratis" di kereta listrik,
membawa kami dari jakarta sampai depok,
sampai "yellow campus".
"kak, dua anak ketinggalan,
tadi pas mau naik gabisa, terlalu penuh sesak. gimana nih?"
demikian salah satu anak putri gelisah.
dua peserta putri tertinggal,
kondisi penuh sesak kereta tak bisa diterobosnya,
maklum akupun tak bisa banyak membantu,
saat naik kami terpisah di beberapa pintu,
yang besertaku berhasil,
yang lain belum berhasil, dua anak tertinggal
"katakan ke mereka naik kereta selanjutnya,
harus berani, nanti ditunggu di sini ama alumni lain" kataku
hujan lebat mengguyur "yellow campus",
membuat kami sedikit kuyuup,
"kak, kita jalan atau naik bus lagi?" tanya seorang anak.
"kita naik bikun aja, bus kuning anak UI. hujan terlalu lebat"
kamipun naik bikun,
"kak, ongkosnya berapa? biar kita kumpulkan?"
peserta putri menanyakan.
"ongkosnya ucapan terimakasih, nanti pas mau turun bilang terimakasih ke sopir, ongkosnya itu"
mereka agak terbengong saat kukatakan seperti itu,
beberapa penumpang lain yang mungkin mahasiswa UI memperhatikan kami,
sekitar 20an anak-anak SMP kelas 1 sampai 3 dengan ransel berat, baju setengah kuyup,
dan ikat kepala hijau memenuhi bus kuning itu. dialog demi dialog kami didengarkan mereka.
"kak kita menginap di UI?. kak nanti kita gabung mahasiswa UI? kak di UI ngapain aja nanti?"
bikun berhenti di depan masjid UI,
hujan masih turun lebat,
puluhan anak-anak mungil itu keluar serentak,
"terimakasih pak sopir...." demikian serentak kami ucapkan,
seluruh penumpang lain memperhatikan kami,
raut binar wajah sopir terlihat,
senyumnya makin lebar,
beliau senang telah membantu kami,
"hati-hati ya..." demikian kudengar terucap dari mulut sopir itu,
mungkin hanya untuk kami...20 anak-anak ini..
juga di masjid UI,
hampir seluruh orang yang ada disana memperhatikan kami,
celotehan demi celotehan anak-anak itu membuat ramai,
ransel besar dan ikat kepala hijau,
ah...mungkin mereka berpikir banyak hal "anak-anak hammas nih..."
"baik, agenda pertama kita adalah makan malam,tausiyah,
setelah itu semua harus tilawah minimal satu jus. baru kita ke sekolah lagi"
demikian acara kami seusai shalat magrib berjamaah,
ada sedikit kekagetan pada peserta, "TILAWAH SATU JUS"
ya...
seluruh peserta harus tilawah satu jus,
syarat mutlah mengikuti LDK terpadu itu,
rangkain acara demi acara,
saat itu seolah kami menguasai masjid UI,
sekitar 30an total peserta dan panitia,
smeuanya masih SMP, beberapa alumni yang sekarang kelas 1 SMA.
membuat lingkaran besar, tilawah kami seperti dengungan lebah,
menguasai dan menembus setiap sudut masjid itu,
mengalahkan bunyi rintikan hujan,
suara anak-anak itu menguasai masjid UI.
alhamdulillah,
sekitar jam 21.00 kami tuntas membaca 1 jus.
semuanya, tanpa kecuali,
dari yang bacanya cepat juga yang lambat,
bahkan yang terbata,
tak ada kompromi, semua harus melahap 1 jus.
dan...30 anak itu menghatamkannya,
di masjid Ukhuwah Islamiyah itu.
"kak, udah malam gini emang ada kereta? nanti kita naik apa pulangnya?"
salah satu perserta bertanya.
"kereta udah gak ada, kita pulang jalan kaki"
demikian ucapku.
banyak yang tidak setuju,
banyak yang menyesal,
mengeluh,
meminta pulang dengan taksi,
dan sebagainya,
aku kumpulkan mereka di depan masjid itu,
melingkar rapat,
dengan ransel berat dan baju kuyup,
dengan ikat kepala hijau,
aku menceritakan perjuangan para sahabat,
perjuangan Rasulullah hijrah,
perjuangan Ali hijrah,
perjuangan ratusan sampai ribuan anak-anak belia palestina,
"mereka tidak pernah mengeluh, mereka berani, mereka percaya, dan mereka kuat. dan Allah memberikan mereka pertolongan..meski akhir cerita mereka adalah kematian. tapi kematian itulah kemenangan. perjumpaan dengan Rabbnya. syahid cita-cita tertinggi mereka" demikian orasiku.
"Allohuakbar...Allohuakbar..Allohuakbar.."
lantang takbir mereka teriakkan,
masjid UI menajdi saksi,
30 anak-anak itu kian bersemangat,
siap menempuh berpuluh kilo,
menembus malam dan rintikan hujan,
dari depok sampai pancoran,
malam itu masjid UI bergetar,
30 anak-anak kecil menggetarkan,
bahkan menggetarkan hati para mahasiswa yang seringkali ketakutan,
membakar semangat pejuang jaket kuning,
menggetarkan seluruh aktivis dakwah yang masih tersisa disana,
seluruh mata tertuju pada kami,
30 anak-anak itu,
jam menunjukkan pukul 21.30,
kuprediksikan perjalanan kami memakan waktu 5-6 jam.
terlebih sebagian besar peserta adalah anak putri,
dengan bawaan ransel berat mereka,
dengan sendal wanitanya,
dengan rok panjangnya,
kami harus memahami kondisi,
tapi perjalanan harus dilalui,
dan demikian,
langkah demi langkah,
meninggalakn masjid UI,
menyusuri jalan ke gerbatama,
melanjutkan ke Universitas Pancasila,
disana ada pos pertama,
mereka akan digembleng dengan serangkain acara,
tantangan demi tantangan,
malam kian larut,
perjalanan masih harus diselesaikan,
pos kedua di kantor pusat parta PDIP,
disana kami diizinkan masuk,
dan memakain pelataran untuk acara kami,
sampai para satpam agak curiga saat kami berulangkali meneriakkan takbir,
keluhan demi keluhan,
kadang harus kukumpulkan untuk menyemangati,
sejanak istirahat di pelataran masjid,
atau di bawah jembatan, atau di halte,
untuk skedar meluruskan kaki,
meneguk dikit demi sedikit air minum,
atau mengisi perut dengan makanan ringan,
keluhan demi keluhan,
terus kutepis dengan semangat,
menceritakan heroiknya pejuang belia palestina,
"belum setetspun darah, yang sudah kita persembahkan...untuk islam ini"
demikian diakhir cerita heroikku menyemangati mereka.
mereka kembali bersemangat, melanjutkan perjalanan.
pergantian hari,
kami nikmati dalam perjalanan berat,
"ini belum apa-apa dik, perjuangan anak-anak belia Palestina berakhir syahid, nyawa yang mereka persembahkan. tapi tak ada sedikitpun keluhan" demikian aku terus menyemangati.
perjalanan demi perjalanan,
keluhan demi keluhan,
tertatih,
terseok,
alhamdulillah akhirnya kami berhasil,
sekitar 5 jam perjalanan,
kami berhasil menembus batas,
melakukan yang mungkin sering dikeluhkan,
bahkan dikatakan tak mungkin,
seluruhnya tepar,
tergeletak di ruang kelas yang sudah disiapkan,
terpisah antara putra dan putri,
30an anak mungil itu,
telah menembus batas,
menyusuri jalan perjuangan anak palestina,
meski sebenarnya belum seberapa.
==
sehari kemudian,
aha...lagi-lagi,
aku diintrograsi,
tentang acara LDK itu,
yang dilakukan di sekolah,
menjadi perjalanan dari UI sampai sekolah,
pihak sekolah sangat khawatir,
kalau-kalau anak-anak itu mengadukan ke orang tua,
hingga saat aku diintrograsi di ruangan kepala sekolah,
salah satu wali murid datang,
"bisa saya ketemu kak Kusnan pembina ROHIS itu?"
demikian sang ibu bertanya pada petugas,
langkah ibu itu mendekati kami, menujuku yang sedang diintrograsi,
raut muka kepala sekolah memerah,
takut kalau-kalau sang ibu memarahi,
dan aku pasti akan menjadi bulan-bulanan sekolah
"Assalamualaikum...ini ya kak Kusnan itu?"
demikian sang ibu membuka pervcakapan,
raut mukanya dipenuhi senyum berbinar,
aku aneh melihatnya.
"terimaksih ya kak Kusnan...anak saya seneng banget tuh,
katanya sudah menoreh prestasi,
jalan kaki puluhan kilo ditengah malam,
yang katanya ngeluh mulu, tapi akhirnya bangga"
demikian ucap sang ibu.
"kemarin sore pulang-pulang minta dipeluk,
katanya janji mau jadi anak sholehah.
katanya janji mau nurut ama orang tua.
katanya janji gakmau ngeluh lagi,
sampai katanya ingin seperti anak-anak Palestina.
yang gagah berani meski masih kecil"
tambah sang ibu.
aku dan kepa sekolah hanya bisa terbengong,
saling berpandangan,
seolah tak percaya apa yang dikatakan sang ibu
"saya mendukung terus ROHIS 182,
terus maju yah...terus didik anak-anak jadi pemberani"
ucap sang ibu sebelum meninggalkan kami,
kepala sekolah masih terdiam,
sampai akhirnya aku meminta izin,
ada urusan lain,
dan diizinkan,
dan ROHIS diizinkan terus, membina generasi..
belum setettespun darah, yang sudah kita persembahkan,
kalau jalan kaki puluhan kilo mah gaada apa-apanya,
kalau tak tidur semalam saja mah masih cemen,
belum setetespun darah, yang sudah kita persembahkan,
lalu kenapa kita masih banyak mengeluh?
lalu kenapa kita masih segan dan ogah-ogahan,
belum setetspun darah, yang sudah kita persembahkan,
namun anak-anak belia Palestina bahkan telah memberikan nyawanya,
sedang kita belum berbuat apa-apa,
hanya amalan kecil yang sering kita banggakan,
lalu bagaimana kita akan menghadapNya?
apa yang akan kita banggakan untukNya?
belum setetespun darah, yang sudah kita persembahkan,
pagi syahdu seusai setoran hafalan yang tak seberapa,
sementara di Palestiuna sana ribuan anak belia sudah melahap 30 jus hafalan.
ibukota yang mendung,
06:46 WIB
27 Februari 2012
Mokhamad Kusnan
Jumat, 24 Februari 2012
seri heroik 2: karena cinta, kami bela Palestina
seri heroik anak smp 2:
tepat jam 11 aku sampai di sekolah itu,
dengan sedikit berlari menuju mushola,
beberapa anak-anak binaanku sudah lama menunggu
"kak kita berangkat sekarang?"
salah satu anak bertanya,
ada sekitar 6 anak kelas 7,
beberapa kelas 8,
"nanti, tunggu kelas 9 selesai ujian"
hari itu tanggal 1,
1 juni 2010,
semalam sebelumnya aku sms salah satu anak itu,
"assalamualaikum...
jika engkau cinta, palestina meminta
besok kita tunjukkan cinta pada pelstina,
aja jalan santai di HI,
pulang sekolah kumpul di mushola,
bawa ongkos secukupnya,
siapkan juga infaq yang banyak, ada penggalangan dana.
minum yang banyak, bakal terik disana"
lima belas menit kemudian kami sudah berkumpul,
di depan sekolah,
"baik sebelum berangkat kita berdoa,
semoga Allah mencatat sebagai amal kebaikan dan dapat membantu Palestina"
sekitar 12 anak,
mulai dari kelas 1 sampai 3 SMP,
masih belia,
dengan seragam putih brunya.
"kak, cepat pergi,
tadi guru ada yang lapor,
katanya anak ROHIS mau diajak demo ama kak Kusnan"
salah satu anak setengah teriak dengan raut ketakutan mengingatkan kami,
"yaudah...kalian di depan,
lari saja, belok sedikit ke kiri,
jadi guru gak lihat,
bawa bendera ini"
demikian ucapku pada anak-anak itu,
sekitar 5 anak putra berlari,
sementara yang putri berjalan cepat,
berbaur dengan ratusan anak-anak lain yang juga pulang sekolah,
aku masih menunggu satu anak,
terlihat dua guru setengah berlari mengejarku,
aku diam, menunggu, dan dengan segala kesiapan akan menjelaskan,
pokoknya aksi harus jadi,
anak-anak harus terlibat,
percuma aku membina mereka,
kalo turun ke jalan saja mereka gamau diajak.
"kusnan katanya kamu ajak anak ROHIS demo?"
salah satu guru dengan lantang menanyaiku
"demo? demo apaan bu?. ah enggak kok bu"
jawabku.
"nah, tadi rohis ngumpul?
katanya mau diajak kamu demo?"
tambahnya
"owalah, mau silaturahim bu, dengan kakak-kakak yang pernah kesini,
sekaligus mengekpresikan persaudaraan bu, bukti cinta"
sang ibu guru raut mukanya berubah,
dari yang tadinya ingin marah menjadi sedikit lunak
"ah kamu bisa aja.
pokoknya ibu gamau anak-anak kamu ajak demo. titik"
demikian perintahnya,
"baik bu, kalo menunjukkan bukti cinta pada saudaranya boleh kan bu?
silaturahim dengan kakak-kakak yang pernah kesini boleh kan bu?"
12.10
kami sampai di bundaran HI,
sementara bundaran Hi dipenuhi ratusan mahaiswa yang khusuk mendirikan shalat,
anak-anak yang kuajakpun segera mengambil air wudhu di air mancur itu,
dan shalat setelah usai mahasiswa-mahaiswa itu,
13 anak belia,
diantara ratusan mahasiswi dan mahasiswa,
menembus panas jakarta,
menerjang debu metropolitan,
meneriakkan lantang
"Palestina..Palestina..Palestina..Merdeka"
"Allohuakbar...Allohuakbar...Allohuakbar..."
perjalanan dari HI menuju istana negara,
didepan istana para pemimpin kabilah orasi,
dan tak kalah,
anak SMP itupun ikut orasi,
pelajar kelas 7 SMP,
dengan seragam putih birunya,
berdiri diatas mobil pick-up,
mneriakan takbis dan palestina,
diantara ratusan mahasiswa dan mahasiswi di bawahnya,
yang menyambut dengan lantang teriakkan talkbir dan merdeka...
==
sehari berikutnya,
aku diintrograsi,
orang tua murid menyaksikan anaknya sedang orasi di tivi,
dengan ratusan mahaiswa dan mahasiswi,
dia melaporkan ke pihak sekolah,
dan aku....menanggung semua resikonya hari itu.
==
sepekan berikutnya,
suasana di kelas kian heroik,
anak-anak yang waktu aksi Palestina sedikit sedih,
video dan slide show photo kuputar,
13 anak yang turut serta takbir sekerasnya,
berkali-kali,
palestina..Palestina..palestina...MERDEKA...
demikian teriakkan mereka, di kelas...
anak-anak yang ikut ROHIS makin banyak,
sang ibu yang melaporkan anaknya yang sempat masuk tivi sekarang mendukung kami,
pihak sekolah makin percaya, meski masih ada beberapa guru yang tak suka,
dan kami makin cinta, dan makin berani membuktikan rasa cinta, cinta saudara, cinta Palestina,
karena cinta, kami bela Palestina...
serial heroik pejuang dakwah belia,
malam syahdu di ibukota,
diiringi merdu "Pandu Keadilan"
...wahai dikau prajurit dakwah,
semangat tak kenal lelah,
jangan pernah berkata tidak,
bila panggilan jihad tiba...
karena cinta, kami bela Palestina,
bersama tentara Allah kita pasti menang,
kubagi untuk semua,
21:21 WIB
24 februari 2012
Mokhamad Kusnan
tepat jam 11 aku sampai di sekolah itu,
dengan sedikit berlari menuju mushola,
beberapa anak-anak binaanku sudah lama menunggu
"kak kita berangkat sekarang?"
salah satu anak bertanya,
ada sekitar 6 anak kelas 7,
beberapa kelas 8,
"nanti, tunggu kelas 9 selesai ujian"
hari itu tanggal 1,
1 juni 2010,
semalam sebelumnya aku sms salah satu anak itu,
"assalamualaikum...
jika engkau cinta, palestina meminta
besok kita tunjukkan cinta pada pelstina,
aja jalan santai di HI,
pulang sekolah kumpul di mushola,
bawa ongkos secukupnya,
siapkan juga infaq yang banyak, ada penggalangan dana.
minum yang banyak, bakal terik disana"
lima belas menit kemudian kami sudah berkumpul,
di depan sekolah,
"baik sebelum berangkat kita berdoa,
semoga Allah mencatat sebagai amal kebaikan dan dapat membantu Palestina"
sekitar 12 anak,
mulai dari kelas 1 sampai 3 SMP,
masih belia,
dengan seragam putih brunya.
"kak, cepat pergi,
tadi guru ada yang lapor,
katanya anak ROHIS mau diajak demo ama kak Kusnan"
salah satu anak setengah teriak dengan raut ketakutan mengingatkan kami,
"yaudah...kalian di depan,
lari saja, belok sedikit ke kiri,
jadi guru gak lihat,
bawa bendera ini"
demikian ucapku pada anak-anak itu,
sekitar 5 anak putra berlari,
sementara yang putri berjalan cepat,
berbaur dengan ratusan anak-anak lain yang juga pulang sekolah,
aku masih menunggu satu anak,
terlihat dua guru setengah berlari mengejarku,
aku diam, menunggu, dan dengan segala kesiapan akan menjelaskan,
pokoknya aksi harus jadi,
anak-anak harus terlibat,
percuma aku membina mereka,
kalo turun ke jalan saja mereka gamau diajak.
"kusnan katanya kamu ajak anak ROHIS demo?"
salah satu guru dengan lantang menanyaiku
"demo? demo apaan bu?. ah enggak kok bu"
jawabku.
"nah, tadi rohis ngumpul?
katanya mau diajak kamu demo?"
tambahnya
"owalah, mau silaturahim bu, dengan kakak-kakak yang pernah kesini,
sekaligus mengekpresikan persaudaraan bu, bukti cinta"
sang ibu guru raut mukanya berubah,
dari yang tadinya ingin marah menjadi sedikit lunak
"ah kamu bisa aja.
pokoknya ibu gamau anak-anak kamu ajak demo. titik"
demikian perintahnya,
"baik bu, kalo menunjukkan bukti cinta pada saudaranya boleh kan bu?
silaturahim dengan kakak-kakak yang pernah kesini boleh kan bu?"
12.10
kami sampai di bundaran HI,
sementara bundaran Hi dipenuhi ratusan mahaiswa yang khusuk mendirikan shalat,
anak-anak yang kuajakpun segera mengambil air wudhu di air mancur itu,
dan shalat setelah usai mahasiswa-mahaiswa itu,
13 anak belia,
diantara ratusan mahasiswi dan mahasiswa,
menembus panas jakarta,
menerjang debu metropolitan,
meneriakkan lantang
"Palestina..Palestina..Palestina..Merdeka"
"Allohuakbar...Allohuakbar...Allohuakbar..."
perjalanan dari HI menuju istana negara,
didepan istana para pemimpin kabilah orasi,
dan tak kalah,
anak SMP itupun ikut orasi,
pelajar kelas 7 SMP,
dengan seragam putih birunya,
berdiri diatas mobil pick-up,
mneriakan takbis dan palestina,
diantara ratusan mahasiswa dan mahasiswi di bawahnya,
yang menyambut dengan lantang teriakkan talkbir dan merdeka...
==
sehari berikutnya,
aku diintrograsi,
orang tua murid menyaksikan anaknya sedang orasi di tivi,
dengan ratusan mahaiswa dan mahasiswi,
dia melaporkan ke pihak sekolah,
dan aku....menanggung semua resikonya hari itu.
==
sepekan berikutnya,
suasana di kelas kian heroik,
anak-anak yang waktu aksi Palestina sedikit sedih,
video dan slide show photo kuputar,
13 anak yang turut serta takbir sekerasnya,
berkali-kali,
palestina..Palestina..palestina...MERDEKA...
demikian teriakkan mereka, di kelas...
anak-anak yang ikut ROHIS makin banyak,
sang ibu yang melaporkan anaknya yang sempat masuk tivi sekarang mendukung kami,
pihak sekolah makin percaya, meski masih ada beberapa guru yang tak suka,
dan kami makin cinta, dan makin berani membuktikan rasa cinta, cinta saudara, cinta Palestina,
karena cinta, kami bela Palestina...
serial heroik pejuang dakwah belia,
malam syahdu di ibukota,
diiringi merdu "Pandu Keadilan"
...wahai dikau prajurit dakwah,
semangat tak kenal lelah,
jangan pernah berkata tidak,
bila panggilan jihad tiba...
karena cinta, kami bela Palestina,
bersama tentara Allah kita pasti menang,
kubagi untuk semua,
21:21 WIB
24 februari 2012
Mokhamad Kusnan
Langganan:
Postingan (Atom)












