Tampilkan postingan dengan label spirit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label spirit. Tampilkan semua postingan
Jumat, 13 April 2012
winnning spirit
i will look beyond the darkness to the light
i will look beyond the problem to the sollution
i will look beyond the obstacles to the opportunities
i will look beyond the imposibble to the possibilities
when other doubt, i will courage and inspiration
when other quit, i will demonstrate strenght and determination
i cannot do everything, but i can do something
what i can do, i must do
what i must do, i will
Mokhamad Kusnan
00.00 14 APRIL 2012
winning spirit disaat sebagian besar orang terlelap
Kamis, 23 Februari 2012
magnet dan dakwah...
saat waktu SD dulu,
guru pernah mengenalkan tentang magnet, atau sebutan lainnya besi berani.
ya..besi yang berani.
bukan sekedar besi biasa,
tapi besi yang berani,
besi yang bisa menarik besi lain,
dan menempelkannya erat,
cukup kagum saat melihat sang guru memegang magnet tersebut,
benda hitam berat itu,
yang kemudian menarik paku-paku kecil dan menempel padanya, cukup kuat.
magnet kawan,
benda hitam dengan kemampuan luar biasa,
bisa menarik besi,
dan melekatkannya erat
magnet kawan,
dengan salah satu sifatnya,
bisa menginduksi besi lain,
dan kemudian merubahnya memiliki sifat yang sama,
memiliki daya tarik yang kuat,
dan kemudian menjadi sama...besi berani,
dan besi yang telah menjadi magnet tersebut,
akan menarik besi lain,
menempelkan dengan kuat,
menginduksi,
dan menjadikannya magnet,
dan seterusnya besi baru itu,
yang telah terinduksi,
akan memiliki sifat sama,
menarik besi lain,
kemudian menginduksi,
dan menjadikan besi baru berikutnya menjadi magnet,
memiliki sifat yang sama, menarik,,,dan menginduksi,
magnet kawan,
benda hitam yang menarik,
yang telah dipelajari,
dan banyak dimanipulasi,
dimanfaatkan sifatnya,
menariknay itu,
untuk banyak kemanfaataan,
untuk manusia...seperti kita.
kawan,
lantas apa hubungannya dengan dakwah?
magnet kawan,
seperti magnet,
maka demikian sang aktivis dakwah,
dia harus memiliki kekuatan,
kekuatan untuk menarik,
lalu menginduksi,
membuat besi memiliki kemampuan sama...menarik,
magnet kawan,
semakin kuat daya tariknya,
maka kemampuan menginduksinya juga akan kian kuat,
dan akan menghasilkan besi berani yang kuat pula,
kawan,
ada sebuah dialog menarik,
suatu hari dialog ini terjadi ketika aku bertemu dua pemuda,
keduanya adalah aktivis dakwah,
keduanya adalah ustad,
keduanya memiliki daya tarik dan kemampuan menginduksi,
keduanya magnet,
"akhi...ane kok merasa aneh dalam tarbiyak saat ini ya?"
demikian salah satu dari mereka memulai perbincangan
"dulu saat ane seusia binaan, halaqoh itu seperti sesuatu yang tak boleh hilang,
pertemuan pekanan itu sangat mahal,
ane sangat merindukan dan mengharapkan,
bahkan akhi...yang terpikir adalah pertemuan demi pertemuan pekan ke pekan"
tambahnya,
"ane inget banget saat ane udah ngumpul dengan teman-teman,
sambil menunggu murobbi datang, kami asyik bertausiyah,
atau setor hafalan dan memperbaiki bacaan,
tak ada diskusi politik atau canda tak bermakna,
paling gurauan keilmuan yang kadang membuat senyum lebar disana-sini,
namun kami fokus pada tholabul ilmi"
demikian ceritanya
"ane inget saat ada yang telat datang,
karena menunggu hujan reda,
semnetara yang lain menerjang hujan,
dan sampai dalam keadaan kuyup,
lalu dengan sadar sahabat yang telat datang itu meminta diguyur air,
haha...dan kami semua kuyup"
"bahkan ane inget sekali,
saat salah satu dari kami kehilangan dompet,
dan hilang pula uang di dalamnya,
padahal ada uang biaya SPP untuk dua bulan,
lalu kami patungan untuk menggantinya"
"ane juga ingat,
saat kami harus menginap di salah satu sahabat,
hanya karena pagi buta harus bersiap berangkat,
kami tak ingin ketinggalan mengikuti aksi peduli palestina itu"
"namun akhi...
seolah sekarang tarbiyah itu memeudar,
binaan ane tak semilitan waktu kita,
mereka tak sepenuh hati,
sangat beda dari kita dulu.
kini ada pelemahan"
demikian cerita demi cerita keluar dai mulutnya,
refleksi atas tarbiyah kini,
hingga ada sebuah pernyataan yang menggelitik,
seolah menampar semua,
"dulu murobbi kita punya kapasistas tinggi,
hasil binaannyapun hebat.
sekarang para murobbi kapasitas melemah,
hasil binaanpun kian lemah"
kawan,
sadar atau tidak itu kenyataan,
kini ada pelemahan,
kawan,
sperti magnet tadi,
saat magnet memiliki kekuatan penuh dan dasyat,
maka daya tariknya juga dasyat,
dan daya induksinya juga dasyat,
sehingga melahirkan kader dasyat.
kawan,
mari belajar dari magnet,
untuk menjadi magnet kualitas tinggi,
magnet yang memiliki kekuatan besar,
untuk kemudian memiliki kemampuan menarik besar,
dan kemudian njuga menginduksi besar,
kawan,
ada dua cara agar kita bisa menjadi magnet hebat,
yang memiliki kemampuan menarik dan menginduksi hebat juga,
pertama,
kita harus menjadi magnet yang hebat,
memiliki sifat dasar yang hebat,
caranya dengan meminta kekuatan itu pada sumber kekuatan,
dialah Allah Rabb kita,
kawan,
seorang aktivis hendaklah demikian,
menjaga hubungan seeratnya dengan Allah,
agar Dia memberikan kita kekuatan yang penuh,
kekuatan dasyat untuk menarik dan menginduksi,
kawan,
ada sebuah analogi,
bahwa dakwah seperti aliran air,
aliran air diatas tumpukan piramida gelas,
saat air mengalir ke gelas paling atas, maka gelas akan luber dan mengisi penuh gelas di bawahnya,
dan seterusnya ke bawah,
kawan,
bahkan pernah dikatakan,
oleh seorang ulama,
bahwa ciri-ciri keimanan kita tinggi,
dan kapasitas dakwah kita kuat,
yakni saat orang melihat kita, orang itu ingat Allah dan ibadah.
keimanannya hidup,
keimanannya memancar.
kawan,
untuk menjadi magnet hebat kita harus perkuat muroqobatulloh,
pereerat hubungan dengan Allah,
perkokoh amalan wajib, perbanyak amalan sunnah,
kawan,
menjadi magnet juga terkait kapasitas,
terkait tsaqofah kita,
banyaknya jumlah halaman tilawah kita,
banyaknya hafalan qur'an dan hadist kita,
banyaknya pemahaman dan wawasan keislaman kita,
kawan,
yang kedua,
jika kita belum menjadi magnet,
maka kita harus menginduksi diri,
menempel pada magnet kuat,
lalau menyerap kemampuan menariknya,
menyerap kemampuan magnetisnya,
kawan,
dalam hal induksi magnet,
semakin besar jarak antara magnet dan benda yang diinduksi,
akan semakin lemah kekuatan menginduksi,
demikian juga dakwah,
semakin jauh kita dari Alloh,
semakin lemah punla kekuatan ruhiyah kita,
juga semkin jauh kita dari sahabat yang posistif dan orang shaleh,
akan semakin lemah kita untuk mewarisi sifat mereka,
magnet dan dakwah,
semoga kita bisa banyak belajar darinya,
semoga kita bisa perdekat jarang dengan Allah,
semoga kita bisa menjaga hubungan dekat dengan orang-orang shalaeh,
untuk kemudian menginduksi diri,
melejit lebih tinggi,
memiliki kapasitas lebih pantas.
untuk kemudian menginduksi yang lain,
menarik besi-besi dan merubahnya bersifat magnet,
yang akan menarik lagi,
dan lagi, dan lagi...
dan akan makin banyak magnet,
yang menarik pada kebaikan,
dan mewariskan sifat kebaikan,
pada generasi negeri...
kawan,
magnet dan dakwah,
semoga kita mau belajar darinya,
magnet,
juga berlaku untuk pemimpin,
dai tak hanya menarik pengikut,
tapi menginduksi pengikut menjadi sepertinya,
memimpin untuk mengupgrade,
mendublikasi diri,
magnet dan dakwah,
terinspirasi dari taujih pak Rahadi,
di tasyakuran 20 februaru lalu,
di sekretariat YOUTHCARE.
magnet dan dakwah,
kubagi sekarang,
di malam mencekam,
sambil menyiapkan makalah untuk esok mengisi,
00.44 wib, 24 Februari 2012
Mokhamad Kusnan
Selasa, 21 Februari 2012
bangku dan subuh,
dua kata diatas yang menginspirasi pagi ini,
subuh tadi,
di masjid komplek rumahku,
setelah sekian lama aku tak ke masjid itu,
bukan karena tak terbangun,
namun demi visi aku lebih sering tidur di tempat lain,
kadang hanya sekedar di sekretariat sederhana YOUTHCARE,
kadang di tempat usaha,
atau kadang sering juga diluar kota,
masjid komplek rumahku,di subuh tadi menjadi saksi,bahwa benar saja seperti hadist Rasulullah;
Seandainya mereka mengetahui apa yang terkandung dalam shalat ‘atamah (yakni shalat isya’) dan subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.(HR. Bukhari, Ahmad)
dan subuh tadi,
di masjid komplek rumahku,
ada seorang kakek,
dengan tertatih ke masjid,
dengan bangkunya,
diantarkan mungkin oleh anaknya,
dan beliau sangat lemah,
demikian saat kulihat beliau turun dari bangkunya,
tertatih menaiki tangga,
dan mencari shaf terdepan,
paling depan kawan,
paling pagi,
sebelum yang lain,
bahkan kusaksikan,
sebelum marbot-marbot masjid naik ke lantai atas,
kakek tua,
duduk diatas karpet shalat,
di belakang imam,
pas di sampingku,
bahkan saat membaca surat pendek,
saat shalat sunnah,
kusaksikan bibirnya bergetar,
ah...seolah getaran karena kondisinya,
tapi beliau kuat kawan...kuat semangat dan tekad,
kuat iman untuk bahkan merangkak,
bangku dan subuh,
ketika semangat meraih pahala terbaik,
semangat berbuat terbaik,
semangat mengoptimalkan waktu,
semangat meraih kebaikan,
terlebih...semangat menjumpai kekasih,
mengalahkan seluruh kelemahan,
bahkan fisik yang renta
bangku dan subuh,
kulihat cinta yang besar,
semangat yang dasyat,
gairah keimanan yang membara,
keimanan sejati,
bangku dan subuh,
mungkin ada yang berpikir "ah, dia kan sudah mau mati. pantas saja segitunya ibadah"
lalu kawan,apakah kita usianya masih lama?
bukankah Allah bisa mematikan kita kapan saja?
bangku dan subuh,
pernah ada yang berkelakar "gua belum dapat hidayah buat shalat jamaah"
lalu, kapan hidayah datang?
sampai kapan menunggunya?
bagaimana kalau malam ini Allah akhiri hidupmu?
bangku dan subuh,
ada juga yang berkelit "saya kerja sampai larut, ngantuk sekali"
kawan,semahal itukah dunia sehingga subuh kau tukar dengannya?
mungkin kau yang terlalu lemah,bukankan banyak orang shaleh yang tidurnya hanya satu jam, namun subuh berjamaah tetap ditegakkan,bahkan tahajjud yang panjang?
bangku dan subuh,
innalillah....apakah karena bibit kemunafikan mulai bertunas dan tumbuh di hati kita?
sehingga kemuliaan dan keutamaan subuh semudah itu kita lalaikan?
Aku mendengar Ubay bin Ka'b berkata; "Suatu hari Rasulullah saw mengerjakan shalat Subuh, lantas beliau bersabda, Apakah kamu melihat Fulan ikut shalat berjamaah?' Para sahabat menjawab, 'Tidak'. Rasulullah saw bertanya lagi,' Apakah si Fulan (orang lain lagi) ikut shalat berjamaah?' Sahabat menjawab, Tidak, Beliau saw lalu bersabda: 'Dua shalat ini sangat berat bagi orang munafik. Andaikan mereka mengetahui (pahala) nya, mereka pasti mendatanginya, walau dengan merangkak. Barisan pertama laksana barisan para malaikat, seandainya mereka mengetahui keutamaannya mereka pasti bersegera menuju barisan pertama. Shalatnya seseorang bersama orang lain lebih utama baginya daripada shalat sendirian, dan shalat seseorang bersama dua orang lebih utama daripada shalat bersama satu orang. Kalau mereka bertambah banyak. Allah Azza wa Jalla lebih mencintainya'." (HR. Nasai).
bangku dan subuh,
menjadi saksi,
bahwa masih ada meski segelintir,
yang kelak akan bertambah,
hingga yahudi segan dan takut,
Dikisahkan pasca meletusnya perang Mesir-Israel tahun 1973 ada seorang tentara Mesir yang mengajak berbicara tentara Yahudi yang paham bahasa Arab.
Tentara Mesir itu berkata,
“Demi Allah, kami akan memerangi dan mengalahkan kalian sampai ada di antara kalian yang bersembunyi di balik pohon dan batu, kemudian pohon dan batu itu mengatakan,’hai hamba Allah, hai Muslim, ini ada Yahudi di belakangku, ke mari dan bunuhlah dia’”
Tentara Yahudi menjawab,
”Semua itu tidak akan terjadi sebelum shalat subuh kalian sama dengan shalat Jumat.”
bangku dan subuh,
mengingatkan kita,
akan kemenangan itu,
akan syarat-syaratnya,
bangku dan subuh,
mengukur kita,
semangat kita,
harga keimanan kita,
dan kesiapan kita,
bangku dan subuh,
bahkan seorang kakek renta,
menginspirasi kita,
bangku dan subuh,
pagi syahdu di kamar peradaban,
masih berkutit dengan dua ksibukan,
ah semoga ALlah kekalkan memperjuangkan kebenaran,
bangku dan subuh,
pagi mendung jakarta,
08.16 WIB
22 Februari 2012
Mokhamad Kusnan
Senin, 19 Desember 2011
saya hanya ingin masuk surga mas.....
namanya Amar,
sosoknya pendiam sangat,
kalo bukan karena Allah mudahkan aku dalam sapa,
mungkin kisah ini takkan bisa kubagi,
hampir semua orang tau diriku,
aku paling tidak tahan untuk menyapa,
saat berada di angkot,
saat menunggu di halte,
atau saat menikmati jamaah di masjid,
bahkan saat-saat aku membeli sesuatu,
dialah Amar,
sosok pendiam yang kutemukan di sebuah masjid dekat sekret YOUTHCARE,
perawakannaya lebih gemuk dariku,
lebih pendek dariku,
lebih gelap warna kulitnya dariku,
ah,...
seolah Amar memang memiliki banyak kelebihan dariku,
dialah Amar,
sosok bujangan lugu,
yang kerjaannya berjualan roti bakar,
ehem...2000rupiah satu-nya,
pernah kutawar,
jawabnya lembut "itu harga pas mas"
aku tersenyum,
dan berlalu,
membawa roti bakar buatannya,
dialah Amar,
suatu saat setelah kami berjamaah magrib di masjid itu,
masjid yang menjadi saksi awal persaudaraan kami,
masjid yang membuat dia berada di salah satu folder hatiku,
masjid yang menjadi awal aku mengenalnya,
saat aku mencoba menggali tentang siapa dirinya,
dia berucap "saya hanya penjual roti bakar mas"
saat dengar dia menjawab seperti itu,
naluri menasihatiku keluar,
"bersyukur mas sudah punya pekerjaan,
mungkin lebih baik kalo cara menjawabnya "Alhamadulillah saya penjual roti bakar""
tanpa penjelasan,
hanya itu,
lalu dia perlahan menunduk,
seolah menyadari dirinya kurang bersyukur,
"istighfar mas,
dan belajar untuk banyak bersyukur" ujarku
sejak saat itu kawan,
hari-hari amar bulai dihiasi senyuman,
satu hal yang jarang kulihat sebelum aku menanyakannya,
satu hal....dia sedang eblajar bersyukur.
dialah Amar,
sang guru yang teguh,
mengajarkan keteguhan dari sikapnya,
nyata sekali,
satu keteguhan yang mahal,
yang kadang dilalaikan orang,
satu keteguhan yang indah,
keteguhan karena cinta,
iya,
pernah suatu saat kutanyakan,
perihal keteguhannya,
keteguhan menjaga shalat jamaah di masjid,
di awal waktu kawan,
ya,
dialah Amar yang teguh,
yang senantiasa beranjak ke masjid begitu adzan kumandang,
tanpa ada yang mengingatkan,
dan inilah hal paling membuatku tidak tahan,
untuk menyapanya,
untuk mengenalnya,
terlebih...untuk menggali motivasi atas keteguhannya,
"saya hanya ingin masuk surga mas...."
subhanallah....
demikian aku mendengar jawaban dari mulut mungilnya,
jawaban cerdas orang beriman,
jawaban yang jarang kutemui,
dialah Amar,
manusia lugu cerdar,
meski bahkan bangku SDpun tak sempat beliau tamatkan,
tapi beliau cerdas memahami iman,
"saya hanya ingin masuk surga mas..."
pernyataan dalam bahwa dia memahami,
jual-beli dengan Allah,
dia yang rela meninggalkan dagangannya,
dia yang rela melangkahkan kaki tertatihnya,
dia yang rela menukan rehat sesaat dengan perjuangan menuju masjid,
dia yang telah membayar penawaran itu,
penawaran dari Allah,
dialah yang memegang keteguhan,
seolah baginya surga harga mati,
yang harus diperjuangkan sepenuh hati,
tak peduli dalam kondisi apapun,
tak peduli dengan resiko apapun,
dialah Amar,
kuketahui dari gelagatnya dia sang pembelajar,
dia setiap pekan menghadiri kajian salaf di kota,
"mak Kusnan kalo mau ikut bisa bareng saya, kita naik kereta bareng"
ucapnya lembut mengajakku,
subhanallah,
dia memahami dkawah,
dialah Amar,
pernah suatu saat kutanya,
tentang apakah bisa membaca al-Qur'an,
seketika wajahnya tertunduk,
raut mukanya disimpan dalam,
pelan dia berucap "masih belajar mas..."
subhanallah,
aku kian kagum dibuatnya,
jawaban cerdas itu keluar dari mulut mungilnya begitu saja,
seolah ada yang menuntunnya,
dialah Amar,
guru dan muridku,
darinya aku banyak belajar,
dariku dia selalu minta diajarkan,
nasihat-nasihatku perlahan dipelajari dalam langkah-langkah menuju masjid,
atau saat santak melangkah meninggalkan masjid,
dialah Amar,
yang selalu bertanya saat aku lama tak ada di masjid,
dia paham aku tak selalu ada di sekret YOUTHCARE,
"saya hanya ingin masuk surga mas..."
masih terus terngiang,
jawaban cerdas dari seorang Amar,
seorang yang tau harus membayar harga,
seorang yang tau jual beli yang takkan pernah rugi,
seorang yang punya cinta,
akan kerinduan pada yang dicintaNya,
pernah aku sampaikan,
saat diskusi panjang tentang shalat jamaah,
saat dia berucap "saya hanya ingin masuk surga..."
pelan ku katakan,
"mas Amar harus banyak bersyukur,
diberikan hati yang bersih, hati yang peka,
dan mas Amar harus istiqomah,
menjaga amalan, menjaga cinta,
cinta kepada amalan,
cinta kepada Allah,
cinta yang bertabur kerinduan,
kerinduan berjumpa Allah di surga"
dia hanya terdiam,
mendengarkan sepenuhnya,
kemudian menghadirkan senyum khasnya,
dan menjawab singkat penuh makna,
"bantu doanya mas..."
"saya hanya ingin masuk surga..."
sebuah episode cinta,
sebuah perjuangan membayar harga,
sebuah ekspresi iman sejati,
sebuah teguran dan renungan untuk kita,
apakah kita juga ingin masuk surga?
apakah kita rela membayar harga?
dialah Amar,
yang kini sedang belajar,
untuk mencari tahu terus,
apa saja yang bisa mengantarkannya ke surga,
keinginnanya menggebu,
seolah dunia tertutup selimut iman,
hanya surga yang dia perjuangkan,
"saya hanya ingin masuk surga..."
kutulis kini,
dalam syahdunya pagi,
dalam nikmatnya hari,
setelah rakaat duha yang murni,
18 12 2011
mokhamad kusnan
sosoknya pendiam sangat,
kalo bukan karena Allah mudahkan aku dalam sapa,
mungkin kisah ini takkan bisa kubagi,
hampir semua orang tau diriku,
aku paling tidak tahan untuk menyapa,
saat berada di angkot,
saat menunggu di halte,
atau saat menikmati jamaah di masjid,
bahkan saat-saat aku membeli sesuatu,
dialah Amar,
sosok pendiam yang kutemukan di sebuah masjid dekat sekret YOUTHCARE,
perawakannaya lebih gemuk dariku,
lebih pendek dariku,
lebih gelap warna kulitnya dariku,
ah,...
seolah Amar memang memiliki banyak kelebihan dariku,
dialah Amar,
sosok bujangan lugu,
yang kerjaannya berjualan roti bakar,
ehem...2000rupiah satu-nya,
pernah kutawar,
jawabnya lembut "itu harga pas mas"
aku tersenyum,
dan berlalu,
membawa roti bakar buatannya,
dialah Amar,
suatu saat setelah kami berjamaah magrib di masjid itu,
masjid yang menjadi saksi awal persaudaraan kami,
masjid yang membuat dia berada di salah satu folder hatiku,
masjid yang menjadi awal aku mengenalnya,
saat aku mencoba menggali tentang siapa dirinya,
dia berucap "saya hanya penjual roti bakar mas"
saat dengar dia menjawab seperti itu,
naluri menasihatiku keluar,
"bersyukur mas sudah punya pekerjaan,
mungkin lebih baik kalo cara menjawabnya "Alhamadulillah saya penjual roti bakar""
tanpa penjelasan,
hanya itu,
lalu dia perlahan menunduk,
seolah menyadari dirinya kurang bersyukur,
"istighfar mas,
dan belajar untuk banyak bersyukur" ujarku
sejak saat itu kawan,
hari-hari amar bulai dihiasi senyuman,
satu hal yang jarang kulihat sebelum aku menanyakannya,
satu hal....dia sedang eblajar bersyukur.
dialah Amar,
sang guru yang teguh,
mengajarkan keteguhan dari sikapnya,
nyata sekali,
satu keteguhan yang mahal,
yang kadang dilalaikan orang,
satu keteguhan yang indah,
keteguhan karena cinta,
iya,
pernah suatu saat kutanyakan,
perihal keteguhannya,
keteguhan menjaga shalat jamaah di masjid,
di awal waktu kawan,
ya,
dialah Amar yang teguh,
yang senantiasa beranjak ke masjid begitu adzan kumandang,
tanpa ada yang mengingatkan,
dan inilah hal paling membuatku tidak tahan,
untuk menyapanya,
untuk mengenalnya,
terlebih...untuk menggali motivasi atas keteguhannya,
"saya hanya ingin masuk surga mas...."
subhanallah....
demikian aku mendengar jawaban dari mulut mungilnya,
jawaban cerdas orang beriman,
jawaban yang jarang kutemui,
dialah Amar,
manusia lugu cerdar,
meski bahkan bangku SDpun tak sempat beliau tamatkan,
tapi beliau cerdas memahami iman,
"saya hanya ingin masuk surga mas..."
pernyataan dalam bahwa dia memahami,
jual-beli dengan Allah,
dia yang rela meninggalkan dagangannya,
dia yang rela melangkahkan kaki tertatihnya,
dia yang rela menukan rehat sesaat dengan perjuangan menuju masjid,
dia yang telah membayar penawaran itu,
penawaran dari Allah,
dialah yang memegang keteguhan,
seolah baginya surga harga mati,
yang harus diperjuangkan sepenuh hati,
tak peduli dalam kondisi apapun,
tak peduli dengan resiko apapun,
dialah Amar,
kuketahui dari gelagatnya dia sang pembelajar,
dia setiap pekan menghadiri kajian salaf di kota,
"mak Kusnan kalo mau ikut bisa bareng saya, kita naik kereta bareng"
ucapnya lembut mengajakku,
subhanallah,
dia memahami dkawah,
dialah Amar,
pernah suatu saat kutanya,
tentang apakah bisa membaca al-Qur'an,
seketika wajahnya tertunduk,
raut mukanya disimpan dalam,
pelan dia berucap "masih belajar mas..."
subhanallah,
aku kian kagum dibuatnya,
jawaban cerdas itu keluar dari mulut mungilnya begitu saja,
seolah ada yang menuntunnya,
dialah Amar,
guru dan muridku,
darinya aku banyak belajar,
dariku dia selalu minta diajarkan,
nasihat-nasihatku perlahan dipelajari dalam langkah-langkah menuju masjid,
atau saat santak melangkah meninggalkan masjid,
dialah Amar,
yang selalu bertanya saat aku lama tak ada di masjid,
dia paham aku tak selalu ada di sekret YOUTHCARE,
"saya hanya ingin masuk surga mas..."
masih terus terngiang,
jawaban cerdas dari seorang Amar,
seorang yang tau harus membayar harga,
seorang yang tau jual beli yang takkan pernah rugi,
seorang yang punya cinta,
akan kerinduan pada yang dicintaNya,
pernah aku sampaikan,
saat diskusi panjang tentang shalat jamaah,
saat dia berucap "saya hanya ingin masuk surga..."
pelan ku katakan,
"mas Amar harus banyak bersyukur,
diberikan hati yang bersih, hati yang peka,
dan mas Amar harus istiqomah,
menjaga amalan, menjaga cinta,
cinta kepada amalan,
cinta kepada Allah,
cinta yang bertabur kerinduan,
kerinduan berjumpa Allah di surga"
dia hanya terdiam,
mendengarkan sepenuhnya,
kemudian menghadirkan senyum khasnya,
dan menjawab singkat penuh makna,
"bantu doanya mas..."
"saya hanya ingin masuk surga..."
sebuah episode cinta,
sebuah perjuangan membayar harga,
sebuah ekspresi iman sejati,
sebuah teguran dan renungan untuk kita,
apakah kita juga ingin masuk surga?
apakah kita rela membayar harga?
dialah Amar,
yang kini sedang belajar,
untuk mencari tahu terus,
apa saja yang bisa mengantarkannya ke surga,
keinginnanya menggebu,
seolah dunia tertutup selimut iman,
hanya surga yang dia perjuangkan,
"saya hanya ingin masuk surga..."
kutulis kini,
dalam syahdunya pagi,
dalam nikmatnya hari,
setelah rakaat duha yang murni,
18 12 2011
mokhamad kusnan
Selasa, 11 Oktober 2011
WINNING SPIRIT, ketika Raisya kecil ingin jadi atlit

I will look beyond the darkness to the light
I will look beyond the problem to the solution.
I will look beyond the obstacles to the opportunities
I will look beyond the impossible to the possibilities
When other doubt, I will provide courage and inspiration
When other quit, I will demonstrate strenght and determination
I cannot do everything, but I can do something.
What I can do, I must do.
What I must do, I will.
-mokhamad kusnan-
pagi tadi,
saat aku menunggu tukang julan bubur ayam keliling di depan rumah,
ada pemandangan unik yang mungkin sering kita lihat,
Raisya, aku lupa nama lengkapnya siapa,
gadis balita imut yang menggemaskan,
dia bersama kakeknya yang sudah berat untuk jalan,
sementara Raisya yang baru 3tahunan tampak sangat antusias,
pinginnya lari aja,
sementara sang kakek terpongoh mengejarnya,
"jangan lari nanti jatuh" demikian teriak sang kakek setengah batuh.
ucapan adalah doa, demikian pula terjadi pada raisya,
dia tersungkur jatuh saat berlari, masih di jalan komplek rumahku,
Raisya menangis, setengah menjerit, sang kakek sabar mendekat dan menggendongnya.
"kakak sudah bilang jangan berlari, tuh jatuh kan?" demikian ucap sang kakek.
Raisya makin keras menangis. seolah bukan itu yang dibutuhkan.
saat dekat denganku, aku mencoba memberikan masukan berbeda
"wah kenapa nih Raisya nangis? anak manis kok nangis?"
sang kakek seolah mewakili Raisya menjawab "jatuh nih om, abisnya lari sih"
aku: "wah, Raisya mau jadi atlit lari tuh kek, makanya lari, kalo atlit jalannya pelan mah kalah lomba larinya"
ajaib, sambil kuusap rambutnya dan melihat luka di kaki yang terlihat lecet,
raisya memandangku dan terdiam dari tangisnya.
singkatnya Raisya kembali berlari, dan jatuh,
dan lari lagi, dan jatuh lagi,
tapi kini kakeknya mencoba ikut menyemangati seperti ucapanku "raisya mau jadi atlit"
kawan,
jutaan raisya yang lain butuh dukungan,
bukan kemarahan atau larangan,
hanya butuh support dan arahan,
bagaimanapun mereka sedang giat mengekpresikan diri,
selagi itu baik maka dukunglah.
jiwa anak-anak penuh semangat,
penuh gelora dan pantang menyerah,
kadang kitalah yang tanpa sadar membuat mereka kecil nyalinya.
WINNING SPIRIT,
belajarlah dari anak-anak, tak ada kata menyerah dan kalah.
Langganan:
Postingan (Atom)







