Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 05 Januari 2013
resonansi cinta....aku dan dia
aku pertama mengenalnya saat diberikan kesempatan berbagi inspirasi di kampusnya,
sebuah sekolah tinggi kedinasan dari departemen kelautan, STP namanya.
sekolah dengan tingkat kedisiplinan tinggi, semi militer kawan,
kebaikan, dakwah, cinta,
tiga kata inilah yang mempertemukan kami.
sebuah acara kebaikan berbalut dakwah,
dan aku harus berbagi cinta untuk bisa menginspirasi ratusan taruna sekolah itu,
resonansi kawan,
sekali lagi resonansi,
kesamaan frekuensi aku dengannya yang membuat terjadinya resonansi dianatar kami.
pasca itu, kamipun lebih dekat,
dekat dalam kebaikan dan dalam setiap seruan,
dekat karena resonansi, resonansi cinta.
beberapa tahun berjalan,
saatnya tiba dia lulus dari sekoiah itu,
dan kembali ke kampung halaman untuk mengabdi,
Jambi kawan,
sebuah tanah kaya dengan sumber daya alam,
lokasi penuh damai dan kesejukan,
disanalah dia dedikasikan cintanya,
untuk agama, bangsa, dan terlebih untuk sebuah cinta, dakwah ini
Jambi kawan,
sebuah jarak melebihi 1400 km memisahkan kami,
tapi inilah cinta kawan,
resonansi cinta bisa menembus apapun,
resonansi cinta...aku dan dia.
dan VISIku kawan,
ah semua tau,
apalagi yang bsia aku ceritakan,
tak ada..ya hampir tak ada...kecuali semua berhubungan dengan VISIku, YOUTHCARE kawan,
dan demikian saat aku kembali membuka komunikasi dengannya,
dia begitu menurut,
resonansi cinta kami begitu kuat,
saat aku memintanya datang ke jakarta untuk ikut SUPERCAMP,
diapun datang, dengan segala pengorbanannya,
saat aku bilang untuk segera mengadakan kegiatan di kampungnya,
diapun mengiyakan,
sebuah kerja panjang penuh rintangan,
bahkan dia bisa mengajak tetangga dan kawan kecilnya ikut membantu,
aksi itupun berjalan,
inilah resonansi cinta...aku dan dia,
dalam sebuah epik cinta,
dibalut sebuah niat suci, aksi suci, dakwah ini.
resonansi cinta....aku dan dia,
dan bukan dia seorang kawan,
tapi dia dan dia,
dia yang di Jambi,
dia yang di Balikpapan,
dia yang di Situbondo,
dia yang di Tasikmalaya,
dia yang di Makassar,
dia yang di Lampung,
dia yang di malaysia,
dia...dia...dan dia..yang tersebar di penjuru dunia,
resonansi cinta...aku dan dia.
karena kami seirama,
karena kami satu frekuensi,
satu cinta dan cita,
#resonansi cinta...aku dan dia,
ya Allah sesungguhnya Engkau tahu,
bahwa hati ini telah berpadu,
berhimpun dalam naungan cintaMu....
#resonasi cinta....aku dan dia.
untuk aksi yang banyak rintangan pasti,
untuk cinta yang penuh onak derita,
ya Allah kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya,
tunjukilah jalan-jalannya....
resonansi cinta,
sebuah doa untuk dia yang sedang dalam penyembuhan di Jambi,
untuk dia yang terus bersemangat di Situbondo,
untuk dia yang sedang gerilya semangat di Balikpapan,
untuk dia yang serang sibuk dengan banyak amanah di Banjarmasin,
untuk dia yang terus bersinergi di Lampung,
resonasi cinta...aku dan dia...selamanya
dalam gerimis dingin di ibukota,
09.35 hari ke-6 di Awal 2013.
ini rekam jejak resonansi cinta kami:
resonasi cinta di jambi: http://www.facebook.com/media/set/?set=a.299958700116559.62156.100003072939264&type=3
resonansi cinta di balikpapan: http://www.facebook.com/media/set/?set=a.306534922792270.63435.100003072939264&type=3
resonansi cinta situbondo: http://www.facebook.com/media/set/?set=a.307077402738022.63532.100003072939264&type=3
resonansi cinta jabar: http://www.facebook.com/media/set/?set=a.309025259209903.63811.100003072939264&type=3
Jumat, 01 Juni 2012
aku maunya yang biru....
"aku maunya yang biru..."
demikian si anak meminta,
sambil setengah merengek,
ya,
seorang anak kecil imut lugu,
entah berapa usianya,
mungkin masih balita,
hanya tubuh bongsornya yang membuatnya seolah sudah gede..
si anak berbelanja dengan ibu dan pembantunya,
mendorong kereta belanja penuh dengan barang-barang,
aku tepat di belakangnya saat membayar di kasir,
dan yang kulihat jumlah nominal belanjanya nyaris 2 juta,
aha..
beda jauh lah denganku,
aku hanya lebih sedikit dari 20ribu,
ada yang menakjubkan selain dari jumlah belanjaan yang banyak itu,
ya...tingkah si putri endut imut itu,
jelang lift ada kotak amal,
dan si anak langsung meminta sesuatu dari si ibu,
"mam untuk mereka mana?"
hah?
untuk mereka?
aku malah yang kaget,
sang ibu langsung mengambil dompet saja,
sementara aku cukup kaget dengan ucapan anak itu,
"mam, untuk mereka mana?"
itu kawan,
ternyata si gadis kecil melihat kotak amal yatim piyatu,
dan seketika dia langsung berucap "mam, untuk mereka mana?"
saat aku masih heran dengan ucapan anak itu,
keherananku kian bertambah,
berubah menjadi takjub pada anak itu,
"aku maunya yang biru..."
demikian ucap si anak saat ibunya memberikan uang sepuluh ribuan,
"yang ini saja nak.."
demikian si ibu berkata.
"aku maunya yang biru...kita aja belanjanya banyak mam,
kalo biru mereka bisa belanja banyak juga.."
subhanallah,
aku makin takjub,
ya..pada anak belia dengan baju mungil itu,
sang ibu pun tak mengenakan jilbab,
bertiga tak ada yang mengenakan jilbab,
terlebih anak belia itu,
bajunya cukup membuka aurat,
ah..baju anak-anak kebanyakan lah,
baju anti gerah apa istilahnya.
tapi aku tetap saja takjub,
pada kedermawanan si anak,
yang juga diikuti sang ibu,
ah..luar biasa .
pasti ini sang ibu yang mengajarkan.
"ini, satu untuk yang ini, satu untuk yang itu"
ucap sang ibu memberikan uang 50ribuan 2 lembar.
dan si anak tersenyum indah lantas memasukkan masing-masing ke kotak amal yang tersedia.
"aku maunya yang biru.."
masih terngiang di benakku,
bahkan sampai aku meninggalkan Carefour itu,
menuju rumah YOUTHCARE untuk melanjutkan aktivitas lain,
perkerjaan kami amat banyak,
haha...tiga printer dihadirkan untuk menunjang kinerja kami.
kembali ke anak itu kawan,
"aku maunya yang biru..."
dengan enteng diucapkan,
seorang anak balita lugu.
bahkan aku melihat dia memberikan beberapa makanan mewah untuk sopirnya,
kedermawanan..luar biasa.
"aku maunya yang biru..."
sangat menggetarkan,
bahwa sesungguhnya anak itu tergantung didikan orang tuanya,
dan seperti ibu itu ajarkan pada sang anak,
bahkan saat sang anak meminta lebih untuk sebuah amal,
sang ibu tak ada keraguan sedikitpun,
"aku maunya yang biru.."
teguran dasyat buatku,
bahwa akupun harus kontribusi banyak,
harus berusaha memiliki uang banyak,
agar bisa memberi banyak.
seperti anak itu yang tak ada keberatan sedikitpun,
juga si ibu yang kian lebar senyumnya melihat permintaan si anak,
"aku maunya yang biru.."
inilah pendidikan kepedulian sejati,
untuk anak-anak kita nanti,
agar ia tumbuh dalam kepedulian,
kemudahan dan kesenangan berbagi,
"aku maunya yang biru?"
lalu bagaimana denganmu?
sabtu pagi di rumah YOUTHCARE,
kami akan memberikan lebih kepada para pemuda :)
karena kami ada untuk kontribusi,
#dalam lirih panjatan doaku,
kelak si anak tumbuh menjadi wanita tangguh,
wanita bersahaja yang peduli,
mujahidah dengan hartanya.
2 Juni 2012, 08.40 WIB
MOKHAMAD KUSNAN
Rabu, 30 Mei 2012
maaf jika aku telah memanah hatimu...
"kak, Alhamdulillah Dini lolos Antropologi sosial UI..
mbak Dona di FKM UNAIR"
demikian sms darinya,
Dini kawan,
dan Dona kakaknya,
ya si kembar itu kawan,
dari mereka aku mendapatkan sesuatu tentang filosofi panah,
Dini dan Dona,
pertama aku mengenal mereka setahun lalu,
saat karena VISIku aku harus menempuh jarak ribuan kilometer,
menelan biaya jutaan dan waktu berhari-hari,
hingga sampai di sebuah kota tepi Jawa Timur, Situbondo,
kota yang memiliki jumlah pesantren melebihi jumlah bulan dalam setahun,
kota, yang agung disebut-sebut sebagai kota santri,
namun saf pertama di puluhan masjid yang kutemui disana tak pernah penuh,
kota yang meneriakkan diri sebagai kota aqidah,
namun syirih masih dilakukan bahkan berjamaah,
hingga semangat YOUTHCARE aku teriakkan,
bukan sebuah sulap lantas berubah begitu saja,
namun semangat pembangunan karakter mulai gerilya disana,
"seperti panah,
mundur bukan untuk pergi atau menyerah,
namun mencocokkan arah dan mengambil energi,
untuk melesat jauh dan tepat sasaran"
demikian salah satu status si kembar itu,
==
panah kawan,
sejak aku memiliki binaan yang punya panah,
sejak saat itu aku mulai "mencintai" panah,
mengoleksi si cantik Susan narnia,
atau searching panah,
hingga panah pertamaku datang kerumah,
bukan kepalang,
seharian aku disibukkan dengan senjata primitiv itu,
panah kawan,
sejak aku memilikinya,
aku dedikasikan diri mempelajarinya,
hingga harus ke surabaya,
hanya untuk melihat koleksi panah dan mempelajarinya,
panah kawan,
sebuah senjata sederhana,
namun senjata yang menyejarah,
dan tahukah kawan, bahwa ternyata filosofi panah sesuai hidupku,
==
panah itu kawan,
tak membutuhkan bahan bakar,
yup...hanya energi yang besar dari pemakainya,
memang butuh perjuangan,
tak semudah peluru kendali yang tinggal tekan tombol saja,
tapi inilah uniknya kawan,
panah itu,
muti mundur untuk emndapat energi,
semakin jauh mundurnya makin kuat daya dorongnya,
ya..mundur untuk mengumpulkan energi dan mencocokkan arah..
hingga sang anak panah bisa melaju kencang dan tepat sasaran.
==
panah kawan,
dan akulah sang pemanah,
akulah yang selalu melaju,
akulah yang menembus jantung dan hati puluhan sampai ratusan ribu pelajar,
akulah yang sennatiasa berlari dan bepergian ke pelosok negeri,
akulah sanga anak panah,
akulah sang penjelajah,
akulah yang mundur untuk menghimpun energi,
untuk mencocokkan arah,
untuk kemudian melaju kencang menembus sasaran,
akulah si pemanah dan panah itu sendiri,
==
akulah si pemanah,
yang memanah hati dan jantung anak-anak belia itu,
yang membakar semangat anak-anak itu,
akulah yang memprofokasi ribuan pelajar hingga pelosok desa itu,
akulah kawan,
aku yang membuat sanga anak membakar ijazahnya,
aku yang membuat sanga anak kabur dari rumahnya,
aku yang memisahkan anak dan orang tuanya,
aku kawan,
aku yang membuat sanga anak pindah sekolah,
aku yang membuat sang anak pergi ekluar negeri,
aku yang membuat orang tua menangis..
astaghfirulloh...
maafkan aku,
akulah yang membuat ribuan ibu menangis bangga pada prestasi anak-anaknya,
akulah yang membuat ibu harus menangis ditinggalkan anaknya pergi menuntut ilmu,
menjelajah dan menembus batas pulau dan negara,
akulah kawan,
aku yang memaksa ratusan anak memiliki idealisme sepertiku,
'akulah yang memaksa anak-anak itu mengikis kebahagiaan kanak-kanak
menukar dengan tanggung jawab ummat,
aku yang memaksa mereka tak tidur,
aku yang memangkas uang jajan mereka,
yang memaksa mereka ber-infaq,
akulah kawan,
akulah yang telah memanah hatimu,
memalingkanku dari kesenangan yang kau rasa,
kepada penderitaan dan perjuangan,
maaf jika aku telah memanah hatimu,
yang membuatmu menukar waktu tidur,
yang membuatmu menukar isi pikiran,
yang membuatmu mengikutiku...
maaf jika aku telah memanah hatimu,
dan hatimu tertusuk anak panahku,
menembus sampai relung terdalam,
ehem....
maaf jika aku telah memanah hatimu,
pagi di rumah YC,
10.00 wib 31 mei 2012,
mokhamad kusnan
kalo bukan karena cinta, dia takkan cemburu.. :)
cinta kawan,
sekali lagi cinta,
aku tau betul dia memiliki cinta yang besar padaku,
sejak pertemuan pertama kami,
sampai aku menyapanya,
dan seringnya kami bertemu,
ah cinta....
Danis kawan,
seperti yang pernah kutulis sebelumnya,
dia hanya seorang anak kecil kelas 1 SD,
seorang anak mungkil lugu,
namun kutau dia seorang pembelajar,
terlebih...dia lugu dan penurut kawan,
Danis..
demikian dari mulut mungil anak itu keluar,
sebuah nama singkat namun hebat,
seorang anak kecil yang paling rajin kulihat,
hampir 5 waktu shalat dia ada di deretan jamaah di masjid dekat kantor YOUTHCARE,
Danis kawan,
karena rasa penasaranku aku tanyakan padanya,
namanya, usianya, kesibukannya...
ah,
aku sangat kaget saat tau dia masih kelas 1 SD,
lebih kaget lagi kalau dia pisah dengan orangtuanya,
sekali lagi dialah Danis,
anak kecil hebat pecinta masjid.
dan sejak perkenalanku,
kami kian akrab,
sampai dia sudah kuanggap adik sendiri,
tak jarang dia bersandar di pangkuanku seusai shalat jamaah,
sering juga dia menungguku dan mencariku jika aku telat berjamaah,
dia pula yang menanyakan jika aku sempat tak shalat berjamaah,
dan ashar kemarin kawan,
dia sempat membenamkan mukanya,
raut mukanya memerah dan tatapan wajahnya menajam padaku,
dia sepertinya marah,
ah aku tak tau apa salahku...
mukanya memerah,
bukan sekedar marah,
dia sempat meneteskan air mata,
sedikit,
sampai aku mendekatinya dan menangkapnya,
memeluk dan menggendongnya,
"ihh Danis serem amat, kenapa sih?"
"kok lama gak shalat di masjid?"
demikian ucapnya,
dia nampaknya sangat kehilangan diriku,
benar saja,
sejak YOUTHCARE pindah kantor,
akupun jarang ke pasar minggu,
tak lagi shalat di masjid yang seringkali dipakainya,
tak lagi sering menatapnya,
dan..
setelah tiga pekan ini,
aku menyempatkan diri shalat berjamaah disitu,
Danis ternyata selama itu memendam rindu,
dan kecemburuannya membuncah,
seolah aku meninggalkannya...
Danis kawan,
bahkan dia sempat mengalirkan air mata,
terlebih saat kubilang "om kan kantornya sudah pindah..."
wajahnya memerah,
sambil sesenggukan dia menatapku tajam,
berlari menuju kakeknya dan meninggalkanku,
kalo bukan karena cinta, dia takkan cemburu,
dia takkan mungkin bersikap seperti itu,
takkan mungkin kehilanganku,
dan dialah Danis kawan,
sejak aku memberanikan diri untuk mengenalnya,
seketika benih cintanya tumbuh,
terlebih dia yang harus mengais cinta dari kakeknya,
bukan ibu dan ayahnya,
Danis kawan,
dia memiliki cinta yang utuh,
Astaghfirulloh...
dan dia mencintaiku,
akulah kakaknya..
akulah omnya...
"ke masjid yang rajin ya,
Insya Allah kita akan bisa terus ketemu,
kalo di dunia pisah, di surga bisa terus-terusan...kekal disana"
demikian ucapku pelan,
entah dia dengar atau tidak,
baginya berat ditinggalkan orang yang peduli padanya.
kalo bukan karena cinta, dia takkan cemburu,
dia takkan kehilangan,
dan perhatianku menumbuhkan cintanya...
kalo bukan karena cinta...
aku takkan menuliskan dan memposting kisah ini,
demi Allah,
akupun mencintainya karena Allah,
semoga ALlah ekkalkan cintaku padanya hingga ke-Surga,
seperti pintanya "pingin deh punya Ayah kayak kakak"
ah,
suatu saat Denis,
di surga sana,
semua pintamu akan terwujud.
jelang tengah malam,
dalam perenungan jelang diskusi komunitas.
23.40 wib, 30 mei 2012
mokhamad kusnan
Selasa, 15 Mei 2012
"gua kira lu udah mati..."
disetiap nafas terhembus,
ada tanggungjawab disana,
seiring dengan kapasitasmu,
tanggungjawab besar menantimu...
kapasitas kawan,
dan inilah yang aku alami,
mungkin sudah jalan hidupku seperti ini,
2006 silam,
di sebuah kontrakan sederhana di bilangan Dayeuhkolot, Bandung.
diantara 4 murid sekaligus sahabat terbaikku,
kawan seperjuangan saat dulu bersama-sama menjadi pejuang samurai.
sebuah komitmen dan janji itu terucap,
sebuah komitmen awal untuk sebuah kepedulian,
yang berawal dari sebuah cerita malam,
saat aku menginap di salah satu kosan anak-anak hebat itu,
di bilangan Depok, setelah usai memikirkan bisnis dan akademis,
kala itu malam datang,
diskusi panjang tek terasa menerkam waktu,
hingga jam menunjukkan pukul 01.00 kami baru tersadar,
tersadar karena perut kami keroncongan,
dan malam itu kami keluar dari peraduan,
melangkahkan kaki di dinginnya malam yang sunyi,
hingga perjalanan kami dekat halte gerbatama UI,
langkah kami terhenti,
sosok manusia kerdil kumal tertidur meringkik di halte,
semua pandangan mata kami tertuju kepadanya..
gundah hati kawan,
saat itu aku yang langsung menuju anak itu,
mencoba membangunkan,
mengajak agar tidur di kosan kami,
menawarkan makan malam bersama kami,
beberapa menit kemudian,
anak dekil mungil itu lahap memakan makanan yg kami berikan,
di sebuah "restoran" kaum miskin pinggir jalan,
bersama kami berempat,
ya...mungkin itu adalah makanan aling nikmat yang pernah dia lahap,
"anis,,,"
demikian sang anak mengucapkan namanya saat kami tanya,
sesingkat itu, tanpa nama panjang dan lainnya,
dia selalu bilang "anis",
cukup itu kawan,
tak ada yang lain,
sosok anak mungil dekil itu sekitar usia 8 tahun,
kabur dari rumah karena dirumah baginya lebih kejam dari neraka,
ibunya hanya babu di tetangganya,
ayahnya sendiri pemulung,
anis adalah 4 dari 5 bersaudara,
semuanya tak ada yang sekolah,
hidup dan besar dalam sampah,
dan kini 4 dari 5 saudaranya itu berprofesi sama...gelandangan,
anis memilih menjadi pengamen,
awalnya dia tak memiliki bakat apapun,
karena keterpaksaan dia kini bisa menyanyi,
lagu-lagu baru yang sering dia dengar,
selalu dia coba hafalkan,
nongkrong di dekat penjual VCD bajakan,
sambil mendengarkan lagu dan menghafalkannya,
itulah proses "belajar" yang pernah dia tau dan dilakukan selama ini,
dia tak kenal seragam, buku, alat tulis, apalagi HP...
dia hanya tau belajar dengan mendengar dan menghafal,
dan dia hanya tau satu alat,
botol aqua kosong didisi beras segenggam,
beras...
katanya untuk dapat makanan harus dipancing dengan makanan,
itu yang diucapkan kenapa isisnya tak pasir atau batu kerikil saja.
anis,
dialah inspirasiku,
inspirasi kami,
hingga sebuah komitmen untuk kontribusi itu kami dirikan,
NIAT AMAL NYATA, yang kelak menjadi NANcare,
itulah awalnya,
kami dipertemukan,
dan kami terinspirasi,
dan pertengahan 2006,
saat kami dipisahkan oleh jarak,
hasil SPMB memaksa kami menelan pil pahit,
kami harus berpisah untuk mencapai cita,
memenuhi undangan kampus-kampus kampung,
meninggalkan jakarta,
menuju kampus dengan latar sawah..
pertengahan 2006,
sebuah dedikasi,
sebuah janji,
sebuah komitmen,
untuk membentuk NANcare..
untuk berkontribusi,
dan sejak deklarasi itu,
semua hari-hari kami dipenuhi semangat,
semangat cepoat selesai kuliah,
semangat mencari uang,
dan semangat menemui satu persatu anak-anak jalanan,
dan waktu berlalu,
ujian itu memisahkan diantara kami,
beberapa mundur dari jalan yang kami tetapkan,
hingga setengah tahun itu,
tinggal aku sendiri
==
dan kemarin malam,
setelah 2006 komitmen itu dibuat,
setelah aku terus mempertahankan dan memodifikasi visi,
sebuah sms menyapaku,
kemudian telpon bersambung,
sebuah pengulangan sejarah,
nostalgia suara,
"hey boy...masih aja yah lu..
gua kira lu udah mati.
keren deh sekarang dengan YOUTHCARE,
emang dasar pemimpi,
5 tahun gak ketemu,
lu masih aja kayak gitu"
demikian ucapnya serampangan...
di akhir kata baru dia meminta maaf
"sori bang...beneran dah gak ngira abang masih dengan janjinya"
janji kawan,
visi kawan,
itu yang pernah kuucapkan di hadapan mereka dulu,
di sebuah kontrakan kumuh di Dayeuhkolot, Bandung.
janji yang membuat jalan hidupku begini,
janji yang telah menelan rasa dan nafsuku pada dunia,
janji yang harus kubayar dengan seluruh perjuangan, pengorbanan, dan hingga nyawaku.
dan kemarin malam,
sebuah drama "penculikan",
seusai aku mengisi kajian anak-anak belia,
menanamkan idealisme dan pemikiranku,
dengan innova ketiga anak itu menangkapku,
menyergapku dan memasukkan dengan paksa dirik ke innova itu,
mengikat mataku dan menyuruhku tidur,
dua jam kawan, dalam kadaan mencekam,
aku dibawa ketiga pemuda berandalan,
entah ini penculikan atau apa...
yang jelas aku sempat takut tak karuan,
hingga akhirnya di sebuah pemberhentian,
mereka membuka mataku,
memaksaku menelan makanan sedap,
dan seusainya menyurhku menutup mata kembali,
diikatnya mataku dnegan kain,
dan melanjutkan perjalanan,
dan kami sampai,
di tempat yang aku tak menyangka,
di depan sebuah rumah kumuh tua,
teringat di benakku 6 tahun lalu,
ya...dirumah itu aku berjannji pada mereka,
"dengan atau tanpa kalian, gua akan perjuangkan visi gua,
hingga mati akan gua perjuangkan, catat janji gua"
aku masih ingat,
dan merekapun mencatatnya...
lalu aku dibawa ke tempat lain,
masih dnegan ditutup kedua mataku,
mobil melaju dengan kencang,
melewati jalan yang menanjak,
suasana dingin AC mobiul seketika mati,
jendela mobil dibuka,
hawa dingin menggigil menggantikannya,
dan sekian lamanya,
akhirnya ditengah malam itu aku sampai,
sampai di sebuah tempat di dataran tinggi kota lautan api,
disebuah rumah makan asri,
rumah makan yang dulu akupun pernaj berjanji padanya
"kita akan reunian kelak, di kampung daun"
dan malam itu terwujud,
namun aku tak sendiri,
tak hanya dengan 4 kawanku itu,
tapi...200 pemuda pemudi hasil didikan mereka menyambutku,
"leader...inilah sang guru saya,
inilah inspirasi saya,
dan inilah guru kita semua"
demikian ucap sahabatku itu,
air mataku mengalir,
subhanallah...
ternyata dia memegang janjiku,
dan ternyata dia memperjuangkannya,
dia...kini memiliki 200 leader pemuda-pemudi lintas profesi,
dan yang mereka perjuangkanpun tak jauh dari apa yang dulu kami sepakati...pemuda.
hanya ranahnya agak sedikit beda denganku,
dia perjuangkan pemuda-pemuda pelosok bandung untuk jadi entrepreneur...dan dialah inspiratornya.
dan hingga adzan subuh berkumandang,
aku bercerita dan menginspirasi anak-anak muda itu,
teriakan-teriakan kami dahulu,
kini disambut 200an pemuda-pemudi
FREEEDOOMMMMM....
"FIGHT FOR FREDOMM..."
"gua kira lu udah mati.."
bahkan hari itu aku tak tidur sama sekali,
pantas saja dia mengikat mataku,
dia tau aku sulit tidur,
"gua kira lu udah mati..."
karena sebuah janji adalah janji,
dan janji itu akan ditepati,
dan harga perjuangan harus dibayar,
visi haruys terrealisasi,
atau diperjuangkan hingga mati....
"gua kira lu udah mati..."
tidak kawan,
aku masih selalu ada dengan visi ini,
dan aku takkan pernah mati,
karena matiku akan digantikan dengan penerusku,
benih-benih ideliasme dan visi itu telah menyebar ke pelosok Indonesia,
yang akan memperjkuangkan visi bersama,
matiku hanya mengakhiri hidupku,
namun visiku hidup selamnaya.
sepertimu yang kini juga memperjuangkan hal sama,
"gua kira lu udah mati..."
pagi di ibukota,
16 mei 2012. pukul 08.11
dedikasi untuk YC RANGER,
ingin kukatakan "aku bangga punya kalian"
Sabtu, 12 Mei 2012
bukan karena uang akh....
pagi tadi kawan,
pengurus YOUTHCARE berpencar menuju aktivitas masing-masing,
meninggalkan rumah YOUTHCARE dengan berjalan kaki,
ya berjalan kaki kawan,
seperti komitmen yang kami buat,
kami akan berjalan kaki sehari minimal 2km,
dan pagi tadi kami bhuktikan,
berjalan dari rumah YOUTHCARE sampai pasar minggu,
mungkin bisa tetap atau sedikit lenbih dari 2km jaraknya,
tapi benar-benar kami realisasikan pagi tadi,
berjalan kaki,
dan aku,
akupun berjalan kaki,
sendiri kawan,
berjalan menempuh 2km jalan raya,
di pagi hari,
baru jam 6 lewat kawan,
berjalan diantara hilir mudik kendaraan bermotor yang angkuh,
yang jorok membuang asap kotor sembarangan,
dan aku ada di pinggir jalan melangkah sendiri,
disaat setengah perjalanan,
di dekat masjid Raya AT-Taqwa pasar minggu,
langkahku terhenti saat sebuah motor berhenti disampingku,
setelah helmnya dibuka, aku baru mengenalinya,
beliau salah satu aktivis juga,
salah satu saudara seiman dan teman seperjuangan di wilayah Kecamatan,
"akhi, ayo ikut ana"
demikian tawarnya.
namun dengan lembut aku tolak
"ana mau jalan aja akh"
bukan teman seperjuangan kalo hanya ngajak sekali,
"ayolah akhi, kalo antum gapunya uang bisa ana antar kok sampai tujuan"
akupun tak enak, tapi tetap saja aku tak mau,
"bukan karena uang akh, ini komitmen ana, biarkan ana berjalan saja"
demikian terus sampai akhirnya dia yang menyerah,
dan aku tetap berjalan,
akupun berjalan,
melanjutkan langkah dmeia langkah,
menyapa setiap orang yang kutemui,
bapak paruh baya yang membuka bengkelnya,
ibu-ibu yang hendak menyeberang,
bahkan sekali aku membantu menyeberangkan seorang nenek,
akupun berjalan,
dan saat menyapa setiap orang yang kutemui,
aku tak ingin menyiakan diri,
akupun menawarkan sebuah brosur dan stiker salah satu kandidat gubernur
"nomor 4 ya mas? saya pasti dukung dan ;pilih beliau,
saya ingin jakarta dipimpin orang soleh"
ucap seorang bapak yang baru pulang dari sebuah masjid,
masih lengkap dengan baju koko dan sarungnya,
akupun berjalan,
menunaikan dua keajiban sekaligus,
berjalan kaki 2km setiap hari,
dan silaturahim dan mengenalkan pasang kandidat gubernur pada masyarakat,
akupun berjalan,
dan akan terus berjalan,
hingga kelak Allah hentikan,
entah kapan waktunya,
yang jelas aku akan terus berjalan,
bukan karena tak memiliki uang,
meski beberapa kali aku terpaksa berjalan karena tak punya uang atau kehilangan dompet,
tapi aku berjalan karena pilihan, karena komitmen,
karena beginilah perkjuangan kami lakukan,
buken meminta dimudahkan, tapi meinta dikuatkan,
bukan karena uang akh..
tapi karena ana komitmen,
karena banyak bisa diambil manfaat dari berjalan,
selain badan sehat juga bisa silaturahim,
dan akupun berjalan..
pagi tadi jam 06.00 WIB 13 may 2012
mokhamad kusnan
Jumat, 11 Mei 2012
bahkan dia tersenyum....
ya,
dia kawan,
sosok wanita hebat yang kukenal,
tak perlu melihat prestasi untuk menunjukkan kehebatannya,
tapi dia memang hebat...wanita hebat yang kukenal.
setelah sekian lama aku tak pulang kerumah,
dia kini tak lagi mencemaskanku,
meski kadang kupikir lagi,
apakah dia tak lagi mencintaiku,
namun aku yakin saja, cintanya kuat padaku,
sore itu aku sempatkan diri,
meski hanya sekedar menukar baju kotor dengan baju bersih,
sejenak saja, lalu meninggalkannya kembali,
hanya kecupan dingin di tangannya yang kuberikan padanya, tak lebih.
sejenak saat aku hendak meninggalkannya,
gelisah hati kurasa,
dia nampak layu,
demam di tubuhnya kian meninggi,
suaranya parau mengantar kepergianku,
batuk tertahan meliputi dirinya,
hingga saat aku sedang berjibaku dengan segala kesibukanku,
berita itu datang...beliau dilarikan ke Rumah Sakit.
kondisi tubuhnya tak bisa lagi menahan,
lunglai terseok,
diam terbaring,
tapi dialah wanita hebat,
seolah tak ada apa-apa,
hanya fisik saja yang tak berdaya,
semangat, senyum, dan cintanya tetap membara,
dia tetap tersenyum kawan,
bahkan dalam berat sangat sakitnya,
dalam terbaring di ranjang putih itu,
dalam detik-detik waktu jelang kepergiannya,
mungkin benar seperti yang dia sampaikan,
"aku mungkin akan mati dalam terbaring"
dia tetap tersenyum kawan,
seolah tak ada rasa sakit darinya,
tak ada gundah gulana,
tak ada resah membasah,
yang ada hanya senyuman kecil..yang dihadirkan padaku.
"sakit itu nikmat kusnan, tak perlu dirisaukan,
meringankan beban dosa kita,
mati itu pertemuan, tak perlu ditakutkan,
jasad ini hanya titipan, nyawa inipun milikNya"
demikian ucapnya ringan,
"tak perlu ada penyesalan,
jika lebih banyak dosa, kita harus siap menerima akibatnya
jika berpikir banyak pahala, jangan sampai sombong membakar amal kita,"
demikian tambahnya,
kupegang dahinya,
panasnya kian bertambah,
raut mukanya memucat,
namun senyumannya tak berkurang sedikitpun,
saat kulihat dia menahan sakit tak terkirakan,
dia tetap memaksa menghadirkan senyuman,
seolah akhir hidupnya harus berujung keceriaan,
dia tetap tersenyum kawan,
bahkan saat ruh demi ruhnya ditarik,
saat perlahan tubuhnya menggelinjang,
saat perih tak tertahan hadir dalam jasad tak berdayanya,
hingga saat terakhir nafasnya berhembus,
senyumannya masih dipertahankan,
seolah dia tak ingin menyapaNya dalam kesedihan,
aku yang langsung berdiri dan teriak,
teriak dengan penuh lantang,
hingga suaraku memenuhi ruangan itu,
kemudian aku menangis sejadinya,
penyesalanku baru datang,
aku telah lama meninggalkannya,
tak ada bakti kepadanya,
dalam segala kesedihan aku terseok jatuh,
jatuh tak sadarkan diri,
untuk sekian lama aku tak sadrkan diri,
terbaring dalam tidur berpanjangan,
hingga akhirnya aku dibangunkan....
dan subhanallah.....
beliaulah yang membangunkanku,
"kus, ayu antarakan...."
#akupun mengantarkannya ke dokter,
beliau masih tersenyum dan ceria,
hanya menahan sedikit sakit tubuhnya,
pagi akhir pekan,
07.59 WIB 12 mei 2012
mokhamad kusnan
Sabtu, 05 Mei 2012
kalian dananya dari mana?
setelah dengan segenap perjuangan,
setelah dengan segenap motivasi dan inspirasi,
10 pengurus YOUTHCARE,
dengan segala kemampuan,
dalam 25 jam,
dalam kesungguhan penuh,
dalam suka maupun terpaksa,
tapi inilah bukti cinta,
inilah bukti kontribusi nyata,
untuk mimpi menjadi realita,
dan benar saja,
25 juta bukan angka besar untuk dicara,
terlebih mencari nuntuk kontribusi,
dan itulah yang dilakukan 10 pengurus YOUTHCARE,
dalam 25 jam kawan,
mencari 25 juta,
Alhamdulillah,
akhirnya siang kemarin kami memulai,
memulai awal sebuah sejarah baru,
memulai sebuah kontribusi,
memulai keberanian untuk berbuat lebih,
dan sungguh inilah kerja nyata kami,
25 juta dalam 25 jam,
bukan suatu yang mustahil,
karena bagi Allah semuanya mungkin,
dan siang itu,
saat kami membayar sewa rumah untuk kantor baru kami,
sang pemilik kontrakan sampai kaget,
sedikit tidak percaya akan uang yang kami bawa,
dan dalam percakapannya,
pertanyaannya tajam,
"kalian dananya dari mana?"
singkat saja kami menjawab,
sumbangan dari kami dan kami cari pak,
memang akan sangat banyak pertanyaan,
sebuah ORGANISASI masih muda seperti YOUTHCARE,
terlebih diurus hanya oleh 11 anak muda yang hampir semua masih mahasiswa,
bisa menyewa rumah 25 juta dan perlengkapan lainnya,
kalian dananya darimana?
demikian pertanyaannya,
mungkin kurang percaya kalo kami bisa mencarinya
namun inilah YOUTHCARE,
kami ingin berbuat untuk ummat,
dan akan kami perjuangkan semuanya.
dananya dari mana?
hemm...Allah takkan membiarkan hambaNya.
06.20 WIB 6 MEI 2012
sehari setelah kami membayar sewa itu,
untuk kontribusi lebih YOUTHCARE...
untuk kebangkitan pemuda Indonesia.
untuk ummat dan dunia.
pagi dingin ibukota,
Mokhamad Kusnan
Jumat, 04 Mei 2012
karena cinta tak selamanya indah...
hari-hari ini adalah hari sibuk bagi kami,
heri penuh perjuangan,
hari penuh aktivitas dan kerja,
selama mungkin tiga pekanan kami tak henti bekerja,
mulai dari menutup target kontribusi AMT untuk SD,
memperjuangkan badan hukum organisasi,
seabreg kegiatan besar,
dan yang paling heboh mencari uang untuk kontrak rumah,
1 juta dalam 12 jam,
ya...setiap pengurus YOUTHCARE harus memberikan 1juta untuk sewa rumah,
sewa rumah butuh 25juta, plus kelengkapan awal jadi 30jutaan,
dan semua dicari dan diusahakan oleh pengurus,
karena inilah YOUTHCARE,
visi kami yang akan kami perjuangkan,
kami bangun dengan keringat dan kantorng sendiri,
agak berat memang,
menguatkan dan meyakinkan sepuluh anak untuk memberikan 1juta,
awalnya aku ingin mennaggung sendiri,
tapi terpikir,
buat apa aku training mereka setiap pekan kalo tidak diuji,
dan ujian itu aku gulirkan,
11an anak muda aku intruksikan mencari 1 juta untuk sewa sekretariat,
aku tak hanya menyuruh,
aku memotivasi mereka dengan memberikan contoh,
tak tanggung aku keluarkan 10juta,
harapannya agar mereka melihat 1juta bukan hal sulit,
dan sekian jam berlalu,
sekian smsm motivasi aku berikan,
jawaban nihil,
beberapa bersemangat dan berjuang mencarinya,
beberapa mengeluh dan mengatakan tak punya,
hingga aku sedikit tegas
"bukan persoalannya punya atau tidak,
tapi mau kah kita mencari?"
dan inilah bukti cinta,
karena cinta tak selamanya indah,
karena cinta butuh penguatan,
karena cinta sejatinya adalah menguatkan, membentuk dan membersarkan.
dan ujian mencari 1juta dalam 12 jam menjadi tadribat,
menjadi ujian untuk menguatkan,
bahwa dakwah ini butuh uang,
seperti yang dicontohkan Rasul teladan,
dakwah ini dibangun dengan pikiran kita,
keringat dan uang kita, dengan kesungguhan yang dalam...
karena cinta tak selamanya indah,
tegas dan marahku bukan karena benci,
melainkan ingin menguatkan mereka,
seperti saat kupaksa mereka berjalan menakhukkan gunung Ciremai,
atau saat kupaksa jalan kaki menempuh puluhan kilo di Sodong,
dan kubuktikan dnegan membawa anak-anak belasan tahun,
dan dengan segala kepayahan akhirnya mereka bisa,
sekali lagi karena cinta,
karena cinta tak selamanya indah,
namun pasti cinta itu selalu dalam kebaikan,
dan kebaikan itu kadang pahit,
namun seperti obat atau jamu,
sejatinya pahit untuk menguatkan,
karena kedepan ujian akan lebih lihat dan berat,
butuh kapasitas dan kekuatan
karena cinta tak selamanya indah,
dedikasi untuk adik-adik terkasihku,
murid dan pasukan terbaikku,
para pemimpin masa depan,
para kontributor peradaban,
inilah bukti cinta kk pada kalian...
sabtu pagi di ibukota,
5.55 WIB. 06 Mei 2012
Mokhamad Kusnan
Kamis, 03 Mei 2012
citarasa cinta sebuah visi
hujan lebat mengguyur jakarta sore,
ba'da magrib harus mengisi pengajian anak-anak,
aku masih saja disibukkan dengan urusan YOUTHCARE,
hari-hari ini akan sangat disibukkan mengurus YOUTHCARE,
ah...mungkin tak hanya hari ini, tapi sebelumnya, kini, dan nanti,
tepat jam 7 malam aku sampai komplek rumah jabatan anggota (RJA),
langkah kakiku kutuju masjid di komplek itu,
saat sedang menunggu adzan Isya seusai shalat tahiyat masjid,
tiga murid-muridku menyusul, tiga anak dengan satu motor itu nampak semangat ikut pengajian.
masih dengan keteladanan kepeimpinan Al-Fatih,
itu yang jadi materi pengajian anak-anak itu,
beberapa video dokumenter kuputar untuk memancing pemahaman mereka tentang keteladanan AL-fatih,
dan Alhamdulillah,
beberapa murid pengajianku sudah ada yang pernah ke Konstantinopel,
pernah ke Istanbul,
saat video memutar tentang Istana Sophia,
salah satu anak setengah teriak bilang "aku pernah kesana kak..."
dengan semangat aku menjelaskan kisah heroik Muhammad Al-fatih,
diselingi video dokumenter tentang kejayaan Turki Utsmani.
dan anak-anak itu sangat antusias,
pengajian terhenti saat tuan rumah menghidangkan makanan,
mie goreng special, yummi...
dan anak-anak itu melahap dengan nikmatnya,
usai mengisi perut kami lanjutkan lagi,
anak-anak kelas 2 SMP itu asyik mendengarkan kisahku.
21.30 pengajian usai,
aku mengantar 3 anak yang tdinya datang dengan motor,
menembus rintik hujan,
melewati ramainya jalan ibukota.
jam 11 aku sudah ada janji lain,
menemui salah satu sahabat lama,
di sebuah cafe di bilangan Tebet,
sebuah pertemuan setelah sekian lama terpisah,
aku menuju cafe itu dengan ojek butut,
sementara dirinya ditemani calon istrinya dengan mobil mewah,
pakaian mewah...dan masih sama....sepuntung rokok menyala.
awalnya dia agak kaget,
mengiranya aku akan datang dengan kendaraan pribadi,
dengan setelan keren atau lainnya,
haha...aku datang dengan batik kumalku,
setelan celana dan sendal gunung,
namun semua indah kubalut dengan senyuman sumringahku,
aku tak peduli,
yang kupedulikan adalah pertemuan itu, silaturahim itu...
"masih sibuk ngurusin anak-anak lu nan?"
pertanyaan pertama yang terlontar darinya.
aku hanya tersenyum tak menjawab,
lalu kutanyakan kembali, tentang dirinya,
ya...dia sekarang menjadi seorang PNS sukses,
karirnya melonjak setelah usai meraih gelar S-2nya,
aku dulu tau dia menjadi PNS karena ayahnya juga PNS,
ah entahlah, itu dunianya...
mobil pribadi, rumah pribadi (meski baru mau nyicil),
dan kemewahan penampilannya,
entah pertemuan itu karena dia ingin pamer denganku atau yang lain,
namun kami tetaplah sahabat....
aku bisa memahaminya,
akupun hanya bsia mendoakan semoga semuanya ada keberkahan,
"nan gua bingung lu masih ngurusin itu aja.."
demikian saat dia lama mencveritakan tentang dirinya.
"inget janji gua dulu?" tanyaku...
dan dia mengingatnya,
tentang janji
"gua akan hidup dengan jalan yang gua pilih. gua punya visi. dan semua akan gua lakukan untuk visi gue. hingga tercapai atau gua mati diperjalanan mencapainya"
citarasa cinta,
seperti dia menikmati hidupnya,
seperti aku menikmati hidupkua,
dan citarsasa cinta sebuah visi,
yang terus membuatku bertahan.
tak sekedar bertahan, tapi membuat perubahan, bertumbuh dan berkembang,
dan diskusi malam tadi hingga pagi,
semua mengisahkan citarasa cinta,
tentangku dan tentang dirinya...
dia dengan kehidupannya..
aku dengan visiku...
jam 01.00 kami berpisah,
dia mengantarku sampai jalan besar,
aku menolaknya mengantarku smapai rumah,
"antar calon istrimu saja, rumahnay lebih jauh" ujarku saat berusaha menolak ajakannya.
dan sampai rumah,
aku baru sadar kunci kamarku tertinggal di kantor YOUTHCARE,
alhasil harus tidur di depan tivi, di bangku...
dan terbangun jam 3 pagi untuk melanjutkan langkah,
memperjuangkan visi...
citarasa cinta sebuah visi,
hanya aku yang bisa merasakan,
dan mereka yang memiliki visi,
bukan bagaimana hidup kita,
tapi bagaimana kontribusi kita.
citarasa cinta sebuah visi,
untuk YOUTHCARE multi kontribusi,
pagi segar ibukota,
dibawah langit di markas peradaban, YOUTHCARE.
07.00 WIB 4 mei 2012
Mokhamad Kusnan
Rabu, 02 Mei 2012
biarlah Allah yang bayar....
ini hari ke empat aku mengisi training motivasi gratis di SD,
beberapa SD negeri menjadi sasaran kontribusi kami dari YOUTHCARE,
saat yang lain sibuk mengkritik kebijakan dan menuntut, maka kami hanya bisa berbuat kecil,
mengadakan program AMT GRATIS untuk SD negeri di sekitar JADEBOTABEK.
gratis kawan,
sekali lagi inilah jalan YOUTHCARE,
meski kami dikenal sebagai lembaga kepemudaan yang sewringkali mengadakan training,
kami tak segan memberikan TRAINING GRATIS,
hari ini misal,
hari keempat aku mengisi seri AMT GRATIS untuk anak-anak SD negeri,
entah nama SDnya apa,
aku hanya ingat nominalnya, 07, 08, 05,
itulah yang dalam dua ahri ini aku mengisinya,
letaknya dibelakang lapangan blok-S,
disekitar daerah menjalang blok-M,
entahlah aku tak tau pasti nama daerahnya,
sekitar 40an siswa berbaju setengah kumal memenuhi kelas,
antusias mereka dan senyum merekah dihadirkan padaku,
mereka kian senang saat aku memutar musik penyemangat sebelum memulai training,
jam 9 sampai 11 untuk kelas yang pagi,
jam 1-3 untuk kelas petang,
demikian aku mengisi hampir tanpa jeda,
denga peserta puluhan anak-anak yang antusias dan sangat hiperaktiv,
alhamdulillah semua berjalan lancar,
peserta sangat antusias dan terinspirasi,
kesan-pesan sangat menyentuh hati,
dan kini giliran fundrising,
yup kawan....
inilah kebiasaan YOUTHCARE,
kami tidak meminta bayaran dari sekolah,
hanya meminta izin untuk menggalang donasi untuk perjuangan YOUTHCARE dari peserta,
inilah kawan,
kepedulian anak-anak belia manja itu,
semua uang receh sisa jajannya dimasukkan ke kotak donasi,
recehan kawan...tapi itu terbaik yang mereka miliki,
selama acara aku berusaha memberikan yang terbaik,
bagiku tak masalah bayar atau tak bayar,
toh selama ini smeua uang pun masuk ke YOUTHCARE,
hanya kadang agak miris saat YOUTHCARE tidak bisa fundrising,
"biarlah ALlah yang bayar"
demikian kataku saat ditanya aku dibayar berapa saat mengiusi training,
hampir semua teman mencibirku,
terlebih teman-teman yang mengaku sebagai motivator,
"lu trainer murahan dong. kok ngasih gratis gitu?"
aku hanya bisa terdiam,
toh sejak dulu aku tak pernah meminta bayaran,
"biarlah ALlah yang bayar"
dan terjadi saat aku mengisis di sekolah siang tadi.
saat aku pasrahkan saja,
hanay berharap fundrising bisa besar,
maklum YOUTHCARE sedang membutuhkan dana sejumlah 25juta untuk menyewa rumah,
jadi kami tetap berharap fundrising bisa segera memenuhi kebutuhan tersebut,
terkait kami sangat membutuhkan sekretariat.
"biarlah Allah yang bayar"
seusai aku selesai menbgisi acaranya,
tiba-tiba sang guru dengan pelan berucap sambil memebrikan ampolop "ini buat ongkos ya"
alhamdulillah,
kami bisa fundrising lebih besar,
200 ribu dari uang transport,
dan 200ribuan dari fundrising ke anak-anak,
"biarlah Allah yang bayar"
bahkan sampai kami makan cukup menunggu di ruangan karena dibawakan oleh petugas.
"biarlah ALlah yang bayar"
sama seperti saat aku ditanya,
"berapa sih budget memanggil k kusnan mengisi acara?"
"biarlah ALlah yang bayar"
tugas kita cukup berbuat,
selebihnya serahkan ke Alloh,
21:49 WIB, 2 Mei 2012
Mokhamad Kusnan
Sabtu, 28 April 2012
"ane kuat akh..."
entahlah,
mungkin akan selalu dicap begitu,
molor saja waktunya,
entah dimana kedisiplinan,
dan sejak aku tau kalau molor itu pemakluman,
aku optimalkan waktu ketelatanku,
ini malam kedua mabit gabungan,
untuk merapatkan barisan sesama aktivis dakwah,
bagiku....sarana mabit sebagai carger keimanan,
berhimpun dengan ratusan orang sholeh dan berpadu dalam khusuk,
aku harus mengerjakan beebrapa tugas,
untuk kemudian melanjutkan aktivitas menghadiri malam bina iman itu,
hingga waktu agak malam,
bersama kawan seperjuangan,
kami akhirnya meluncur ke tempat berlangsungnya acara, El-Nusa,
ditengah perjalanan kami berbelok,
mengajak bersama seorang pemuda lain,
saat kami masuk ke ruangan sempit ber-AC itu,
dia terlihat sedang berbaring,
Innalillah...
sekujur tubuhnya memar memerah,
aku tau pasti pasti perih dan ngilu sedang dirasakannya,
sebelum shalat jum'at,
dia ada urusan untuk kuliahnya,
karena banyaknya urusan, dia harus mengejar sebelum jum'at sampai ke masjid dimana dia berkhidmat,
mengejar tanggungjawab untuk bisa diselesaikan semua,
dan diperjlanan menuju masjidnya itulah kecelakaan terjadi,
motornya tertabrak di sebuah belokan sempit,
bagian depan hancur,
dia terperosok ke selokan,
kedua lengan memear dan lecet,
darah mengalir di beberapa bagian tubuh,
dan sore itu,
aku saksikan dia sedang menikmati istirahatnya,
karena jum'at siang dia harus menyimpan rasa sakit dan mengerjakan seluruh kewajibannya,
memasang sound dan menggelar beberapa karpet untuk jum'atan,
dan malam itu kawan,
ajakan kami padanya untuk ikut mabit berubah menjadi simpati,
beberap menit kami menemaninya,
tapi inilah pejuang,
dia bahkan tak menghindarkan apa yang dialaminya,
"yuk akh berangkat..."
dengan semangat dia tetap ingin datang ke mabit itu,
dan aku menyaksikan,
dengan motor yang rusak itu dia masih bisa melaju cepat menuju tempat mabit,
dan bergabung dengan ratusan pemuda lain membina iman,
dalam kesyahduan,
dalam tangir di rakaat panjang,
dalam syahdu tilawah berjam-jam,
dan dalam kantuk mendengar tausiyah,
dia tetap pejuang,
seolah sakit itu hanya tambahan pahala,
hanya makin menyemangatinya,
seolah memang itu belum apa-apa,
dibanding luka lara pemuda palestina,
"ane kuat akh"
demikian pernyataannya,
dia tetap tangguh dalam segala daya,
dia tetap kokh dengan semangatnya,
"ane kuat akh.."
sebuah refleksi kekuatan azzam,
sebuah ekspresi keimanan,
bahwa tak ada alasan untuk melemah,
"ane kuat akh.."
pagi ini kubagi untuk semua,
mendung di ibukota,
09.38 WIB, 29 April 2012
Mokhamad Kusnan
Selasa, 24 April 2012
"kaka janji de..."
sadar sebagai manusia yang banyak kelemahan,
bukan berarti membenarkan atas setiap kelemahan itu,
lalu banyak alasan untuk menunda atau mengeluh,
terlebih, bagi yang mendedikasikan diri sebagai pejuang,
dan kata sakti itu harus kuenyam kawan,
bahwa konsekuensi tak pandang bulu,
dan saat itulah karmaku harus kutelan,
4 hari safari jatim,
nyaris tanpa jeda disana,
dari mengisi seminar sampai jam 1 pagi,
dilanjutkan sharing ba'da subuh dan hunting gift sampai siang di Malang,
di Situbondo tak kalah padat,
sampai sana langsung dibawa ke kampus UNARS mengisi dauroh LDK,
diskusi agenda berikutnya, dan terus,
bahkan sampai jelang kepulanganku aku masih sempat mengisi kajian pemuda Muhamadiyah,
demikian juga di Surabaya, padat nyaris tanpa jeda,
tapi inilah harga yang harus kubayar kawan,
harga mahal untuk terrealisasinya VISI,
harga untuk sebuah janji menginspirasi seluruh pelosok negeri,
harga untuk tekad mencetak 100 pemimpin belia,
dedikasi diri,
disini janji butuh realisasi,
disini keteladanan ditunggu pasti,
bahkan sesampai Jakarta di subuh itu,
seusai mandi tak sempat merebahkan tubuh ringkihku,
megurus jenazah menjadi tanggungjawabku,
dan terus sampai tengah malam mengisi training,
"kelak, akan kau sadari kau sangat sedikit memiliki waktu"
terbukti kawan,
bahkan tidur 4 jam sehari masih minim waktu,
pekerjaan lebih banyak dari waktu,
demi memperjuangkan VISI, matipun aku rela..
hingga dalam segala kesibukan segudang urusan itu,
aku terlalai mengirim sebuah laporan mutabaah,
dan sebuah konsekuensi harus kuterima.
hukuman kawan,
bahkan tak pandang bulu siapa dirimu,
bahkan jika kau pemimpin, kau yang harus lebih dahulu memberi contoh,
tak ada keluh, tak ada alasan, tak ada minta belas kasihan,
dan tantangan lagi buatku, karena hukuman itu harus aku yang menentukan,
"menghukum orang lain itu gampang kak,
tapi menghukum diri sendiri memang sulit,
dan itu yang perlu kita latih untuk menjadi orang disiplin"
bisa saja kawan,
memilih hukuman teringan untuk kita terima,
tapi dimana keteladanan?
dimana reputasi kepemimpinan?
dan inilah kepemimpinan,
ujian keteladanan,
ujian kekuatan,
tak ada keluhan atau alasan,
yang ada adalah dedikasi penguatan,
memantaskan diri,
memeperkokoh dan menguatakan,
karena pemimpin itu mutlak harus diatas yang dipimpin,
"kaka janji de..."
janji untuk lebih tegar,
lebih hebat dari kalian,
lebih kuat dan semangat,
"kaka janji de..."
untuk mencintai kalian,
menjadi teladan untuk kalian,
kaka janji de...
pagi di ibukota,
7.10 WIB 25 April 2012
Mokhamad Kusnan
#dedikasi untuk para pejuang tangguh
gambar diatas tidak mewakili isi tulisan,
hanya ingin mengabarkan, bayi yang kucium kelak akan menjadi pemimpin besar :)
saya dari YOUTHCARE pak....
kadang sempat berpikir,
jika ba'da subuh Rasul bertanya pada para sahabat,
"siapa yang sudah sodakoh?
siapa yang sudah takziyah?
siapa yang sudah menyingkirkan duri di jalanan?
sia yang sudah ini itu..."
dan semua amal itu sudah dilakukan oleh Abu Bakar Ash-Siddik ra,
lalau sehebat apa sang ABu Bakar itu,
dan pagi ini mungkin menuntutku untuk mengikuti jejaknya,
ah..meski masih sangat jauh dari sang manusia santun itu,
pagi ini kawan,
seorang ibu tua kerumahku,
memintaku membantu anak kecilnya yang sedang sakit keras,
"Aji sakit mas Kusnan..."
demikian ucapnya,
raut mukanya layu,
air matanya bening mengalir membasahi pipi,
sesekali diusapnya,
matanya memerah,
ibu renta itu memintaku sangat,
sesaat seusai shalat subuh akupun bergegas,
pergi menuju sekretariat YOUTHCARE dan meminjam motor,
meminjam motor, helm, yang aku baru tau ternyata semuanya beda.
semuanya beda yang punya.
aku tak peduli,
lamhklah berikutnya memacu motor dengan kecepatanj penuh menuju rumah sang ibu,
gang sempit kumur di kalibata menjadi saksi agi tadi,
sang anak sudah sangat kritis,
"kenapa gak dari kemarin dibawa kerumah sakit bu?"
"kenapa dibiarkan dirumah sampai begini?"
demikian pertanyaan demi pertanyaan menyaahkan aku sampaikan kepada sang ibu.
hingga jawaban menggetarkan dan membuatku malu menyadarkanku
"ibu takut gabisa bayar. ibu takut mas Kusnan..."
TRIADIPA,
rumah sakit terdekat menjadi tujuanku,
dengan gegabah aku membawa ank kecil itu,
sedikit bertriak meminta perlayana terbaik untuk anak itu,
"tolong segera tangani, anak ini terkena DB" demikian ucapanku setengah marah pada petugas.
kembali aku memacu motorku,
menjemput salah satu temanku yang berprofesi dokter,
untuk membantu dan memberikan pelayanan terbaik,
sesusai itu aku menemani sang ibu,
mengurus semua biaya dan administrasi perawatan,
alhamdulillah semua berjalan meski banyak tantangan,
sang ibu bisa lega karena semua biasa bisa kuatasi.
saat langkah kutuju ke RS itu membawa susu cair untuk sang ibu,
sebuah smsm masuk padaku "kak, Abu dirawat di RS TEBET, kena hepatitis, mau ikut jenguk?"
aku hanya bertanya sekali "ruangan berapa"
dan setelah jawaban sms kuterima, aku lansgung memacu motorku kembali,
maklum semua harus kuselsesaikan pagi ini,
motor dan kedua helm aku pin jam dari beberapa orang,
tak enak memakainya lama,
ruangan nomor 302,
itulah yang kutuju,
sekotak biskuit dan satu pack yogurt kubawa,
perlahan kubuka pintu ruangngan itu,
ada beberapan pasien,
dan salah satunya adalah seorang anak yang tak asing bagiku,
seorang anak yang dulu berada di belakangku saat masih berpakaian putih-abu abu.
mensukseskan agenda tahunan kami, YOUTHCAMP,
sebuah ekmah gabungan menyadarkan anak-anak ingusan SMP,
kini kuketahui anak itu sudah menjadi mahasiswa sebuah perguruan tinggi ternama di kota Bogor.
langkah kutujukan kepadanya,
mendekatinya,
inalillah...
sekujur tubuhnya terlihat kuning,
tangan dan kakinya yang sangat terlihat,
sang adiuk yang menemani asyik online dengan leptop mungilnya,
aku sempat kaget saat sanga dik juga mengenalku
"bang bangun bang...ada kak Kusnan.."
demikian sang adik membangunkan anak itu,
daia masih tertidur,
"biarkan saja istirahat. gapapa kok" ucapku pelan.
sang adik memeprsilahkan bangku untukku,
akupun duduk disamping terbaringnya anak itu,
menanyakan beberapa hal pada sang adik,
sambil aku memijat-mijat tangan dan kakinya dengan lembut,
tak lama kemudian hadir dua orang tua,
yang kuketahuai dari jawabannya adalah kepala sekolah SMAnya dulu,
yang juga kepala sekolah adiknya sekarang.
setelah berbincang-bincang,
sang kepala sekolah bertanya "ini siapa?"
yang ditujukkan padaku
lantas pelan aku menjawab "saya dari YOUTHCARE pak,"
tak lama kemudian ayah dari anak itupun datang,
setelah beberapa kali berbincang dengan ekpala sekolah itu,
diapun emnanyakan hal sama padaku "ini siapa? teman kulihnya ya?"
aku hanya menjawab pelan sama "saya dari YOUTHCARE pak"
"saya dari YOUTHCARE pak"
dan ternyata banyak yang membutuhkan kita,
sebuah pilihan menunda atau mengabaikannya,
bukan di masalah kita punya atau tidak sesuatu untuk emmbantu,
terlebih kita punya cinta untuk membantu atau tidak,
dan disanalah semua bsia menjadi nyata,
cinta...
dan kuyakin smeua memilikinya,
cinta untuk kontribusi,
cinta untuk sahabat,
cinta untuk ketulusan berbagi dan berbuat,
cinta yang tulus untuk membantu.
"saya dari YOUTHCARE pak"
mungkin orang akan bertanya,
"CARE dengan apa dik?"
"apa bukti CAREnya dik?"
"saya dari YOUTHCARE pak"
sengaja kupilih jawaban ini,
untuk menegaskan, aku memiliki cinta untuk peduli.
siang terik di ibukota
24 April 2012
14.56 WIB
Mokhamad Kusnan
Selasa, 17 April 2012
"aku izin kak"
"aku izin kak"
demikian akunya polos,
raut mukanya sangat polos dari belasan panitia yang lain.
dia masih kelas 2 SMP kawan,
dia menjadi bagian dari belasan pelajar SITUBONDO yang tergabung dalam OPSI,
(Organisasi Pelajar Situbondo) demikian organisasi buatan YOUTHCARE SITUBONDO,
perkembangan YOUTHCARE di kota santri itu kian pesat saja,
dari sejak aku pertama kali menginjakkan kaki ke kota santri itu,
saat pertama kali menawarkan ke seorang sahabatku,
dan menjawab keraguannya "nanti gimana jalaninya akh?"
langsung sakja kujawab singkat "nanti ane kesana"
dan perjalanan lebih dari seribu kilo kutemnpuh,
rangka aluminium terbang membawaku ke kota di timur jawa,
dilanjutkan perjalanan naik bus sekitar 6 jam,
Situbondo...
demikian kota santri itu menjadi kota daerah pertama aku membuka cabang YOUTHCARE,
bayak harga harus kubayar,
tapi inilah VISI, apapun akan kulakukan,
dan inilah jalanku,
Allah-pun tak membiarkan hambanya sendiri,
niatan baik itu terus diujinya,
perjuangan kami mulai,
dan pengorbanan kian dituntutnya.
keraguan sahabatku kutepis,
memulai dari awal sangat berat memang,
tapi inilah perjuangan,
hingga operlahan ALlah tampakkan pertolonganNya,
bantuan demi bantuan datang ke kami,
mulai dari para aktivis daerah sana yang sangat mendukung,
sampai seorang PNS merelakan rumahnya kutempati,
bahkan seorang guru harus rela meninggalkan kelas dan membantu kami menyiapkan sound,
dan masih banyak lagi, juga perngorbanan para pejuang belia,
dan siang tadi,
sebuah gebrakan dasyat oleh para pejuang belia,
belasan anak lugu penuh semangat perbaikan,
mengumpulkan puluhan pelajar dari berbagai sekolah,
mengajak untuk sama berkontribusi dan mendirikan ROHIS di sekolahnya,
dan dia,
anak lugu kelas 2 SMP itu,
menjadi saksi bahwa kebangkitan itu akan pasti datangnya,
usianya tak membatasi semangatnya kontribusi,
padahal kawan,
hari selasa ini bukan hari libur,
sekolahnya tetap berjalan seperti biasa,
saat kutau kalao dia anak kelas 2 SMP,
langsung saja aku menanyakan lagi,
"hei bukannya sekolah?"
dan enteng dia menjawab "aku izin kak"
dengan senyuman, sambil menggulung tikar-tikar selesai acara,
keringat mengalir di dahinya,
disibaknya dengan kedua tangan,
peluh kelelahan dalam dirinya,
siang terik di Situbondo,
kusaksikan anak itu penuh gelora,
dan saat aku hendak meninggalkan tempat itu,
dengan tumpangan motor salah satu pengurus YOUTHCARE disana,
kusaksikan kembali kehebatan anak itu,
kawan...
ditengah terik kota itu,
dia ternyata hadir dan mengerjakan semua,
menyebar undangan dan yang lainnya,
dengan sepeda ontel bututnya...
"aku izin kak"
menjadi teguran buatku,
bahwa ALlah takkan membiarkan urusanNya tersiakan,
akan selalu ada manusia-manusia tulus yang akan memperjuangkan,
dan demikian dalam memeperjuangkan VISIku,
"aku izin kak"
menjadi penyemangat,
bahwa akan selalu ada manusia-manusia hebat,
yang dengan tulus berjuang untuk kepentinganNya,
"aku izin kak"
seolah tak ada alasan untuk melemah,
tak ada tempat untuk mengeluh dan menyerah,
seperti dia yang rela izin tidak sekolah,
yang tak jadi alasan meski tak ada motor,
bahkan dia termuda diantara belasan yang lain,
"aku izin kak"
selalu ada inspirasi dari daerah,
disetiap aku berjalan melangkahkan kaki ke pelosok negeri,
bahwa banyak pejuang hebat penuh inspirasi,
"aku izin kak"
inspirasi untuk semua pejuang di negeri ini,
bahwa akupun berazam untuk banyak menginspirasi,
untuk tegak dan bangkitnya generasi baru negeri ini,
dengan semangat perbaikan diri dan kontribusi,
sore di markas YOUTHCARE SITUBONDO,
diiringi sondtrack NARNIA "the Call"
semangat perjuangan yang terus membara,
aku akan hadir setiap ada panggilan,
karena aku diciptakan untuk menjadi pejuang..
17.21 WIB 17 April 2012
Mokhamad Kusnan
Senin, 16 April 2012
tetes air mata di bandara Abdul Rahman Saleh
namanya bu Sri,
sososk wanita paruh baya,
lebih enak dipanggil nenek Sri mungkin,
beliau salah satu penumpang pesawat yg membawaku ke Abdul Rahman Saleh Malang,
Malang kawan,
sebuah kota di pelosok jawa,
cukup maju untuk ukuran kota di daerah,
terlebih dilengkapi bandar udara yg sedang berbenah menuju Bandara internasional,
entahlah kawan,
Abdul Rahman Saleh menyiompan banyak energi,
namun juga mengungkap sejumlah elogi,
dan bu Sri,hanya salah satu yang kutemui,
sebuah gundah hati darinya
percakapan berawal ketika aku menanyakan perihal kota Malang,
haha... malang bagiku kawan,
aku baru pertama kalinya ke Malang dengan pesawat,
bukan gaya kawan, tapi karena keterbatasan waktu,
hanya pesawat yg bisa membawaku tak lebih dari dua jam,
membawa jasadku dari hiruk pikuk Jakarta menuju damai sejuknya Malang.
Ibu Sri,
awal percakapan itu meluas,
awalnya beliau menanyakan perihal diriku,
perihal keluarga dan asalku,
hingga saat kuceritakan tentang ayahku,
butir-butir air mata mengalir di pipinya
"nenek kenapa nangis?"
demikian sang cucu kecil bertanya,
seorang gadis mungil yang belum juga SD menarik-narik jilbab bu Sri..
dan saat itu beliau memulai ceritanya,
bu Sri kawan,
sosok wanita tangguh,
sosok wanita sabar,
bu Sri kawan,
hanya satu dari sekian banyak wanita,
yang menjadi korban dari gerakan G30 S PKI,
beliau bersuami seorang anak dari pemberontak PKI,
dan bu Sri harus menelan pil pahit akibatnya,
dirinya dan suaminya tak pernah diterima bekerja di Jawa,
dan saat kedua anak kecilnya terlahir ke dunia,
sang suami merantau ke Kalimantan,
mencoba mengais rezeki untuk menghidupi kedua anak kecilnya,
namun inilah rencana Allah kawan,
alih-alih mencari pekerjaan, suami bu Sri terpikat wanita di Kalimantan,
ujungnya tak pernah kembali ke tanah jawa,
berkeluarga dan menetap di Kalimantan,
dan cerita perjuangan bu Sri dimulai,
pekerjaan demi pekerjaan dilakukan,
namun nihil, predikat istri dari seorang anak PKI masih melekat,
tak satupun lembaga yang mau menerimanya bekerja,
dua anak kecil menjadi penyemangatnya, bu Sri tak patah semangat,
apapaun pekerjaan halal dilakukan,
dua anak kecil itu terus menjadi alasan tak boleh menyerah
dan usaha bu Sri yang gigihpun memperoleh hasil,
kerja demi kerja membuahkan hasil,
kedua anaknya bisa tumbuh besar,
kesetiaan pada suaminya tetap dijaga,
kepercayaan bahwa suatu saat suaminya akan pulang terus dijaga,
bahkan bu Sri menolak dengan keras saat diminta untuk menikah lagi oleh orang tuanya,
"suamiku lagi mencari pekerjaan, suatu saat akan pulang"
demikian jawaban tegarnya.
bahkan kawan,
saat datang berita tentang suaminya yang sudah berkeluarga lagi di Kalimantan,
bu Sri masih tak percaya, hingga akhirnya bu Sri mengetahui kebenarannya,
namun demikianlah ketegaran bu Sri,
beliau tetap menjadi wanita tangguh,
beliau tetap menjadi wanita hebat.
kedua putranya bisa tumbuh besar,
bahkan semuanya menamatkan pendidikan sarjana,
hingga kini bu Sri memiliki dua cucu kecil
dengan penuh perasaan bu Sri berkisah,
butir-demi butir air mata mengalir di pipinya,
sesenggukan menambah pilu cerita hidupnya,
sang cucu masih terus menarik-narik kerudung titipnya.
lebih dari setengah jam beliau bercerita,
padaku, pada cucunya yang mungkin masih belum tau,
pada dunia, pada realita yang selama ini "emoh" mendengarnya,
beliau menatapku,
seperti tatapan cinta ibu pada anaknya,
dengan penuh ketulusan beliau berucap pelan "ibu masih mencintai suami ibu.."
dan All menguji cintanya,
belum lama ini sang Suami kembali ke Jawa,
dalam keadaan sakit yang komplikasi,
dalam keadaan renta yang penuh lemah,
dan menyatakan ingin kembali kepada bu Sri,
saat mneceritakan tentang ini,
tangisan beliau kian keras,
air mata kian kencang mengalir,
Allah punya rencana lain,
keluarga bu Sri mengusir,
anak-anak bu Sri mendendam,
alhasil sang suami tak berdaya kembali ke Kalimantan,
saat bu Sri menangis lebih keras,
beliau perlahan bilang
"saya sangat mengkhawatirkan nak...
mengkhawatirkan suami saya karena dia menderita komplikasi,
sedang harus ke Kalimantan sendiri"
saya mengkhawatirkan keadaannya,
dan demikianlah ketulusan cinta,
cinta seorang bu Sri,
cinta pada suaminya,
bahkan tak ada kebencian meski telah didzalimi,
setengah jam lebih beliau bercerita,
dan mengakhiri ceritanya dengan bhanyak pesan padaku,
untuk jangan menyiakan cianta,
dari siapapun,
apalagi ketulusan pasangannya,
bu Sri kawan,
beliau menutup ceritanya,
dan mengusap aliran air mata,
saat sang menantunya datang menjemputnya,
di bandara itu, Abdul Rahman Saleh, Malang
sore kami berpisah,
tets air mata itu mengiringi kisah,
tetes air mata di bandara Abdul Rahman Saleh
17.15 WIB, 15 April 2012
Mokhamad Kusnan
Jumat, 13 April 2012
winnning spirit
i will look beyond the darkness to the light
i will look beyond the problem to the sollution
i will look beyond the obstacles to the opportunities
i will look beyond the imposibble to the possibilities
when other doubt, i will courage and inspiration
when other quit, i will demonstrate strenght and determination
i cannot do everything, but i can do something
what i can do, i must do
what i must do, i will
Mokhamad Kusnan
00.00 14 APRIL 2012
winning spirit disaat sebagian besar orang terlelap
Senin, 02 April 2012
pasti naik....
supiah kawan,
ya...dialah supiyah,
dia seorang pedagang sayur di pasar minggu yang bersuara tentang BBM,
dia yang saat aku beli sayur kepadanya,
menanyakan seputar kenaikan harga BBM,
"jujus saja mas, saya mah gak peduli naik atau enggak,
dari dulu ganti pemimpin gini aja tuh,
berubah jadi sejahtera atau enggak bukan karena pemimpin,
tapi karena usaha kita sendiri denngan izin gusti Alloh"
demikian ucapnya,
aha,
supiah kawan,
seorang ibu paruh baya dekil yang ada di pinggiran jalan menjual sayur layu sampai siang,
laku tak laku dia tetap berharap,
yang jelas dimatanya tak ada harapan lagi dari pemimpin negeri ini,
"usaha kita sendiri dan restu gusti Alloh"
demikian diulangnya beberapa kali padaku,
BBM mau naik atau tidak seolah dia tak peduli,
dia juga sudah muak membicarakan keburukan para pemimpin negeri,
tapi seolah makin membuat mulut kian pahit saja,
perubahan tak kunjung datang,
pasti naik...
demikian aku menjawabnya,
dan menegaskan,
"BBM pasti naik bu..."
dan dia hanya tersenyum,
"bener tuh kata orang-orang,
akal-akalannya pemerintah aja bilang nunda,
BBM akan tetap naik,
yang enak ya yang jualan dan banyak duit,
kalo kayak saya gini mah tetap usaha sendiri"
demikian ucapnya sambil tertawa,
pasti naik...
tengah malam dekat pasar minggu,
23.45 WIb 2 April 2012
Mokhamad Kusnan
Minggu, 01 April 2012
antum gak tidur ya akh..?
setelah sekian lama akhirnya aku bisa menjumpainya,
mungkin hampir sebulan aku tak bersua dengannya,
selain kesibukanku yang banyak,
juga dia yang tak kalah sibuk,
hufadz kawan,
seorang yang seluruh hidupnya didedikasikan diri untuk menanamkan Al-Qur'an,
membenamkan Al-Qur'an di benak anak-anak muda,
mimpinya simpel, seribu orang hafal Qur'an dengan tuntunannya,
tak omong doang, dia sudah menghafalkannya 30 jus itu,
sebuah acara mabit,
sebagai pengganti halaqoh pekanan,
mempertemukan kami kembali setelah sekian pekan aku tak hadir di halaqoh,
bukan malas kawan, sekali lagi karena kesibukan,
karena visi, karena dedikasi diri,
tapi aku selalu semangat untuk tarbiyah dzatiyah..tarbiyah diri sendiri,
senyumannya hangat menyambutku,
pelukan rindu dan ciuman pipi syahdu,
bukti ukhuwah dan rindu membuncah,
"kaifa haluk ya akhi...lama nian gak lihat antum"
demikian ucapnya santun, diiringi senyuman lugu.
MPD (Mini Pocket Donation),
setelah sekian lama diskusi, aku tawarkan sebuah,
dia hanya mengucap "subhanallah.."
dan diam sejenak,
kemudian keluar ucapan;
"antum gak tidur ya akh?"
aku cukup kaget,
kenapa langsung dia menanyakan itu?
"antum pasti gak tidur ya?
kreatif sangat nih YOUTHCARE,
antum menjiwai banget,
pasti gak tidur selalu memikirkan YOUTHCARE"
demikian ucapnya.
aku hanya terdiam,
ah...malu rasanya,
belum apa-apa sudah dipuji,
padahal, dialah manusia ntangguh itu.
dialah sang hufadz,
dia yang mendedikasikan diri untuk segera mungkin melahapo 30 jus dalam otaknya,
dia pula yang tak ragu belajar menguasai dan membetulkan setiap bacaannya,
dia pula yang sehari hanya tidur 3 jam untuk senantiasa menjaga bacaan,
ah kawan,
dia yang lebih hebat,
dia yang sehari minimal 10 jus dibacanya,
dia pula yang tiap hari mengulang hafalan 10 jus,
dia juga sibuk mengurus keluarga dengan dua anak kecil ingusannya,
dia yang memiliki ratusan murid hebat para penghafal juga,
dia yang masih sibuk kuliah dengan seabreg buku tebal berbahasa arab,
dia yang sibuk dari masjid ke masjid mengisi ceramah,
"antum gak tidur ya akh?"
ucapannya teguran keras buatku,
dia menegur secara tak langsung,
menegur sejauh mana usahaku,
menegur sejauh mana optimalisasi waktu,
menegur kesungguhan, pengorbanan, dan deddikasi diri,
"orang yang punya visi, akan hidup dengan visinya,
dia akan pertaruhkan semua untuk visinya,
hingga visinya terrealisasi nyata, atau dia mati dalam usaha memperjuangkannya"
demikian aku pernah berucap padanya,
dan dia punya visi,
dialah sang hufadz,
visinya besar luar biasa,
visinya semua muslim menghafal Al-Qur'an,
pernah aku sangkal niatan baiknya,
"akhi...ngapain hanya menghafal Qur'an, yang penting kan faham dan mengaplikasikan"
namun jawabannya menghantamku,
mkemnusuk pembenaranku,
"akhi...syarat utama paham adalah hafal.
orang hafal belum tentu paham,
namunj orang paham sudah pasti hafal,
Qur'an itu sebuah kesatuan yang terpadu,
hafal 30 jus sebuah keniscayaan untuk emmahami seluruh Al-Qur'an"
demikian ucapnya.
bukan omong doang,
dialah sang hufadz,
dialah yang saat jadi imam senantiasa bergetar dalam tilawah,
menangis saat yang dilafadzkannya adalah ancaman atau siksaan,
dialah yang sesenggukan keras dengan deraian air mata,
jika menjadi imam atau shalat sendiri dan melafadzkan ayat-ayatNya,
dialah yang saat tilawah memahami isinya,
"memang hafal saja tak cuku,
antum harus menguasai bahasa Al-Qur'an"
demikian jelasnya,
dialah sang hufadz,
dialah yang mendedikasikan diri un tuk membumikan Al-Qur'an,
tak omong doang, dia kuasai bahasa Arab dengan fasih,
dia pahami ayat demi ayat Al-Qur'an,
hemmm...dialah yang setiap membaca Qur'an bagai membaca surat cinta,
dialah yang memberikan cinta besar pada apa yang dibacanya.
"antum gak tidur ya akh?"
demikian ucapannya,
mengekpresikan bahwa visi ini harus diperjuangkan sepenuh hati,
saat aku tak tidur untuk visi YOUTHCAREku,
dia tak tidur untuk visi Qur'annya,
"akhi...bisakah di YOUTHCARE diadakan training menghafal Qur'an?
memang tak bisa sehari dua hari, tapi bisa dalam dua bulan atau setahun,
bagaimana kalau kita buat lembaga tahfidz?
LEMBAGA TAHFIDZ YOUTHCARE...demikian pintanya.
dialah hufadz,
dialah sang visioner,
dialah yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk Qur'an,
"antum gak tidur ya akh?"
sebuah renungan,
bahwa visi butuh keseriusan,
butuh perjuangan dan pengorbanan lebih,
bahkan tak jarang kita harus menggadaikan waktu tidur,
untuk memikirkan visi atau emmeperjuangkannya,
"antum gak tidur ya akh?"
pagi syahdu di ibukota,
esok harus sejenak ke sebrang sana,
06.15 WIB 2 April 2012
Mokhamad Kusnan
Selasa, 27 Maret 2012
aku mencintainya....
aku mencintainya...
demikian ucapannya,
singkat,
namun demikianlah kesaktian kata itu,
namanya Fransiscus Haryono,
seorang katolik taat,
namun malam itu dia kembali kepada kebenaran, kembali Islam,
kisahnya cukup rumit,
haryono kecil lahir kembar,
di rumah sakit Elishabet, Metro, lampung.
beliau lahir tahun 60an,
lahir dari keluarga muslim miskin,
dan kemudian setelah kelahirannya,
sang bayi kembar terpisah,
sang ibu wafat,
dan sang ayah sangat sedih kehilangan,
tak lagi mengurus bayi,
dan kedua bayi dibawa dua ibu yang berbeda,
"kembaranku katanya dibawa seorang muslim taat,
aku dibawa keluarga katolik,
hingga dewasa bahkan sampai mandiri"
hingga suatu saat,
ayah katolikku menjelang wafat, memberikan sebuah wasiat,
bahwa aku ternyata bayi yang dipungut,
kembaran dari keluarga muslim miskin,
di surat wasiat itu diceritakan tentangku,
tentang rumashsakit kelahiranku,
tentang keluargaku,
dan kampungku,
malam kemarin,
saat aku sedang mengisi liqo,
dan mengajak binaanku shalat bejamaah di sebuah masjid,
di belakang komplek kalibata indah,
aku menjumpai beliau,
dan beliau mnceritakan semuanya,
"sejak ayah katolikku memberikan wasiat itu,
keluarga kami dalam kebimbangan,
istriku mendapatkan hidayah terlebih dahulu,
dan juga kedua anak pertamaku,
tinggal aku dan ketiga anak kecilku,
dalam proses meyakinkan diri sebelum masuk islam,"
demikian ceritanya,
"istriku,
dialah sang pembuka pintu hidayah,
hampir setiap saat selalu mengajakku diskusi,
tentang kebenaran Islam dan kemuliaannya,
tentang kebenaran bahwa sejatinya sejak dalam kandungan kita semua adalah Islam,
orang tua kita saja yang menjadikan kita tidak islam,
bahkan, pernah suatu saat kami harus berpisah rumah,
hanya karena egoku tak menerima perpindahan agamanya,
namun istriku bersikukuh tetap dengan Islam,
dan mantap dengan keislamannya,
sejak pertama masuk islam istriku langsung mengenakan pakaian penutup kepala,
dan dengan penuh perhatian mengajakku nkepada Islam,
pekerjaan yang sangat menyita waktu tak kunjung membuka hatiku,
aku sangat jarang bertemu dengannya"
"aku mencintainya,,,"
demikian ucap istriku,
saat dia tetap tinggal bersamaku meski aku belum juga ikut masuk islam,
awalnya keluarganya menyarankan untuk meninggalkanku,
atau meminta cerai dariku,
namun istriku penuh kesabaran membimbingku,
sejak masuk islamnya dia,
dia tak pernah mengurangi perhatian dan sayangnya padaku,
perlahan dia tuntukkan bukti kasih sayangnya,
dan selalu memberikan bukti bahwa islam itu lebih penuh kasih,
penuh cinta dan sayang, penuh perhatian,
aku mencintainya,
sebuah kisah kembalinya seorang pada Islam,
tentang cinta seorang istri pada suaminya,
tak hanya cinta semu,
namun cinta yang sudah menjalar dalam keimanan,
dan cinta itulah yang menyatukan kembali,
sang suami ikhlas dan yakin dengan kebenaran islam,
kembali pada islam,
aku mencintainya...
jelang magrib,
mendung di ibukota,
18.08 WIB 27 MARET 2012
Mokhamad Kusnan
Langganan:
Postingan (Atom)




























