seri heroik anak smp 6:
mushola dihancurkan,
ROHIS dihapus dari daftar ekskul,
ROHIS tak ada lagi njilainya di raport,
semua ujian kian berat saja menimpa anak-anak belia itu,
siang itu,
setelah team building di kebun raya bogor itu,
semangat mulai menyala kembali,
pertemuan demi pertemuan pekanan kami laksanakan di kelas,
shalat kami lakukan di kantor REKAYASA INDUSTRI yang tak jauh letaknya dari sekolah itu,
siang itu,
sekitar sebelas anak yang masih memiliki komitmen berkumpul,
kami memandangi puing-puing mushola kami,
seluruh bangunan hyancur, disisakan tembok-tembok kokoh pinggirnya,
"akan dibangun UKS dan ruang BK" demikian kata seorang pesuruh sekolah.
setelah dialog dan minta sana-sini,
akhirnya kami disisakan ruangan sempit kumuh pengap untuk mushola,
ruangan itu awalnya mihrab mushola,
dan saat kami temui kondisinya mengenaskan,
peralatan dapur berserakan di tempat dimana biasanya imam memimpin sholat,
atap terlihat mau abruk, bocor sana-sini,
mushola hancur,
mushola sederhana yang bisa menampung sekitar 200an anak berhimpit itu,
kini sudah hancur tinggal puing dan barang-barang tak terpakai,
"sebagian akan dibangun UKS dan ruang BK, sisanya dijadikan gudang"
itu pengakuan bidang sarana prasarana.
perjuanganku untuk membangun mushola lagi tak dijawab,
beberapa pekan dalam bulan-bulan awal setelah pembongkaran itu,
anak-anak terlantar untuk shalat,
shalat jum'at aja bisa dipastikan ratusan anak tak sholat jum'at,
mondar mandir terpencar,
==
pekan demi pekan,
kegiatan pekanan itu kami rajut kembali,
meski awalnya hanya sebelas orang itu,
semangat membara kami bisa mengajak yang lain lagi,
beberapa yang sudah beralih ke ekslul lain tak kembali,
tapi datang anak-anak baru,
mereka melihat semangat kami,
lalu mereka mengikuti kami,
jumlahnya kian lama kian banyak,
ujian itu membangkitkan,
dan itu yang terjadi bagi kami,
di pertemuan demi pertemuan itu,
materi-materi sangat dibatasi,
kami lebih sering menonton atau games,
atau materi ringan dengan simulasi,
bahkan tiap sebulan sekali kami rihlah,
meski hanya sekedar di kebun binatang Ragunan atau hutan UI,
tiap pekan anak-anak mendatang satu demi satu rumah yang lain,
menjalin silaturahim dengan orang tua,
kami juga mendata hasil akademik anak-anak,
bimbel gratis untuk anak rohis bergulir,
kami juga melupakan sikap sekolah kepada kami,
bakti terbaik tetap kami tunjukkan,
tak lagi kami pedulikan ada atau tidaknya mushola,
yang penting kegiatan pembinaan masih bisa berjalan,
entah di kelas, di lab, di lapangan, atau di emperan kelas,
kegiatan pekanan terus berjalan,
dengan kreativitas dan kemasan menarik,
setiap pekan selalu ada inovasi,
ujian itu menguatkan, membangkitkan
demikian yang terus kutanamkan ke anak-anak itu,
bahwa beginilah jalan dakwah,
takkan pernah mulus dan penuh keindahan selamanya,
namun penuh ujian demi ujian,
ujian itu menguatkan,
seperti paku aja,
makin dipukul makin menghujam dalam,
makin kuat menancapnya,
ujian itu menguatkan,
demikian yang dilkakukan anak-anak belia itu,
dan seharusnya kita semua sebagai aktivis dakwah,
kehadiran yayasan AL-KAHFI juga seharusnya menguatkan,
seharusnya menjadi titik kebangkitan kita,
agar kita tak terbuai dengan yang ada,
agar kita lebih serius dalam membina,
agar kita lebih komitmen dan memperbaiki manajemen pembinaan kita,
agar kita lebih bisa introspeksi diri,
bersyukur kita dengan hadirnya yayasn AL-KAHFI,
bukti bahwa Alloh masih sayang kita,
bukti bahwa Alloh ingin kita lebih solid,
bukti bahwa Alloh ingin kita lebih kreatif,
ujian itu menguatkan, membangkitkan
pagi gerimis di kantor YOUTHCARE,
06:46 WIB 1 maret 2012
Mokhamad Kusnan
Tampilkan postingan dengan label seri heroik smp. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seri heroik smp. Tampilkan semua postingan
Rabu, 29 Februari 2012
Selasa, 28 Februari 2012
seri heroik 5: ujian terberat itu, saat mushola kami dihancurkan
seri heroik anak smp 5:
"kak, hari ini ke sekolah ya, mau muntah saya.."
demikian smsnya,
hari ini pembongkaran itu akan dilakukan,
mushola tempat kami mendidik militansi anak-anak itu akan dihancurkan,
selama dua pekan ini kami sudah negosiasi,
pendekatan ke guru-guru...nihil,
semua guru sudah takut, tak ada yang berani membela,
semua nurut dengan kehendak kepala sekolah baru itu,
"kita sudah ikhtira,
jika besok tetep dibongkar maka itulah rencana Allah,
dakwah harus tetap berjalan,
besok sore semua kumpulkan anak-anak,
ada yang ingin kk bicarakan"
demikian smsku pada sang ketua ROHIS,
dia masih terlalu kecil untuk mengurus ujian itu,
"kalo ushola benar-benar dibongkar,
kita akan mentoring dimana kak?
dan acara-acara kita akan dimana?
sholat dimana?"
demikian pertanyaan bertubi-tubi anak-anak mungil itu,
=
siang itu,
perjalananku ke seolah itu penuh emosi,
ini ujian terberat kami,
setelah ekskalasi dakwah yang kami lakukan,
setelah tanaman tarbiyah itu mulai berkembang,
kini Allah hadirkan ujian berat itu, mushola kami akan dihancurkan,
sesampai disekolah aku langsung keruang guru,ke kantor,
seluruh petinggi sekolah dan jajarannya tak ada, sesuai dugaanku,
semua guru bungkam saat kudekati dan tanyakan,
seolah tak ada lagi yang membantu dan peduli,
siang itu,
raut muka sekitar 30an anak-anak binaanku memerah,
kesedihan membuncah tak tertahankan,
ada yang tak sanggup melihat, menutup matanya, terdiam dalam desak tangis,
ada yang tertunduk, kemudian jongkok dan menunduk, larut dalam sedih,
aku sendiri tetap berusaha tegar, berdiri tegak,
kami semua,
menatap bangunan yang sudah sekitar 3 tahun kami jadikan tempat penggembelngan,
tempat menanam benih-benih tarbiyah,
tempat menyemai tunas-tunas ukhuwah,
saat itu perlahan dibongkar,
palu besar merobohkan tembok demi tembok,
hiasan-hiasan dinding dilepas dan dibuang seenaknya,
mading-mading kreasi kami, ditumpuk dan dibuang,
semua dimasukkan ke tong sampah besar,
logo dan stiker rohis kami, dilepas,
siang itu,
pukulan keras palu besar mulai meruntuhkan tembok,
papan triplek satu demi satu dibongkar,
mushola semi permanen sederhana itu dihancurkan,
30 anak itu menyaksikan bersama denganku,
ujian terberat itu, saat mushola kami dihancurkan,
dan dengan mata telanjang, kami semua menyaksikan,
derai tangis dan kepiluan mengiringi runtuhnya bangunan itu,
bangunan tempat kami menanamkan militansi,
bangunan tempat kami menyemai ukhuwah dan membangun cinta,
==
hari-hari berikutnya anak-anak banyak terdiam,
pertemuan pertama setelah bangunan mushola itu dihancurkan hanya dihadiri segelintir anak,
kami sekarang mengadakan pertemuan di kelas,
siang itu wajah-wajah layu mereka tampakkan,
semangat dan gelora mendalam hilang seketika,
seolah mulai saat itu dakwah kami diruntuhkan,
bersama runtuhnya bangunan sederhana,
runtuhnya bangunan yang setiap bulan kami hias,
kami perindah dan buat wangi,
agar banyak dan makin banyak yang senang kesana,
untuk sekedar membaca buku koleksi kami atau mendirikan shalat,
namun pertemuan siang itu amat dingin,
tak ada gelora..tak ada semangat..hilang termakan diam,
bersamaan dengan itu kesibukanku kian bertambah,
aku sering keluar kota,
alhasil aku jarang ke sekolah itu,
semangat memudar,
tiga kali pertemuan setelah pembongkaran itu dihadiri tak lebih dari 5 anak,
sedikit...tak ada semangat...
seolah menambah sata penderitaan.
ditambah pula aku absen hampir sebulan karena kesibukanku,
"assalamualaikum...
dik, besok kita ROHIS ya,
ada oleh-oleh dari surabaya nih buat kalian,
ajak yang lain ya..
ayo tetap semangat"
demikian smsku pada salah satu anak,
"kak?
memang ROHIS masih ada ya?
kemarin di daftar ekskul nama rohis sudah tidak ada,
di daftar kegiatan hari sabtu juga rohis dicoret,
anak-anak sudah beralih ke ekskul lain,
percuma kak besok kakak ke sekolah"
demikian jawaban yang kuterima,
aku sempat sedih membacanya,
seolah tak hanya bangunan mushola itu yang dihancurkan,
semangat anak-anak itupun diruntuhkan,
organisasi kami dihapuskan,
seolah semuanya bagai palu yang menghantam hatiku,
dalam rakaat malam aku mengadu,
inikah akhir perjuangan?
atau inikah ujung ujian?
inikah hasil 4 tahun aku dedikasikan?
waktu, pikiran, semuanya?
ah,
tak mungkin Alloh memiliki niatan buruk pada hambanya,
terlebih hamba yang memeprjuangkan kepentinganNYa,
dalam munajat aku terus mengadu,
==
siang itu,
membawa beberapa oleh-oleh aku melangkahkan kaki ke sekolah itu,
tak ada sambutan hangat dari anak-anak itu,
tiga anak perempuan dengan dua lelaki yang menungguku,
siang itu aku telat sampai sekolah itu,
"yang lain mana?" demikian tanyaku.
"anak-anak gamau ikut rohis lagi kak,
rohis sudah dihapus dari daftar ekskul,
mushola juga udah di bongkar,
apa yang masih kita harapkan lagi?"
demikian salah satu anak menjawab,
"ini ada oleh-oleh dari surabaya,
silahkan buat kalian"
ucapku sambil memberikan dua kantong besar,
berisi makanan dan handycraft,
anak-anak itu menerima,
namun belum ada binar mata dan keceriaan,
hanya anggukan dan ucapan terimakasih dingin,
"kita makan baso yuk?
kk belum makan siang nih
semua kk yang traktir deh"
ajakku pada mereka,
dan kami kemudian berjalan ke tukang baso,
tak jauh dari sekolah itu,
kepedihan demi kepedihan,
selama tak kurang dari 3 bulan masih menyelimuti kami,
pertemuan pekanan tak semangat lagi,
kesibukanku menambah lemahnya suasana,
pertemuan dua pekanan itu hanya dihadiri segelintir anak,
kadang hanya bertiga, kadang bahkan tak seorangpun datang,
namun aku tetap komitmen untuk datang,
di ruang kelas kumuh kami lakukan,
pembinaan harus terus berjalan,
apapun yang terjadi...
bulan keempat setelah pembongkaran itu,
aku dikejutkan oleh anak-anak itu,
saat di raport mereka tak ada lagi nilai ekskul ROHIS,
seolah makin menambah daftar runyam ujian,
orang tua mereka makin tak memiliki semangat lagi mengizinkan anaknya ikutan,
cara demi cara,
aku terus mengupayakan kebangkitan,
mulai dari mengajak mereka nonton di bioskop,
mentraktir mereka di fast food,
memberi hadiah-hadiah kecil dan handycraft sepulang aku dari luar kota,
nihil....semua usaha masih nihil..
ujian terberat itu,
saat mushola kami dihancurkan,
disusul melemahnya semangat anak-anak itu,
ditambah organisasi kami dihapuskan,
dilengkapi orang tua mereka yang tak mendukung lagi,
ujian berat itu,
inikah akhir dari 4 tahun pembinaan?
inikah akhir jalan perjuangan?
inikah akhir dari buah tarbiyah?
ujian berat itu,
ah...aku yakin ada maksud besar Allah hadirkan ujian ini,
aku yakin Allah hendak menaikkan derajat kami,
aku yakin Allah menguji reputasi kami,
malam syahdu aku berikrar akan memulai kebangkitan lagi,
==
sore itu,
di kebun raya bogor,
sata bujuk rayu kepada mereka,
setelah satu demi satu kami sambangi rumah mereka,
api semngat itu perlahan kami hidupkan kembali,
gelora jihad kami tumbuhkan kembali,
"seharusnya kita berpikir kenapa Allah uji kita dengan hal ini,
seharusnya kita bersyukur dengan ujian berat ini,
mushola dihancurkan...rohis tak lagi diakui dan dihapuskan dari daftar ekskul,
semua menguji komitmen dan ketsiqohan kita pada islam,
menguji apakah kita akan terus semangat memeperjuangkan agamaNya,
menguji setelah beberapa tahun tarbiyah kita,
adik-adikku,
inilah momentum buat kita untuk bangkit,
Allah telah menyeleksi mana yang serius dan mana yang hanya main-main,
seperti yang ad di al-Qur'an, Allah akan hadirkan ujian,
takkan membiarkan keimanan kita begitu saja bertumbuh,
aha...seperti zaman Rasulullah,
ujian demi ujian hadir menguatkan,
memperkokoh dan mensolidkan barisan,
adik-adikku...dan inilah saatnya kita diuji, untuk tumkbuh lebih besar...
dan kita akan buktikan, bahwa keimanan kita masih ada, bahwa semangat itu masih ada,
bahwa janji Allah pasti adanya, setelah eksulitan ada kemudahan..
Allohuakbar...Allohuakbar...Allohuakbar"
sore itu,
di kebun raya bogor itu,
belasan anak membuat komitmen lagi,
teriakkan takbir semngat menggelora,
kami akan bangkit kembali,
ujian terbarat itu,
bahkan kadang malah akan membuat kita besar,
ujian terberat itu,
justru titik tolak menuju kebangkitan,
ujian berat itu,
menyeleksi dan memilih yang terkuat,
untuk kemudian menanggung amanah berat,
menuju kemenangan,
ujian berat itu,
saat mushola kami dihancurkan,
seolah mengingatkan,
bahwa inilah hakikat dakwah ini,
akan banyak cobaan dan uji,
menguji kekuatan semngat dan keimanan,
menguji hasil tarbiyah kita selama ini,
menguji keikhlasan kita,
ujian terberat itu,
saat mushola kami dihancurkan,
saat rohis kami dihapus dari daftar,
justru seharusnya membuat kita tersadar,
bahwa beginilah jalan dakwah itu,
ujian terberat itu,
saat mushola kami dihancurkan,
menyadarkan diri ini,
bahwa dakwah ini harus senantiasa mawas diri,
harus senantiasa siap dengan hal yang tak pasti,
harus senantiasa menguatkan diri
ujian berat itu,
saat mushola kami dihancurkan,
menyadarkan bahwa kita tak boleh terlalai,
pembinaan itu untuk menguatkan agar kelak siap dengan ujian,
ujian berat itu,
saat mushola kami dihancurkan,
pagi syahdu di kantor peradaban,
mendung segar di ibukota,
07:00 WIB,
29 februari 2012
mokhamad kusnan
"kak, hari ini ke sekolah ya, mau muntah saya.."
demikian smsnya,
hari ini pembongkaran itu akan dilakukan,
mushola tempat kami mendidik militansi anak-anak itu akan dihancurkan,
selama dua pekan ini kami sudah negosiasi,
pendekatan ke guru-guru...nihil,
semua guru sudah takut, tak ada yang berani membela,
semua nurut dengan kehendak kepala sekolah baru itu,
"kita sudah ikhtira,
jika besok tetep dibongkar maka itulah rencana Allah,
dakwah harus tetap berjalan,
besok sore semua kumpulkan anak-anak,
ada yang ingin kk bicarakan"
demikian smsku pada sang ketua ROHIS,
dia masih terlalu kecil untuk mengurus ujian itu,
"kalo ushola benar-benar dibongkar,
kita akan mentoring dimana kak?
dan acara-acara kita akan dimana?
sholat dimana?"
demikian pertanyaan bertubi-tubi anak-anak mungil itu,
=
siang itu,
perjalananku ke seolah itu penuh emosi,
ini ujian terberat kami,
setelah ekskalasi dakwah yang kami lakukan,
setelah tanaman tarbiyah itu mulai berkembang,
kini Allah hadirkan ujian berat itu, mushola kami akan dihancurkan,
sesampai disekolah aku langsung keruang guru,ke kantor,
seluruh petinggi sekolah dan jajarannya tak ada, sesuai dugaanku,
semua guru bungkam saat kudekati dan tanyakan,
seolah tak ada lagi yang membantu dan peduli,
siang itu,
raut muka sekitar 30an anak-anak binaanku memerah,
kesedihan membuncah tak tertahankan,
ada yang tak sanggup melihat, menutup matanya, terdiam dalam desak tangis,
ada yang tertunduk, kemudian jongkok dan menunduk, larut dalam sedih,
aku sendiri tetap berusaha tegar, berdiri tegak,
kami semua,
menatap bangunan yang sudah sekitar 3 tahun kami jadikan tempat penggembelngan,
tempat menanam benih-benih tarbiyah,
tempat menyemai tunas-tunas ukhuwah,
saat itu perlahan dibongkar,
palu besar merobohkan tembok demi tembok,
hiasan-hiasan dinding dilepas dan dibuang seenaknya,
mading-mading kreasi kami, ditumpuk dan dibuang,
semua dimasukkan ke tong sampah besar,
logo dan stiker rohis kami, dilepas,
siang itu,
pukulan keras palu besar mulai meruntuhkan tembok,
papan triplek satu demi satu dibongkar,
mushola semi permanen sederhana itu dihancurkan,
30 anak itu menyaksikan bersama denganku,
ujian terberat itu, saat mushola kami dihancurkan,
dan dengan mata telanjang, kami semua menyaksikan,
derai tangis dan kepiluan mengiringi runtuhnya bangunan itu,
bangunan tempat kami menanamkan militansi,
bangunan tempat kami menyemai ukhuwah dan membangun cinta,
==
hari-hari berikutnya anak-anak banyak terdiam,
pertemuan pertama setelah bangunan mushola itu dihancurkan hanya dihadiri segelintir anak,
kami sekarang mengadakan pertemuan di kelas,
siang itu wajah-wajah layu mereka tampakkan,
semangat dan gelora mendalam hilang seketika,
seolah mulai saat itu dakwah kami diruntuhkan,
bersama runtuhnya bangunan sederhana,
runtuhnya bangunan yang setiap bulan kami hias,
kami perindah dan buat wangi,
agar banyak dan makin banyak yang senang kesana,
untuk sekedar membaca buku koleksi kami atau mendirikan shalat,
namun pertemuan siang itu amat dingin,
tak ada gelora..tak ada semangat..hilang termakan diam,
bersamaan dengan itu kesibukanku kian bertambah,
aku sering keluar kota,
alhasil aku jarang ke sekolah itu,
semangat memudar,
tiga kali pertemuan setelah pembongkaran itu dihadiri tak lebih dari 5 anak,
sedikit...tak ada semangat...
seolah menambah sata penderitaan.
ditambah pula aku absen hampir sebulan karena kesibukanku,
"assalamualaikum...
dik, besok kita ROHIS ya,
ada oleh-oleh dari surabaya nih buat kalian,
ajak yang lain ya..
ayo tetap semangat"
demikian smsku pada salah satu anak,
"kak?
memang ROHIS masih ada ya?
kemarin di daftar ekskul nama rohis sudah tidak ada,
di daftar kegiatan hari sabtu juga rohis dicoret,
anak-anak sudah beralih ke ekskul lain,
percuma kak besok kakak ke sekolah"
demikian jawaban yang kuterima,
aku sempat sedih membacanya,
seolah tak hanya bangunan mushola itu yang dihancurkan,
semangat anak-anak itupun diruntuhkan,
organisasi kami dihapuskan,
seolah semuanya bagai palu yang menghantam hatiku,
dalam rakaat malam aku mengadu,
inikah akhir perjuangan?
atau inikah ujung ujian?
inikah hasil 4 tahun aku dedikasikan?
waktu, pikiran, semuanya?
ah,
tak mungkin Alloh memiliki niatan buruk pada hambanya,
terlebih hamba yang memeprjuangkan kepentinganNYa,
dalam munajat aku terus mengadu,
==
siang itu,
membawa beberapa oleh-oleh aku melangkahkan kaki ke sekolah itu,
tak ada sambutan hangat dari anak-anak itu,
tiga anak perempuan dengan dua lelaki yang menungguku,
siang itu aku telat sampai sekolah itu,
"yang lain mana?" demikian tanyaku.
"anak-anak gamau ikut rohis lagi kak,
rohis sudah dihapus dari daftar ekskul,
mushola juga udah di bongkar,
apa yang masih kita harapkan lagi?"
demikian salah satu anak menjawab,
"ini ada oleh-oleh dari surabaya,
silahkan buat kalian"
ucapku sambil memberikan dua kantong besar,
berisi makanan dan handycraft,
anak-anak itu menerima,
namun belum ada binar mata dan keceriaan,
hanya anggukan dan ucapan terimakasih dingin,
"kita makan baso yuk?
kk belum makan siang nih
semua kk yang traktir deh"
ajakku pada mereka,
dan kami kemudian berjalan ke tukang baso,
tak jauh dari sekolah itu,
kepedihan demi kepedihan,
selama tak kurang dari 3 bulan masih menyelimuti kami,
pertemuan pekanan tak semangat lagi,
kesibukanku menambah lemahnya suasana,
pertemuan dua pekanan itu hanya dihadiri segelintir anak,
kadang hanya bertiga, kadang bahkan tak seorangpun datang,
namun aku tetap komitmen untuk datang,
di ruang kelas kumuh kami lakukan,
pembinaan harus terus berjalan,
apapun yang terjadi...
bulan keempat setelah pembongkaran itu,
aku dikejutkan oleh anak-anak itu,
saat di raport mereka tak ada lagi nilai ekskul ROHIS,
seolah makin menambah daftar runyam ujian,
orang tua mereka makin tak memiliki semangat lagi mengizinkan anaknya ikutan,
cara demi cara,
aku terus mengupayakan kebangkitan,
mulai dari mengajak mereka nonton di bioskop,
mentraktir mereka di fast food,
memberi hadiah-hadiah kecil dan handycraft sepulang aku dari luar kota,
nihil....semua usaha masih nihil..
ujian terberat itu,
saat mushola kami dihancurkan,
disusul melemahnya semangat anak-anak itu,
ditambah organisasi kami dihapuskan,
dilengkapi orang tua mereka yang tak mendukung lagi,
ujian berat itu,
inikah akhir dari 4 tahun pembinaan?
inikah akhir jalan perjuangan?
inikah akhir dari buah tarbiyah?
ujian berat itu,
ah...aku yakin ada maksud besar Allah hadirkan ujian ini,
aku yakin Allah hendak menaikkan derajat kami,
aku yakin Allah menguji reputasi kami,
malam syahdu aku berikrar akan memulai kebangkitan lagi,
==
sore itu,
di kebun raya bogor,
sata bujuk rayu kepada mereka,
setelah satu demi satu kami sambangi rumah mereka,
api semngat itu perlahan kami hidupkan kembali,
gelora jihad kami tumbuhkan kembali,
"seharusnya kita berpikir kenapa Allah uji kita dengan hal ini,
seharusnya kita bersyukur dengan ujian berat ini,
mushola dihancurkan...rohis tak lagi diakui dan dihapuskan dari daftar ekskul,
semua menguji komitmen dan ketsiqohan kita pada islam,
menguji apakah kita akan terus semangat memeperjuangkan agamaNya,
menguji setelah beberapa tahun tarbiyah kita,
adik-adikku,
inilah momentum buat kita untuk bangkit,
Allah telah menyeleksi mana yang serius dan mana yang hanya main-main,
seperti yang ad di al-Qur'an, Allah akan hadirkan ujian,
takkan membiarkan keimanan kita begitu saja bertumbuh,
aha...seperti zaman Rasulullah,
ujian demi ujian hadir menguatkan,
memperkokoh dan mensolidkan barisan,
adik-adikku...dan inilah saatnya kita diuji, untuk tumkbuh lebih besar...
dan kita akan buktikan, bahwa keimanan kita masih ada, bahwa semangat itu masih ada,
bahwa janji Allah pasti adanya, setelah eksulitan ada kemudahan..
Allohuakbar...Allohuakbar...Allohuakbar"
sore itu,
di kebun raya bogor itu,
belasan anak membuat komitmen lagi,
teriakkan takbir semngat menggelora,
kami akan bangkit kembali,
ujian terbarat itu,
bahkan kadang malah akan membuat kita besar,
ujian terberat itu,
justru titik tolak menuju kebangkitan,
ujian berat itu,
menyeleksi dan memilih yang terkuat,
untuk kemudian menanggung amanah berat,
menuju kemenangan,
ujian berat itu,
saat mushola kami dihancurkan,
seolah mengingatkan,
bahwa inilah hakikat dakwah ini,
akan banyak cobaan dan uji,
menguji kekuatan semngat dan keimanan,
menguji hasil tarbiyah kita selama ini,
menguji keikhlasan kita,
ujian terberat itu,
saat mushola kami dihancurkan,
saat rohis kami dihapus dari daftar,
justru seharusnya membuat kita tersadar,
bahwa beginilah jalan dakwah itu,
ujian terberat itu,
saat mushola kami dihancurkan,
menyadarkan diri ini,
bahwa dakwah ini harus senantiasa mawas diri,
harus senantiasa siap dengan hal yang tak pasti,
harus senantiasa menguatkan diri
ujian berat itu,
saat mushola kami dihancurkan,
menyadarkan bahwa kita tak boleh terlalai,
pembinaan itu untuk menguatkan agar kelak siap dengan ujian,
ujian berat itu,
saat mushola kami dihancurkan,
pagi syahdu di kantor peradaban,
mendung segar di ibukota,
07:00 WIB,
29 februari 2012
mokhamad kusnan
Senin, 27 Februari 2012
seri heroik 4: man jadda wajada, man shabaro zhofiro
seri heroik anak smp 4:
sing itu aku sempatkan ke sekolah,
ke smp dimana aku didik dengan ketat,
dimana pendidikan militansi kuajarkan,
dimana keseriusan perjuangan aku tanamkan,
"kak, pokoknya kakak harus ke sekolah,
sekolah dingin...proposal kita diabaikan,
malah wakil kepala sekolah menolak menandatangani,
terkait dana kak, sekolah gak mau membiayai"
demikian sms yang membuatku ke sekolah,
menemui mereka,
siang itu,
seusai shalat dzuhur berjamaah,
seusai bel pulang berbunyi,
sekitar belasan anak smp berkumpul bersamaku,
di mushola pengap yang tak lama lagi kabarnya akan dibongkar,
"oke, gini aja,
kita coba sekali lagi,
bilang ke sekolah seluruh dana dari anak ROHIS,
kita akan cari.
mustahil Allah biarkan hambanya kesulitan,
sementara hambanya memperjuangkan kepentinganNya"
demikian aku menyemangati
dan hari berikutnya,
mereka dengan semangat memperbaiki proposal,
menyampaikannya lagi ke wakil kesiswaan,
nihil..beliau masih menolak,
alasan dana dan kesibukan
"bu...kak kusnan yang nanggung dana"
demikian singkat mereka menjawab.
alasan yang kuajarkan ditolaknya juga,
sang guru simpel,
kurang percaya dengan kemampuan anak-anak itu,
mengumpulkan dana sekitar 4 juta dalam sepekan,
belum lagi harus berhadapan dengan kepala sekolah.
"bener ini kak kusnan yang menanggung dananya semuanya?"
jawab kepala sekolah,
setelah mereka menjelaskan,
"bapak cukup tanda tangan sisanya kak kusnan yang urus"
demikian tambah anak-anak itu,
"beresss..."
demikian serentak mereka berucap,
tantangan berikutnya menyemangatiku mencari 4 juta,
dalam seminggu..
"wah kok setega itu kalian ama kk?"
demikian aku menegur sikap dan cara mereka,
"tenang kak, ajari kami, kami akan bekerja"
masa iya 20 anak gabisa cari 4 juta dalam 5 hari?
kakak kan pengusaha, ajari kami kak"
demikian mereka bersemangat,
dan,
siang itu,
aku beserta 7 anak berkomitmen mencari 4 juta dalam 5 hari,
beberapa anak lain sibuk mewakili sekolah ikut lomba,
keadaan sekolah sedang banyak kesibukan,
"bakti sosial ini harus berhasil kak,
kepala sekolah dan guru-guru harus kita sadarkan,
bahwa ROHIS bukan sembarangan"
demikian yang kelas 8 menyemangati kami.
"oke, kita mulai dari diri sendiri, kk infaq dulu nih"
ucapku menambahkan dan memeberikan beberapa lembar ratusan ribu.
5 hari itu menjadi hari-hari perjuangan,
sepulang sekolah mereka harus berpencar,
dari toko ke toko, lembaga ke lembaga, kantor ke kantor,
dengan modal belasan proposal foto copian dengan cap aseli sekolah,
7 anak itu terus mencari peluang,
mendatangi kelas,
menanyakan siapa orang tua yang kaya,
dan mendatangi kerumahnya,
meminta kontribusi untuk aksi sosial,
==
sabtu,
di hari eksekusi acara,
sekitar 30 stand makanan dari tiap kelas ramai dikunjungi siswa/siswi,
ruang pertemuan ramai dengan puluhan masyarakat yang antri ingin berobat gratis,
puluhan anak dhuafa terlihat senang dengan senyuman lebar membawa bingkisan santunan,
beberapa panitia sibuk dengan aktivitasnya,
keringat membasahi raut wajah mereka,
tak ada peluh terlihat,
kecuali binar mata keceriaan dan kerja keras,
man jadda wajada,
barang siapa sungguh-sungguh akan mendapatkan hasil,
"subhanallah, habis berapa juta ini acara nan?
sayang kepala sekolah gak datang, beberapa guru juga diajaknya"
demikian salah satu guru yang selama ini mendukung ROHIS bicara,
ya,
saat itu kami belum berhasil menyadarkan kepala sekolah dan jajaran wakilnya,
beliau memilih pergi dan mengajak wakil-wakilnya,
"tak apa pak, tujuan kami Alloh kok. toh semua ini juga terlaksana atas kehendak Alloh"
demikian ujarku singkat, beliau hanya menepuk pundakku.
==
sehari berikutnya,
setelah kami evaluasi,
total dana yang berhasil kami himpun melebihi 6 juta, lebih dari target.
dan dana sisa masih mencapai 800ribuan.
"ada yang mau cerita,
gimana dapat dananya?"
demikian aku memulai pembicaraan,
sekaligus mengajarkan kepada yang waktu itu tak berkesempatan mencari dana.
"kami jualan, ke kantor-kantor, pokoknya nyari lah sampai dapat" salah satu anak bicara.
"aku ke kantor kelurahan. terus kasih proposal,
sehari kemudian aku kesana lagi,
mau ketemu lurahnya langsung,
waktu itu jam 1 siang,
kata petugasnya lurahnya pergi,
kembali jam 4an dan akan pergi lagi pulang kerumah.
lalu aku tunggu saja,
sampai lewat ashar.
saat petugas mengusir aku tetap menunggu,
pokoknya aku gak akan pergi sebelum kelurahan ngasih dana.
sampai lurah kembali,
dan aku sampaikan maksudku,
alhamdulillah kelurahan membantu 200ribu"
demikian ucap salah satu anak.
"aku ke kantor ayahku,
membawa proposal dan presentasi disana,
terus keliling ke semua karyawan yang sekitar 40an orang,
dan setelah semua uang kuhitung jumlahnya sejuta lebih" ucap yang lain.
"aku ke kantor bulan sabit merah,
minta mereka menjadi penyelenggra pengobatan gratis,
tapi mereka menolak,
dan mengajak kerjasama membayar murah,
aku terima aja, tapi meminta mereka tunjukkan donatur mereka yang terdekat dari sini
aku samperin donatur mereka, dan mereka mau membiayai" demikian cerita yang lain.
==
man jadda wajada,
dan demikianlah kesungguhan itu membawa keberhasilan,
dan bahwa dakwah ini butuh keseriusan,
butuh totalitas aksi dan hati,
butuh optimalisasi potensi,
man shabaro zhofiro
dan demikianlah bukti kesabaran,
bahwa kesabaran itu bukan berarti diam,
tapi berbuat lebih dan tak menyerah kalah,
sabar itu ikhtiar lebih,
mengoptimalkan potensi saat semua aksi sudah dicoba,
menghadirkan pikiran dan totalitas hati,
man jadda wajada,
karena semua butuh keseriusan,
seperti anak belia palestina yang rela meninggalkan masa kanak-kanak,
untuk melahap dan mengegnapkan hafalan qur'an,
dan kemudian maju dengan gagah berani,
agar sahid bereka berkualitas tinggi,
mujahid hafidz...dan kelak bisa memakaikan mahkota surga untuk ibunya
man jadda wajada,
karena dakwah butuh keseriusan,
butuh senyuman baru dan semangat baru,
butuh cara baru dan kreasi baru,
man jadda wajada,
man shabaro zhofiro,
kerja keras saja tak cukup,
tapi bersabar akan hasil kerja itu,
dan terus mengoptimalkan kerja,
pokoknya terus bekerja,
hingga Allah hadirkan kemenangan atau syahid mendahului,
man jadda wajada,
seperti 6 anak yang mewujudkan mimpi diantara menara negara-negara,
maka dakwah ini pun akan terus melaju,
hingga mimpi-mimpi akan terrealsisasi,
hingga Allah hadirkan kemenangan sejati,
entah saat itu kita turut serta atau tidak,
yang pasti aku berharap mati dalam rangka memperjuangkannya,
man jadda wajada,
tengah malam di ibukota,
00:00 WIB,
28 februari 2012
Mokhamad Kusnan
sing itu aku sempatkan ke sekolah,
ke smp dimana aku didik dengan ketat,
dimana pendidikan militansi kuajarkan,
dimana keseriusan perjuangan aku tanamkan,
"kak, pokoknya kakak harus ke sekolah,
sekolah dingin...proposal kita diabaikan,
malah wakil kepala sekolah menolak menandatangani,
terkait dana kak, sekolah gak mau membiayai"
demikian sms yang membuatku ke sekolah,
menemui mereka,
siang itu,
seusai shalat dzuhur berjamaah,
seusai bel pulang berbunyi,
sekitar belasan anak smp berkumpul bersamaku,
di mushola pengap yang tak lama lagi kabarnya akan dibongkar,
"oke, gini aja,
kita coba sekali lagi,
bilang ke sekolah seluruh dana dari anak ROHIS,
kita akan cari.
mustahil Allah biarkan hambanya kesulitan,
sementara hambanya memperjuangkan kepentinganNya"
demikian aku menyemangati
dan hari berikutnya,
mereka dengan semangat memperbaiki proposal,
menyampaikannya lagi ke wakil kesiswaan,
nihil..beliau masih menolak,
alasan dana dan kesibukan
"bu...kak kusnan yang nanggung dana"
demikian singkat mereka menjawab.
alasan yang kuajarkan ditolaknya juga,
sang guru simpel,
kurang percaya dengan kemampuan anak-anak itu,
mengumpulkan dana sekitar 4 juta dalam sepekan,
belum lagi harus berhadapan dengan kepala sekolah.
"bener ini kak kusnan yang menanggung dananya semuanya?"
jawab kepala sekolah,
setelah mereka menjelaskan,
"bapak cukup tanda tangan sisanya kak kusnan yang urus"
demikian tambah anak-anak itu,
"beresss..."
demikian serentak mereka berucap,
tantangan berikutnya menyemangatiku mencari 4 juta,
dalam seminggu..
"wah kok setega itu kalian ama kk?"
demikian aku menegur sikap dan cara mereka,
"tenang kak, ajari kami, kami akan bekerja"
masa iya 20 anak gabisa cari 4 juta dalam 5 hari?
kakak kan pengusaha, ajari kami kak"
demikian mereka bersemangat,
dan,
siang itu,
aku beserta 7 anak berkomitmen mencari 4 juta dalam 5 hari,
beberapa anak lain sibuk mewakili sekolah ikut lomba,
keadaan sekolah sedang banyak kesibukan,
"bakti sosial ini harus berhasil kak,
kepala sekolah dan guru-guru harus kita sadarkan,
bahwa ROHIS bukan sembarangan"
demikian yang kelas 8 menyemangati kami.
"oke, kita mulai dari diri sendiri, kk infaq dulu nih"
ucapku menambahkan dan memeberikan beberapa lembar ratusan ribu.
5 hari itu menjadi hari-hari perjuangan,
sepulang sekolah mereka harus berpencar,
dari toko ke toko, lembaga ke lembaga, kantor ke kantor,
dengan modal belasan proposal foto copian dengan cap aseli sekolah,
7 anak itu terus mencari peluang,
mendatangi kelas,
menanyakan siapa orang tua yang kaya,
dan mendatangi kerumahnya,
meminta kontribusi untuk aksi sosial,
==
sabtu,
di hari eksekusi acara,
sekitar 30 stand makanan dari tiap kelas ramai dikunjungi siswa/siswi,
ruang pertemuan ramai dengan puluhan masyarakat yang antri ingin berobat gratis,
puluhan anak dhuafa terlihat senang dengan senyuman lebar membawa bingkisan santunan,
beberapa panitia sibuk dengan aktivitasnya,
keringat membasahi raut wajah mereka,
tak ada peluh terlihat,
kecuali binar mata keceriaan dan kerja keras,
man jadda wajada,
barang siapa sungguh-sungguh akan mendapatkan hasil,
"subhanallah, habis berapa juta ini acara nan?
sayang kepala sekolah gak datang, beberapa guru juga diajaknya"
demikian salah satu guru yang selama ini mendukung ROHIS bicara,
ya,
saat itu kami belum berhasil menyadarkan kepala sekolah dan jajaran wakilnya,
beliau memilih pergi dan mengajak wakil-wakilnya,
"tak apa pak, tujuan kami Alloh kok. toh semua ini juga terlaksana atas kehendak Alloh"
demikian ujarku singkat, beliau hanya menepuk pundakku.
==
sehari berikutnya,
setelah kami evaluasi,
total dana yang berhasil kami himpun melebihi 6 juta, lebih dari target.
dan dana sisa masih mencapai 800ribuan.
"ada yang mau cerita,
gimana dapat dananya?"
demikian aku memulai pembicaraan,
sekaligus mengajarkan kepada yang waktu itu tak berkesempatan mencari dana.
"kami jualan, ke kantor-kantor, pokoknya nyari lah sampai dapat" salah satu anak bicara.
"aku ke kantor kelurahan. terus kasih proposal,
sehari kemudian aku kesana lagi,
mau ketemu lurahnya langsung,
waktu itu jam 1 siang,
kata petugasnya lurahnya pergi,
kembali jam 4an dan akan pergi lagi pulang kerumah.
lalu aku tunggu saja,
sampai lewat ashar.
saat petugas mengusir aku tetap menunggu,
pokoknya aku gak akan pergi sebelum kelurahan ngasih dana.
sampai lurah kembali,
dan aku sampaikan maksudku,
alhamdulillah kelurahan membantu 200ribu"
demikian ucap salah satu anak.
"aku ke kantor ayahku,
membawa proposal dan presentasi disana,
terus keliling ke semua karyawan yang sekitar 40an orang,
dan setelah semua uang kuhitung jumlahnya sejuta lebih" ucap yang lain.
"aku ke kantor bulan sabit merah,
minta mereka menjadi penyelenggra pengobatan gratis,
tapi mereka menolak,
dan mengajak kerjasama membayar murah,
aku terima aja, tapi meminta mereka tunjukkan donatur mereka yang terdekat dari sini
aku samperin donatur mereka, dan mereka mau membiayai" demikian cerita yang lain.
==
man jadda wajada,
dan demikianlah kesungguhan itu membawa keberhasilan,
dan bahwa dakwah ini butuh keseriusan,
butuh totalitas aksi dan hati,
butuh optimalisasi potensi,
man shabaro zhofiro
dan demikianlah bukti kesabaran,
bahwa kesabaran itu bukan berarti diam,
tapi berbuat lebih dan tak menyerah kalah,
sabar itu ikhtiar lebih,
mengoptimalkan potensi saat semua aksi sudah dicoba,
menghadirkan pikiran dan totalitas hati,
man jadda wajada,
karena semua butuh keseriusan,
seperti anak belia palestina yang rela meninggalkan masa kanak-kanak,
untuk melahap dan mengegnapkan hafalan qur'an,
dan kemudian maju dengan gagah berani,
agar sahid bereka berkualitas tinggi,
mujahid hafidz...dan kelak bisa memakaikan mahkota surga untuk ibunya
man jadda wajada,
karena dakwah butuh keseriusan,
butuh senyuman baru dan semangat baru,
butuh cara baru dan kreasi baru,
man jadda wajada,
man shabaro zhofiro,
kerja keras saja tak cukup,
tapi bersabar akan hasil kerja itu,
dan terus mengoptimalkan kerja,
pokoknya terus bekerja,
hingga Allah hadirkan kemenangan atau syahid mendahului,
man jadda wajada,
seperti 6 anak yang mewujudkan mimpi diantara menara negara-negara,
maka dakwah ini pun akan terus melaju,
hingga mimpi-mimpi akan terrealsisasi,
hingga Allah hadirkan kemenangan sejati,
entah saat itu kita turut serta atau tidak,
yang pasti aku berharap mati dalam rangka memperjuangkannya,
man jadda wajada,
tengah malam di ibukota,
00:00 WIB,
28 februari 2012
Mokhamad Kusnan
Minggu, 26 Februari 2012
seri heroik 3: belum setetespun darah, yang sudah kita persembahkan
seri heroik anak smp 3:
sore itu aku agak telat,
setelah mengurus urusan pribdadi dan keluarga,
aku langsung menuju sekolah para mujahid itu,
sesampai disana beberapa anak terlihat sedang bermain basket,
yang putri terlihat lari kejar-kejaran,
beberapa terlihat mengangkat bangku dan meja menyiapkan kelas untuk menginap,
"kak kita menginap di sekolah kan?"
demikian ucap salah satu anak kecil kelas 7 padaku
"iya, kita menginap di sekolah, tapi kita ke UI dulu ya"
jawabku,
seusai semua menyiapkan tempat dan perbekalan,
sore itu kami melangkahkan kaki meninggalkan SMP 182 menuju stasiun terdekat,
seluruh peserta dengan tas ransel beratnya,
seluruh perbekalan yang terdiri dari sebotol air mineral 1,5 liter,
baju ganti dan makanan, alat mandi, keperluan pribadi,
dan bekal makan malam,
tiap anak mungkin membawa beban rata-rata 5 kilo.
"kak, katanya LDKnya di sekolah? kok kita ke UI?"
sang anak kelas 7 bertanya,
"iya, di UI ada materi menembus batas dulu. nanti selesai baru ke sekolah, menginap di sekolah"
jawabku.
dalam desak,
sempit berhimpit,
sumuk, gerah, panas,
deraian keringat mengalir deras,
sekitar 30 menit kami menikmati "sauna gratis" di kereta listrik,
membawa kami dari jakarta sampai depok,
sampai "yellow campus".
"kak, dua anak ketinggalan,
tadi pas mau naik gabisa, terlalu penuh sesak. gimana nih?"
demikian salah satu anak putri gelisah.
dua peserta putri tertinggal,
kondisi penuh sesak kereta tak bisa diterobosnya,
maklum akupun tak bisa banyak membantu,
saat naik kami terpisah di beberapa pintu,
yang besertaku berhasil,
yang lain belum berhasil, dua anak tertinggal
"katakan ke mereka naik kereta selanjutnya,
harus berani, nanti ditunggu di sini ama alumni lain" kataku
hujan lebat mengguyur "yellow campus",
membuat kami sedikit kuyuup,
"kak, kita jalan atau naik bus lagi?" tanya seorang anak.
"kita naik bikun aja, bus kuning anak UI. hujan terlalu lebat"
kamipun naik bikun,
"kak, ongkosnya berapa? biar kita kumpulkan?"
peserta putri menanyakan.
"ongkosnya ucapan terimakasih, nanti pas mau turun bilang terimakasih ke sopir, ongkosnya itu"
mereka agak terbengong saat kukatakan seperti itu,
beberapa penumpang lain yang mungkin mahasiswa UI memperhatikan kami,
sekitar 20an anak-anak SMP kelas 1 sampai 3 dengan ransel berat, baju setengah kuyup,
dan ikat kepala hijau memenuhi bus kuning itu. dialog demi dialog kami didengarkan mereka.
"kak kita menginap di UI?. kak nanti kita gabung mahasiswa UI? kak di UI ngapain aja nanti?"
bikun berhenti di depan masjid UI,
hujan masih turun lebat,
puluhan anak-anak mungil itu keluar serentak,
"terimakasih pak sopir...." demikian serentak kami ucapkan,
seluruh penumpang lain memperhatikan kami,
raut binar wajah sopir terlihat,
senyumnya makin lebar,
beliau senang telah membantu kami,
"hati-hati ya..." demikian kudengar terucap dari mulut sopir itu,
mungkin hanya untuk kami...20 anak-anak ini..
juga di masjid UI,
hampir seluruh orang yang ada disana memperhatikan kami,
celotehan demi celotehan anak-anak itu membuat ramai,
ransel besar dan ikat kepala hijau,
ah...mungkin mereka berpikir banyak hal "anak-anak hammas nih..."
"baik, agenda pertama kita adalah makan malam,tausiyah,
setelah itu semua harus tilawah minimal satu jus. baru kita ke sekolah lagi"
demikian acara kami seusai shalat magrib berjamaah,
ada sedikit kekagetan pada peserta, "TILAWAH SATU JUS"
ya...
seluruh peserta harus tilawah satu jus,
syarat mutlah mengikuti LDK terpadu itu,
rangkain acara demi acara,
saat itu seolah kami menguasai masjid UI,
sekitar 30an total peserta dan panitia,
smeuanya masih SMP, beberapa alumni yang sekarang kelas 1 SMA.
membuat lingkaran besar, tilawah kami seperti dengungan lebah,
menguasai dan menembus setiap sudut masjid itu,
mengalahkan bunyi rintikan hujan,
suara anak-anak itu menguasai masjid UI.
alhamdulillah,
sekitar jam 21.00 kami tuntas membaca 1 jus.
semuanya, tanpa kecuali,
dari yang bacanya cepat juga yang lambat,
bahkan yang terbata,
tak ada kompromi, semua harus melahap 1 jus.
dan...30 anak itu menghatamkannya,
di masjid Ukhuwah Islamiyah itu.
"kak, udah malam gini emang ada kereta? nanti kita naik apa pulangnya?"
salah satu perserta bertanya.
"kereta udah gak ada, kita pulang jalan kaki"
demikian ucapku.
banyak yang tidak setuju,
banyak yang menyesal,
mengeluh,
meminta pulang dengan taksi,
dan sebagainya,
aku kumpulkan mereka di depan masjid itu,
melingkar rapat,
dengan ransel berat dan baju kuyup,
dengan ikat kepala hijau,
aku menceritakan perjuangan para sahabat,
perjuangan Rasulullah hijrah,
perjuangan Ali hijrah,
perjuangan ratusan sampai ribuan anak-anak belia palestina,
"mereka tidak pernah mengeluh, mereka berani, mereka percaya, dan mereka kuat. dan Allah memberikan mereka pertolongan..meski akhir cerita mereka adalah kematian. tapi kematian itulah kemenangan. perjumpaan dengan Rabbnya. syahid cita-cita tertinggi mereka" demikian orasiku.
"Allohuakbar...Allohuakbar..Allohuakbar.."
lantang takbir mereka teriakkan,
masjid UI menajdi saksi,
30 anak-anak itu kian bersemangat,
siap menempuh berpuluh kilo,
menembus malam dan rintikan hujan,
dari depok sampai pancoran,
malam itu masjid UI bergetar,
30 anak-anak kecil menggetarkan,
bahkan menggetarkan hati para mahasiswa yang seringkali ketakutan,
membakar semangat pejuang jaket kuning,
menggetarkan seluruh aktivis dakwah yang masih tersisa disana,
seluruh mata tertuju pada kami,
30 anak-anak itu,
jam menunjukkan pukul 21.30,
kuprediksikan perjalanan kami memakan waktu 5-6 jam.
terlebih sebagian besar peserta adalah anak putri,
dengan bawaan ransel berat mereka,
dengan sendal wanitanya,
dengan rok panjangnya,
kami harus memahami kondisi,
tapi perjalanan harus dilalui,
dan demikian,
langkah demi langkah,
meninggalakn masjid UI,
menyusuri jalan ke gerbatama,
melanjutkan ke Universitas Pancasila,
disana ada pos pertama,
mereka akan digembleng dengan serangkain acara,
tantangan demi tantangan,
malam kian larut,
perjalanan masih harus diselesaikan,
pos kedua di kantor pusat parta PDIP,
disana kami diizinkan masuk,
dan memakain pelataran untuk acara kami,
sampai para satpam agak curiga saat kami berulangkali meneriakkan takbir,
keluhan demi keluhan,
kadang harus kukumpulkan untuk menyemangati,
sejanak istirahat di pelataran masjid,
atau di bawah jembatan, atau di halte,
untuk skedar meluruskan kaki,
meneguk dikit demi sedikit air minum,
atau mengisi perut dengan makanan ringan,
keluhan demi keluhan,
terus kutepis dengan semangat,
menceritakan heroiknya pejuang belia palestina,
"belum setetspun darah, yang sudah kita persembahkan...untuk islam ini"
demikian diakhir cerita heroikku menyemangati mereka.
mereka kembali bersemangat, melanjutkan perjalanan.
pergantian hari,
kami nikmati dalam perjalanan berat,
"ini belum apa-apa dik, perjuangan anak-anak belia Palestina berakhir syahid, nyawa yang mereka persembahkan. tapi tak ada sedikitpun keluhan" demikian aku terus menyemangati.
perjalanan demi perjalanan,
keluhan demi keluhan,
tertatih,
terseok,
alhamdulillah akhirnya kami berhasil,
sekitar 5 jam perjalanan,
kami berhasil menembus batas,
melakukan yang mungkin sering dikeluhkan,
bahkan dikatakan tak mungkin,
seluruhnya tepar,
tergeletak di ruang kelas yang sudah disiapkan,
terpisah antara putra dan putri,
30an anak mungil itu,
telah menembus batas,
menyusuri jalan perjuangan anak palestina,
meski sebenarnya belum seberapa.
==
sehari kemudian,
aha...lagi-lagi,
aku diintrograsi,
tentang acara LDK itu,
yang dilakukan di sekolah,
menjadi perjalanan dari UI sampai sekolah,
pihak sekolah sangat khawatir,
kalau-kalau anak-anak itu mengadukan ke orang tua,
hingga saat aku diintrograsi di ruangan kepala sekolah,
salah satu wali murid datang,
"bisa saya ketemu kak Kusnan pembina ROHIS itu?"
demikian sang ibu bertanya pada petugas,
langkah ibu itu mendekati kami, menujuku yang sedang diintrograsi,
raut muka kepala sekolah memerah,
takut kalau-kalau sang ibu memarahi,
dan aku pasti akan menjadi bulan-bulanan sekolah
"Assalamualaikum...ini ya kak Kusnan itu?"
demikian sang ibu membuka pervcakapan,
raut mukanya dipenuhi senyum berbinar,
aku aneh melihatnya.
"terimaksih ya kak Kusnan...anak saya seneng banget tuh,
katanya sudah menoreh prestasi,
jalan kaki puluhan kilo ditengah malam,
yang katanya ngeluh mulu, tapi akhirnya bangga"
demikian ucap sang ibu.
"kemarin sore pulang-pulang minta dipeluk,
katanya janji mau jadi anak sholehah.
katanya janji mau nurut ama orang tua.
katanya janji gakmau ngeluh lagi,
sampai katanya ingin seperti anak-anak Palestina.
yang gagah berani meski masih kecil"
tambah sang ibu.
aku dan kepa sekolah hanya bisa terbengong,
saling berpandangan,
seolah tak percaya apa yang dikatakan sang ibu
"saya mendukung terus ROHIS 182,
terus maju yah...terus didik anak-anak jadi pemberani"
ucap sang ibu sebelum meninggalkan kami,
kepala sekolah masih terdiam,
sampai akhirnya aku meminta izin,
ada urusan lain,
dan diizinkan,
dan ROHIS diizinkan terus, membina generasi..
belum setettespun darah, yang sudah kita persembahkan,
kalau jalan kaki puluhan kilo mah gaada apa-apanya,
kalau tak tidur semalam saja mah masih cemen,
belum setetespun darah, yang sudah kita persembahkan,
lalu kenapa kita masih banyak mengeluh?
lalu kenapa kita masih segan dan ogah-ogahan,
belum setetspun darah, yang sudah kita persembahkan,
namun anak-anak belia Palestina bahkan telah memberikan nyawanya,
sedang kita belum berbuat apa-apa,
hanya amalan kecil yang sering kita banggakan,
lalu bagaimana kita akan menghadapNya?
apa yang akan kita banggakan untukNya?
belum setetespun darah, yang sudah kita persembahkan,
pagi syahdu seusai setoran hafalan yang tak seberapa,
sementara di Palestiuna sana ribuan anak belia sudah melahap 30 jus hafalan.
ibukota yang mendung,
06:46 WIB
27 Februari 2012
Mokhamad Kusnan
sore itu aku agak telat,
setelah mengurus urusan pribdadi dan keluarga,
aku langsung menuju sekolah para mujahid itu,
sesampai disana beberapa anak terlihat sedang bermain basket,
yang putri terlihat lari kejar-kejaran,
beberapa terlihat mengangkat bangku dan meja menyiapkan kelas untuk menginap,
"kak kita menginap di sekolah kan?"
demikian ucap salah satu anak kecil kelas 7 padaku
"iya, kita menginap di sekolah, tapi kita ke UI dulu ya"
jawabku,
seusai semua menyiapkan tempat dan perbekalan,
sore itu kami melangkahkan kaki meninggalkan SMP 182 menuju stasiun terdekat,
seluruh peserta dengan tas ransel beratnya,
seluruh perbekalan yang terdiri dari sebotol air mineral 1,5 liter,
baju ganti dan makanan, alat mandi, keperluan pribadi,
dan bekal makan malam,
tiap anak mungkin membawa beban rata-rata 5 kilo.
"kak, katanya LDKnya di sekolah? kok kita ke UI?"
sang anak kelas 7 bertanya,
"iya, di UI ada materi menembus batas dulu. nanti selesai baru ke sekolah, menginap di sekolah"
jawabku.
dalam desak,
sempit berhimpit,
sumuk, gerah, panas,
deraian keringat mengalir deras,
sekitar 30 menit kami menikmati "sauna gratis" di kereta listrik,
membawa kami dari jakarta sampai depok,
sampai "yellow campus".
"kak, dua anak ketinggalan,
tadi pas mau naik gabisa, terlalu penuh sesak. gimana nih?"
demikian salah satu anak putri gelisah.
dua peserta putri tertinggal,
kondisi penuh sesak kereta tak bisa diterobosnya,
maklum akupun tak bisa banyak membantu,
saat naik kami terpisah di beberapa pintu,
yang besertaku berhasil,
yang lain belum berhasil, dua anak tertinggal
"katakan ke mereka naik kereta selanjutnya,
harus berani, nanti ditunggu di sini ama alumni lain" kataku
hujan lebat mengguyur "yellow campus",
membuat kami sedikit kuyuup,
"kak, kita jalan atau naik bus lagi?" tanya seorang anak.
"kita naik bikun aja, bus kuning anak UI. hujan terlalu lebat"
kamipun naik bikun,
"kak, ongkosnya berapa? biar kita kumpulkan?"
peserta putri menanyakan.
"ongkosnya ucapan terimakasih, nanti pas mau turun bilang terimakasih ke sopir, ongkosnya itu"
mereka agak terbengong saat kukatakan seperti itu,
beberapa penumpang lain yang mungkin mahasiswa UI memperhatikan kami,
sekitar 20an anak-anak SMP kelas 1 sampai 3 dengan ransel berat, baju setengah kuyup,
dan ikat kepala hijau memenuhi bus kuning itu. dialog demi dialog kami didengarkan mereka.
"kak kita menginap di UI?. kak nanti kita gabung mahasiswa UI? kak di UI ngapain aja nanti?"
bikun berhenti di depan masjid UI,
hujan masih turun lebat,
puluhan anak-anak mungil itu keluar serentak,
"terimakasih pak sopir...." demikian serentak kami ucapkan,
seluruh penumpang lain memperhatikan kami,
raut binar wajah sopir terlihat,
senyumnya makin lebar,
beliau senang telah membantu kami,
"hati-hati ya..." demikian kudengar terucap dari mulut sopir itu,
mungkin hanya untuk kami...20 anak-anak ini..
juga di masjid UI,
hampir seluruh orang yang ada disana memperhatikan kami,
celotehan demi celotehan anak-anak itu membuat ramai,
ransel besar dan ikat kepala hijau,
ah...mungkin mereka berpikir banyak hal "anak-anak hammas nih..."
"baik, agenda pertama kita adalah makan malam,tausiyah,
setelah itu semua harus tilawah minimal satu jus. baru kita ke sekolah lagi"
demikian acara kami seusai shalat magrib berjamaah,
ada sedikit kekagetan pada peserta, "TILAWAH SATU JUS"
ya...
seluruh peserta harus tilawah satu jus,
syarat mutlah mengikuti LDK terpadu itu,
rangkain acara demi acara,
saat itu seolah kami menguasai masjid UI,
sekitar 30an total peserta dan panitia,
smeuanya masih SMP, beberapa alumni yang sekarang kelas 1 SMA.
membuat lingkaran besar, tilawah kami seperti dengungan lebah,
menguasai dan menembus setiap sudut masjid itu,
mengalahkan bunyi rintikan hujan,
suara anak-anak itu menguasai masjid UI.
alhamdulillah,
sekitar jam 21.00 kami tuntas membaca 1 jus.
semuanya, tanpa kecuali,
dari yang bacanya cepat juga yang lambat,
bahkan yang terbata,
tak ada kompromi, semua harus melahap 1 jus.
dan...30 anak itu menghatamkannya,
di masjid Ukhuwah Islamiyah itu.
"kak, udah malam gini emang ada kereta? nanti kita naik apa pulangnya?"
salah satu perserta bertanya.
"kereta udah gak ada, kita pulang jalan kaki"
demikian ucapku.
banyak yang tidak setuju,
banyak yang menyesal,
mengeluh,
meminta pulang dengan taksi,
dan sebagainya,
aku kumpulkan mereka di depan masjid itu,
melingkar rapat,
dengan ransel berat dan baju kuyup,
dengan ikat kepala hijau,
aku menceritakan perjuangan para sahabat,
perjuangan Rasulullah hijrah,
perjuangan Ali hijrah,
perjuangan ratusan sampai ribuan anak-anak belia palestina,
"mereka tidak pernah mengeluh, mereka berani, mereka percaya, dan mereka kuat. dan Allah memberikan mereka pertolongan..meski akhir cerita mereka adalah kematian. tapi kematian itulah kemenangan. perjumpaan dengan Rabbnya. syahid cita-cita tertinggi mereka" demikian orasiku.
"Allohuakbar...Allohuakbar..Allohuakbar.."
lantang takbir mereka teriakkan,
masjid UI menajdi saksi,
30 anak-anak itu kian bersemangat,
siap menempuh berpuluh kilo,
menembus malam dan rintikan hujan,
dari depok sampai pancoran,
malam itu masjid UI bergetar,
30 anak-anak kecil menggetarkan,
bahkan menggetarkan hati para mahasiswa yang seringkali ketakutan,
membakar semangat pejuang jaket kuning,
menggetarkan seluruh aktivis dakwah yang masih tersisa disana,
seluruh mata tertuju pada kami,
30 anak-anak itu,
jam menunjukkan pukul 21.30,
kuprediksikan perjalanan kami memakan waktu 5-6 jam.
terlebih sebagian besar peserta adalah anak putri,
dengan bawaan ransel berat mereka,
dengan sendal wanitanya,
dengan rok panjangnya,
kami harus memahami kondisi,
tapi perjalanan harus dilalui,
dan demikian,
langkah demi langkah,
meninggalakn masjid UI,
menyusuri jalan ke gerbatama,
melanjutkan ke Universitas Pancasila,
disana ada pos pertama,
mereka akan digembleng dengan serangkain acara,
tantangan demi tantangan,
malam kian larut,
perjalanan masih harus diselesaikan,
pos kedua di kantor pusat parta PDIP,
disana kami diizinkan masuk,
dan memakain pelataran untuk acara kami,
sampai para satpam agak curiga saat kami berulangkali meneriakkan takbir,
keluhan demi keluhan,
kadang harus kukumpulkan untuk menyemangati,
sejanak istirahat di pelataran masjid,
atau di bawah jembatan, atau di halte,
untuk skedar meluruskan kaki,
meneguk dikit demi sedikit air minum,
atau mengisi perut dengan makanan ringan,
keluhan demi keluhan,
terus kutepis dengan semangat,
menceritakan heroiknya pejuang belia palestina,
"belum setetspun darah, yang sudah kita persembahkan...untuk islam ini"
demikian diakhir cerita heroikku menyemangati mereka.
mereka kembali bersemangat, melanjutkan perjalanan.
pergantian hari,
kami nikmati dalam perjalanan berat,
"ini belum apa-apa dik, perjuangan anak-anak belia Palestina berakhir syahid, nyawa yang mereka persembahkan. tapi tak ada sedikitpun keluhan" demikian aku terus menyemangati.
perjalanan demi perjalanan,
keluhan demi keluhan,
tertatih,
terseok,
alhamdulillah akhirnya kami berhasil,
sekitar 5 jam perjalanan,
kami berhasil menembus batas,
melakukan yang mungkin sering dikeluhkan,
bahkan dikatakan tak mungkin,
seluruhnya tepar,
tergeletak di ruang kelas yang sudah disiapkan,
terpisah antara putra dan putri,
30an anak mungil itu,
telah menembus batas,
menyusuri jalan perjuangan anak palestina,
meski sebenarnya belum seberapa.
==
sehari kemudian,
aha...lagi-lagi,
aku diintrograsi,
tentang acara LDK itu,
yang dilakukan di sekolah,
menjadi perjalanan dari UI sampai sekolah,
pihak sekolah sangat khawatir,
kalau-kalau anak-anak itu mengadukan ke orang tua,
hingga saat aku diintrograsi di ruangan kepala sekolah,
salah satu wali murid datang,
"bisa saya ketemu kak Kusnan pembina ROHIS itu?"
demikian sang ibu bertanya pada petugas,
langkah ibu itu mendekati kami, menujuku yang sedang diintrograsi,
raut muka kepala sekolah memerah,
takut kalau-kalau sang ibu memarahi,
dan aku pasti akan menjadi bulan-bulanan sekolah
"Assalamualaikum...ini ya kak Kusnan itu?"
demikian sang ibu membuka pervcakapan,
raut mukanya dipenuhi senyum berbinar,
aku aneh melihatnya.
"terimaksih ya kak Kusnan...anak saya seneng banget tuh,
katanya sudah menoreh prestasi,
jalan kaki puluhan kilo ditengah malam,
yang katanya ngeluh mulu, tapi akhirnya bangga"
demikian ucap sang ibu.
"kemarin sore pulang-pulang minta dipeluk,
katanya janji mau jadi anak sholehah.
katanya janji mau nurut ama orang tua.
katanya janji gakmau ngeluh lagi,
sampai katanya ingin seperti anak-anak Palestina.
yang gagah berani meski masih kecil"
tambah sang ibu.
aku dan kepa sekolah hanya bisa terbengong,
saling berpandangan,
seolah tak percaya apa yang dikatakan sang ibu
"saya mendukung terus ROHIS 182,
terus maju yah...terus didik anak-anak jadi pemberani"
ucap sang ibu sebelum meninggalkan kami,
kepala sekolah masih terdiam,
sampai akhirnya aku meminta izin,
ada urusan lain,
dan diizinkan,
dan ROHIS diizinkan terus, membina generasi..
belum setettespun darah, yang sudah kita persembahkan,
kalau jalan kaki puluhan kilo mah gaada apa-apanya,
kalau tak tidur semalam saja mah masih cemen,
belum setetespun darah, yang sudah kita persembahkan,
lalu kenapa kita masih banyak mengeluh?
lalu kenapa kita masih segan dan ogah-ogahan,
belum setetspun darah, yang sudah kita persembahkan,
namun anak-anak belia Palestina bahkan telah memberikan nyawanya,
sedang kita belum berbuat apa-apa,
hanya amalan kecil yang sering kita banggakan,
lalu bagaimana kita akan menghadapNya?
apa yang akan kita banggakan untukNya?
belum setetespun darah, yang sudah kita persembahkan,
pagi syahdu seusai setoran hafalan yang tak seberapa,
sementara di Palestiuna sana ribuan anak belia sudah melahap 30 jus hafalan.
ibukota yang mendung,
06:46 WIB
27 Februari 2012
Mokhamad Kusnan
Jumat, 24 Februari 2012
seri heroik 2: karena cinta, kami bela Palestina
seri heroik anak smp 2:
tepat jam 11 aku sampai di sekolah itu,
dengan sedikit berlari menuju mushola,
beberapa anak-anak binaanku sudah lama menunggu
"kak kita berangkat sekarang?"
salah satu anak bertanya,
ada sekitar 6 anak kelas 7,
beberapa kelas 8,
"nanti, tunggu kelas 9 selesai ujian"
hari itu tanggal 1,
1 juni 2010,
semalam sebelumnya aku sms salah satu anak itu,
"assalamualaikum...
jika engkau cinta, palestina meminta
besok kita tunjukkan cinta pada pelstina,
aja jalan santai di HI,
pulang sekolah kumpul di mushola,
bawa ongkos secukupnya,
siapkan juga infaq yang banyak, ada penggalangan dana.
minum yang banyak, bakal terik disana"
lima belas menit kemudian kami sudah berkumpul,
di depan sekolah,
"baik sebelum berangkat kita berdoa,
semoga Allah mencatat sebagai amal kebaikan dan dapat membantu Palestina"
sekitar 12 anak,
mulai dari kelas 1 sampai 3 SMP,
masih belia,
dengan seragam putih brunya.
"kak, cepat pergi,
tadi guru ada yang lapor,
katanya anak ROHIS mau diajak demo ama kak Kusnan"
salah satu anak setengah teriak dengan raut ketakutan mengingatkan kami,
"yaudah...kalian di depan,
lari saja, belok sedikit ke kiri,
jadi guru gak lihat,
bawa bendera ini"
demikian ucapku pada anak-anak itu,
sekitar 5 anak putra berlari,
sementara yang putri berjalan cepat,
berbaur dengan ratusan anak-anak lain yang juga pulang sekolah,
aku masih menunggu satu anak,
terlihat dua guru setengah berlari mengejarku,
aku diam, menunggu, dan dengan segala kesiapan akan menjelaskan,
pokoknya aksi harus jadi,
anak-anak harus terlibat,
percuma aku membina mereka,
kalo turun ke jalan saja mereka gamau diajak.
"kusnan katanya kamu ajak anak ROHIS demo?"
salah satu guru dengan lantang menanyaiku
"demo? demo apaan bu?. ah enggak kok bu"
jawabku.
"nah, tadi rohis ngumpul?
katanya mau diajak kamu demo?"
tambahnya
"owalah, mau silaturahim bu, dengan kakak-kakak yang pernah kesini,
sekaligus mengekpresikan persaudaraan bu, bukti cinta"
sang ibu guru raut mukanya berubah,
dari yang tadinya ingin marah menjadi sedikit lunak
"ah kamu bisa aja.
pokoknya ibu gamau anak-anak kamu ajak demo. titik"
demikian perintahnya,
"baik bu, kalo menunjukkan bukti cinta pada saudaranya boleh kan bu?
silaturahim dengan kakak-kakak yang pernah kesini boleh kan bu?"
12.10
kami sampai di bundaran HI,
sementara bundaran Hi dipenuhi ratusan mahaiswa yang khusuk mendirikan shalat,
anak-anak yang kuajakpun segera mengambil air wudhu di air mancur itu,
dan shalat setelah usai mahasiswa-mahaiswa itu,
13 anak belia,
diantara ratusan mahasiswi dan mahasiswa,
menembus panas jakarta,
menerjang debu metropolitan,
meneriakkan lantang
"Palestina..Palestina..Palestina..Merdeka"
"Allohuakbar...Allohuakbar...Allohuakbar..."
perjalanan dari HI menuju istana negara,
didepan istana para pemimpin kabilah orasi,
dan tak kalah,
anak SMP itupun ikut orasi,
pelajar kelas 7 SMP,
dengan seragam putih birunya,
berdiri diatas mobil pick-up,
mneriakan takbis dan palestina,
diantara ratusan mahasiswa dan mahasiswi di bawahnya,
yang menyambut dengan lantang teriakkan talkbir dan merdeka...
==
sehari berikutnya,
aku diintrograsi,
orang tua murid menyaksikan anaknya sedang orasi di tivi,
dengan ratusan mahaiswa dan mahasiswi,
dia melaporkan ke pihak sekolah,
dan aku....menanggung semua resikonya hari itu.
==
sepekan berikutnya,
suasana di kelas kian heroik,
anak-anak yang waktu aksi Palestina sedikit sedih,
video dan slide show photo kuputar,
13 anak yang turut serta takbir sekerasnya,
berkali-kali,
palestina..Palestina..palestina...MERDEKA...
demikian teriakkan mereka, di kelas...
anak-anak yang ikut ROHIS makin banyak,
sang ibu yang melaporkan anaknya yang sempat masuk tivi sekarang mendukung kami,
pihak sekolah makin percaya, meski masih ada beberapa guru yang tak suka,
dan kami makin cinta, dan makin berani membuktikan rasa cinta, cinta saudara, cinta Palestina,
karena cinta, kami bela Palestina...
serial heroik pejuang dakwah belia,
malam syahdu di ibukota,
diiringi merdu "Pandu Keadilan"
...wahai dikau prajurit dakwah,
semangat tak kenal lelah,
jangan pernah berkata tidak,
bila panggilan jihad tiba...
karena cinta, kami bela Palestina,
bersama tentara Allah kita pasti menang,
kubagi untuk semua,
21:21 WIB
24 februari 2012
Mokhamad Kusnan
tepat jam 11 aku sampai di sekolah itu,
dengan sedikit berlari menuju mushola,
beberapa anak-anak binaanku sudah lama menunggu
"kak kita berangkat sekarang?"
salah satu anak bertanya,
ada sekitar 6 anak kelas 7,
beberapa kelas 8,
"nanti, tunggu kelas 9 selesai ujian"
hari itu tanggal 1,
1 juni 2010,
semalam sebelumnya aku sms salah satu anak itu,
"assalamualaikum...
jika engkau cinta, palestina meminta
besok kita tunjukkan cinta pada pelstina,
aja jalan santai di HI,
pulang sekolah kumpul di mushola,
bawa ongkos secukupnya,
siapkan juga infaq yang banyak, ada penggalangan dana.
minum yang banyak, bakal terik disana"
lima belas menit kemudian kami sudah berkumpul,
di depan sekolah,
"baik sebelum berangkat kita berdoa,
semoga Allah mencatat sebagai amal kebaikan dan dapat membantu Palestina"
sekitar 12 anak,
mulai dari kelas 1 sampai 3 SMP,
masih belia,
dengan seragam putih brunya.
"kak, cepat pergi,
tadi guru ada yang lapor,
katanya anak ROHIS mau diajak demo ama kak Kusnan"
salah satu anak setengah teriak dengan raut ketakutan mengingatkan kami,
"yaudah...kalian di depan,
lari saja, belok sedikit ke kiri,
jadi guru gak lihat,
bawa bendera ini"
demikian ucapku pada anak-anak itu,
sekitar 5 anak putra berlari,
sementara yang putri berjalan cepat,
berbaur dengan ratusan anak-anak lain yang juga pulang sekolah,
aku masih menunggu satu anak,
terlihat dua guru setengah berlari mengejarku,
aku diam, menunggu, dan dengan segala kesiapan akan menjelaskan,
pokoknya aksi harus jadi,
anak-anak harus terlibat,
percuma aku membina mereka,
kalo turun ke jalan saja mereka gamau diajak.
"kusnan katanya kamu ajak anak ROHIS demo?"
salah satu guru dengan lantang menanyaiku
"demo? demo apaan bu?. ah enggak kok bu"
jawabku.
"nah, tadi rohis ngumpul?
katanya mau diajak kamu demo?"
tambahnya
"owalah, mau silaturahim bu, dengan kakak-kakak yang pernah kesini,
sekaligus mengekpresikan persaudaraan bu, bukti cinta"
sang ibu guru raut mukanya berubah,
dari yang tadinya ingin marah menjadi sedikit lunak
"ah kamu bisa aja.
pokoknya ibu gamau anak-anak kamu ajak demo. titik"
demikian perintahnya,
"baik bu, kalo menunjukkan bukti cinta pada saudaranya boleh kan bu?
silaturahim dengan kakak-kakak yang pernah kesini boleh kan bu?"
12.10
kami sampai di bundaran HI,
sementara bundaran Hi dipenuhi ratusan mahaiswa yang khusuk mendirikan shalat,
anak-anak yang kuajakpun segera mengambil air wudhu di air mancur itu,
dan shalat setelah usai mahasiswa-mahaiswa itu,
13 anak belia,
diantara ratusan mahasiswi dan mahasiswa,
menembus panas jakarta,
menerjang debu metropolitan,
meneriakkan lantang
"Palestina..Palestina..Palestina..Merdeka"
"Allohuakbar...Allohuakbar...Allohuakbar..."
perjalanan dari HI menuju istana negara,
didepan istana para pemimpin kabilah orasi,
dan tak kalah,
anak SMP itupun ikut orasi,
pelajar kelas 7 SMP,
dengan seragam putih birunya,
berdiri diatas mobil pick-up,
mneriakan takbis dan palestina,
diantara ratusan mahasiswa dan mahasiswi di bawahnya,
yang menyambut dengan lantang teriakkan talkbir dan merdeka...
==
sehari berikutnya,
aku diintrograsi,
orang tua murid menyaksikan anaknya sedang orasi di tivi,
dengan ratusan mahaiswa dan mahasiswi,
dia melaporkan ke pihak sekolah,
dan aku....menanggung semua resikonya hari itu.
==
sepekan berikutnya,
suasana di kelas kian heroik,
anak-anak yang waktu aksi Palestina sedikit sedih,
video dan slide show photo kuputar,
13 anak yang turut serta takbir sekerasnya,
berkali-kali,
palestina..Palestina..palestina...MERDEKA...
demikian teriakkan mereka, di kelas...
anak-anak yang ikut ROHIS makin banyak,
sang ibu yang melaporkan anaknya yang sempat masuk tivi sekarang mendukung kami,
pihak sekolah makin percaya, meski masih ada beberapa guru yang tak suka,
dan kami makin cinta, dan makin berani membuktikan rasa cinta, cinta saudara, cinta Palestina,
karena cinta, kami bela Palestina...
serial heroik pejuang dakwah belia,
malam syahdu di ibukota,
diiringi merdu "Pandu Keadilan"
...wahai dikau prajurit dakwah,
semangat tak kenal lelah,
jangan pernah berkata tidak,
bila panggilan jihad tiba...
karena cinta, kami bela Palestina,
bersama tentara Allah kita pasti menang,
kubagi untuk semua,
21:21 WIB
24 februari 2012
Mokhamad Kusnan
Kamis, 23 Februari 2012
seri heroik 1: membayar harga perjuangan.
seri heroik anak smp 1:
empat anak,
mondar-mandir saja di gerbang sekolah,
empat pelajar putri itu makin gusar,
raut mukanya memerah,
sesekali mengusap keringat yang mengalir di pipinya,
dari kejauhan aku setengah berlari,
dengan ransel dan tas besar berisi infocus,
menuju mereka
mereka tak mau kalah,
mendekatiku dengan sungguhan berlari,
jarak masih juga jauh teriakkan mereka sudah terdengar,
"buruan kak...
anak-anak sudah pusing,
kekhawatiran luar biasa,
semoga ibunya gak datang ke sekolah"
demikian salah satu dari mereka berucap.
"tenang, kk aja tenang kok"
aku mencoba menenagkan,
"berapa yang gak masuk hari ini?"
demikian aku membuka percakapan,
sambil berjalan setengah lari menuju salah satu rung kelas,
"tiga kak,
semua yang semalam melihat kejadian itu masih trauma,
mereka ketakutan kalau ibu si fulan nyamperin ke sekolah.
bisa makin runyam" begitu jelas salah satu dari mereka.
perjalanan makin dipercepat,
dua pelajar cowo menunggu kami,
salah satunya berlari menedekatiku,
"sini kak, infocusnya aku bawain" kemudian seketika merebut tas besar yang kutenteng.
"baik kita mulai dengan ta'awudz dan basmalah sebelum memulai"
demikian ucapku.
"sebelum peserta datang ada yang ingin kk sampaikan.
terkait kasus semalam,
kalian jangan takut,
Insya Allah gapapa.
ini resiko dakwah.
ini harga perjuangan.
Insya Allah si fulanah juga tetap tegar"
demikian aku mencoba mememangkan kerisauan mereka.
sekitar 1 jam mentoring gabungan itu berjalan,
dengan peserta lebih dari 30an,
tetap semangat,
hanya wajah dari 6 anak yang duduk paling belakang yang aneh,
mukanya memerah,
dikit-dikit berdiri, melihat keluar lewat jendela,
setengah hati mendengarkan,
setengah hati mengikuti,
kerisauan masih menghantui mereka
suasana takbir menggema di ruangan ber-AC itu,
infocus kumatikan dan kubereskan sendiri,
keenam anak itu sibuk membereskan yang lain,
setelah semua beres kami dukuk berkumpul di bangku paling depan
"kak, aku sudah bilang mamah,
beliau mau jadi jaminan untuk ka Kusnan,
beliau mau menjadi pembela kak Kusnan kalau harus ke meja hijau"
kata-katanya tajam, mukanya serius, matanya sedikit berair
"kak, aku juga sudah bilang ibu,
kata ibu akan disampaikan ke Ayah,
dan tadi sebelum subuh sudah dipastikan Ayah akan memebantu kakak,
Ayah akan menjadi pembela kakak"
salah satu yang lain
"pokoknya kakak gausah khawatir,
kamia siap membantu sampai mati,
kami bersama kakak"
demikian mereka meyakinkan
aku masih mencoba tersenyum,
menghilangkan gundah hati,
menepis ketakutan akan hukuman yang harus kuterima,
juga apabila ancaman memasukkanku ke jeruji besi itu terjadi.
==
malam sebelumnya,
kami sedang asyiuk membahas perkembangan dakwah di sekolah mereka,
sekolah SMP almamaterku,
sekitar 7 anak delapan denganku,
di salah satu rumah mereka,
hingga akhirnya salah satu orang tua menelpon,
dan memebentak tak karuan,
cacian dan makian tertuju padaku,
"hey kak Kusnan...
jangan jadi pengecut ya gamau bicara dengan saya.
sekarang juga kembalikan anak saya.
kak Kusnan sudah saya laporkan ke polisi"
demikian suara lantang dari saluran telepon genggam si anak.
akhirnya si anak yang bersangkutan mau juga pulang,
diantar 4 wanita yang lain,
dengan dua motor,
di tengah malam,
jam 22.00 lewat
30 menit kemudian keempat wanita itu kembali dengan kami,
tangisan panjang histeris,
seketika sang ibu yang empunya rumah yang kami pakai untuk pertemuan itu keluar,
memeluk keempat anak perempuan itu dengan lembutnya,
mencoba menenangkan,
sambil bertanya kenapa dan kenapa.
salah satu dari mereka ada yang terdiam dari tangisnya,
mencoba menjelaskan, dengans sesenggukan
"sampai di rumahnya si fulanah di siram air kotor,
jilbabanya ditarik dan dijambak,
ibu dan neneknya memaki sejadinya,
dan ibunya bilang akan emlaporkan kak Kusnan ke polisi"
==
seminggu kemudian,
acara mentoring gabungan seperti biasa,
keterbatasan mentor di SMP itu memaksaku mengadakan mentoring gabungan,
juga keterbatsan waktuku,
semua berjalan lancar,
semua tersenyum,
gelak tawa sumringah dari mereka saat aku mencoba sedikit bergurau,
infocus segera kumatikan setelah lima kali takbir dengan lantang diteriakkan,
keenam panitia yang juga kelas 3 SMP itu sibuk memebereskan perlengkapan,
setelah semua beres kami berkumpul di bangku paling depan,
wajah semangat sumringah menghiasi keenam anak itu,
satu perempuan menyusul masuk ke ruangan ber-AC itu,
"afwan kakak, tadi ada urusan dulu dengan guru" demikian ucapnya,
dia juga tak kalah semangat,
siang itu aku saksikan semangat kian gelora,
semangat dakwah dan perjuangan,
semangat kemenangan,
setelah tiga hari dihantui ketakutan
mereka sangat senang saat aku terbebas dari jeruji besi,
"inilah harga perjuangan.
inilah yang dulu juga dihadapi Rasul dan sahabat,
dan inilah bukti saat Allah menangkan kebenaran"
demikian ucapku,
kawan,
keenam pelajar belia itu telah membayar harga perjuangan,
perjuangan menghidupkan geliat dakwah sekolah di SMP mereka,
yang harus berhadapan dengan orang tua super protec,
yang salah paham dengan model pembinaan,
yang salah paham dengan dakwah yang kami lakukan,
membayar harga perjuangan,
keenam pelajar itu menjadi bukti,
bahwa saat aktivis dakwah melemah dan memilih keluar maka Allah hadirkan pengganti,
generasi yang kuat dan berani,
yang tak takut dengan siapapun kecuali Allah,
yang besar cintanya pada dakwah,
yang mau membayar harga,
membayar harga perjuangan,
dengan tangisan, pengorbanan, dan semua,
dengan gelisah hati
membayar harga perjuangan,
heroiknya anak-anak palestina membekas di hati mereka,
"ini semua belum seberapa,
anak-anak di Palestina lebih dasyat,
nyawa bahkan sering melayang menjadi harga yang harus dibayar,
mereka tak pernah takut dan gentar,
tak pernah takut bahkan dengan rudal dan tank baja,
dengan timah panas atau racun asap,
mereka tetap berani membayar harga,
membayar harga perjuangan,
dengan darah dan nyawa,
malu kalau kita hanya seperti ini terus mengeluh dan melemah kalah"
demikian penguatanku pada mereka
membayar harga perjuangan
pagi terik di ibukota,
kubagi untuk para mujahid belia,
07:15 WIB
24 februari 2012
Mokhamad Kusnan
empat anak,
mondar-mandir saja di gerbang sekolah,
empat pelajar putri itu makin gusar,
raut mukanya memerah,
sesekali mengusap keringat yang mengalir di pipinya,
dari kejauhan aku setengah berlari,
dengan ransel dan tas besar berisi infocus,
menuju mereka
mereka tak mau kalah,
mendekatiku dengan sungguhan berlari,
jarak masih juga jauh teriakkan mereka sudah terdengar,
"buruan kak...
anak-anak sudah pusing,
kekhawatiran luar biasa,
semoga ibunya gak datang ke sekolah"
demikian salah satu dari mereka berucap.
"tenang, kk aja tenang kok"
aku mencoba menenagkan,
"berapa yang gak masuk hari ini?"
demikian aku membuka percakapan,
sambil berjalan setengah lari menuju salah satu rung kelas,
"tiga kak,
semua yang semalam melihat kejadian itu masih trauma,
mereka ketakutan kalau ibu si fulan nyamperin ke sekolah.
bisa makin runyam" begitu jelas salah satu dari mereka.
perjalanan makin dipercepat,
dua pelajar cowo menunggu kami,
salah satunya berlari menedekatiku,
"sini kak, infocusnya aku bawain" kemudian seketika merebut tas besar yang kutenteng.
"baik kita mulai dengan ta'awudz dan basmalah sebelum memulai"
demikian ucapku.
"sebelum peserta datang ada yang ingin kk sampaikan.
terkait kasus semalam,
kalian jangan takut,
Insya Allah gapapa.
ini resiko dakwah.
ini harga perjuangan.
Insya Allah si fulanah juga tetap tegar"
demikian aku mencoba mememangkan kerisauan mereka.
sekitar 1 jam mentoring gabungan itu berjalan,
dengan peserta lebih dari 30an,
tetap semangat,
hanya wajah dari 6 anak yang duduk paling belakang yang aneh,
mukanya memerah,
dikit-dikit berdiri, melihat keluar lewat jendela,
setengah hati mendengarkan,
setengah hati mengikuti,
kerisauan masih menghantui mereka
suasana takbir menggema di ruangan ber-AC itu,
infocus kumatikan dan kubereskan sendiri,
keenam anak itu sibuk membereskan yang lain,
setelah semua beres kami dukuk berkumpul di bangku paling depan
"kak, aku sudah bilang mamah,
beliau mau jadi jaminan untuk ka Kusnan,
beliau mau menjadi pembela kak Kusnan kalau harus ke meja hijau"
kata-katanya tajam, mukanya serius, matanya sedikit berair
"kak, aku juga sudah bilang ibu,
kata ibu akan disampaikan ke Ayah,
dan tadi sebelum subuh sudah dipastikan Ayah akan memebantu kakak,
Ayah akan menjadi pembela kakak"
salah satu yang lain
"pokoknya kakak gausah khawatir,
kamia siap membantu sampai mati,
kami bersama kakak"
demikian mereka meyakinkan
aku masih mencoba tersenyum,
menghilangkan gundah hati,
menepis ketakutan akan hukuman yang harus kuterima,
juga apabila ancaman memasukkanku ke jeruji besi itu terjadi.
==
malam sebelumnya,
kami sedang asyiuk membahas perkembangan dakwah di sekolah mereka,
sekolah SMP almamaterku,
sekitar 7 anak delapan denganku,
di salah satu rumah mereka,
hingga akhirnya salah satu orang tua menelpon,
dan memebentak tak karuan,
cacian dan makian tertuju padaku,
"hey kak Kusnan...
jangan jadi pengecut ya gamau bicara dengan saya.
sekarang juga kembalikan anak saya.
kak Kusnan sudah saya laporkan ke polisi"
demikian suara lantang dari saluran telepon genggam si anak.
akhirnya si anak yang bersangkutan mau juga pulang,
diantar 4 wanita yang lain,
dengan dua motor,
di tengah malam,
jam 22.00 lewat
30 menit kemudian keempat wanita itu kembali dengan kami,
tangisan panjang histeris,
seketika sang ibu yang empunya rumah yang kami pakai untuk pertemuan itu keluar,
memeluk keempat anak perempuan itu dengan lembutnya,
mencoba menenangkan,
sambil bertanya kenapa dan kenapa.
salah satu dari mereka ada yang terdiam dari tangisnya,
mencoba menjelaskan, dengans sesenggukan
"sampai di rumahnya si fulanah di siram air kotor,
jilbabanya ditarik dan dijambak,
ibu dan neneknya memaki sejadinya,
dan ibunya bilang akan emlaporkan kak Kusnan ke polisi"
==
seminggu kemudian,
acara mentoring gabungan seperti biasa,
keterbatasan mentor di SMP itu memaksaku mengadakan mentoring gabungan,
juga keterbatsan waktuku,
semua berjalan lancar,
semua tersenyum,
gelak tawa sumringah dari mereka saat aku mencoba sedikit bergurau,
infocus segera kumatikan setelah lima kali takbir dengan lantang diteriakkan,
keenam panitia yang juga kelas 3 SMP itu sibuk memebereskan perlengkapan,
setelah semua beres kami berkumpul di bangku paling depan,
wajah semangat sumringah menghiasi keenam anak itu,
satu perempuan menyusul masuk ke ruangan ber-AC itu,
"afwan kakak, tadi ada urusan dulu dengan guru" demikian ucapnya,
dia juga tak kalah semangat,
siang itu aku saksikan semangat kian gelora,
semangat dakwah dan perjuangan,
semangat kemenangan,
setelah tiga hari dihantui ketakutan
mereka sangat senang saat aku terbebas dari jeruji besi,
"inilah harga perjuangan.
inilah yang dulu juga dihadapi Rasul dan sahabat,
dan inilah bukti saat Allah menangkan kebenaran"
demikian ucapku,
kawan,
keenam pelajar belia itu telah membayar harga perjuangan,
perjuangan menghidupkan geliat dakwah sekolah di SMP mereka,
yang harus berhadapan dengan orang tua super protec,
yang salah paham dengan model pembinaan,
yang salah paham dengan dakwah yang kami lakukan,
membayar harga perjuangan,
keenam pelajar itu menjadi bukti,
bahwa saat aktivis dakwah melemah dan memilih keluar maka Allah hadirkan pengganti,
generasi yang kuat dan berani,
yang tak takut dengan siapapun kecuali Allah,
yang besar cintanya pada dakwah,
yang mau membayar harga,
membayar harga perjuangan,
dengan tangisan, pengorbanan, dan semua,
dengan gelisah hati
membayar harga perjuangan,
heroiknya anak-anak palestina membekas di hati mereka,
"ini semua belum seberapa,
anak-anak di Palestina lebih dasyat,
nyawa bahkan sering melayang menjadi harga yang harus dibayar,
mereka tak pernah takut dan gentar,
tak pernah takut bahkan dengan rudal dan tank baja,
dengan timah panas atau racun asap,
mereka tetap berani membayar harga,
membayar harga perjuangan,
dengan darah dan nyawa,
malu kalau kita hanya seperti ini terus mengeluh dan melemah kalah"
demikian penguatanku pada mereka
membayar harga perjuangan
pagi terik di ibukota,
kubagi untuk para mujahid belia,
07:15 WIB
24 februari 2012
Mokhamad Kusnan
Langganan:
Postingan (Atom)


















