Tampilkan postingan dengan label semangat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label semangat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2012

menanggung amanah langit



gerimis turun saat Mul mengantarku ke kampus kedinasan itu,
skuter tenaga mesin itu melaju menembus butiran air yang berjatuhan,
suasana pasar ramai,jalan lancar,
hanya beberapa menit kami sampai juga di kampus itu.

"Assalamualaikum Ustad...Kusnan"
demikian sapaan mereka padaku saat sekuter itu masuk ke gerbang kampus,
taruna yang tugas menjaga pintu masuk ramah menyapaku,
ah mereka sampai hafal namaku.

"Afwan kk belum shalat,
tadi niatnya bisa berjamaah dengan kalian,
kondisi tak emmungkinkan,
kk shalat isya dulu ya"
demikian ucapku pada beberapa taruna yang menyambutku di masjid itu.

tiba saat aku mengisi kajian,
"ini materinya mau tinjauan Psikologis atau Islam Kontemporer?"
tanyaku pada panitia,
"Islam kontemporer tad.."
mereka serentak menjawab,
ratusan peserta,
taruna sekolah kedinasan itu,

seusai kajian masih harus dilanjutkan dialog,
seperti biasa ada sesi sendiri untuk pengurus DKM itu,
penetrasi pemikiran,
mimpi demi mimpi,
motivasi dan inspirasi,
sepertinya mereka tak ingin akuberanjak pergi,
"afwan nih kk masih ada agenda lagi,
lain waktu kita lanjutkan lagi ya"
demikian ucapku,
jam menunjuk pukul 23.00
dengan ojek aku meninggalkan kampus kedinasan itu.

==

langkahnya terburu,
mendung gelap membuatnya khawatir,
segera beliau meluncur dengan motornya,
menembus sore ramai,
menyalib mobil demi mobil,

"afwan dik, abang pulang agak larut,
kamu tak usah menunggu ya,
makan lantas tidur segera"
demikian ucpanya lewat telpon,
suaranya jelas tegas terdengar olehku,

"bang, malam ini bisa menginap?
kondisinya semakin runyam,
kalo malam ini kita bisa selesaikan, mungkin sampai pagi.
besok seusai subuh semua harus diserahkan.
kalo tidak nasib anak-anak itu kasihan.
abang tau sendiri teman-teman sudah gabisa diandalkan"
demikian ucapku.

"sebelum subuh harus pulang Kus,
setor muka dengan istri, kan besok kerja juga"
demikian jawabnya,
tak ada keluh,
tak ada resah,
sampai saat ini hanya dia yang masih mau kontribusi di perjalanan mimpi-mimpiku.

==

jam 3 pagi dia sudah bangun,
beberapa rakaat tahajjud dilanjutkan doa dengan derai tangisan,
tak lama kemudian dia sudah siap dengan sapu dan kain pel,
sebelum orangtuanya bangun semua harus beres,
piring kotor di dapur harus rapi,
lantai-lantai harus bersih,
diapun harus sudah siap,

tiag bulan,
hinga suatu hari ibunya menanyakan penuh perhatian,
"kakak sebenarnya maunya apa?
sudah tiga bulan ini kakak selalu mengerjakan semua tugas rumah"
sementara dia hanya bisa tersenyum,
tak ingin terburu menyatakan keinginannya,
"kaka ingin membuat ibu senang,
kaka ingin berbakti seperti yang diajarkan Nabi,
kaka ingin menjadi anak sholeh"
hingga saat ibunya mendesak lagi,
diapun mengatakan,
"Ibu...kalo semua tugas rumah sudah kaka kerjakan,
kalo kaka bisa menjaga prestasi di sekolah,
kaka boleh kan ya aktiv di ROHIS, di remaja masjid, di karang taruna.."
kaka ingin menjadi amal jariyah untuk ibu"

dia,
ketua ROHIS itu,
kini sudah berada di kampus impian,
dan ibunya mendukung penuh setiap aktivitas dakwahnya,
padahal dulu dilarangnya sejadinya

==

kemauannya tak bisa dibendung,
semangatnya tak bisa ditahan,
seolah tak ada yang lebih menantang dan menggiurkan,
selain memenuhi panggilan dan ajakan itu,

4 bulan bukan waktu sebentar,
2 juta juga bukan uang sedikit,
sementara pekerjaannya selama ini hanya berjualan roti bakar,
dia hanya bisa menyimpan setiap harinya tak lebih dari 20ribu,
bahkan kadang malah harus hutang,
dan untuk ikut khuruj selama 4 bulan ke palembang itu dia minimal punya 2 juta,
itupun sudah sangat murah,
hanya biaya transport dan makan sederhana,
kerja selama 4 bulan untuk dakwah 4 bulan,

==

anaknya tiga, lelaki semua,
dan semua butuh perhatian penuh,
suaminya kerja di perusahaan jepang,
sangat dituntut kedisiplinan dan loyalitas tinggi untuk perusahaan,
alhasil semua pekerjaan rumah dan tugas mendidik anak tanggungjawabnya.

setiap pagi bangun jam 3,
mengerjakan pekerjaan rumah seblum mengurus anaknya,
satu persatu diantarakan anaknya ke sekolah,
dilanjutkan mengajar,
sebagai guru SMP negeri dijalaninya untuk menambah biaya hidupnya,
ketiga anaknya sekolah di sekolah terpadu,
sangat menguras kantong suaminya,
"umi ingin pendidikan terbaik,
tak apa jika harus mahal,
nanti umi bisa ngajar atau kerja lainnya"
demikian akunya padaku,

bangun pagi buta,
tidur larut malam,
dia baru bisa tidur setelah semua tugas rumah selesai,
setelah mengurus suaminya bahkan,
kadang 4 jam, kadang hanya 2 jam,
demikian akunya tentang berapa lama dia tidur dalam sehari,

bagaimana sabtu-minggu?
ah jangan tanya kawan,
dia bahkan tak ada waktu jeda di dua hari itu,
kesibukan tambahan lainnya adalah membina,
si ibu tangguh memiliki 3 kelompok halaqoh yang harus dibimbingnya. setiap akhir pekan,
belum lagi aktivitasmnya mengajar majelis ta'lim ibu-ibu sekitar rumahnya,
atau aktivitas dakwah lainnya,

==

menaggung amanah langit,
dimana pekerjaan kita lebih banyak dari waktu yang ada,
butuh kesiapan,
butuh kekuatan,
butuh cinta dan senyuman,

menanggung amanah langit,
hanya sebagian orang yang merasakan,
dan menjadikan sebagai kewajiban,

menanggung amanah langit,
di setiap udara yang ia hirup,
disetiap air yang ia minum,
disetiap warna yang ia lihat,
disetiap rasa yang ia kecap,
disetiap kata suara yang ia dengar,
dan,
disetiap suara yang ia ucap,
setiap gerak yang ia lakukan,
setiap langkah yang dia ayunkan,
setiap detail yang ia pikirkan,
semua ditujukkan untuk menanggung amanah langit,

menanggung amanah langit,
karena da'i pewaris para nabi,
mereka menanggung amanah langit untuk bumi,
dalam setiap lapang atau sempit,
dalam suka atau duka,
dengan kesedihan penuh,
karena dakwah itu pilihan,
karena dakwah itu nikmat,

menanggung amanah langit,
refleksi untuk para aktivis dakwah,
pekerjaan kita lebih banyak dari waktu yang ada,
pekerjaan kita adalah amanah-amanah berat,
butuh kekuatan dan ketulusan penuh,
butuh cinta dan pengorbanan penuh,
kerja...kerja...kerja...

menangung amanah langit,
akan senantiasa banyak cerita,
akan senantiasa dipenuhi cita dan cinta,
hingga kelak Allah menangkan,
dan sibakkan mimpi-mimpi kita,

menangung amanah langit,
pagi mendung di ibukota,
06.44 wib 8 maret 2012
Mokhamad Kusnan

Selasa, 06 Maret 2012

mengukur militansi da'i, malu dengan Ammar...



Amar kawan,
seperti yang pernah kuceritakan,
pemuda penjual roti bakar di pasar minggu itu,
pemuda lugu dari kampung yang miskin itu,

ya dialah Amar,
pemuda yang hanya lulusan sekolah dasar,
pemuda penuh kesederhanaan,
tapi penuh isnpirasi,

dialah Amar,
yang hampir gapernah ketinggalan shalat berjamaah di masjid,
yang rela meninggalkan dagangannya ketika adzan berkumandang,

ah,
dia Amar yang isnpiratif,

sore kemarin,
seusai shalat ashar di masjid dekat sekretariat YOUTHCARE,
Amar tak lagi nampak,
beberapa hari ini aku tak menjumpainya,
hanya ada Syarif, kakaknya,
"Ammar gak kelihatan bang. kemana?"
tanyaku,
"Astaghfirulloh, saya lupa ngasih tau, sabtu kemarin Ammar ke Palembang,
iya dia waktu itu suruh bilang ke mas Kusnan,
pamit mau dakwah 4 bulan ke palembang dan tanah Sumatera"
demikian jawabnya,

Ammar,
dialah sang da'i,
pernah suatu kali seusai shalat ashar berjamaah di masjid,
disaat aku ingin pergi dari masjid itu,
Ammar memanggilku,
"Mas, sebentar ngaji dulu yuk?
nanti mas Kusnan yang ngajarin saya atau saya yang ngajarin mas Kusnan"
demikian pintanya,
dan aku iyakan saya,
aku memilih mendengarkannya,

Ammar membuka sebuah kitab hadist,
Fadhail Al- Amal, membaca salah satu hadist,
dan subhanallah...tepat,
hadistnya tentang menuntut ilmu,
sore itu, sekitar 10 menit aku mendengarkan,
yang kemudian kami bergantian,
dia dengan Fadhail Al-Amalnya,
aku dengan Al_Wafi..

dialah Amar,
semangatnya berdakwah luar biasa,
semangatnya ingin menyampaikan hadist atau tausiyah luar biasa,

dialah Ammar,
hanya lulusan SD,
tapi semangat sebagai da'i mengalahkan usia pendidikannya,

"Ammar 4 bulan berdakwah di palembang,
dengan biaya sendiri,
semua biaya dari hasilnya jualan roti bakar setiap hari di pasar minggu,
menyisihkan sebagian untuk ditabung"
demikian aku kakaknya yang juga jualan roti bakar,

dialah Ammar,
pernah juga suatu kali,
saat selesai shalat magrib di masjid dekat kantor YOUTHCARE,
saat itu jadwal kajian tahsin Qur'an,
yang mengajarkan imam masjid itu,
yang mungkin sudah hafidz,
yang jelas selalu surat-surat panjang yang dibaca,
biasanya jus 27, pernah juga jus awalan, jus 8 atau 9.
paling lama kalau jadi imam subuh,
seolah sang imam sangat menikmati syahdu bacaannya sendiri,
terlarut dalam indahnya ayat demi ayat Al-Qur'an.
Ammar memanggilku,
mengajakku ikut juga mengaji,
"mas Kusnan gapernah ngaji disini nih" demikian ucapnya.
aku jelaskan kalau aku juga mengaji,
hanya di tempat lain,
dan memang jadwal yang bentrok dengan agenda lain,
jadi pengajian tahsin di masjid itu aku tak bisa mengikuti.

dialah Ammar,
sang da'i yang bersemangat tinggi,
yang bahkan rela selama 4 bulan tak mencari nafkah,
rela bekerja bulan demi bulan untuk biaya dakwah 4 bulan di daerah,
padahal,
Ammar hanya seorang miskin,
yang bahkan ngontrak rumah mungil kumuh dengan kakaknya,
yang seringkali makan siang di warteg hanya dengan satu lauk,
kadang lauk itu hanya sayur saja dengan sambal,

ah,
siapa menerka militansi Ammar,
siapa sangka pemuda lugu penuh keterbatasan itu ternyata lebih hebat,
di segala keterbatasannya dia masih menunjukkan militansinya,
dakwah memanggilnya,
jamaahnya memanggilnya,
aku sendiri malu jadinya..

mengukur mulitansi, malu dengan Ammar,
malu dia hanya tukang jualan roti bakar,
malu dia hanya lulusan SD,
malu dia orang kampung lugu miskin,
tapi semangat belajarnya hebat,
semangat dakwahnya dasyat,
seolah cintanya pada dakwah mengalahkan semua keterbatasannya,

mengukur militansi,
malu dengan Ammar,
dia bukan terlahir dari rahim tarbiyah,
namun semangat dakwah tak kalah,
dia yang semangat ikut kajian demi kajian,
dia yang berani mengajak siapapun untuk ke masjid,
dia yang seringkali dicemooh pedagang lain,
"ah sok alim lu.. sok soleh lu.."

ah,
dialah Ammar yang tangguh,
tetap saja ajakan itu dia sampaikan,
bahkan akupun diajaknya rajin mengaji,
mengikuti tahsin tiap selasa malam di masjid itu,

mengukur militansi, malu dengan Ammar,
renungan untuk para kader dakwah,
yang mengaku lahir dari rahim tarbiyah,
tapi masih segan untuk berkhotbah,
masih malu mengajak sesama muslim ke mushollah,
masih segan dan ragu untuk berdakwah,
ah...masih pelit berkorban untuk jamaah,


mengukur militansi,
malu dengan Ammar,

ah Ammar,
seandainya kau mau tarbiyah,
tapi kau tetap tangguh kok,
kau tetap menginspirasi,
kau tetap seorang da'i,
dan kau lebih militan dari kami,

mengukur militansi, malu dengan Ammar,
siang terik di ibukota,
10.40 WIB 7 maret 2012
Mokhamad Kusnan

Minggu, 04 Maret 2012

seri heroik 12: ketika fitnah itu menghantam ROHIS kami

seri heroik anak smp 12;


"pokoknya besok kak Kusnan harus ke sekolah,
ROHIS dihina semena-mena,
ROHIS difitnah kak,
sebelum ngajar di semua kelas guru itu selalu memfitnah ROHIS,
anak-anak jadi ragu dengan ROHIS, beberapa termakan fitnahan guru itu"

demikian sms yang kubaca,
malam itu aku sempatkan menelponnya,
menanyakan perihal kebenaran berita itu,
baru beberapa kegiatan yang kami lakukan,
sekarang sudah ada teror,
seorang guru mantan wakil memfitnah,
menebar permusuhan dengan rohis,
menghina di depan kelas,
dihadapan ratusan anak-anak ingusan yang minim agama,

"kalian jangan pada ikutan rohis,
hati-hati dengan alumni yang suka datang,
nanti diajak aliran sesat,
nanti bisa direkrut jadi teroris,
rohis itu bahaya"
demikian ucapan guru itu seperti yang ditirukan anak-anak,

"saat beliau ngomong gitu kalian diam?"
demikian tanyaku,
salah satu anak perempuan bicara;
"enggak kak, tadinya saya juga panas,
mau menyangkal perkataan guru itu,
tapi Randi udah berdiri duluan,
dengan tegas randi menyangkal,
dan bahkan menegur guru itu.

"maaf pak,
bapak jangan asal bicara,
rohis itu resmi ekskul yang ada di sekolah,
dan di semua sekolah ada,
dan alumni yang datang juga baik-baik,
mereka rela ngajarin kami pelajaran sekolah juga tentang islam,
mereka rela mengorbankan waktu ngajarin kami, dan gak dibayar,
bahkan mereka mengajari kami lebih baik dari guru-guru sekolah.
bapak jangan memfitnah gitu,
sesama muslim gaboleh menghina,
terlebih bapak seorang guru,
jangan asal ucap pak.
maaf saya terpaksa bicara,
saya Randi, ketua ROHIS sekolah ini"
demikian sang ketua ROHIS bicara,
ditirukan oleh rekan sekelasnya,

siang itu,
setelah semua pulang sekolah,
kami diskusi perihal perkatan profokativ guru itu,
setelah semua saksi di tiap kelas dikumpulkan,
kami bawa ke forum komitte sekolah,
untuk meminta dukungan,
agar guru yang meresahkan anak-anak rohis dan fitnah itu dihentikan,
setelah pihak komitte bersedia mendukung,
kami ajukan ke pihak sekolah,
langsung kami temui kepala sekolah,
membicarakan perihal itu,

sehari setelah perjuangan kami itu,
sang guru bersangkutan sering tidak masuk sekolah,
sepekan kemudian,
terdengar berita beliau meninggal,
karena penyakit menakutkan,
hanay sedikit guru yang bisa melayat,
terkait tempatnay yang jauh juga kondisi sekolah sedang ada penilaian,
semua harus ada di sekolah,
terlebih hari meninggalnya itu hujan lebat turun,

DIA BUKAN ANAK BIASA,
Randi,
demikian anak itu biasa akrab dipanggil,
sang ketua ROHIS yang lantang membela saat rohis kami dihina,
dia yang langsung berdiri dan lantang menolak mentah-mentah ucapan sang guru,
dia yang langsung memnbela rohis saat sang guru semena-mena menghina.

dia bukan anak biasa,
pendidikan terpadu di rohis kamilah yang telah membuatnya dewasa,
dewasa di usia muda karena dia masih kelas 2 smp,
namun dia paling lantangh membela islam saat ada yang menghina dan memfitnah,
aku sendiri cukup kagum dengan ucapannya pada guru itu,
dia pula yang langsung melaporkan guru itu ke BK/BP,

tarbiyah pekanan itu mendidiknya,
pertemuan pekanan dua jam itu telah membentuknya,
menanamkan keluhuran nilai Islam dalam hati dan dirinya,
hingga tumbuh keberanian saat Islam dihina dan difitnah,

==

siang itu,
seusai aku mengisi kajian pekanan anak-anak itu,
disaat beberapa omongan guru terdengar;
"pak fulan kena ahzab dari Alloh karena menghina rohis, memfitnah, dan menjelek-jelekkan islam"
demikian kata-kata yang sedang banyak jadi perbincangan guru itu,
aku memilih tak banyak suara dengan hal itu,
hanya sedikit penjelasan bahwa kita wajib membela saat kita dihina,
kita wajib menjelaskan saat kita difitnah,
dan terlebih,
kita wajib memberitahukan tentang kebenaran itu,
dengan sikap dan tindakan kita,
bahwa rohis adalah sarana dakwah,
bahwa rohis membentuk pelajar ber akhlakul karimah,
bahwa rohis mencetak pelajar yang santun, sholeh, dan cerdas,

ketika fitnah itu menghantam ROHIS kami,
maka sudahkah kita siapkan diri untuk membela,
sudahkan kita tanamkan pelajaran akhlak ke semua binaan,
sudahkah anak-anak belia itu menjalankan kemuliaan Islam,

ketika fitnah itu menghantam ROHIS kami,
kewajiban kita untuk menanamkan nilai Islam ke dalam diri,
agar anak-anak itu menjelma menjadi teladan diri,
menjadi manusia yang menecrminkan keindahan Islam,

ketika fitnah itu menghantam ROHIS kami,
sebagai pengingat kita bahwa kita harus persiapkan diri,
mendidik dengan hati dan keteladanan,
membuktikan keindahan islam dengan kata dan tindakan,
agar kelak orang segan dan melihat kemuliaan,
lewat sosok-sosok anak belia di masa depan,

ketika fitmah itu menghantam ROHIS kami,
siang di kantor YOUTHCARE,
11:10 WIB 05 maret 2012.


Kamis, 01 Maret 2012

seri heroik 8: ROHIS boleh ditiadakan, tapi pembinaan harus berjalan

seri heroik anak smp 8;

tabligh ROHIS


entah kenapa pihak sekolah langsung mengambil keputusan membongkar mushola,
padahal belum sejengkalpun tanah yang akan dibangun masjid itu digali,
lantas mau dimana shalat dilakukan selama masa pembangunan masjid itu?
demikian terus berselimut di benakku,
kebijakan kepala sekolah baru itu cukup aneh

"tata ruang sekolah mau diperbaiki,
kepala sekolah spesialis renovasi,
jadi itulah alasan kenapa mushola sederhana itu dihancurkan"
demikian ucap wakil kepala sekolah,
setelah kutanyakan perihal kenapa mushola dihancurkan,
kepala sekolah sendiri memilih diam saat berhadapan denganku,

SEKOLAH SEGAN,

mushola boleh dihancurkan,
rohis boleh dihapus dari daftar ekskul,
rohis boleh tak lagi ada nilai raportnya,
tapi pembinaan harus terus berjalan,
dakwah harus terus diperjuangkan,

satu hal yang membuat semangat pembinaan terus berjalan karena sekolah segan denganku,
sekolah tak berani langsung mengusir atau melarangku mengajarkan Islam di sekolah itu,
"kepala sekolah segan, kontribusi kusnan terlalu banyak,
sebagian guru sangat akrab dengan kusnan,
belum lagi anak-anak yang ketergantungan dengan kusnan,
kusnan juga termasuk anggota kommite sekolah,
kepala sekolah harus membayar mahal jika ingin mengusir kusnan"
demikian salah satu guru berucap.

MEMBAYAR HARGA

inilah beberapa alasan kenapa kepala sekolah tak berani mengusirku,
atau melarangku mendakwahkan Islam di sekolah itu,

sejak pertama kali aku menginjakkan kaki ke sekolah itu,
untuk pertama kalinya membina anak-anak ingusan yang kelak menjadi ROHIS,
aku sangat membina hubungan baik dengan pihak sekolah,
citra awalku baik karena dulu aku lulus dengan prestasi baik di sekolah itu,
alhasil sebagian guru yang kenal denganku kaget dan senang atas kehadiranku,
terlebih saat aku mengatakan "saya akan mengajarkan anak-anak ngaji bu..."
rumahku juga tak jauh dari sekolah itu,
bahkan guru-guru seringkali mampir
untuk sekedar makan siang selesai shalat jum'at di masjid komplek rumahku,
jadi tidak ada prasangka apapun terhadapku karena tau siapa aku dan rumahku,

demikian juga proses pembinaan awal,
aku memulai rohis bukan di mushola tapi di kelas,
secara tabligh dan memakai perlengkapan audio visual,
saat pertama kali aku memulai beberapa guru memperhatikan,
sangat kagum bahkan meminta diajarkan membuat slide presentasi untuk mengajar,
pun dengan penampilanku,
2006 pertama kali aku ke sekolah itu aku sedang sibuk-sibuknya mengurus bisnis,
jadi saat aku mengisi ke sekolah penampilanku juga rapi,
stelan rapi lengkap dengan dasi dan spatu pantofel itu,
terlebih temanku sering menjemputku,
seolah melengkapi pandangan sekolah terhadapku

akupun tak jarang menanyakan perihal akademik sekolah,
dan apa yang bisa aku bantu,
sampai aku dipercayakan masuk ke tim perumus kurikulum,
model pengajaran sebagian berasal dari otakku,
aku bahkan diajak untuk raker sekolah,

dekat dengan pimpinan sekolah

keakraban dengan guru terus aku bangun,
suasana kedekatan terus kusemai,
demikian juga rohis dan sekolah,
semua guru mendapat kartu ucapan lebaran dari ROHIS,
lengkap dengan foto mereka,
juga beberapa merchandise,
guru juga kami minta mengisi rubrik di mading,
bahkan juga di majalah sederhana kami,
tak jarang guru kami ajak ikut rihlah,
ikut menghadiri kegiatan-kegiatan kami,
bahkan saat-saat acara besar ROHIS,
seperti open house,
kami selalu mengundang kepala sekolah untuk hadir memberikan sambutan,

dekat dengan pengurus OSIS

selalu aku tanyakan apa yang bisa kubantu untuk sekolah,
saat menjelang UN, aku mmeberikan training motivasi gratis untuk siswa kelas 9,
bahkan aku sempat 2 bulan mengajar matematika
khusus untuk mereka yang masih lemah njilai matematikanya,
semua tanpa aku meminta apapun,
hingga semua kelas meminta matematikanya aku yang mengajarkan,
alhamdulillah prestasi anak-anak di pelajaran itu melonjak,
sekolah sangat senang,
alhasil aku diundang di acara perpisahan,
yang bahkan tak semua orangtua diundang,
aku bahkan mengisi acara sharing motivasi di perpisahan itu,

Ssemangat mengisi ROHIS

juga dengan pembinaan rohis,
aku kemas semenarik mungkin,
dengan parameter pasti pencapaiannya,
anak-anak bisa membuat mading,
bisa menerbitkan majalah,
mewawancara guru untuk di masukkan ke mading dan majalah,
mushola kumuh kami hias sehingga guru sering menikmatinya,
untuk isitirahat dan sekedar membaca-baca koleksi perpustakaan mungil kami,
akademik anak-anak juga aku upayakan baik,
jadi sekolah sangat senang saat anak-anak rohis mendominasi prestasi akademik.

di perpisahan itu

harga mahal itu telah kubayar,
saat kepala sekolah baru itu hadir,
membawa guru matematika yang lebih hebat dariku,
berusaha menggantiku di posisi penasihat kurikulum,
dan mengganti wakil kepala sekolah yang sangat akrab denganku dengan orang lain,
namun beliau tak berani mengusir dan melarangku membina rohis,
harga mahal itu sudah kubayar,
beliau segan dan tetapo menghormatiku,

membayar harga,
itulah yang mestinya dilakukan aktivis dakwah sekolah,
pencitraan kita dihadapan kepala sekolah dan guru harus baik,
harus banyak kontribusi kita dengan sekolah,
transparansi materi pembinaan,
parameter real yang bisa dilihat pihan sekolah,
terutama prestasi akademik anak-anak rohis,
semua unsur itu mutlak harus dimiliki agar dakwah sekolah bersemi indah,
agar sekolah menyadari peran penting aktivis dakwah seperti kita,

"buat apa ada mentoring?
toh anak-anak tetap bandel,
anak rohis juga gaada prestasinya,
alumni eksklusif dan gapernah menegur guru,
guru selalu duduk mendengarkan takpernah diberi kesempatan bicara,
seolah-olah alumni lebih pandai dibidang agama"
demikian pernah kudengar alasan disebutkan guru,
yang akhirnya pembinaan  di sekolah terkait di hentikan,
bahkan kabarnya SANLAT sekolah itu dihandle Al-kahfi,
sampai alumni dilarang masuk ke sekolah itu untuk membina,

rohis boleh ditiadakan, tapi pembinaan harus terus berjalan,
untuk evaluasi pembinaan sekolah kita,
sudahkan sekolah segan dan merasa membutuhkan kita?
sudahkan hubungan kekerabatan sekolah dan alumni terjalin?
sudahkan prestasi anak-anak kita tingkatkan?

hingga guru-guru akan mengatakan
"seneng deh dengan anak ROHIS,
udah pinter, rajin, sholeh lagi,
ah pingin menantu ibu nanti kayak kalian"

hingga guru -guru mengatakan;
"kagum ama alumni rohis,
pinter-pinter dan sholeh-sholehah,
mau ikhlas mengajarkan adik-adiknya jadi anak pinter dan sholeh juga"

hingga seluruh siswa akan mengatakan;
"kak rajin-rajin ke sekolah ya..
kak kapan mentoring lagi...?
kak mentoring tiap hari aja..
kak pingin deh kayak kakak, pinter dan sholeh"

rohis boleh ditiadakan, tapi pembinaan harus terus berjalan
jum'at pagi di ibukota,
untuk dakwah sekolah bersemi indah,
06:34 WIB 2 maret 2012
Mokhamad Kusnan

Rabu, 29 Februari 2012

seri heroik 7: sinergi, keniscayaan untuk akselerasi dakwah sekolah

seri heroik anak smp 7:


setelah ujian bertubi-tubi itu,
kamipun mulai berbenah diri,
menjalin silaturahim dengan keluarga anak-anak rohis,
membangun komunikasi dan keakraban dengan nmereka,
tiap pekan sekali satu demi satu rumah anak-anak itu kami sambangi,

demikian juga dengan pihak sekolah,
seluruh yang mereka lakukan kepada kami selama ini kami maafkan,
senyuman lebar senantiasa kami hadirkan,
untuk beberapa saat tidak ada program yang kami tawarkan,
bahkan hadiah demi hadiah kami berikan ke guru-guru yang berulang tahun,
kartu ucapan kami kirimkan satu persatu,

mushola mungil kumuh itu,
pekan demi pekan kami benahi,
bau busuk , bocor dan fasilitas pendukung dengan dana seadanya kami perbaiki,
poster demi poster kami beli dan kami hias mushola itu,

sekian bulan lamanya,
kami lebih banyak pembenahan internal,
membina anak-anak yang sedikit itu dengan pembinaan kekeluargaan,
penanaman cinta akan islam dan dakwah terus kami sampaikan,
perlahan demi perlahan kami benahi,
tak ada yang kami salahkan,
kami lebih pada introspeksi diri,

"bekerjalah kamu, maka Allah, Rasul, dan orang-orang beriman akan melihat hasil kerjamu"
mungkin itu dalil yang terus kami tanamkan dalam hati,
motto kami adalah kerja dan kerja,
At-Taubah 105.

SINERGI,
ini yang kami lakukan berikutnya,
kami jalin silaturahim seeratnya dengan para orang tua anak-anak itu,
kami sambung silaturahim sedekatnay dengan para guru,
kami berikan penghormatan sebaikbaiknya kepada kepala sekolah dan jajarannya,
seluruh intruksi sekolah kami lakukan,
perlahan dengan nitu kami didik anak-anak dengan didikan santun dan keakraban,
pertemuan demi pertemuan,
nyaris setriap hari akudesikasikan diri ke sekolah itu,
bukan hanya mengajarkan keislaman,
bahkan sempat beberapa bulan aku diminta bantuan mengajar matematika,
untuk kelas tiga yang akan menghadapi UN.
kami buat spanduk semangat untuk mereka,
kami tulis sebesar-besarnya ROHIS di spanduk itu,
bahkan kami berikan pocket kecil panduan sukses UN,
poster di tiuap tangga.

SINERGI,
kami bekerja sama dengan beebrapa lembaga,
PRIMAGAMA untuk TRY OUT gratis seluruh siswa di sekolah itu,
bakti sosial, penyambutan sisa baru, pembinaan ekskul lain, program bersih sekolah.
kami kurangi porsi agama dalam penawaran program,
beberapa bulan itu kami terus bekerja,
hingga ramamdhan datang...SINERGI itu...

sinergi, keniscayaan untuk akselerasi,
dengan proposal lengkap,
persiapan matang,
siang itu aku hadir ke sekolah itu,
membawa proposal sangat lengkap,
menawarkan program sanlat dis ekolah itu,
bukan ROHIS, tak ada kata-kata ROHIS,
hanya ada satu nama di proposal itu...YOUTHCARE.
meski nama orang tak beda juga...Mokhamad Kusnan.

Alhamdulillah,
inilah hasil kerja kami,
tawaran itu disambut antusias,
sinergi luar biasa,
YOUTHCARE dan santri-santri HUSNUL KHOTIMAH,
tak ada sepenggalpun nama ROHIS,
sekali lagi kami tak mengeluarkan nama itu,
hingga...suatu siang saat kami sedang membersihkan taman dekat mushola,
mencabut rumput-rumput kecil yang mengurangi pemandangan,
dalam peluh dan derasnya aliran keringat,
dalam kondisi pakaian masih tersinsing,
sang ibu wakil itu meamnggil

"Kusnann.,..."
demikian panggilnya,
seketika aku berkemas dan memebrsihkan diri,
meminta izin dari anak-anak itu yang sedang melakukan kerja sama, mencabuti rumut prngganggu
"Kusnan, ramadhan ini sekolah mau mengadakan sanlat. nanti yang mengisi dari YOUTHCARE.
kepala sekolah meminta YOUTHCARE semua yang mengisi. Kusnan tolong bantu ya"
demikian sang ibu itu bicara.
"ROHIS bisa bantu apa bu?"
demikian tanyaku, memperjelas saja apa yang harus kami lakukan,
"mungkin teknis kusnan, menyiapkan bangku dan perlengkapan" demikian ucapnya.

sepekan kemudian,
menjelang ramadhan,
kami buat spanduk besar untuk acara yang akan berlangsung,
logo dan nama besar ROHIS masih kami tonjolkan,
mushola kami setting serapi mungkin,
instalasi wudhu, dan semua penunjangnya,
kami harus patungan untuk menyiapkan semua,
tak ingin sepeserpun meminta ke pihak sekolah

==
suasana meriah pembukaan SANLAT itu


pengurus YOUTHCARE sejajar dengan guru



pemberian poster 10 VALUE  ke kepala sekolah

Ramadhan 1432H,
saat eksekusi acara itu,
PESANTREN KILAT BESAR-BESARAN,
pembukaan yang meriah dan besar,
saat itu guru-guru cukup terkaget,
terkaget begitu tau bahwa ternyata pimpinan YOUTHCARE adalah saya sendiri,
saya sendiri menempatkan seperti perintah sang ibu wakil kepala sekolah,
pelayan teknis,
pagi cerah itupun,
aku hanya mondar mandir menjadi fotografer,
tak berdiri dengan beberapa anak pengurus YOUTHCARE yang duduk sejajar dengan guru-guru,
bahkan pemberian plankat dilakukan oleh wakil saya di YOUTHCARE.

guru bangga kerjasama dengan YOUTHCARE.

sinergi, keniscayaan untuk akselerasi
karena berjamaah itu lebih dasyat daripada sendiri,
karena perkara ini besar,
karena ini pekerjaan besar,
pekerjaan besar untuk perubahan besar,

demikian dengan YOUTHCARE,
kami ada untuk pemuda,
untuk pergerakan pemuda,
kami ada untuk peduli,
peduli dengan perjuangan para pemuda,
maka hadirnya kami untuk membantu,

sinergi, keniscayaan untuk akselerasi,
karena kami bukan yang paling pintar,
karena kami paham kami memiliki kekurangan,
karena kami paham sendiri takkan ada arti,
karena kami paham sinergi itu hebat,

sinergi, keniscayaan untuk akselerasi,
siang mendung di Ibukota,
sambil mendengarkan dendang Almarhum MJ,
"heal the world"
sinergi untuk akselerasi,
11:22 WIB 1 maret 2012
Mokhamad Kusnan

seri heroik 6: ujian itu menguatkan, membangkitkan

seri heroik anak smp 6:


mushola dihancurkan,
ROHIS dihapus dari daftar ekskul,
ROHIS tak ada lagi njilainya di raport,
semua ujian kian berat saja menimpa anak-anak belia itu,

siang itu,
setelah team building di kebun raya bogor itu,
semangat mulai menyala kembali,
pertemuan demi pertemuan pekanan kami laksanakan di kelas,
shalat kami lakukan di kantor REKAYASA INDUSTRI yang tak jauh letaknya dari sekolah itu,

siang itu,
sekitar sebelas anak yang masih memiliki komitmen berkumpul,
kami memandangi puing-puing mushola kami,
seluruh bangunan hyancur, disisakan tembok-tembok kokoh pinggirnya,
"akan dibangun UKS dan ruang BK" demikian kata seorang pesuruh sekolah.

setelah dialog dan minta sana-sini,
akhirnya kami disisakan ruangan sempit kumuh pengap untuk mushola,
ruangan itu awalnya mihrab mushola,
dan saat kami temui kondisinya mengenaskan,
peralatan dapur berserakan di tempat dimana biasanya imam memimpin sholat,
atap terlihat mau abruk, bocor sana-sini,

mushola hancur,
mushola sederhana yang bisa menampung sekitar 200an anak berhimpit itu,
kini sudah hancur tinggal puing dan barang-barang tak terpakai,
"sebagian akan dibangun UKS dan ruang BK, sisanya dijadikan gudang"
itu pengakuan bidang sarana prasarana.

perjuanganku untuk membangun mushola lagi tak dijawab,
beberapa pekan dalam bulan-bulan awal setelah pembongkaran itu,
anak-anak terlantar untuk shalat,
shalat jum'at aja bisa dipastikan ratusan anak tak sholat jum'at,
mondar mandir terpencar,

==

pekan demi pekan,
kegiatan pekanan itu kami rajut kembali,
meski awalnya hanya sebelas orang itu,
semangat membara kami bisa mengajak yang lain lagi,
beberapa yang sudah beralih ke ekslul lain tak kembali,
tapi datang anak-anak baru,
mereka melihat semangat kami,
lalu mereka mengikuti kami,
jumlahnya kian lama kian banyak,

ujian itu membangkitkan,
dan itu yang terjadi bagi kami,

di pertemuan demi pertemuan itu,
materi-materi sangat dibatasi,
kami lebih sering menonton atau games,
atau materi ringan dengan simulasi,
bahkan tiap sebulan sekali kami rihlah,
meski hanya sekedar di kebun binatang Ragunan atau hutan UI,

tiap pekan anak-anak mendatang satu demi satu rumah yang lain,
menjalin silaturahim dengan orang tua,
kami juga mendata hasil akademik anak-anak,
bimbel gratis untuk anak rohis bergulir,
kami juga melupakan sikap sekolah kepada kami,
bakti terbaik tetap kami tunjukkan,

tak lagi kami pedulikan ada atau tidaknya mushola,
yang penting kegiatan pembinaan masih bisa berjalan,
entah di kelas, di lab, di lapangan, atau di emperan kelas,
kegiatan pekanan terus berjalan,
dengan kreativitas dan  kemasan menarik,
setiap pekan selalu ada inovasi,

ujian itu menguatkan, membangkitkan
demikian yang terus kutanamkan ke anak-anak itu,
bahwa beginilah jalan dakwah,
takkan pernah mulus dan penuh keindahan selamanya,
namun penuh ujian demi ujian,

ujian itu menguatkan,
seperti paku aja,
makin dipukul makin menghujam dalam,
makin kuat menancapnya,

ujian itu menguatkan,
demikian yang dilkakukan anak-anak belia itu,
dan seharusnya kita semua sebagai aktivis dakwah,

kehadiran yayasan AL-KAHFI juga seharusnya menguatkan,
seharusnya menjadi titik kebangkitan kita,
agar kita tak terbuai dengan yang ada,
agar kita lebih serius dalam membina,
agar kita lebih komitmen dan memperbaiki manajemen pembinaan kita,
agar kita lebih bisa introspeksi diri,

bersyukur kita dengan hadirnya yayasn AL-KAHFI,
bukti bahwa Alloh masih sayang kita,
bukti bahwa Alloh ingin kita lebih solid,
bukti bahwa Alloh ingin kita lebih kreatif,

ujian itu menguatkan, membangkitkan
pagi gerimis di kantor YOUTHCARE,
06:46 WIB 1 maret 2012
Mokhamad Kusnan


Selasa, 28 Februari 2012

seri heroik 5: ujian terberat itu, saat mushola kami dihancurkan

seri heroik anak smp 5:
(ilustrasi)


"kak, hari ini ke sekolah ya, mau muntah saya.."
demikian smsnya,
hari ini pembongkaran itu akan dilakukan,
mushola tempat kami mendidik militansi anak-anak itu akan dihancurkan,

selama dua pekan ini kami sudah negosiasi,
pendekatan ke guru-guru...nihil,
semua guru sudah takut, tak ada yang berani membela,
semua nurut dengan kehendak kepala sekolah baru itu,

"kita sudah ikhtira,
jika besok tetep dibongkar maka itulah rencana Allah,
dakwah harus tetap berjalan,
besok sore semua kumpulkan anak-anak,
ada yang ingin kk bicarakan"
demikian smsku pada sang ketua ROHIS,
dia masih terlalu kecil untuk mengurus ujian itu,

"kalo ushola benar-benar dibongkar,
kita akan mentoring dimana kak?
dan acara-acara kita akan dimana?
sholat dimana?"
demikian pertanyaan bertubi-tubi anak-anak mungil itu,

=

siang itu,
perjalananku ke seolah itu penuh emosi,
ini ujian terberat kami,
setelah ekskalasi dakwah yang kami lakukan,
setelah tanaman tarbiyah itu mulai berkembang,
kini Allah hadirkan ujian berat itu, mushola kami akan dihancurkan,

sesampai disekolah aku langsung keruang guru,ke kantor,
seluruh petinggi sekolah dan jajarannya tak ada, sesuai dugaanku,
semua guru bungkam saat kudekati dan tanyakan,
seolah tak ada lagi yang membantu dan peduli,

siang itu,
raut muka sekitar 30an anak-anak binaanku memerah,
kesedihan membuncah tak tertahankan,
ada yang tak sanggup melihat, menutup matanya, terdiam dalam desak tangis,
ada yang tertunduk, kemudian jongkok dan menunduk, larut dalam sedih,
aku sendiri tetap berusaha tegar, berdiri tegak,
kami semua,
menatap bangunan yang sudah sekitar 3 tahun kami jadikan tempat penggembelngan,
tempat menanam benih-benih tarbiyah,
tempat menyemai tunas-tunas ukhuwah,
saat itu perlahan dibongkar,
palu besar merobohkan tembok demi tembok,
hiasan-hiasan dinding dilepas dan dibuang seenaknya,
mading-mading kreasi kami, ditumpuk dan dibuang,
semua dimasukkan ke tong sampah besar,
logo dan stiker rohis kami, dilepas,


siang itu,
pukulan keras palu besar mulai meruntuhkan tembok,
papan triplek satu demi satu dibongkar,
mushola semi permanen sederhana itu dihancurkan,
30 anak itu menyaksikan bersama denganku,
ujian terberat itu, saat mushola kami dihancurkan,
dan dengan mata telanjang, kami semua menyaksikan,
derai tangis dan kepiluan mengiringi runtuhnya bangunan itu,
bangunan tempat kami menanamkan militansi,
bangunan tempat kami menyemai ukhuwah dan membangun cinta,

==

hari-hari berikutnya anak-anak banyak terdiam,
pertemuan pertama setelah bangunan mushola itu dihancurkan hanya dihadiri segelintir anak,
kami sekarang mengadakan pertemuan di kelas,
siang itu wajah-wajah layu mereka tampakkan,
semangat dan gelora mendalam hilang seketika,
seolah mulai saat itu dakwah kami diruntuhkan,
bersama runtuhnya bangunan sederhana,
runtuhnya bangunan yang setiap bulan kami hias,
kami perindah dan buat wangi,
agar banyak dan makin banyak yang senang kesana,
untuk sekedar membaca buku koleksi kami atau mendirikan shalat,
namun pertemuan siang itu amat dingin,
tak ada gelora..tak ada semangat..hilang termakan diam,

bersamaan dengan itu kesibukanku kian bertambah,
aku sering keluar kota,
alhasil aku jarang ke sekolah itu,
semangat memudar,
tiga kali pertemuan setelah pembongkaran itu dihadiri tak lebih dari 5 anak,
sedikit...tak ada semangat...
seolah menambah sata penderitaan.
ditambah pula aku absen hampir sebulan karena kesibukanku,

"assalamualaikum...
dik, besok kita ROHIS ya,
ada oleh-oleh dari surabaya nih buat kalian,
ajak yang lain ya..
ayo tetap semangat"
demikian smsku pada salah satu anak,

"kak?
memang ROHIS masih ada ya?
kemarin di daftar ekskul nama rohis sudah tidak ada,
di daftar kegiatan hari sabtu juga rohis dicoret,
anak-anak sudah beralih ke ekskul lain,
percuma kak besok kakak ke sekolah"
demikian jawaban yang kuterima,

aku sempat sedih membacanya,
seolah tak hanya bangunan mushola itu yang dihancurkan,
semangat anak-anak itupun diruntuhkan,
organisasi kami dihapuskan,
seolah semuanya bagai palu yang menghantam hatiku,
dalam rakaat malam aku mengadu,

inikah akhir perjuangan?
atau inikah ujung ujian?
inikah hasil 4 tahun aku dedikasikan?
waktu, pikiran, semuanya?

ah,
tak mungkin Alloh memiliki niatan buruk pada hambanya,
terlebih hamba yang memeprjuangkan kepentinganNYa,
dalam munajat aku terus mengadu,


==

siang itu,
membawa beberapa oleh-oleh aku melangkahkan kaki ke sekolah itu,
tak ada sambutan hangat dari anak-anak itu,
tiga anak perempuan dengan dua lelaki yang menungguku,
siang itu aku telat sampai sekolah itu,
"yang lain mana?" demikian tanyaku.
"anak-anak gamau ikut rohis lagi kak,
rohis sudah dihapus dari daftar ekskul,
mushola juga udah di bongkar,
apa yang masih kita harapkan lagi?"
demikian salah satu anak menjawab,

"ini ada oleh-oleh dari surabaya,
silahkan buat kalian"
ucapku sambil memberikan dua kantong besar,
berisi makanan dan handycraft,
anak-anak itu menerima,
namun belum ada binar mata dan keceriaan,
hanya anggukan dan ucapan terimakasih dingin,

"kita makan baso yuk?
kk belum makan siang nih
semua kk yang traktir deh"
ajakku pada mereka,
dan kami kemudian berjalan ke tukang baso,
tak jauh dari sekolah itu,

kepedihan demi kepedihan,
selama tak kurang dari 3 bulan masih menyelimuti kami,
pertemuan pekanan tak semangat lagi,
kesibukanku menambah lemahnya suasana,
pertemuan dua pekanan itu hanya dihadiri segelintir anak,
kadang hanya bertiga, kadang bahkan tak seorangpun datang,
namun aku tetap komitmen untuk datang,
di ruang kelas kumuh kami lakukan,
pembinaan harus terus berjalan,
apapun yang terjadi...

bulan keempat setelah pembongkaran itu,
aku dikejutkan oleh anak-anak itu,
saat di raport mereka tak ada lagi nilai ekskul ROHIS,
seolah makin menambah daftar runyam ujian,
orang tua mereka makin tak memiliki semangat lagi mengizinkan anaknya ikutan,

cara demi cara,
aku terus mengupayakan kebangkitan,
mulai dari mengajak mereka nonton di bioskop,
mentraktir mereka di fast food,
memberi hadiah-hadiah kecil dan handycraft sepulang aku dari luar kota,
nihil....semua usaha masih nihil..

ujian terberat itu,
saat mushola kami dihancurkan,
disusul melemahnya semangat anak-anak itu,
ditambah organisasi kami dihapuskan,
dilengkapi orang tua mereka yang tak mendukung lagi,

ujian berat itu,
inikah akhir dari 4 tahun pembinaan?
inikah akhir jalan perjuangan?
inikah akhir dari buah tarbiyah?

ujian berat itu,
ah...aku yakin ada maksud besar Allah hadirkan ujian ini,
aku yakin Allah hendak menaikkan derajat kami,
aku yakin Allah menguji reputasi kami,
malam syahdu aku berikrar akan memulai kebangkitan lagi,

==


sore itu,
di kebun raya bogor,
sata bujuk rayu kepada mereka,
setelah satu demi satu kami sambangi rumah mereka,
api semngat itu perlahan kami hidupkan kembali,
gelora jihad kami tumbuhkan kembali,

"seharusnya kita berpikir kenapa Allah uji kita dengan hal ini,
seharusnya kita bersyukur dengan ujian berat ini,
mushola dihancurkan...rohis tak lagi diakui dan dihapuskan dari daftar ekskul,
semua menguji komitmen dan ketsiqohan kita pada islam,
menguji apakah kita akan terus semangat memeperjuangkan agamaNya,
menguji setelah beberapa tahun tarbiyah kita,
adik-adikku,
inilah momentum buat kita untuk bangkit,
Allah telah menyeleksi mana yang serius dan mana yang hanya main-main,
seperti yang ad di al-Qur'an, Allah akan hadirkan ujian,
takkan membiarkan keimanan kita begitu saja bertumbuh,
aha...seperti zaman Rasulullah,
ujian demi ujian hadir menguatkan,
memperkokoh dan mensolidkan barisan,
adik-adikku...dan inilah saatnya kita diuji, untuk tumkbuh lebih besar...
dan kita akan buktikan, bahwa keimanan kita masih ada, bahwa semangat itu masih ada,
bahwa janji Allah pasti adanya, setelah eksulitan ada kemudahan..
Allohuakbar...Allohuakbar...Allohuakbar"

sore itu,
di kebun raya bogor itu,
belasan anak membuat komitmen lagi,
teriakkan takbir semngat menggelora,
kami akan bangkit kembali,

ujian terbarat itu,
bahkan kadang malah akan membuat kita besar,

ujian terberat itu,
justru titik tolak menuju kebangkitan,

ujian berat itu,
menyeleksi dan memilih yang terkuat,
untuk kemudian menanggung amanah berat,
menuju kemenangan,

ujian berat itu,
saat mushola kami dihancurkan,
seolah mengingatkan,
bahwa inilah hakikat dakwah ini,
akan banyak cobaan dan uji,
menguji kekuatan semngat dan keimanan,
menguji hasil tarbiyah kita selama ini,
menguji keikhlasan kita,

ujian terberat itu,
saat mushola kami dihancurkan,
saat rohis kami dihapus dari daftar,
justru seharusnya membuat kita tersadar,
bahwa beginilah jalan dakwah itu,

ujian terberat itu,
saat mushola kami dihancurkan,
menyadarkan diri ini,
bahwa dakwah ini harus senantiasa mawas diri,
harus senantiasa siap dengan hal yang tak pasti,
harus senantiasa menguatkan diri

ujian berat itu,
saat mushola kami dihancurkan,
menyadarkan bahwa kita tak boleh terlalai,
pembinaan itu untuk menguatkan agar kelak siap dengan ujian,

ujian berat itu,
saat mushola kami dihancurkan,
pagi syahdu di kantor peradaban,
mendung segar di ibukota,
07:00 WIB,
29 februari 2012
mokhamad kusnan


Senin, 27 Februari 2012

seri heroik 4: man jadda wajada, man shabaro zhofiro

seri heroik anak smp 4:


sing itu aku sempatkan ke sekolah,
ke smp dimana aku didik dengan ketat,
dimana pendidikan militansi kuajarkan,
dimana keseriusan perjuangan aku tanamkan,

"kak, pokoknya kakak harus ke sekolah,
sekolah dingin...proposal kita diabaikan,
malah wakil kepala sekolah menolak menandatangani,
terkait dana kak, sekolah gak mau membiayai"
demikian sms yang membuatku ke sekolah,
menemui mereka,

siang itu,
seusai shalat dzuhur berjamaah,
seusai bel pulang berbunyi,
sekitar belasan anak smp berkumpul bersamaku,
di mushola pengap yang tak lama lagi kabarnya akan dibongkar,

"oke, gini aja,
kita coba sekali lagi,
bilang ke sekolah seluruh dana dari anak ROHIS,
kita akan cari.
mustahil Allah biarkan hambanya kesulitan,
sementara hambanya memperjuangkan kepentinganNya"
demikian aku menyemangati

dan hari berikutnya,
mereka dengan semangat memperbaiki proposal,
menyampaikannya lagi ke wakil kesiswaan,
nihil..beliau masih menolak,
alasan dana dan kesibukan
"bu...kak kusnan yang nanggung dana"
demikian singkat mereka menjawab.
alasan yang kuajarkan ditolaknya juga,
sang guru simpel,
kurang percaya dengan kemampuan anak-anak itu,
mengumpulkan dana sekitar 4 juta dalam sepekan,
belum lagi harus berhadapan dengan kepala sekolah.

"bener ini kak kusnan yang menanggung dananya semuanya?"
jawab kepala sekolah,
setelah mereka menjelaskan,
"bapak cukup tanda tangan sisanya kak kusnan yang urus"
demikian tambah anak-anak itu,

"beresss..."
demikian serentak mereka berucap,
tantangan berikutnya menyemangatiku mencari 4 juta,
dalam seminggu..

"wah kok setega itu kalian ama kk?"
demikian aku menegur sikap dan cara mereka,
"tenang kak, ajari kami, kami akan bekerja"
masa iya 20 anak gabisa cari 4 juta dalam 5 hari?
kakak kan pengusaha, ajari kami kak"
demikian mereka bersemangat,

dan,
siang itu,
aku beserta 7 anak berkomitmen mencari 4 juta dalam 5 hari,
beberapa anak lain sibuk mewakili sekolah ikut lomba,
keadaan sekolah sedang banyak kesibukan,

"bakti sosial ini harus berhasil kak,
kepala sekolah dan guru-guru harus kita sadarkan,
bahwa ROHIS bukan sembarangan"
demikian yang kelas 8 menyemangati kami.
"oke, kita mulai dari diri sendiri, kk infaq dulu nih"
ucapku menambahkan dan memeberikan beberapa lembar ratusan ribu.

5 hari itu menjadi hari-hari perjuangan,
sepulang sekolah mereka harus berpencar,
dari toko ke toko, lembaga ke lembaga, kantor ke kantor,
dengan modal belasan proposal foto copian dengan cap aseli sekolah,
7 anak itu terus mencari peluang,
mendatangi kelas,
menanyakan siapa orang tua yang kaya,
dan mendatangi kerumahnya,
meminta kontribusi untuk aksi sosial,

==


sabtu,
di hari eksekusi acara,
sekitar 30 stand makanan dari tiap kelas ramai dikunjungi siswa/siswi,
ruang pertemuan ramai dengan puluhan masyarakat yang antri ingin berobat gratis,
puluhan anak dhuafa terlihat senang dengan senyuman lebar membawa bingkisan santunan,
beberapa panitia sibuk dengan aktivitasnya,
keringat membasahi raut wajah mereka,
tak ada peluh terlihat,
kecuali binar mata keceriaan dan kerja keras,
man jadda wajada,
barang siapa sungguh-sungguh akan mendapatkan hasil,

"subhanallah, habis berapa juta ini acara nan?
sayang kepala sekolah gak datang, beberapa guru juga diajaknya"
demikian salah satu guru yang selama ini mendukung ROHIS bicara,

ya,
saat itu kami belum berhasil menyadarkan kepala sekolah dan jajaran wakilnya,
beliau memilih pergi dan mengajak wakil-wakilnya,

"tak apa pak, tujuan kami Alloh kok. toh semua ini juga terlaksana atas kehendak Alloh"
demikian ujarku singkat, beliau hanya menepuk pundakku.

==


sehari berikutnya,
setelah kami evaluasi,
total dana yang berhasil kami himpun melebihi 6 juta, lebih dari target.
dan dana sisa masih mencapai 800ribuan.

"ada yang mau cerita,
gimana dapat dananya?"
demikian aku memulai pembicaraan,
sekaligus mengajarkan kepada yang waktu itu tak berkesempatan mencari dana.

"kami jualan, ke kantor-kantor, pokoknya nyari lah sampai dapat" salah satu anak bicara.

"aku ke kantor kelurahan. terus kasih proposal,
sehari kemudian aku kesana lagi,
mau ketemu lurahnya langsung,
waktu itu jam 1 siang,
kata petugasnya lurahnya pergi,
kembali jam 4an dan akan pergi lagi pulang kerumah.
lalu aku tunggu saja,
sampai lewat ashar.
saat petugas mengusir aku tetap menunggu,
pokoknya aku gak akan pergi sebelum kelurahan ngasih dana.
sampai lurah kembali,
dan aku sampaikan maksudku,
alhamdulillah kelurahan membantu 200ribu"
demikian ucap salah satu anak.

"aku ke kantor ayahku,
membawa proposal dan presentasi disana,
terus keliling ke semua karyawan yang sekitar 40an orang,
dan setelah semua uang kuhitung jumlahnya sejuta lebih" ucap yang lain.

"aku ke kantor bulan sabit merah,
minta mereka menjadi penyelenggra pengobatan gratis,
tapi mereka menolak,
dan mengajak kerjasama membayar murah,
aku terima aja, tapi meminta mereka tunjukkan donatur mereka yang terdekat dari sini
aku samperin donatur mereka, dan mereka mau membiayai" demikian cerita yang lain.

==
man jadda wajada,
dan demikianlah kesungguhan itu membawa keberhasilan,
dan bahwa dakwah ini butuh keseriusan,
butuh totalitas aksi dan hati,
butuh optimalisasi potensi,

man shabaro zhofiro
dan demikianlah bukti kesabaran,
bahwa kesabaran itu bukan berarti diam,
tapi berbuat lebih dan tak menyerah kalah,

sabar itu ikhtiar lebih,
mengoptimalkan potensi saat semua aksi sudah dicoba,
menghadirkan pikiran dan totalitas hati,

man jadda wajada,
karena semua butuh keseriusan,
seperti anak belia palestina yang rela meninggalkan masa kanak-kanak,
untuk melahap dan mengegnapkan hafalan qur'an,
dan kemudian maju dengan gagah berani,
agar sahid bereka berkualitas tinggi,
mujahid hafidz...dan kelak bisa memakaikan mahkota surga untuk ibunya

man jadda wajada,
karena dakwah butuh keseriusan,
butuh senyuman baru dan semangat baru,
butuh cara baru dan kreasi baru,


man jadda wajada,
man shabaro zhofiro,
kerja keras saja tak cukup,
tapi bersabar akan hasil kerja itu,
dan terus mengoptimalkan kerja,
pokoknya terus bekerja,
hingga Allah hadirkan kemenangan atau syahid mendahului,

man jadda wajada,
seperti 6 anak yang mewujudkan mimpi diantara menara negara-negara,
maka dakwah ini pun akan terus melaju,
hingga mimpi-mimpi akan terrealsisasi,
hingga Allah hadirkan kemenangan sejati,
entah saat itu kita turut serta atau tidak,
yang pasti aku berharap mati dalam rangka memperjuangkannya,

man jadda wajada,
tengah malam di ibukota,
00:00 WIB,
28 februari 2012
Mokhamad Kusnan




Minggu, 26 Februari 2012

seri heroik 3: belum setetespun darah, yang sudah kita persembahkan

seri heroik anak smp 3:


sore itu aku agak telat,
setelah mengurus urusan pribdadi dan keluarga,
aku langsung menuju sekolah para mujahid itu,
sesampai disana beberapa anak terlihat sedang bermain basket,
yang putri terlihat lari kejar-kejaran,
beberapa terlihat mengangkat bangku dan meja menyiapkan kelas untuk menginap,

"kak kita menginap di sekolah kan?"
demikian ucap salah satu anak kecil kelas 7 padaku
"iya, kita menginap di sekolah, tapi kita ke UI dulu ya"
jawabku,

seusai semua menyiapkan tempat dan perbekalan,
sore itu kami melangkahkan kaki meninggalkan SMP 182 menuju stasiun terdekat,
seluruh peserta dengan tas ransel beratnya,
seluruh perbekalan yang terdiri dari sebotol air mineral 1,5 liter,
baju ganti dan makanan, alat mandi, keperluan pribadi,
dan bekal makan malam,
tiap anak mungkin membawa beban rata-rata 5 kilo.

"kak, katanya LDKnya di sekolah? kok kita ke UI?"
sang anak kelas 7 bertanya,
"iya, di UI ada materi menembus batas dulu. nanti selesai baru ke sekolah, menginap di sekolah"
jawabku.

dalam desak,
sempit berhimpit,
sumuk, gerah, panas,
deraian keringat mengalir deras,
sekitar 30 menit kami menikmati "sauna gratis" di kereta listrik,
membawa kami dari jakarta sampai depok,
sampai "yellow campus".

"kak, dua anak ketinggalan,
tadi pas mau naik gabisa, terlalu penuh sesak. gimana nih?"
demikian salah satu anak putri gelisah.
dua peserta putri tertinggal,
kondisi penuh sesak kereta tak bisa diterobosnya,
maklum akupun tak bisa banyak membantu,
saat naik kami terpisah di beberapa pintu,
yang besertaku berhasil,
yang lain belum berhasil, dua anak tertinggal

"katakan ke mereka naik kereta selanjutnya,
harus berani, nanti ditunggu di sini ama alumni lain" kataku

hujan lebat mengguyur "yellow campus",
membuat kami sedikit kuyuup,
"kak, kita jalan atau naik bus lagi?" tanya seorang anak.
"kita naik bikun aja, bus kuning anak UI. hujan terlalu lebat"


kamipun naik bikun,
"kak, ongkosnya berapa? biar kita kumpulkan?"
peserta putri menanyakan.
"ongkosnya ucapan terimakasih, nanti pas mau turun bilang terimakasih ke sopir, ongkosnya itu"
mereka agak terbengong saat kukatakan seperti itu,
beberapa penumpang lain yang mungkin mahasiswa UI memperhatikan kami,
sekitar 20an anak-anak SMP kelas 1 sampai 3 dengan ransel berat, baju setengah kuyup,
dan ikat kepala hijau memenuhi bus kuning itu. dialog demi dialog kami didengarkan mereka.
"kak kita menginap di UI?. kak nanti kita gabung mahasiswa UI? kak di UI ngapain aja nanti?"


bikun berhenti di depan masjid UI,
hujan masih turun lebat,
puluhan anak-anak mungil itu keluar serentak,
"terimakasih pak sopir...." demikian serentak kami ucapkan,
seluruh penumpang lain memperhatikan kami,
raut binar wajah sopir terlihat,
senyumnya makin lebar,
beliau senang telah membantu kami,
"hati-hati ya..." demikian kudengar terucap dari mulut sopir itu,
mungkin hanya untuk kami...20 anak-anak ini..


juga di masjid UI,
hampir seluruh orang yang ada disana memperhatikan kami,
celotehan demi celotehan anak-anak itu membuat ramai,
ransel besar dan ikat kepala hijau,
ah...mungkin mereka berpikir banyak hal "anak-anak hammas nih..."


"baik, agenda pertama kita adalah makan malam,tausiyah,
setelah itu semua harus tilawah minimal satu jus. baru kita ke sekolah lagi"
demikian acara kami seusai shalat magrib berjamaah,
ada sedikit kekagetan pada peserta, "TILAWAH SATU JUS"
ya...
seluruh peserta harus tilawah satu jus,
syarat mutlah mengikuti LDK terpadu itu,

rangkain acara demi acara,
saat itu seolah kami menguasai masjid UI,
sekitar 30an total peserta dan panitia,
smeuanya masih SMP, beberapa alumni yang sekarang kelas 1 SMA.
membuat lingkaran besar, tilawah kami seperti dengungan lebah,
menguasai dan menembus setiap sudut masjid itu,
mengalahkan bunyi rintikan hujan,
suara anak-anak itu menguasai masjid UI.

alhamdulillah,
sekitar jam 21.00 kami tuntas membaca 1 jus.
semuanya, tanpa kecuali,
dari yang bacanya cepat juga yang lambat,
bahkan yang terbata,
tak ada kompromi, semua harus melahap 1 jus.
dan...30 anak itu menghatamkannya,
di masjid Ukhuwah Islamiyah itu.

"kak, udah malam gini emang ada kereta? nanti kita naik apa pulangnya?"
salah satu perserta bertanya.
"kereta udah gak ada, kita pulang jalan kaki"
demikian ucapku.
banyak yang tidak setuju,
banyak yang menyesal,
mengeluh,
meminta pulang dengan taksi,
dan sebagainya,


aku kumpulkan mereka di depan masjid itu,
melingkar rapat,
dengan ransel berat dan baju kuyup,
dengan ikat kepala hijau,
aku menceritakan perjuangan para sahabat,
perjuangan Rasulullah hijrah,
perjuangan Ali hijrah,
perjuangan ratusan sampai ribuan anak-anak belia palestina,
"mereka tidak pernah mengeluh, mereka berani, mereka percaya, dan mereka kuat. dan Allah memberikan mereka pertolongan..meski akhir cerita mereka adalah kematian. tapi kematian itulah kemenangan. perjumpaan dengan Rabbnya. syahid cita-cita tertinggi mereka" demikian orasiku.

"Allohuakbar...Allohuakbar..Allohuakbar.."
lantang takbir mereka teriakkan,
masjid UI menajdi saksi,
30 anak-anak itu kian bersemangat,
siap menempuh berpuluh kilo,
menembus malam dan rintikan hujan,
dari depok sampai pancoran,

malam itu masjid UI bergetar,
30 anak-anak kecil menggetarkan,
bahkan menggetarkan hati para mahasiswa yang seringkali ketakutan,
membakar semangat pejuang jaket kuning,
menggetarkan seluruh aktivis dakwah yang masih tersisa disana,
seluruh mata tertuju pada kami,
30 anak-anak itu,

jam menunjukkan pukul 21.30,
kuprediksikan perjalanan kami memakan waktu 5-6 jam.
terlebih sebagian besar peserta adalah anak putri,
dengan bawaan ransel berat mereka,
dengan sendal wanitanya,
dengan rok panjangnya,
kami harus memahami kondisi,
tapi perjalanan harus dilalui,


dan demikian,
langkah demi langkah,
meninggalakn masjid UI,
menyusuri jalan ke gerbatama,
melanjutkan ke Universitas Pancasila,
disana ada pos pertama,
mereka akan digembleng dengan serangkain acara,
tantangan demi tantangan,


malam kian larut,
perjalanan masih harus diselesaikan,
pos kedua di kantor pusat parta PDIP,
disana kami diizinkan masuk,
dan memakain pelataran untuk acara kami,
sampai para satpam agak curiga saat kami berulangkali meneriakkan takbir,

keluhan demi keluhan,
kadang harus kukumpulkan untuk menyemangati,
sejanak istirahat di pelataran masjid,
atau di bawah jembatan, atau di halte,
untuk skedar meluruskan kaki,
meneguk dikit demi sedikit air minum,
atau mengisi perut dengan makanan ringan,

keluhan demi keluhan,
terus kutepis dengan semangat,
menceritakan heroiknya pejuang belia palestina,
"belum setetspun darah, yang sudah kita persembahkan...untuk islam ini"
demikian diakhir cerita heroikku menyemangati mereka.
mereka kembali bersemangat, melanjutkan perjalanan.

pergantian hari,
kami nikmati dalam perjalanan berat,
"ini belum apa-apa dik, perjuangan anak-anak belia Palestina berakhir syahid, nyawa yang mereka persembahkan. tapi tak ada sedikitpun keluhan" demikian aku terus menyemangati.


perjalanan demi perjalanan,
keluhan demi keluhan,
tertatih,
terseok,
alhamdulillah akhirnya kami berhasil,
sekitar 5 jam perjalanan,
kami berhasil menembus batas,
melakukan yang mungkin sering dikeluhkan,
bahkan dikatakan tak mungkin,

seluruhnya tepar,
tergeletak di ruang kelas yang sudah disiapkan,
terpisah antara putra dan putri,
30an anak mungil itu,
telah menembus batas,
menyusuri jalan perjuangan anak palestina,
meski sebenarnya belum seberapa.

==

sehari kemudian,
aha...lagi-lagi,
aku diintrograsi,
tentang acara LDK itu,
yang dilakukan di sekolah,
menjadi perjalanan dari UI sampai sekolah,
pihak sekolah sangat khawatir,
kalau-kalau anak-anak itu mengadukan ke orang tua,
hingga saat aku diintrograsi di ruangan kepala sekolah,
salah satu wali murid datang,

"bisa saya ketemu kak Kusnan pembina ROHIS itu?"
demikian sang ibu bertanya pada petugas,
langkah ibu itu mendekati kami, menujuku yang sedang diintrograsi,
raut muka kepala sekolah memerah,
takut kalau-kalau sang ibu memarahi,
dan aku pasti akan menjadi bulan-bulanan sekolah

"Assalamualaikum...ini ya kak Kusnan itu?"
demikian sang ibu membuka pervcakapan,
raut mukanya dipenuhi senyum berbinar,
aku aneh melihatnya.

"terimaksih ya kak Kusnan...anak saya seneng banget tuh,
katanya sudah menoreh prestasi,
jalan kaki puluhan kilo ditengah malam,
yang katanya ngeluh mulu, tapi akhirnya bangga"
demikian ucap sang ibu.
"kemarin sore pulang-pulang minta dipeluk,
katanya janji mau jadi anak sholehah.
katanya janji mau nurut ama orang tua.
katanya janji gakmau ngeluh lagi,
sampai katanya ingin seperti anak-anak Palestina.
yang gagah berani meski masih kecil"
tambah sang ibu.

aku dan kepa sekolah hanya bisa terbengong,
saling berpandangan,
seolah tak percaya apa yang dikatakan sang ibu

"saya mendukung terus ROHIS 182,
terus maju yah...terus didik anak-anak jadi pemberani"
ucap sang ibu sebelum meninggalkan kami,
kepala sekolah masih terdiam,
sampai akhirnya aku meminta izin,
ada urusan lain,
dan diizinkan,
dan ROHIS diizinkan terus, membina generasi..

belum setettespun darah, yang sudah kita persembahkan,
kalau jalan kaki puluhan kilo mah gaada apa-apanya,
kalau tak tidur semalam saja mah masih cemen,

belum setetespun darah, yang sudah kita persembahkan,
lalu kenapa kita masih banyak mengeluh?
lalu kenapa kita masih segan dan ogah-ogahan,

belum setetspun darah, yang sudah kita persembahkan,
namun anak-anak belia Palestina bahkan telah memberikan nyawanya,
sedang kita belum berbuat apa-apa,
hanya amalan kecil yang sering kita banggakan,
lalu bagaimana kita akan menghadapNya?
apa yang akan kita banggakan untukNya?

belum setetespun darah, yang sudah kita persembahkan,
pagi syahdu seusai setoran hafalan yang tak seberapa,
sementara di Palestiuna sana ribuan anak belia sudah melahap 30 jus hafalan.
ibukota yang mendung,
06:46 WIB
27 Februari 2012
Mokhamad Kusnan

Kamis, 23 Februari 2012

seri heroik 1: membayar harga perjuangan.

seri heroik anak smp 1:

empat anak,
mondar-mandir saja di gerbang sekolah,
empat pelajar putri itu makin gusar,
raut mukanya memerah,
sesekali mengusap keringat yang mengalir di pipinya,

dari kejauhan aku setengah berlari,
dengan ransel dan tas besar berisi infocus,
menuju mereka

mereka tak mau kalah,
mendekatiku dengan sungguhan berlari,
jarak masih juga jauh teriakkan mereka sudah terdengar,
"buruan kak...
anak-anak sudah pusing,
kekhawatiran luar biasa,
semoga ibunya gak datang ke sekolah"
demikian salah satu dari mereka berucap.

"tenang, kk aja tenang kok"
aku mencoba menenagkan,

"berapa yang gak masuk hari ini?"
demikian aku membuka percakapan,
sambil berjalan setengah lari menuju salah satu rung kelas,

"tiga kak,
semua yang semalam melihat kejadian itu masih trauma,
mereka ketakutan kalau ibu si fulan nyamperin ke sekolah.
bisa makin runyam" begitu jelas salah satu dari mereka.

perjalanan makin dipercepat,
dua pelajar cowo menunggu kami,
salah satunya berlari menedekatiku,
"sini kak, infocusnya aku bawain" kemudian seketika merebut tas besar yang kutenteng.

"baik kita mulai dengan ta'awudz dan basmalah sebelum memulai"
demikian ucapku.

"sebelum peserta datang ada yang ingin kk sampaikan.
terkait kasus semalam,
kalian jangan takut,
Insya Allah gapapa.
ini resiko dakwah.
ini harga perjuangan.
Insya Allah si fulanah juga tetap tegar"
demikian aku mencoba mememangkan kerisauan mereka.

sekitar 1 jam mentoring gabungan itu berjalan,
dengan peserta lebih dari 30an,
tetap semangat,
hanya wajah dari 6 anak yang duduk paling belakang yang aneh,
mukanya memerah,
dikit-dikit berdiri, melihat keluar lewat jendela,
setengah hati mendengarkan,
setengah hati mengikuti,
kerisauan masih menghantui mereka

suasana takbir menggema di ruangan ber-AC itu,
infocus kumatikan dan kubereskan sendiri,
keenam anak itu sibuk membereskan yang lain,
setelah semua beres kami dukuk berkumpul di bangku paling depan

"kak, aku sudah bilang mamah,
beliau mau jadi jaminan untuk ka Kusnan,
beliau mau menjadi pembela kak Kusnan kalau harus ke meja hijau"
kata-katanya tajam, mukanya serius, matanya sedikit berair

"kak, aku juga sudah bilang ibu,
kata ibu akan disampaikan ke Ayah,
dan tadi sebelum subuh sudah dipastikan Ayah akan memebantu kakak,
Ayah akan menjadi pembela kakak"
salah satu yang lain

"pokoknya kakak gausah khawatir,
kamia siap membantu sampai mati,
kami bersama kakak"
demikian mereka meyakinkan

aku masih mencoba tersenyum,
menghilangkan gundah hati,
menepis ketakutan akan hukuman yang harus kuterima,
juga apabila ancaman memasukkanku ke jeruji besi itu terjadi.

==

malam sebelumnya,
kami sedang asyiuk membahas perkembangan dakwah di sekolah mereka,
sekolah SMP almamaterku,
sekitar 7 anak delapan denganku,
di salah satu rumah mereka,

hingga akhirnya salah satu orang tua menelpon,
dan memebentak tak karuan,
cacian dan makian tertuju padaku,

"hey kak Kusnan...
jangan jadi pengecut ya gamau bicara dengan saya.
sekarang juga kembalikan anak saya.
kak Kusnan sudah saya laporkan ke polisi"
demikian suara lantang dari saluran telepon genggam si anak.

akhirnya si anak yang bersangkutan mau juga pulang,
diantar 4 wanita yang lain,
dengan dua motor,
di tengah malam,
jam 22.00 lewat

30 menit kemudian keempat wanita itu kembali dengan kami,
tangisan panjang histeris,
seketika sang ibu yang empunya rumah yang kami pakai untuk pertemuan itu keluar,
memeluk keempat anak perempuan itu dengan lembutnya,
mencoba menenangkan,
sambil bertanya kenapa dan kenapa.

salah satu dari mereka ada yang terdiam dari tangisnya,
mencoba menjelaskan, dengans sesenggukan
"sampai di rumahnya si fulanah di siram air kotor,
jilbabanya ditarik dan dijambak,
ibu dan neneknya memaki sejadinya,
dan ibunya bilang akan emlaporkan kak Kusnan ke polisi"

==

seminggu kemudian,
acara mentoring gabungan seperti biasa,
keterbatasan mentor di SMP itu memaksaku mengadakan mentoring gabungan,
juga keterbatsan waktuku,
semua berjalan lancar,
semua tersenyum,
gelak tawa sumringah dari mereka saat aku mencoba sedikit bergurau,
infocus segera kumatikan setelah lima kali takbir dengan lantang diteriakkan,

keenam panitia yang juga kelas 3 SMP itu sibuk memebereskan perlengkapan,
setelah semua beres kami berkumpul di bangku paling depan,
wajah semangat sumringah menghiasi keenam anak itu,
satu perempuan menyusul masuk ke ruangan ber-AC itu,
"afwan kakak, tadi ada urusan dulu dengan guru" demikian ucapnya,
dia juga tak kalah semangat,

siang itu aku saksikan semangat kian gelora,
semangat dakwah dan perjuangan,
semangat kemenangan,
setelah tiga hari dihantui ketakutan
mereka sangat senang saat aku terbebas dari jeruji besi,

"inilah harga perjuangan.
inilah yang dulu juga dihadapi Rasul dan sahabat,
dan inilah bukti saat Allah menangkan kebenaran"
demikian ucapku,

kawan,
keenam pelajar belia itu telah membayar harga perjuangan,
perjuangan menghidupkan geliat dakwah sekolah di SMP mereka,
yang harus berhadapan dengan orang tua super protec,
yang salah paham dengan model pembinaan,
yang salah paham dengan dakwah yang kami lakukan,

membayar harga perjuangan,
keenam pelajar itu menjadi bukti,
bahwa saat aktivis dakwah melemah dan memilih keluar maka Allah hadirkan pengganti,
generasi yang kuat dan berani,
yang tak takut dengan siapapun kecuali Allah,
yang besar cintanya pada dakwah,
yang mau membayar harga,
membayar harga perjuangan,
dengan tangisan, pengorbanan, dan semua,
dengan gelisah hati

membayar harga perjuangan,
heroiknya anak-anak palestina membekas di hati mereka,
"ini semua belum seberapa,
anak-anak di Palestina lebih dasyat,
nyawa bahkan sering melayang menjadi harga yang harus dibayar,
mereka tak pernah takut dan gentar,
tak pernah takut bahkan dengan rudal dan tank baja,
dengan timah panas atau racun asap,
mereka tetap berani membayar harga,
membayar harga perjuangan,
dengan darah dan nyawa,
malu kalau kita hanya seperti ini terus mengeluh dan melemah kalah"
demikian penguatanku pada mereka



membayar harga perjuangan
pagi terik di ibukota,
kubagi untuk para mujahid belia,
07:15 WIB
24 februari 2012
Mokhamad Kusnan




Selasa, 20 Desember 2011

karena mereka memiliki cinta....

sabtu lalu,
agendaku seputar belajar dan mengajar,

saat jelang subuh,
harus dihadapan seorang remaja yang minta diajarkan bagaimana membaca surat cinta,
perlahan, terbata, dia mulai menikmati surat cinta,
ah, aku lebih sering menyebutnya surat cinta, daripada kitab suci,
terbukti dia kini jadi rajin membacanya,

tak lama setelah subuh,
dengan langkah tertatih menahan kantuk,
harus menuju majelis ilmu pekanan,
kalo bukan karena cinta, langkah ini takkan mungkin dimudahkan,
cinta kepada ilmu,
cinta kepada saudara seiman,
cinta kepada jamaah,
terlebih, cinta kepada tauladan yang sudah diajarkan manusia penuh cinta, Muhammad saw,
ah beliau itu, makin kahgum saja saat terus membaca dan meneladani kisahnya,
manusia yang penuh cinta,
untuk ummatnya,
sampai dalam sebuah riwayat,
saat nanti semua manusia dibangunkan dari kuburnya,
diceritakan,
yang pertama keluar dari mulut Rasul mulia itu,
tidak menyebut apapun kecuali menanyakan keadaan ummatnya,
subhanallah....Allohumma soliala Muhammad...

selesai menghadiri majelis ilmu,
berikutnya menuju lahan ilmu,
menanam benih-benih kebikan di lahan subur, SMP,
entahlah,
banyak aktivis dakwah yang menyepelekan lahan mungil ini,
banyak yang mencibir saat kukatakan aku akan serius membina anak-anak ingusan itu,
tapi sungguh nian,
terbukti anak-anak ingusan itu tumbuh lebih anggun,
berkembang lebih rindang,
berbunga lebih banyak,
berbuah lebih manis,

sosok-sosok anak ingusan,
yang mendapat balutan cinta,
sentuhan tarbiyah,
dan celupan hidayah,
terbukti lebih siap mengemban amanah ummat saat mereka harus metamorfosa menuju putih abu-abu.

"kak, besok liqo ya...kaka kan udah lama gak ngisi liqo. besok jadwal kaka loh"
demikian bunyi sms anak kelas 1 SMP itu,
memang kini perlahan aku mulai meninggalkan,
meninggalkan untuk berkembang,
meninggalkan untuk mendidik,
meninggalkan untuk masa depan,
jadi hanya sekali sebulan aku menyentuh anak-anak ingusan itu,
selebihnya muridku yang lain yang mengurusnya,
estavet,
inilah estavet dakwah yang harus diupayakan,
agar,
dakwah ini tak hanya berkutat di seputar ungkapan "itu-itu saja" atau "lu lagi lu lagi"

07.30
aku sudah sampai di muara cinta itu,
di kelas sempit pengap yang disediakan pihak sekolah untuk tempat ibadah,
dilema,
kadang terpikir,
beginilah keadaan ummat,
menyediakan tempat terburuk untuk ibadah,
ah kadang terpikir juga,
"lha wong yang shalat aja dikit banget. ngapain juga besar dan bagus"
Astaghfirulloh....

08.00
setelah setengah jus kulahap,
setelah munajat duha beberapa raka'at,
lalu menunggu manusia-manusia belia itu,
sambil menikmati kehijauan,
membayang masa lalu,
mengukur produktivitas tarbiyah "sudah berapa banyak kader yang kucetak, dari majelis ini?"
ah, lupakanlah,
untuk ukuranku, seharusnya aku bisa berbuat lebih,
pun, banyaknya itu, masoih banyak lagi yang belum bisa kutarbiyah,
astaghfirullohaladzim,
bukan saatnya membanggakan diri dengan jumlah,
juga dengan hasil,
karena tugas kita hanya bekerja,
selebihnya biarkan Allah yang menilai,

08.15
entahlah,
biasanya anak-anak itu yang menungguku,
biasanya mereka yang selalu antusias menyambutku,
biasanya mereka yang seringkali sms atau menelpon "kakak udah dimana?..udah pada ngumpul nih..buruan yah"
saat itu aku hanya terdiam,
berganti dengan mereka,
menunggu mereka,
dan menjaga semangat,
menjaga senyuman,
mempersiapkan antusiasme menyambut mereka dengan kehangatan,

08.20
dalam kebisuan,
tiba-tiba muncul seorang anak mungil,
kelas 1 SMP,
sambil berlari sekencangnya,
menujuku...
akupun membuat senyum terindah menyambutnya,

"assalamualaikum kakak...maaf yah telat, nunggu ojeknya lama tadi"
demikian ucapannya
aku hanya menjawab salamnya dengan sempurna,
membungkusnya dengan senyuman terindah,
lalu lembut mengatakan "hebat...telat itu prestasi"
hingga anak itu menanyakan "kok telat prestasi kak?"
"iya, karena memberikan kesempatan kakak untuk bersabar,
memberikan kesempatan tukang ojek mengerjakan keperluannya,
menguji kedisiplinan diri,
dan ucapan maaf itu menghilangkan prasangka,
penjelasan setelahnya menutup pintu amarah"

entah dia mengerti atau tidak,
entah dia bisa mencerna ucapanku atau tidak,
yang jelas dia berlalu saja menuju keran dan mengambil wudhu untuk rakaat duha,

08.30
hanya kami berdua,
hanya dia seorang muridku yang hadir,
"yang lain kemana?" serentak pertanyaan itu keluar dari mulutku untuknya,
dan dari mulutnya untukku,
"afwan kaka, lupa menginfokan kalo hari ini liqo dengan kaka. jadi mereka taunya libur"
ucap salah seorang muridku yang juga kadang menggantikanku mengisi pekanan anak-anak SMP itu.

pagi itu,
menjadi saksi,
mereka memiliki cinta,
cinta akan ilmu,
cinta akan sentuhan hati,
cinta akan balutan hidayah dan ukhuwah,
cinta akan nilai-nilai agung Islam yang utuh,
cinta akan tarbiyah,

seorang bocah,
meski dalam kesendirian,
tap[i senyuman dan semangatnya tak berkurang,
untuk sekedar belajar dalam terbata membaca surat cinta,
untuk sekedar menonton aksi spektakuler robit TRANSFORMER,
hem...halaqoh itu akhirnya kusisi dengan menonton aksi memukau TRANSFGORMER 3 yang sudah diedit.

karena mereka memiliki cinta,
ribuan bahkan ratusan ribu pelajar ingusan menunggu kita,
menunggu kehadiran kita dengan sentuhan tarbiyah,
menunggu uluran tangan dan sentuhan-sentuhan cinta,
menunggu ucapan bibir dengan lantunan indah cerita sahabat,
menunggu pemaparan epik perjuangan Rasul tercinta,
menunggu harmoni ilmu seputar Islam,
menunggu kita kawan....

karena mereka memiliki cinta,
cobalah sapa dengan sapaan terindah,
sambut dengan senyuman paling merekah,
peluk dan himpun dalam manisnya ukhuwah,
lalu cetak menjadi para mujahid dakwah,

karena mereka memiliki cinta,
mari kembali ke sekolah.....


karena mereka memiliki cinta,
pagi syahdu seusai 2 rakaat setelah wudhu,
teringat curhat kemarin,
bahwa dakwah sekolah kini mengalami penurunan,
sang alumni lebih mencintai manisnya hijau runput kampus,
daripada menyentuh ilalang sekolah,


karena mereka memiliki cinta,
saatnya intrispeksi diri,
kubagi untuk mereka yang masih punya hati,
mari membangun negeri dengan pasti,
membina anak-anak mungil dengan hati,

21 12 2011
Mokhamad Kusnan
(semoga bahasanya mudah dimengerti)

Jumat, 09 Desember 2011

sakit itu kata orang akhi...

hemmm,
namanya ustad Yusuf,
beliau sesepuh di STP,
alumni STP,
dan beliau juga yang merawat dakwah di kampus kedinasan itu.
sosoknya lembut, santun, bersahaja,
setelah lama tak bersua akhirnya kemarin malam aku menemuinya
seluruh rambutnya sudah putih beruban,
suaranya parau,
langkahnya lemah gontai,
pun saat aku salaman dengannya,
tangannya amat lemah, lembut.

pernah kudengar beliau dirawat lama dirumah sakit,
gawat katanya,
dan sempat berbulanj-bulan tidak silaturahim ke STP.
dan malam itu aku menyaksikan beliau ada,
dengan motor bututnya,

perlahan setelah bersua dan memegang erat tangan lembutnya,
kutanyakan perihal sakitnya,
"ustad, katanya antum sakit parah?
oya afwan belum sempat jenguk antum udah sehat kembali.
malu jadinya ustad"
beliau malah tersenyum, sedikit menahan sakit tubuhnya,
lalu dengan lembut menjawab,
"sakit itu kata orang akhi....ini masih bisa ke STP"

hanya itu yang kudengar,
ba'da shalat isya beliau izin pulang,
aku sempat kaget saat dengar cerita taruna STP,
ternyata si Ustad memang masih sakit,
semangat dan kekcintaannya mengisi halaqoh yang membuatnya buta dengan sakit.

jadi teringat beberapa tahun lalu,
saat beliau juga turun ikut mukhoyam bersama kami,
seolah ringkihnya tubuh dan usia tak menghalangi semangatnya.

"ane seneng ama antum akhi, sering memotivasi anak-anak,
sedeih kalo lihat mereka tak memiliki tekad dan azzam yang kuat"
demikian ucapnya padaku sebelum pergi meninggalkan Masjid Nurul falah, Sekolah Tinggi Perikanan.

"sakit itu kata orang akhi..."
demikian masih terngiang di benakku,
jawaban yang menutup rasa sakit yang diderita,
seolah beliau tak ingion orang lain tau apa yang dirasakannya,
yang diinginkah hanya semua tetap semangat apapun kondisinya,

keteguhan,
ketegaran,
kelembutan dan kesantunan,
kecintaan pada binaan dan dakwah,
ketegaran akan sakit dan ujian,

seharusnya beginilah sang aktivis belajar,
Sekretariat YOUTHCARE, sambil menikmati santap sahur ayamul bidh,
10122012. 02.43
Mokhamad Kusnan,
semoga bisa menginspirasi
saat aku mengisi acara taruna STP..disinilah aku berazam akan semakin banyak menginspirasi orang bdengan apapun yang bisa aku lakukan