"paman buatkan jaketnya, paman kan YOUTHCARE"
demikian ucapnya saat pertemuan terakhirku dengannya,
dialah paman kandungku,
perawakannya hitam legam, tinggi, kurus,
tapi dialah paman terhebat,
paman nomor satu sedunia,
aku tak asal menyebut dia paman nomor satu sedunia,
tapi memang dialah orangnya,
cintanya dalam,
sedalam lautan terdalam,
cintanya nyata,
senyata pandangan mata,
cintanya tulus,
setulus hembusan angin,
dia yang lama tak pernah kujumpa,
ah, bahkan aku tak sempat mengenalnya,
hanya ingatan sayu saat masa kecilku,
bagaimana tidak, dia menghilang entah kemana sejak aku masih belia,
masih menjadi bayi yang hanya bisa menangis untuk komunikasi,
tapi pamanku malah pergi,
dia hilang entah kemana,
hilang ditelan bumi,
ah bukan,
dia mencari penghidupan,
dia merantau,
dia berjuang untuk mimpi dan masa depannya,
Dumai kawan,
Dumai, Riau,
ya, itulah destinasinya,
dia memilih masa depannya disana,
lama....
teramat lama aku tak melihatnya,
bahkan akupun sempat bingung,
bagaimana wajah pamanku ini,
2007,
mungkin di pertengahan tahun itu,
untuk pertama kalinya aku harus menemuinya,
bukan keinginanku, aku hanya menjalankan perintah budeku,
menjemputnya di bandara Soekarno Hatta,
ah, kalo tak ada alat komunikasi bernama HP itu, aku akan cukup kesulitan,
betapa tidak,
terakhir aku melihatnya aku masih orok,
tak kuat lah ingatanku akan wajahnya,
dan belum lagi waktu pasti merubah wajahnya,
dan siang itu aku cukup kaget,
kalo kebanyakan orang bilang aku berkulit gelap, hitam,
pamanku mungkin biangnya,
ya...
siang itu aku nyaris tidak percaya,
seperti dipaksa mengakui,
ternyata pamanku sehitam orang negro.
saat itu, untuk beberapa bulan,
pamanku di ibukota untuk menyelesaikan pendikannya,
==
dan setelah sekian lama tak berjumpa,
Allah pertemukan kembali aku dengannya,
Milad YOUTHCARE kawan,
NYC, dan Sinergi Cinta,
pernikahanku kawan....
tadinya aku sempat bingung,
bagaimana bisa menjelaskan kepada keluarga besarku,
keluarga di kampung halaman sana,
juga sleuruh keluarga besarku, di kota dan desa,
bingung untuk menjelaskan, apa itu YOUTHCARE,
dan apa kesibukanku selama ini,
yang menyita waktu dan nyaris seluruh kehidupanku,
dan akhirnya kupilih,
menyatukan beberapa acara YOUTHCARE,
mulai dari Konferensi Pemuda Nasional, HUT YOUTHCARE, dan pernikahanku.
aku sudah siap,
entah apa kata orang nantinya,
aku siap akan smeua kritik dan gunjingan,
dan memang benar saja kawan,
acara 20 januari 2013 itu banyak menuai kritik,
kritik dari keluarga besarku, dan kritik dari peserta,
ah,
selagi yang kulakukan tak melanggar hukum, tak melanggar syari'at,
tak apa jika hanya dibenci manusia,
ditinggalkan manusia tak mengurangi amalan kita,
"memanfaatkan YOUTHCARE untuk keuntungan pribadi"
"memakai uang YOUTHCARE untuk diri sendiri"
dan bla-bla-bla....banyak fitnahan itu...
atau kritikan dari keluargaku,
"kayak gabisa cari duit aja, nikahan digabung segala..."
apapun itu aku hanya bisa diam,
aku hanya yakin pilihanku benar,
aku hanya tak ingin pernikahanku mubadzir,
sementara YOUTHCARE butuh dana besar untuk acaranya,
aku hanya ingin tak mementingkan pribadi,
sementara keuangan YOUTHCARE butuh dukungan,
hingga acara itu berjalan,
alhamdulillah,
semua untuk visiku, untuk YOUTHCAREku,
seolah tak ada yang lebih ingin aku perjuangkan,
kecuali logo tangan menyokong dunia itu benar-benar menjadi nyata,
memberikan kontribusi terbesar untuk ummat manusia,
==
kembali ke pamanku,
dialah paman nomor satu sedunia,
dia tak peduli sindiran beberapa keluarga,
dia hanya tersenyum saat lihat resepsi pernikahanku,
dia tetap tersenyum dalam ramainya mansuai yang hadir itu,
dia paman nomor satu sedunia,
bukan omong kosong,
ini alasanku kawan,
menyebutnya sebagai paman nomor satu sedunia,
betapa tidak,
saat itu,
dalam jasadnya sebuah penyakit kronis menggerogotinya,
tubuh kokoh dan kuat dibuatnya ringkih,
dan...
dia bungkus semua rasa sakitnya untuk acaraku,
dia paksa meninggalkan Pekanbaru ke Jakarta untuk melihatku,
dia perjuangkan dan kuatkan jasadnya untuk hadiri undanganku,
ya,
dialah paman nomor satu sedunia,
aku tau,
senyuman waktu itu untuk membungkus rasa sakitnya,
menutup rasa sakit dari organ dalam yang sudah sekarat itu,
cintanya dalam,
demi keluarga dan keponakannya,
demi aku dan ibunya,
dia bungkus semua rasa sakit yang dirasa,
==
dan benar saja kawan,
tak lama sepulang dari menghadiri undanganku,
tak lama sepulang dri ibukota,
dia kembali harus dirawat,
bahkan beberapa hari sempat tak sadarkan diri,
jasadnya sudah payah,
darah keluar dari mulutnya,
organ dalamnya tak berfungsi seperti mansuia biasa,
otaknya mulai mengalami pendarahan,
dan saat itu,
cintaku diujinya,
tapi dialah pamanku,
paman nomor satu sedunia,
lewat istrinya dia tak ingin aku tau kondisinya,
dia hanya berpesan "sampaikan ke kusnan kalo paman baik-baik saja"
padahal nyatanya, dia diujung usianya.
==
Rumah Sakit Santa Maria, Pekanbaru,
Jum'at pukul 21.50,
dia menghembuskan nafas terakhirnya,
menyudahi seluruh perjuangnnya,
tanpa aku disisinya,
seolah dia ingin buktikan,
dialah paman nomor satu sedunia.
tak peduli dengan sakitnya,
tak peduli seberapa besar biaya yang ahrus dibayarnya,
cintanya dalam, tak bisa dihalangi apapun, dia bungkus semua penghalang,
dia buktikan cintanya,
dialah paman nomor satu sedunia.
==
teruntuk seorang yang paling menginspirasi,
manusia paling tangguh yang kukenal,
paman nomor satu sedunia,
yang kini sudah tersenyum selamanya,
di dunia yang lebih indah dari dunia nyata.
doaku semoga dipertemukan kelak di surga,
di tempat yang tiada rasa sakit untuknya,
amin.
pagi jelang subuh di Ibukota,
dalam kedukaan yang harus membangkitkan,
6 jam setelah wafatnya beliau,
16 februari 2013, pukul 04.35
Mokhamad Kusnan
dia tetap tersenyum membungkus sakit yang diderita,
aku sempat mencium keningnya.
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Jumat, 15 Februari 2013
Sabtu, 05 Januari 2013
resonansi cinta....aku dan dia
aku pertama mengenalnya saat diberikan kesempatan berbagi inspirasi di kampusnya,
sebuah sekolah tinggi kedinasan dari departemen kelautan, STP namanya.
sekolah dengan tingkat kedisiplinan tinggi, semi militer kawan,
kebaikan, dakwah, cinta,
tiga kata inilah yang mempertemukan kami.
sebuah acara kebaikan berbalut dakwah,
dan aku harus berbagi cinta untuk bisa menginspirasi ratusan taruna sekolah itu,
resonansi kawan,
sekali lagi resonansi,
kesamaan frekuensi aku dengannya yang membuat terjadinya resonansi dianatar kami.
pasca itu, kamipun lebih dekat,
dekat dalam kebaikan dan dalam setiap seruan,
dekat karena resonansi, resonansi cinta.
beberapa tahun berjalan,
saatnya tiba dia lulus dari sekoiah itu,
dan kembali ke kampung halaman untuk mengabdi,
Jambi kawan,
sebuah tanah kaya dengan sumber daya alam,
lokasi penuh damai dan kesejukan,
disanalah dia dedikasikan cintanya,
untuk agama, bangsa, dan terlebih untuk sebuah cinta, dakwah ini
Jambi kawan,
sebuah jarak melebihi 1400 km memisahkan kami,
tapi inilah cinta kawan,
resonansi cinta bisa menembus apapun,
resonansi cinta...aku dan dia.
dan VISIku kawan,
ah semua tau,
apalagi yang bsia aku ceritakan,
tak ada..ya hampir tak ada...kecuali semua berhubungan dengan VISIku, YOUTHCARE kawan,
dan demikian saat aku kembali membuka komunikasi dengannya,
dia begitu menurut,
resonansi cinta kami begitu kuat,
saat aku memintanya datang ke jakarta untuk ikut SUPERCAMP,
diapun datang, dengan segala pengorbanannya,
saat aku bilang untuk segera mengadakan kegiatan di kampungnya,
diapun mengiyakan,
sebuah kerja panjang penuh rintangan,
bahkan dia bisa mengajak tetangga dan kawan kecilnya ikut membantu,
aksi itupun berjalan,
inilah resonansi cinta...aku dan dia,
dalam sebuah epik cinta,
dibalut sebuah niat suci, aksi suci, dakwah ini.
resonansi cinta....aku dan dia,
dan bukan dia seorang kawan,
tapi dia dan dia,
dia yang di Jambi,
dia yang di Balikpapan,
dia yang di Situbondo,
dia yang di Tasikmalaya,
dia yang di Makassar,
dia yang di Lampung,
dia yang di malaysia,
dia...dia...dan dia..yang tersebar di penjuru dunia,
resonansi cinta...aku dan dia.
karena kami seirama,
karena kami satu frekuensi,
satu cinta dan cita,
#resonansi cinta...aku dan dia,
ya Allah sesungguhnya Engkau tahu,
bahwa hati ini telah berpadu,
berhimpun dalam naungan cintaMu....
#resonasi cinta....aku dan dia.
untuk aksi yang banyak rintangan pasti,
untuk cinta yang penuh onak derita,
ya Allah kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya,
tunjukilah jalan-jalannya....
resonansi cinta,
sebuah doa untuk dia yang sedang dalam penyembuhan di Jambi,
untuk dia yang terus bersemangat di Situbondo,
untuk dia yang sedang gerilya semangat di Balikpapan,
untuk dia yang serang sibuk dengan banyak amanah di Banjarmasin,
untuk dia yang terus bersinergi di Lampung,
resonasi cinta...aku dan dia...selamanya
dalam gerimis dingin di ibukota,
09.35 hari ke-6 di Awal 2013.
ini rekam jejak resonansi cinta kami:
resonasi cinta di jambi: http://www.facebook.com/media/set/?set=a.299958700116559.62156.100003072939264&type=3
resonansi cinta di balikpapan: http://www.facebook.com/media/set/?set=a.306534922792270.63435.100003072939264&type=3
resonansi cinta situbondo: http://www.facebook.com/media/set/?set=a.307077402738022.63532.100003072939264&type=3
resonansi cinta jabar: http://www.facebook.com/media/set/?set=a.309025259209903.63811.100003072939264&type=3
Rabu, 30 Mei 2012
kalo bukan karena cinta, dia takkan cemburu.. :)
cinta kawan,
sekali lagi cinta,
aku tau betul dia memiliki cinta yang besar padaku,
sejak pertemuan pertama kami,
sampai aku menyapanya,
dan seringnya kami bertemu,
ah cinta....
Danis kawan,
seperti yang pernah kutulis sebelumnya,
dia hanya seorang anak kecil kelas 1 SD,
seorang anak mungkil lugu,
namun kutau dia seorang pembelajar,
terlebih...dia lugu dan penurut kawan,
Danis..
demikian dari mulut mungil anak itu keluar,
sebuah nama singkat namun hebat,
seorang anak kecil yang paling rajin kulihat,
hampir 5 waktu shalat dia ada di deretan jamaah di masjid dekat kantor YOUTHCARE,
Danis kawan,
karena rasa penasaranku aku tanyakan padanya,
namanya, usianya, kesibukannya...
ah,
aku sangat kaget saat tau dia masih kelas 1 SD,
lebih kaget lagi kalau dia pisah dengan orangtuanya,
sekali lagi dialah Danis,
anak kecil hebat pecinta masjid.
dan sejak perkenalanku,
kami kian akrab,
sampai dia sudah kuanggap adik sendiri,
tak jarang dia bersandar di pangkuanku seusai shalat jamaah,
sering juga dia menungguku dan mencariku jika aku telat berjamaah,
dia pula yang menanyakan jika aku sempat tak shalat berjamaah,
dan ashar kemarin kawan,
dia sempat membenamkan mukanya,
raut mukanya memerah dan tatapan wajahnya menajam padaku,
dia sepertinya marah,
ah aku tak tau apa salahku...
mukanya memerah,
bukan sekedar marah,
dia sempat meneteskan air mata,
sedikit,
sampai aku mendekatinya dan menangkapnya,
memeluk dan menggendongnya,
"ihh Danis serem amat, kenapa sih?"
"kok lama gak shalat di masjid?"
demikian ucapnya,
dia nampaknya sangat kehilangan diriku,
benar saja,
sejak YOUTHCARE pindah kantor,
akupun jarang ke pasar minggu,
tak lagi shalat di masjid yang seringkali dipakainya,
tak lagi sering menatapnya,
dan..
setelah tiga pekan ini,
aku menyempatkan diri shalat berjamaah disitu,
Danis ternyata selama itu memendam rindu,
dan kecemburuannya membuncah,
seolah aku meninggalkannya...
Danis kawan,
bahkan dia sempat mengalirkan air mata,
terlebih saat kubilang "om kan kantornya sudah pindah..."
wajahnya memerah,
sambil sesenggukan dia menatapku tajam,
berlari menuju kakeknya dan meninggalkanku,
kalo bukan karena cinta, dia takkan cemburu,
dia takkan mungkin bersikap seperti itu,
takkan mungkin kehilanganku,
dan dialah Danis kawan,
sejak aku memberanikan diri untuk mengenalnya,
seketika benih cintanya tumbuh,
terlebih dia yang harus mengais cinta dari kakeknya,
bukan ibu dan ayahnya,
Danis kawan,
dia memiliki cinta yang utuh,
Astaghfirulloh...
dan dia mencintaiku,
akulah kakaknya..
akulah omnya...
"ke masjid yang rajin ya,
Insya Allah kita akan bisa terus ketemu,
kalo di dunia pisah, di surga bisa terus-terusan...kekal disana"
demikian ucapku pelan,
entah dia dengar atau tidak,
baginya berat ditinggalkan orang yang peduli padanya.
kalo bukan karena cinta, dia takkan cemburu,
dia takkan kehilangan,
dan perhatianku menumbuhkan cintanya...
kalo bukan karena cinta...
aku takkan menuliskan dan memposting kisah ini,
demi Allah,
akupun mencintainya karena Allah,
semoga ALlah ekkalkan cintaku padanya hingga ke-Surga,
seperti pintanya "pingin deh punya Ayah kayak kakak"
ah,
suatu saat Denis,
di surga sana,
semua pintamu akan terwujud.
jelang tengah malam,
dalam perenungan jelang diskusi komunitas.
23.40 wib, 30 mei 2012
mokhamad kusnan
Selasa, 15 Mei 2012
"gua kira lu udah mati..."
disetiap nafas terhembus,
ada tanggungjawab disana,
seiring dengan kapasitasmu,
tanggungjawab besar menantimu...
kapasitas kawan,
dan inilah yang aku alami,
mungkin sudah jalan hidupku seperti ini,
2006 silam,
di sebuah kontrakan sederhana di bilangan Dayeuhkolot, Bandung.
diantara 4 murid sekaligus sahabat terbaikku,
kawan seperjuangan saat dulu bersama-sama menjadi pejuang samurai.
sebuah komitmen dan janji itu terucap,
sebuah komitmen awal untuk sebuah kepedulian,
yang berawal dari sebuah cerita malam,
saat aku menginap di salah satu kosan anak-anak hebat itu,
di bilangan Depok, setelah usai memikirkan bisnis dan akademis,
kala itu malam datang,
diskusi panjang tek terasa menerkam waktu,
hingga jam menunjukkan pukul 01.00 kami baru tersadar,
tersadar karena perut kami keroncongan,
dan malam itu kami keluar dari peraduan,
melangkahkan kaki di dinginnya malam yang sunyi,
hingga perjalanan kami dekat halte gerbatama UI,
langkah kami terhenti,
sosok manusia kerdil kumal tertidur meringkik di halte,
semua pandangan mata kami tertuju kepadanya..
gundah hati kawan,
saat itu aku yang langsung menuju anak itu,
mencoba membangunkan,
mengajak agar tidur di kosan kami,
menawarkan makan malam bersama kami,
beberapa menit kemudian,
anak dekil mungil itu lahap memakan makanan yg kami berikan,
di sebuah "restoran" kaum miskin pinggir jalan,
bersama kami berempat,
ya...mungkin itu adalah makanan aling nikmat yang pernah dia lahap,
"anis,,,"
demikian sang anak mengucapkan namanya saat kami tanya,
sesingkat itu, tanpa nama panjang dan lainnya,
dia selalu bilang "anis",
cukup itu kawan,
tak ada yang lain,
sosok anak mungil dekil itu sekitar usia 8 tahun,
kabur dari rumah karena dirumah baginya lebih kejam dari neraka,
ibunya hanya babu di tetangganya,
ayahnya sendiri pemulung,
anis adalah 4 dari 5 bersaudara,
semuanya tak ada yang sekolah,
hidup dan besar dalam sampah,
dan kini 4 dari 5 saudaranya itu berprofesi sama...gelandangan,
anis memilih menjadi pengamen,
awalnya dia tak memiliki bakat apapun,
karena keterpaksaan dia kini bisa menyanyi,
lagu-lagu baru yang sering dia dengar,
selalu dia coba hafalkan,
nongkrong di dekat penjual VCD bajakan,
sambil mendengarkan lagu dan menghafalkannya,
itulah proses "belajar" yang pernah dia tau dan dilakukan selama ini,
dia tak kenal seragam, buku, alat tulis, apalagi HP...
dia hanya tau belajar dengan mendengar dan menghafal,
dan dia hanya tau satu alat,
botol aqua kosong didisi beras segenggam,
beras...
katanya untuk dapat makanan harus dipancing dengan makanan,
itu yang diucapkan kenapa isisnya tak pasir atau batu kerikil saja.
anis,
dialah inspirasiku,
inspirasi kami,
hingga sebuah komitmen untuk kontribusi itu kami dirikan,
NIAT AMAL NYATA, yang kelak menjadi NANcare,
itulah awalnya,
kami dipertemukan,
dan kami terinspirasi,
dan pertengahan 2006,
saat kami dipisahkan oleh jarak,
hasil SPMB memaksa kami menelan pil pahit,
kami harus berpisah untuk mencapai cita,
memenuhi undangan kampus-kampus kampung,
meninggalkan jakarta,
menuju kampus dengan latar sawah..
pertengahan 2006,
sebuah dedikasi,
sebuah janji,
sebuah komitmen,
untuk membentuk NANcare..
untuk berkontribusi,
dan sejak deklarasi itu,
semua hari-hari kami dipenuhi semangat,
semangat cepoat selesai kuliah,
semangat mencari uang,
dan semangat menemui satu persatu anak-anak jalanan,
dan waktu berlalu,
ujian itu memisahkan diantara kami,
beberapa mundur dari jalan yang kami tetapkan,
hingga setengah tahun itu,
tinggal aku sendiri
==
dan kemarin malam,
setelah 2006 komitmen itu dibuat,
setelah aku terus mempertahankan dan memodifikasi visi,
sebuah sms menyapaku,
kemudian telpon bersambung,
sebuah pengulangan sejarah,
nostalgia suara,
"hey boy...masih aja yah lu..
gua kira lu udah mati.
keren deh sekarang dengan YOUTHCARE,
emang dasar pemimpi,
5 tahun gak ketemu,
lu masih aja kayak gitu"
demikian ucapnya serampangan...
di akhir kata baru dia meminta maaf
"sori bang...beneran dah gak ngira abang masih dengan janjinya"
janji kawan,
visi kawan,
itu yang pernah kuucapkan di hadapan mereka dulu,
di sebuah kontrakan kumuh di Dayeuhkolot, Bandung.
janji yang membuat jalan hidupku begini,
janji yang telah menelan rasa dan nafsuku pada dunia,
janji yang harus kubayar dengan seluruh perjuangan, pengorbanan, dan hingga nyawaku.
dan kemarin malam,
sebuah drama "penculikan",
seusai aku mengisi kajian anak-anak belia,
menanamkan idealisme dan pemikiranku,
dengan innova ketiga anak itu menangkapku,
menyergapku dan memasukkan dengan paksa dirik ke innova itu,
mengikat mataku dan menyuruhku tidur,
dua jam kawan, dalam kadaan mencekam,
aku dibawa ketiga pemuda berandalan,
entah ini penculikan atau apa...
yang jelas aku sempat takut tak karuan,
hingga akhirnya di sebuah pemberhentian,
mereka membuka mataku,
memaksaku menelan makanan sedap,
dan seusainya menyurhku menutup mata kembali,
diikatnya mataku dnegan kain,
dan melanjutkan perjalanan,
dan kami sampai,
di tempat yang aku tak menyangka,
di depan sebuah rumah kumuh tua,
teringat di benakku 6 tahun lalu,
ya...dirumah itu aku berjannji pada mereka,
"dengan atau tanpa kalian, gua akan perjuangkan visi gua,
hingga mati akan gua perjuangkan, catat janji gua"
aku masih ingat,
dan merekapun mencatatnya...
lalu aku dibawa ke tempat lain,
masih dnegan ditutup kedua mataku,
mobil melaju dengan kencang,
melewati jalan yang menanjak,
suasana dingin AC mobiul seketika mati,
jendela mobil dibuka,
hawa dingin menggigil menggantikannya,
dan sekian lamanya,
akhirnya ditengah malam itu aku sampai,
sampai di sebuah tempat di dataran tinggi kota lautan api,
disebuah rumah makan asri,
rumah makan yang dulu akupun pernaj berjanji padanya
"kita akan reunian kelak, di kampung daun"
dan malam itu terwujud,
namun aku tak sendiri,
tak hanya dengan 4 kawanku itu,
tapi...200 pemuda pemudi hasil didikan mereka menyambutku,
"leader...inilah sang guru saya,
inilah inspirasi saya,
dan inilah guru kita semua"
demikian ucap sahabatku itu,
air mataku mengalir,
subhanallah...
ternyata dia memegang janjiku,
dan ternyata dia memperjuangkannya,
dia...kini memiliki 200 leader pemuda-pemudi lintas profesi,
dan yang mereka perjuangkanpun tak jauh dari apa yang dulu kami sepakati...pemuda.
hanya ranahnya agak sedikit beda denganku,
dia perjuangkan pemuda-pemuda pelosok bandung untuk jadi entrepreneur...dan dialah inspiratornya.
dan hingga adzan subuh berkumandang,
aku bercerita dan menginspirasi anak-anak muda itu,
teriakan-teriakan kami dahulu,
kini disambut 200an pemuda-pemudi
FREEEDOOMMMMM....
"FIGHT FOR FREDOMM..."
"gua kira lu udah mati.."
bahkan hari itu aku tak tidur sama sekali,
pantas saja dia mengikat mataku,
dia tau aku sulit tidur,
"gua kira lu udah mati..."
karena sebuah janji adalah janji,
dan janji itu akan ditepati,
dan harga perjuangan harus dibayar,
visi haruys terrealisasi,
atau diperjuangkan hingga mati....
"gua kira lu udah mati..."
tidak kawan,
aku masih selalu ada dengan visi ini,
dan aku takkan pernah mati,
karena matiku akan digantikan dengan penerusku,
benih-benih ideliasme dan visi itu telah menyebar ke pelosok Indonesia,
yang akan memperjkuangkan visi bersama,
matiku hanya mengakhiri hidupku,
namun visiku hidup selamnaya.
sepertimu yang kini juga memperjuangkan hal sama,
"gua kira lu udah mati..."
pagi di ibukota,
16 mei 2012. pukul 08.11
dedikasi untuk YC RANGER,
ingin kukatakan "aku bangga punya kalian"
Jumat, 11 Mei 2012
bahkan dia tersenyum....
ya,
dia kawan,
sosok wanita hebat yang kukenal,
tak perlu melihat prestasi untuk menunjukkan kehebatannya,
tapi dia memang hebat...wanita hebat yang kukenal.
setelah sekian lama aku tak pulang kerumah,
dia kini tak lagi mencemaskanku,
meski kadang kupikir lagi,
apakah dia tak lagi mencintaiku,
namun aku yakin saja, cintanya kuat padaku,
sore itu aku sempatkan diri,
meski hanya sekedar menukar baju kotor dengan baju bersih,
sejenak saja, lalu meninggalkannya kembali,
hanya kecupan dingin di tangannya yang kuberikan padanya, tak lebih.
sejenak saat aku hendak meninggalkannya,
gelisah hati kurasa,
dia nampak layu,
demam di tubuhnya kian meninggi,
suaranya parau mengantar kepergianku,
batuk tertahan meliputi dirinya,
hingga saat aku sedang berjibaku dengan segala kesibukanku,
berita itu datang...beliau dilarikan ke Rumah Sakit.
kondisi tubuhnya tak bisa lagi menahan,
lunglai terseok,
diam terbaring,
tapi dialah wanita hebat,
seolah tak ada apa-apa,
hanya fisik saja yang tak berdaya,
semangat, senyum, dan cintanya tetap membara,
dia tetap tersenyum kawan,
bahkan dalam berat sangat sakitnya,
dalam terbaring di ranjang putih itu,
dalam detik-detik waktu jelang kepergiannya,
mungkin benar seperti yang dia sampaikan,
"aku mungkin akan mati dalam terbaring"
dia tetap tersenyum kawan,
seolah tak ada rasa sakit darinya,
tak ada gundah gulana,
tak ada resah membasah,
yang ada hanya senyuman kecil..yang dihadirkan padaku.
"sakit itu nikmat kusnan, tak perlu dirisaukan,
meringankan beban dosa kita,
mati itu pertemuan, tak perlu ditakutkan,
jasad ini hanya titipan, nyawa inipun milikNya"
demikian ucapnya ringan,
"tak perlu ada penyesalan,
jika lebih banyak dosa, kita harus siap menerima akibatnya
jika berpikir banyak pahala, jangan sampai sombong membakar amal kita,"
demikian tambahnya,
kupegang dahinya,
panasnya kian bertambah,
raut mukanya memucat,
namun senyumannya tak berkurang sedikitpun,
saat kulihat dia menahan sakit tak terkirakan,
dia tetap memaksa menghadirkan senyuman,
seolah akhir hidupnya harus berujung keceriaan,
dia tetap tersenyum kawan,
bahkan saat ruh demi ruhnya ditarik,
saat perlahan tubuhnya menggelinjang,
saat perih tak tertahan hadir dalam jasad tak berdayanya,
hingga saat terakhir nafasnya berhembus,
senyumannya masih dipertahankan,
seolah dia tak ingin menyapaNya dalam kesedihan,
aku yang langsung berdiri dan teriak,
teriak dengan penuh lantang,
hingga suaraku memenuhi ruangan itu,
kemudian aku menangis sejadinya,
penyesalanku baru datang,
aku telah lama meninggalkannya,
tak ada bakti kepadanya,
dalam segala kesedihan aku terseok jatuh,
jatuh tak sadarkan diri,
untuk sekian lama aku tak sadrkan diri,
terbaring dalam tidur berpanjangan,
hingga akhirnya aku dibangunkan....
dan subhanallah.....
beliaulah yang membangunkanku,
"kus, ayu antarakan...."
#akupun mengantarkannya ke dokter,
beliau masih tersenyum dan ceria,
hanya menahan sedikit sakit tubuhnya,
pagi akhir pekan,
07.59 WIB 12 mei 2012
mokhamad kusnan
Sabtu, 05 Mei 2012
kalian dananya dari mana?
setelah dengan segenap perjuangan,
setelah dengan segenap motivasi dan inspirasi,
10 pengurus YOUTHCARE,
dengan segala kemampuan,
dalam 25 jam,
dalam kesungguhan penuh,
dalam suka maupun terpaksa,
tapi inilah bukti cinta,
inilah bukti kontribusi nyata,
untuk mimpi menjadi realita,
dan benar saja,
25 juta bukan angka besar untuk dicara,
terlebih mencari nuntuk kontribusi,
dan itulah yang dilakukan 10 pengurus YOUTHCARE,
dalam 25 jam kawan,
mencari 25 juta,
Alhamdulillah,
akhirnya siang kemarin kami memulai,
memulai awal sebuah sejarah baru,
memulai sebuah kontribusi,
memulai keberanian untuk berbuat lebih,
dan sungguh inilah kerja nyata kami,
25 juta dalam 25 jam,
bukan suatu yang mustahil,
karena bagi Allah semuanya mungkin,
dan siang itu,
saat kami membayar sewa rumah untuk kantor baru kami,
sang pemilik kontrakan sampai kaget,
sedikit tidak percaya akan uang yang kami bawa,
dan dalam percakapannya,
pertanyaannya tajam,
"kalian dananya dari mana?"
singkat saja kami menjawab,
sumbangan dari kami dan kami cari pak,
memang akan sangat banyak pertanyaan,
sebuah ORGANISASI masih muda seperti YOUTHCARE,
terlebih diurus hanya oleh 11 anak muda yang hampir semua masih mahasiswa,
bisa menyewa rumah 25 juta dan perlengkapan lainnya,
kalian dananya darimana?
demikian pertanyaannya,
mungkin kurang percaya kalo kami bisa mencarinya
namun inilah YOUTHCARE,
kami ingin berbuat untuk ummat,
dan akan kami perjuangkan semuanya.
dananya dari mana?
hemm...Allah takkan membiarkan hambaNya.
06.20 WIB 6 MEI 2012
sehari setelah kami membayar sewa itu,
untuk kontribusi lebih YOUTHCARE...
untuk kebangkitan pemuda Indonesia.
untuk ummat dan dunia.
pagi dingin ibukota,
Mokhamad Kusnan
Kamis, 03 Mei 2012
citarasa cinta sebuah visi
hujan lebat mengguyur jakarta sore,
ba'da magrib harus mengisi pengajian anak-anak,
aku masih saja disibukkan dengan urusan YOUTHCARE,
hari-hari ini akan sangat disibukkan mengurus YOUTHCARE,
ah...mungkin tak hanya hari ini, tapi sebelumnya, kini, dan nanti,
tepat jam 7 malam aku sampai komplek rumah jabatan anggota (RJA),
langkah kakiku kutuju masjid di komplek itu,
saat sedang menunggu adzan Isya seusai shalat tahiyat masjid,
tiga murid-muridku menyusul, tiga anak dengan satu motor itu nampak semangat ikut pengajian.
masih dengan keteladanan kepeimpinan Al-Fatih,
itu yang jadi materi pengajian anak-anak itu,
beberapa video dokumenter kuputar untuk memancing pemahaman mereka tentang keteladanan AL-fatih,
dan Alhamdulillah,
beberapa murid pengajianku sudah ada yang pernah ke Konstantinopel,
pernah ke Istanbul,
saat video memutar tentang Istana Sophia,
salah satu anak setengah teriak bilang "aku pernah kesana kak..."
dengan semangat aku menjelaskan kisah heroik Muhammad Al-fatih,
diselingi video dokumenter tentang kejayaan Turki Utsmani.
dan anak-anak itu sangat antusias,
pengajian terhenti saat tuan rumah menghidangkan makanan,
mie goreng special, yummi...
dan anak-anak itu melahap dengan nikmatnya,
usai mengisi perut kami lanjutkan lagi,
anak-anak kelas 2 SMP itu asyik mendengarkan kisahku.
21.30 pengajian usai,
aku mengantar 3 anak yang tdinya datang dengan motor,
menembus rintik hujan,
melewati ramainya jalan ibukota.
jam 11 aku sudah ada janji lain,
menemui salah satu sahabat lama,
di sebuah cafe di bilangan Tebet,
sebuah pertemuan setelah sekian lama terpisah,
aku menuju cafe itu dengan ojek butut,
sementara dirinya ditemani calon istrinya dengan mobil mewah,
pakaian mewah...dan masih sama....sepuntung rokok menyala.
awalnya dia agak kaget,
mengiranya aku akan datang dengan kendaraan pribadi,
dengan setelan keren atau lainnya,
haha...aku datang dengan batik kumalku,
setelan celana dan sendal gunung,
namun semua indah kubalut dengan senyuman sumringahku,
aku tak peduli,
yang kupedulikan adalah pertemuan itu, silaturahim itu...
"masih sibuk ngurusin anak-anak lu nan?"
pertanyaan pertama yang terlontar darinya.
aku hanya tersenyum tak menjawab,
lalu kutanyakan kembali, tentang dirinya,
ya...dia sekarang menjadi seorang PNS sukses,
karirnya melonjak setelah usai meraih gelar S-2nya,
aku dulu tau dia menjadi PNS karena ayahnya juga PNS,
ah entahlah, itu dunianya...
mobil pribadi, rumah pribadi (meski baru mau nyicil),
dan kemewahan penampilannya,
entah pertemuan itu karena dia ingin pamer denganku atau yang lain,
namun kami tetaplah sahabat....
aku bisa memahaminya,
akupun hanya bsia mendoakan semoga semuanya ada keberkahan,
"nan gua bingung lu masih ngurusin itu aja.."
demikian saat dia lama mencveritakan tentang dirinya.
"inget janji gua dulu?" tanyaku...
dan dia mengingatnya,
tentang janji
"gua akan hidup dengan jalan yang gua pilih. gua punya visi. dan semua akan gua lakukan untuk visi gue. hingga tercapai atau gua mati diperjalanan mencapainya"
citarasa cinta,
seperti dia menikmati hidupnya,
seperti aku menikmati hidupkua,
dan citarsasa cinta sebuah visi,
yang terus membuatku bertahan.
tak sekedar bertahan, tapi membuat perubahan, bertumbuh dan berkembang,
dan diskusi malam tadi hingga pagi,
semua mengisahkan citarasa cinta,
tentangku dan tentang dirinya...
dia dengan kehidupannya..
aku dengan visiku...
jam 01.00 kami berpisah,
dia mengantarku sampai jalan besar,
aku menolaknya mengantarku smapai rumah,
"antar calon istrimu saja, rumahnay lebih jauh" ujarku saat berusaha menolak ajakannya.
dan sampai rumah,
aku baru sadar kunci kamarku tertinggal di kantor YOUTHCARE,
alhasil harus tidur di depan tivi, di bangku...
dan terbangun jam 3 pagi untuk melanjutkan langkah,
memperjuangkan visi...
citarasa cinta sebuah visi,
hanya aku yang bisa merasakan,
dan mereka yang memiliki visi,
bukan bagaimana hidup kita,
tapi bagaimana kontribusi kita.
citarasa cinta sebuah visi,
untuk YOUTHCARE multi kontribusi,
pagi segar ibukota,
dibawah langit di markas peradaban, YOUTHCARE.
07.00 WIB 4 mei 2012
Mokhamad Kusnan
Selasa, 24 April 2012
saya dari YOUTHCARE pak....
kadang sempat berpikir,
jika ba'da subuh Rasul bertanya pada para sahabat,
"siapa yang sudah sodakoh?
siapa yang sudah takziyah?
siapa yang sudah menyingkirkan duri di jalanan?
sia yang sudah ini itu..."
dan semua amal itu sudah dilakukan oleh Abu Bakar Ash-Siddik ra,
lalau sehebat apa sang ABu Bakar itu,
dan pagi ini mungkin menuntutku untuk mengikuti jejaknya,
ah..meski masih sangat jauh dari sang manusia santun itu,
pagi ini kawan,
seorang ibu tua kerumahku,
memintaku membantu anak kecilnya yang sedang sakit keras,
"Aji sakit mas Kusnan..."
demikian ucapnya,
raut mukanya layu,
air matanya bening mengalir membasahi pipi,
sesekali diusapnya,
matanya memerah,
ibu renta itu memintaku sangat,
sesaat seusai shalat subuh akupun bergegas,
pergi menuju sekretariat YOUTHCARE dan meminjam motor,
meminjam motor, helm, yang aku baru tau ternyata semuanya beda.
semuanya beda yang punya.
aku tak peduli,
lamhklah berikutnya memacu motor dengan kecepatanj penuh menuju rumah sang ibu,
gang sempit kumur di kalibata menjadi saksi agi tadi,
sang anak sudah sangat kritis,
"kenapa gak dari kemarin dibawa kerumah sakit bu?"
"kenapa dibiarkan dirumah sampai begini?"
demikian pertanyaan demi pertanyaan menyaahkan aku sampaikan kepada sang ibu.
hingga jawaban menggetarkan dan membuatku malu menyadarkanku
"ibu takut gabisa bayar. ibu takut mas Kusnan..."
TRIADIPA,
rumah sakit terdekat menjadi tujuanku,
dengan gegabah aku membawa ank kecil itu,
sedikit bertriak meminta perlayana terbaik untuk anak itu,
"tolong segera tangani, anak ini terkena DB" demikian ucapanku setengah marah pada petugas.
kembali aku memacu motorku,
menjemput salah satu temanku yang berprofesi dokter,
untuk membantu dan memberikan pelayanan terbaik,
sesusai itu aku menemani sang ibu,
mengurus semua biaya dan administrasi perawatan,
alhamdulillah semua berjalan meski banyak tantangan,
sang ibu bisa lega karena semua biasa bisa kuatasi.
saat langkah kutuju ke RS itu membawa susu cair untuk sang ibu,
sebuah smsm masuk padaku "kak, Abu dirawat di RS TEBET, kena hepatitis, mau ikut jenguk?"
aku hanya bertanya sekali "ruangan berapa"
dan setelah jawaban sms kuterima, aku lansgung memacu motorku kembali,
maklum semua harus kuselsesaikan pagi ini,
motor dan kedua helm aku pin jam dari beberapa orang,
tak enak memakainya lama,
ruangan nomor 302,
itulah yang kutuju,
sekotak biskuit dan satu pack yogurt kubawa,
perlahan kubuka pintu ruangngan itu,
ada beberapan pasien,
dan salah satunya adalah seorang anak yang tak asing bagiku,
seorang anak yang dulu berada di belakangku saat masih berpakaian putih-abu abu.
mensukseskan agenda tahunan kami, YOUTHCAMP,
sebuah ekmah gabungan menyadarkan anak-anak ingusan SMP,
kini kuketahui anak itu sudah menjadi mahasiswa sebuah perguruan tinggi ternama di kota Bogor.
langkah kutujukan kepadanya,
mendekatinya,
inalillah...
sekujur tubuhnya terlihat kuning,
tangan dan kakinya yang sangat terlihat,
sang adiuk yang menemani asyik online dengan leptop mungilnya,
aku sempat kaget saat sanga dik juga mengenalku
"bang bangun bang...ada kak Kusnan.."
demikian sang adik membangunkan anak itu,
daia masih tertidur,
"biarkan saja istirahat. gapapa kok" ucapku pelan.
sang adik memeprsilahkan bangku untukku,
akupun duduk disamping terbaringnya anak itu,
menanyakan beberapa hal pada sang adik,
sambil aku memijat-mijat tangan dan kakinya dengan lembut,
tak lama kemudian hadir dua orang tua,
yang kuketahuai dari jawabannya adalah kepala sekolah SMAnya dulu,
yang juga kepala sekolah adiknya sekarang.
setelah berbincang-bincang,
sang kepala sekolah bertanya "ini siapa?"
yang ditujukkan padaku
lantas pelan aku menjawab "saya dari YOUTHCARE pak,"
tak lama kemudian ayah dari anak itupun datang,
setelah beberapa kali berbincang dengan ekpala sekolah itu,
diapun emnanyakan hal sama padaku "ini siapa? teman kulihnya ya?"
aku hanya menjawab pelan sama "saya dari YOUTHCARE pak"
"saya dari YOUTHCARE pak"
dan ternyata banyak yang membutuhkan kita,
sebuah pilihan menunda atau mengabaikannya,
bukan di masalah kita punya atau tidak sesuatu untuk emmbantu,
terlebih kita punya cinta untuk membantu atau tidak,
dan disanalah semua bsia menjadi nyata,
cinta...
dan kuyakin smeua memilikinya,
cinta untuk kontribusi,
cinta untuk sahabat,
cinta untuk ketulusan berbagi dan berbuat,
cinta yang tulus untuk membantu.
"saya dari YOUTHCARE pak"
mungkin orang akan bertanya,
"CARE dengan apa dik?"
"apa bukti CAREnya dik?"
"saya dari YOUTHCARE pak"
sengaja kupilih jawaban ini,
untuk menegaskan, aku memiliki cinta untuk peduli.
siang terik di ibukota
24 April 2012
14.56 WIB
Mokhamad Kusnan
maafkan aku kak...
ini pertama kalinya aku ke kota Malang dengan pesawat,
meski harganya lebih mahal dari semua transportasi yang ada,
aku tetap memilih pesawat untuk ke kota di ujung jawa timur sana,
Adburrahman Saleh menyapaku setelah lebih dari satu setengah jam penerbangan,
sore itu kehadiranku langsung disambut dengan serangkaian aktivitas.
tercatat, hingga dini hari haru kelar agenda pertamaku,
mengisi seminar tentang pemberdayaan UKM di kota Malang.
pagi hari,
suasana sejuk Batu sangat terasa,
dengan mobil dinas pemda akupun diantara menuju stasiun untuk memesan tiket kereta api,
iya, karena keterbatasan dana aku memutuskan kembali ke jakarta melalui Surabaya dengan kereta api,
sekitar jam 8.00. aku tinggal sendiri di stasiun Malang.
sementara aku harus ke Situbondo siangnya,
aku harus memenuhi permintaan salah satu murid, sahabat, dan adik terbaikku,
memenuhi permintaannya akan kado untuk putri pertamanya...kereta bayi.
dalam kesendirian di Malang,
akupun tak bisa berbuat banyak,
setelah dua rakaat duha kutunaikan di mushola stasiun itu,
akupun melangkahkan kaki,
mencoba tanya dari orang ke orang tentang tempat aku bisa menemukan kereta bayi.
hingga saat aku membuka laptop,
dan mencoba online dengan jejaring sosial,
disitulah keajaiban ukhuwah terbukti,
sekali lagi keajaiban ukhuwah,
karena ukhuwah menembus batas.
setelah beberapa orang yang domisili di Malang enggan menemaniku karena kesibukannya,
saat itu aku beberapa kali menulis status tentang keberadaanku di kota Malang itu,
hingga ada seseorang yang mencoba menanggapi,
sejenak aku mengenal nama itu,
tapi sudah lama sekali,
lebih dari setahun aku mengenalnya,
subhanallah,
ternyata dia adalah salah satu anak yang pernah membantu menjadi panitia YOUTHCAMP,
sebuah event tahunan yang sellau aku laksanakan,
dan...setiap tahunnya itu selalu ada anak-anak yang bersemangat mensukseskannya,
dan dia diantara salah satunya.
setelah kami saling komen di FB,
dia akhirnya m,enyanggupi menemaniku berkeliling Malang mencari kereta bayi,
dan...siang terik di Malang menjadi saksi ukhuwah kami,
aku sudah lama tak mengenalnya, tapi seolah kami teman setia.
dia,
padanya aku melihat kesetiaan,
padanya aku melihat ketulusan untuk membantu,
sapaan akrab "kak" selalu menghiasi keakraban dalam setiap pertolongannya,
bagai pelayan dia menemaniku dan tanpa keluh mengiyakan perintahku,
butiran-butiran keringat di keningnya tak pernah dipedulikan,
seolah hanya satu yang diperjuangkan "aku ingin menemani kakak"
dia,
dengan rambut gondrongnya,
dengan jerawat yang menutupi sebagian besar wajahnya,
dengan suara paraunya,
dengan tubuh kurus hitamnya,
seolah semua memalingkanku,
bahwa dalam jasadnya itu ada hati baik,
hingga saat seusai berjam-jam dia menemaniku berkeliling kota malang,
dan akhirnya utemukan kereta dorong bayi terbaik,
diapun bersedia mengantarku ke terminal,
mengantarku menemukan bus menuju kota berikutnya,
kita dari rangkaian safari jawa timur keempatku,
hingga saat akan perpisahan itu,
dalam gugup dia berucap "maafkan aku kak"
aku tertegun,
aku menatapnya dalam,
dan setelah diam beberapa saat akupun bertanya "maaf untuk apa?"
dan dia menceritakan perihal tentangnya
==
Juni 2010,
saat itu berlangsung YOUTHCAMP yang keempat,
dimana sebagian besar panitia berasal dari pelajar Depok, NF tepatnya,
namun di jelang hari pelaksanaan hadirlah dia,
hadirlah seorang berseragam abu-abu,
saat itu dia masih duduk di kelas 3 SMA.
selama dua hari pelaksanaan YOUTHCAMP memang ada sesuatu yang aneh dalam dirinya,
dia senantiasa memperhatikan salah satu panitia putri,
hingga seusai kegiatan dia mengutarakan maksudnya padaku,
bahwa dia menyukai sang akhwat,
karena sedang dalam emosi, akupun dengan sedikit teriak menasihatinya,
tentang menjaga pandangan dan larangan hubungan lawan jenis,
dan itu masih berlanjut, dengan sms-sms dia tentang akhwat itu,
hingga kutau dia marah padaku karena aku terlalu keras memeperlakukannya,
dan waktu memisahkan kami...
dan setelah sekian tahun berlalu,
diterik terminal itu,
dijelang aku meninggalkannya di Malang itu,
dia berucap padaku "maafkan aku kak"
"maafkan aku kak,
aku tau dulu belum paham masalah hijab,
aku sadar dulu belum tau banyak tentang islam dan hubungan lawan jenis,
aku tau aku dulu salah bersikap kak,
sekali lagi maafkan aku"
demikian ucapnya dalam tunduk,
seolah malu melihat wajahku,
aku menatapnya tajam,
mendekat dan memeluknya erat,
kuusap rambut kepalanya,
kudekap tubuh kurusnya,
pelan aku berucap,
"kakak yang salah, maafkan kakak"
dia membalas memelukku erat,
kami terdiam dalam ukhuwah yang dalam,
dalam rasa cinta yang bergelora,
adik-kakak yang memendam rindu,
dan dia memendam permintaan maaf sampai setahun itu,
dan Allah memeberikan kesempatan kepadanya dengan keajaiban di Malang itu,
"kuliah yang pintar,
perbaiki akhlak dan keilmuan,
tunjukkan kesalehan diri dan kokohkan iman,
cerdaskan nalar dan wawasan,
kerja keras dan kerja cerdas untuk masa depan,
jika jodoh kelak kalian akan Allah satukan"
demikian ucapku sambil menepuk pundaknya,
siang itu akupun meninggalkannya,
beretolak dari Malang ke Situbondo untuk kontribusi selanjutnya,
maafkan aku kak...
ada cinta dan penyesalan dalam ucapannya,
ada keimanan dalam pandangan matanya,
ada ukhuwah yang dalam pada dirinya,
siang di ibukota,
mengurai ukhuwah yang bersemai indah,
kuposting kini, 24 April 2012, 13.54 WIB
mokhamad kusnan
Senin, 16 April 2012
tetes air mata di bandara Abdul Rahman Saleh
namanya bu Sri,
sososk wanita paruh baya,
lebih enak dipanggil nenek Sri mungkin,
beliau salah satu penumpang pesawat yg membawaku ke Abdul Rahman Saleh Malang,
Malang kawan,
sebuah kota di pelosok jawa,
cukup maju untuk ukuran kota di daerah,
terlebih dilengkapi bandar udara yg sedang berbenah menuju Bandara internasional,
entahlah kawan,
Abdul Rahman Saleh menyiompan banyak energi,
namun juga mengungkap sejumlah elogi,
dan bu Sri,hanya salah satu yang kutemui,
sebuah gundah hati darinya
percakapan berawal ketika aku menanyakan perihal kota Malang,
haha... malang bagiku kawan,
aku baru pertama kalinya ke Malang dengan pesawat,
bukan gaya kawan, tapi karena keterbatasan waktu,
hanya pesawat yg bisa membawaku tak lebih dari dua jam,
membawa jasadku dari hiruk pikuk Jakarta menuju damai sejuknya Malang.
Ibu Sri,
awal percakapan itu meluas,
awalnya beliau menanyakan perihal diriku,
perihal keluarga dan asalku,
hingga saat kuceritakan tentang ayahku,
butir-butir air mata mengalir di pipinya
"nenek kenapa nangis?"
demikian sang cucu kecil bertanya,
seorang gadis mungil yang belum juga SD menarik-narik jilbab bu Sri..
dan saat itu beliau memulai ceritanya,
bu Sri kawan,
sosok wanita tangguh,
sosok wanita sabar,
bu Sri kawan,
hanya satu dari sekian banyak wanita,
yang menjadi korban dari gerakan G30 S PKI,
beliau bersuami seorang anak dari pemberontak PKI,
dan bu Sri harus menelan pil pahit akibatnya,
dirinya dan suaminya tak pernah diterima bekerja di Jawa,
dan saat kedua anak kecilnya terlahir ke dunia,
sang suami merantau ke Kalimantan,
mencoba mengais rezeki untuk menghidupi kedua anak kecilnya,
namun inilah rencana Allah kawan,
alih-alih mencari pekerjaan, suami bu Sri terpikat wanita di Kalimantan,
ujungnya tak pernah kembali ke tanah jawa,
berkeluarga dan menetap di Kalimantan,
dan cerita perjuangan bu Sri dimulai,
pekerjaan demi pekerjaan dilakukan,
namun nihil, predikat istri dari seorang anak PKI masih melekat,
tak satupun lembaga yang mau menerimanya bekerja,
dua anak kecil menjadi penyemangatnya, bu Sri tak patah semangat,
apapaun pekerjaan halal dilakukan,
dua anak kecil itu terus menjadi alasan tak boleh menyerah
dan usaha bu Sri yang gigihpun memperoleh hasil,
kerja demi kerja membuahkan hasil,
kedua anaknya bisa tumbuh besar,
kesetiaan pada suaminya tetap dijaga,
kepercayaan bahwa suatu saat suaminya akan pulang terus dijaga,
bahkan bu Sri menolak dengan keras saat diminta untuk menikah lagi oleh orang tuanya,
"suamiku lagi mencari pekerjaan, suatu saat akan pulang"
demikian jawaban tegarnya.
bahkan kawan,
saat datang berita tentang suaminya yang sudah berkeluarga lagi di Kalimantan,
bu Sri masih tak percaya, hingga akhirnya bu Sri mengetahui kebenarannya,
namun demikianlah ketegaran bu Sri,
beliau tetap menjadi wanita tangguh,
beliau tetap menjadi wanita hebat.
kedua putranya bisa tumbuh besar,
bahkan semuanya menamatkan pendidikan sarjana,
hingga kini bu Sri memiliki dua cucu kecil
dengan penuh perasaan bu Sri berkisah,
butir-demi butir air mata mengalir di pipinya,
sesenggukan menambah pilu cerita hidupnya,
sang cucu masih terus menarik-narik kerudung titipnya.
lebih dari setengah jam beliau bercerita,
padaku, pada cucunya yang mungkin masih belum tau,
pada dunia, pada realita yang selama ini "emoh" mendengarnya,
beliau menatapku,
seperti tatapan cinta ibu pada anaknya,
dengan penuh ketulusan beliau berucap pelan "ibu masih mencintai suami ibu.."
dan All menguji cintanya,
belum lama ini sang Suami kembali ke Jawa,
dalam keadaan sakit yang komplikasi,
dalam keadaan renta yang penuh lemah,
dan menyatakan ingin kembali kepada bu Sri,
saat mneceritakan tentang ini,
tangisan beliau kian keras,
air mata kian kencang mengalir,
Allah punya rencana lain,
keluarga bu Sri mengusir,
anak-anak bu Sri mendendam,
alhasil sang suami tak berdaya kembali ke Kalimantan,
saat bu Sri menangis lebih keras,
beliau perlahan bilang
"saya sangat mengkhawatirkan nak...
mengkhawatirkan suami saya karena dia menderita komplikasi,
sedang harus ke Kalimantan sendiri"
saya mengkhawatirkan keadaannya,
dan demikianlah ketulusan cinta,
cinta seorang bu Sri,
cinta pada suaminya,
bahkan tak ada kebencian meski telah didzalimi,
setengah jam lebih beliau bercerita,
dan mengakhiri ceritanya dengan bhanyak pesan padaku,
untuk jangan menyiakan cianta,
dari siapapun,
apalagi ketulusan pasangannya,
bu Sri kawan,
beliau menutup ceritanya,
dan mengusap aliran air mata,
saat sang menantunya datang menjemputnya,
di bandara itu, Abdul Rahman Saleh, Malang
sore kami berpisah,
tets air mata itu mengiringi kisah,
tetes air mata di bandara Abdul Rahman Saleh
17.15 WIB, 15 April 2012
Mokhamad Kusnan
Selasa, 27 Maret 2012
aku mencintainya....
aku mencintainya...
demikian ucapannya,
singkat,
namun demikianlah kesaktian kata itu,
namanya Fransiscus Haryono,
seorang katolik taat,
namun malam itu dia kembali kepada kebenaran, kembali Islam,
kisahnya cukup rumit,
haryono kecil lahir kembar,
di rumah sakit Elishabet, Metro, lampung.
beliau lahir tahun 60an,
lahir dari keluarga muslim miskin,
dan kemudian setelah kelahirannya,
sang bayi kembar terpisah,
sang ibu wafat,
dan sang ayah sangat sedih kehilangan,
tak lagi mengurus bayi,
dan kedua bayi dibawa dua ibu yang berbeda,
"kembaranku katanya dibawa seorang muslim taat,
aku dibawa keluarga katolik,
hingga dewasa bahkan sampai mandiri"
hingga suatu saat,
ayah katolikku menjelang wafat, memberikan sebuah wasiat,
bahwa aku ternyata bayi yang dipungut,
kembaran dari keluarga muslim miskin,
di surat wasiat itu diceritakan tentangku,
tentang rumashsakit kelahiranku,
tentang keluargaku,
dan kampungku,
malam kemarin,
saat aku sedang mengisi liqo,
dan mengajak binaanku shalat bejamaah di sebuah masjid,
di belakang komplek kalibata indah,
aku menjumpai beliau,
dan beliau mnceritakan semuanya,
"sejak ayah katolikku memberikan wasiat itu,
keluarga kami dalam kebimbangan,
istriku mendapatkan hidayah terlebih dahulu,
dan juga kedua anak pertamaku,
tinggal aku dan ketiga anak kecilku,
dalam proses meyakinkan diri sebelum masuk islam,"
demikian ceritanya,
"istriku,
dialah sang pembuka pintu hidayah,
hampir setiap saat selalu mengajakku diskusi,
tentang kebenaran Islam dan kemuliaannya,
tentang kebenaran bahwa sejatinya sejak dalam kandungan kita semua adalah Islam,
orang tua kita saja yang menjadikan kita tidak islam,
bahkan, pernah suatu saat kami harus berpisah rumah,
hanya karena egoku tak menerima perpindahan agamanya,
namun istriku bersikukuh tetap dengan Islam,
dan mantap dengan keislamannya,
sejak pertama masuk islam istriku langsung mengenakan pakaian penutup kepala,
dan dengan penuh perhatian mengajakku nkepada Islam,
pekerjaan yang sangat menyita waktu tak kunjung membuka hatiku,
aku sangat jarang bertemu dengannya"
"aku mencintainya,,,"
demikian ucap istriku,
saat dia tetap tinggal bersamaku meski aku belum juga ikut masuk islam,
awalnya keluarganya menyarankan untuk meninggalkanku,
atau meminta cerai dariku,
namun istriku penuh kesabaran membimbingku,
sejak masuk islamnya dia,
dia tak pernah mengurangi perhatian dan sayangnya padaku,
perlahan dia tuntukkan bukti kasih sayangnya,
dan selalu memberikan bukti bahwa islam itu lebih penuh kasih,
penuh cinta dan sayang, penuh perhatian,
aku mencintainya,
sebuah kisah kembalinya seorang pada Islam,
tentang cinta seorang istri pada suaminya,
tak hanya cinta semu,
namun cinta yang sudah menjalar dalam keimanan,
dan cinta itulah yang menyatukan kembali,
sang suami ikhlas dan yakin dengan kebenaran islam,
kembali pada islam,
aku mencintainya...
jelang magrib,
mendung di ibukota,
18.08 WIB 27 MARET 2012
Mokhamad Kusnan
Senin, 05 Maret 2012
dia membuatku jatuh cinta,
siang itu aku sedikit terburu,
setelah diskusi dengan beberapa adik kelasku,
amanah sebagai pengurus OSIS seolah menyita waktu,
siang itu,
seusai pulang sekolah itu,
sebelum kaki ini melangkah menuju tempat lain untuk belajar,
seusai shalat dzuhur di masjid setengah jadi itu,
siang itu,
dia sedang berbicara dengan beberapa anak teman-temanku,
dengan pakaian kemeja sederhananya,
dengan kesantunan ucapannya,
dia asyik dialog dengan teman-temanku.
"nan...ikutan kesini deh..
ikut liqo dulu yuk?"
demikian salah satu temanku yang ikut di lingkaran kajian itu memanggilku,
setelah beralasan,
dan karena permintaan temanku itu,
akhirnya aku menurutinya,
duduk di lingkaran itu,
"assalamualaikum..."
demikian yang diucapkannya,
tangannya menjulur padaku,
ingin bersalaman denganku,
"waalaikumsalam..."
demikian jawabku,
sambil memegang tangannya yang sudah lama menjulur,
diskusi dilanjutkan,
saat itu temanya cukup menarik,
pemuda dan peradaban,
dikutipnya kisah-kisah pemuda pencetak sejarah,
diungkapkannya bahwa perubahan dunia itu dilakukan oleh para pemuda,
"kak,
kenapa pengajian rohis harus begini?"
demikian tanyaku padanya,
pengajian berbentuk lingkaran itu cukup aneh bagiku,
meski aku merasakan sendiri manfaatnya,
lebih interaktif dan mengena,
dia menjawab dengan lugas,
dengan penjelasan yang logis,
yang mudah dicerna dan diterima otakku,
"terus kenapa kita harus liqo"
demikian tanyaku kemudian,
pengajian berbentuk lingkaran itu disebutnya berkali-kali dengan liqo.
berasal dari halaqoh, artinya lingkaran,
liqo sendiri artinya pertemuan,
"akh kusnan..."
demikian sapaannya padaku,
demikian juga saat dia menyapa teman-temanku,
gelar akh itu katanya penghormatan,
pernghormatan dan bukti kasih sayang,
bukan sekedar sapaan akrab,
tapi sapaan penuh perhatian,
artinya akh itu saudaraku...
"dari pengajian melingkar seperti ini kita dapat merubah dunia"
demikian tambahnya,
"seperti yang pertama kali Rasul lakukan,
saat menyampaikan risalah suci dari langit untuk penghuni bumi,
Rasul mulia kitapun melakukannya dengan bentuk melingkar,
dengan peserta terbatas, penuh persaudaraan dan kasih sayang,
perlahan demi perlahan rasul kita mengajarkan,
satu demi satu ayat,
dalam lingkaran penuh keberkahan seperti ini"
demikian lanjutnya.
"dan dari lingkaran itu,
muncullah pemuda-pemuda penuh keimanan,
pejuang awalan yang membela Rasul dan Islam,
da'i-da'i tangguh yang kompeten,
manusia-manusia jelmaan Qur'an,
yang tak lama kemudian merubah jazirah arab,
yang tadinya penuh kegelapan dan keterbelakangan,
penuh kedzaliman dan maksiat,
berganti menjadi tanah terang benderang,
dengan pemuda-pemuda itu sebagai pemimpin-pemimpin,
yang kemudian menyebar ke seantero dunia,
hingga dimasa kejayaannya menguasai dua pertiga dunia"
aku kian terbengong-bengong saja,
dengan pemaparannya,
hampir setengah jam aku diam saja,
dia menjelaskan dengan penuh semangat,
penuh kesantunan,
yang selalu diselingi dengan "akh kusnan.."
kalo dihitung puluhan kali di lingkaran itu aku disapa dengan panggilan "akh.." itu.
dia membuatku jatuh cinta,
ya...pertemuan siang itu membuatku jatuh cinta,
jatuh cinta pada ucapannya "dari sini kita bisa merubah dunia"
penyampaian santun dan lugas itu mencerdaskanku,
membuka pikiran dan hasratku,
menumbuhkan kebanggaan pada para pemuda Islam dulu,
menumbuhkan semangat untuk mencontohnya,
dia membuatku jatuh cinta,
jatuh cinta pada dakwah,
jatuh cinta pada jalan juang para pendahulu,
jatuh cinta pada jalan juang para Nabi,
pertemuan demi pertemuan aku sering diskusi dengannya,
saat yang lain sudah pulang, aku masih berlama-lama dengannya,
menanyakan tentang bagaimana para oemuda dulu menoreh sejarah,
tentang bagaimana kecerdasan Ali,
ketangguhan jenderal belia Usamah bin Zaid,
kehebatan pasukan Salahuddin,
kedasyatan perjuangan Al-Fatih, yang sampai mengangkat perahu melintasi gunung-gunung,
dia membuatku jatuh cinta,
itulah pertama kali aku menganal dan memahami jalan ini,
jalan yang kemudian menjadi visiku,
jalan yang kemudian kupilih menjadi jalanku,
hingga kejayaan itu akan berdiri kembali seizinNya,
atau Dia akan memanggilku sebagai mansuai yang dicintaNya,
dalam perjalanan perjuangan itu,
dia membuatku jatuh cinta,
jelang dzuhur di ibukota,
12:05 WIB 6 maret 2012
Mokhamad Kusnan
Jumat, 24 Februari 2012
seri heroik 2: karena cinta, kami bela Palestina
seri heroik anak smp 2:
tepat jam 11 aku sampai di sekolah itu,
dengan sedikit berlari menuju mushola,
beberapa anak-anak binaanku sudah lama menunggu
"kak kita berangkat sekarang?"
salah satu anak bertanya,
ada sekitar 6 anak kelas 7,
beberapa kelas 8,
"nanti, tunggu kelas 9 selesai ujian"
hari itu tanggal 1,
1 juni 2010,
semalam sebelumnya aku sms salah satu anak itu,
"assalamualaikum...
jika engkau cinta, palestina meminta
besok kita tunjukkan cinta pada pelstina,
aja jalan santai di HI,
pulang sekolah kumpul di mushola,
bawa ongkos secukupnya,
siapkan juga infaq yang banyak, ada penggalangan dana.
minum yang banyak, bakal terik disana"
lima belas menit kemudian kami sudah berkumpul,
di depan sekolah,
"baik sebelum berangkat kita berdoa,
semoga Allah mencatat sebagai amal kebaikan dan dapat membantu Palestina"
sekitar 12 anak,
mulai dari kelas 1 sampai 3 SMP,
masih belia,
dengan seragam putih brunya.
"kak, cepat pergi,
tadi guru ada yang lapor,
katanya anak ROHIS mau diajak demo ama kak Kusnan"
salah satu anak setengah teriak dengan raut ketakutan mengingatkan kami,
"yaudah...kalian di depan,
lari saja, belok sedikit ke kiri,
jadi guru gak lihat,
bawa bendera ini"
demikian ucapku pada anak-anak itu,
sekitar 5 anak putra berlari,
sementara yang putri berjalan cepat,
berbaur dengan ratusan anak-anak lain yang juga pulang sekolah,
aku masih menunggu satu anak,
terlihat dua guru setengah berlari mengejarku,
aku diam, menunggu, dan dengan segala kesiapan akan menjelaskan,
pokoknya aksi harus jadi,
anak-anak harus terlibat,
percuma aku membina mereka,
kalo turun ke jalan saja mereka gamau diajak.
"kusnan katanya kamu ajak anak ROHIS demo?"
salah satu guru dengan lantang menanyaiku
"demo? demo apaan bu?. ah enggak kok bu"
jawabku.
"nah, tadi rohis ngumpul?
katanya mau diajak kamu demo?"
tambahnya
"owalah, mau silaturahim bu, dengan kakak-kakak yang pernah kesini,
sekaligus mengekpresikan persaudaraan bu, bukti cinta"
sang ibu guru raut mukanya berubah,
dari yang tadinya ingin marah menjadi sedikit lunak
"ah kamu bisa aja.
pokoknya ibu gamau anak-anak kamu ajak demo. titik"
demikian perintahnya,
"baik bu, kalo menunjukkan bukti cinta pada saudaranya boleh kan bu?
silaturahim dengan kakak-kakak yang pernah kesini boleh kan bu?"
12.10
kami sampai di bundaran HI,
sementara bundaran Hi dipenuhi ratusan mahaiswa yang khusuk mendirikan shalat,
anak-anak yang kuajakpun segera mengambil air wudhu di air mancur itu,
dan shalat setelah usai mahasiswa-mahaiswa itu,
13 anak belia,
diantara ratusan mahasiswi dan mahasiswa,
menembus panas jakarta,
menerjang debu metropolitan,
meneriakkan lantang
"Palestina..Palestina..Palestina..Merdeka"
"Allohuakbar...Allohuakbar...Allohuakbar..."
perjalanan dari HI menuju istana negara,
didepan istana para pemimpin kabilah orasi,
dan tak kalah,
anak SMP itupun ikut orasi,
pelajar kelas 7 SMP,
dengan seragam putih birunya,
berdiri diatas mobil pick-up,
mneriakan takbis dan palestina,
diantara ratusan mahasiswa dan mahasiswi di bawahnya,
yang menyambut dengan lantang teriakkan talkbir dan merdeka...
==
sehari berikutnya,
aku diintrograsi,
orang tua murid menyaksikan anaknya sedang orasi di tivi,
dengan ratusan mahaiswa dan mahasiswi,
dia melaporkan ke pihak sekolah,
dan aku....menanggung semua resikonya hari itu.
==
sepekan berikutnya,
suasana di kelas kian heroik,
anak-anak yang waktu aksi Palestina sedikit sedih,
video dan slide show photo kuputar,
13 anak yang turut serta takbir sekerasnya,
berkali-kali,
palestina..Palestina..palestina...MERDEKA...
demikian teriakkan mereka, di kelas...
anak-anak yang ikut ROHIS makin banyak,
sang ibu yang melaporkan anaknya yang sempat masuk tivi sekarang mendukung kami,
pihak sekolah makin percaya, meski masih ada beberapa guru yang tak suka,
dan kami makin cinta, dan makin berani membuktikan rasa cinta, cinta saudara, cinta Palestina,
karena cinta, kami bela Palestina...
serial heroik pejuang dakwah belia,
malam syahdu di ibukota,
diiringi merdu "Pandu Keadilan"
...wahai dikau prajurit dakwah,
semangat tak kenal lelah,
jangan pernah berkata tidak,
bila panggilan jihad tiba...
karena cinta, kami bela Palestina,
bersama tentara Allah kita pasti menang,
kubagi untuk semua,
21:21 WIB
24 februari 2012
Mokhamad Kusnan
tepat jam 11 aku sampai di sekolah itu,
dengan sedikit berlari menuju mushola,
beberapa anak-anak binaanku sudah lama menunggu
"kak kita berangkat sekarang?"
salah satu anak bertanya,
ada sekitar 6 anak kelas 7,
beberapa kelas 8,
"nanti, tunggu kelas 9 selesai ujian"
hari itu tanggal 1,
1 juni 2010,
semalam sebelumnya aku sms salah satu anak itu,
"assalamualaikum...
jika engkau cinta, palestina meminta
besok kita tunjukkan cinta pada pelstina,
aja jalan santai di HI,
pulang sekolah kumpul di mushola,
bawa ongkos secukupnya,
siapkan juga infaq yang banyak, ada penggalangan dana.
minum yang banyak, bakal terik disana"
lima belas menit kemudian kami sudah berkumpul,
di depan sekolah,
"baik sebelum berangkat kita berdoa,
semoga Allah mencatat sebagai amal kebaikan dan dapat membantu Palestina"
sekitar 12 anak,
mulai dari kelas 1 sampai 3 SMP,
masih belia,
dengan seragam putih brunya.
"kak, cepat pergi,
tadi guru ada yang lapor,
katanya anak ROHIS mau diajak demo ama kak Kusnan"
salah satu anak setengah teriak dengan raut ketakutan mengingatkan kami,
"yaudah...kalian di depan,
lari saja, belok sedikit ke kiri,
jadi guru gak lihat,
bawa bendera ini"
demikian ucapku pada anak-anak itu,
sekitar 5 anak putra berlari,
sementara yang putri berjalan cepat,
berbaur dengan ratusan anak-anak lain yang juga pulang sekolah,
aku masih menunggu satu anak,
terlihat dua guru setengah berlari mengejarku,
aku diam, menunggu, dan dengan segala kesiapan akan menjelaskan,
pokoknya aksi harus jadi,
anak-anak harus terlibat,
percuma aku membina mereka,
kalo turun ke jalan saja mereka gamau diajak.
"kusnan katanya kamu ajak anak ROHIS demo?"
salah satu guru dengan lantang menanyaiku
"demo? demo apaan bu?. ah enggak kok bu"
jawabku.
"nah, tadi rohis ngumpul?
katanya mau diajak kamu demo?"
tambahnya
"owalah, mau silaturahim bu, dengan kakak-kakak yang pernah kesini,
sekaligus mengekpresikan persaudaraan bu, bukti cinta"
sang ibu guru raut mukanya berubah,
dari yang tadinya ingin marah menjadi sedikit lunak
"ah kamu bisa aja.
pokoknya ibu gamau anak-anak kamu ajak demo. titik"
demikian perintahnya,
"baik bu, kalo menunjukkan bukti cinta pada saudaranya boleh kan bu?
silaturahim dengan kakak-kakak yang pernah kesini boleh kan bu?"
12.10
kami sampai di bundaran HI,
sementara bundaran Hi dipenuhi ratusan mahaiswa yang khusuk mendirikan shalat,
anak-anak yang kuajakpun segera mengambil air wudhu di air mancur itu,
dan shalat setelah usai mahasiswa-mahaiswa itu,
13 anak belia,
diantara ratusan mahasiswi dan mahasiswa,
menembus panas jakarta,
menerjang debu metropolitan,
meneriakkan lantang
"Palestina..Palestina..Palestina..Merdeka"
"Allohuakbar...Allohuakbar...Allohuakbar..."
perjalanan dari HI menuju istana negara,
didepan istana para pemimpin kabilah orasi,
dan tak kalah,
anak SMP itupun ikut orasi,
pelajar kelas 7 SMP,
dengan seragam putih birunya,
berdiri diatas mobil pick-up,
mneriakan takbis dan palestina,
diantara ratusan mahasiswa dan mahasiswi di bawahnya,
yang menyambut dengan lantang teriakkan talkbir dan merdeka...
==
sehari berikutnya,
aku diintrograsi,
orang tua murid menyaksikan anaknya sedang orasi di tivi,
dengan ratusan mahaiswa dan mahasiswi,
dia melaporkan ke pihak sekolah,
dan aku....menanggung semua resikonya hari itu.
==
sepekan berikutnya,
suasana di kelas kian heroik,
anak-anak yang waktu aksi Palestina sedikit sedih,
video dan slide show photo kuputar,
13 anak yang turut serta takbir sekerasnya,
berkali-kali,
palestina..Palestina..palestina...MERDEKA...
demikian teriakkan mereka, di kelas...
anak-anak yang ikut ROHIS makin banyak,
sang ibu yang melaporkan anaknya yang sempat masuk tivi sekarang mendukung kami,
pihak sekolah makin percaya, meski masih ada beberapa guru yang tak suka,
dan kami makin cinta, dan makin berani membuktikan rasa cinta, cinta saudara, cinta Palestina,
karena cinta, kami bela Palestina...
serial heroik pejuang dakwah belia,
malam syahdu di ibukota,
diiringi merdu "Pandu Keadilan"
...wahai dikau prajurit dakwah,
semangat tak kenal lelah,
jangan pernah berkata tidak,
bila panggilan jihad tiba...
karena cinta, kami bela Palestina,
bersama tentara Allah kita pasti menang,
kubagi untuk semua,
21:21 WIB
24 februari 2012
Mokhamad Kusnan
Rabu, 22 Februari 2012
malu deh ama Amar...
seri subuh#2
subuh ini kawan,
sekali lagi subuh,
di waktu subuh memang banyak spirit, banyak inspirasi,
Amar kawan,
yang pernah saya ceritakan di catatan yang lama saya di FB,
Amar,
dia pemuda pasar yang rajin ke masjid,
pemuda lugu pecinta ilmu penjual roti bakar,
iya...penjual roti bakar...
subuh ini di masjid dekat sekretariat YOUTHCARE,
malam tadi aku menginap di YOUTHCARE,
beberapa urusan membuatku terjaga sampai larut malam,
jadi memutuskan menginap di kantor sederhana YOUTHCARE.
Subuh kawan,
orang tuaku berpesan,
yang sekaligus peringatan,
"pokoknya kalo kamu ndak tidur dirumah harus jamaah ke masjid,
kalo gak subuh jamaah di masjid harus tidur dirumah"
demikian peringatan ortuku,
karena beberapa hari ini memang aku jarang tidur dirumah,
pesannya satu...HARUS SUBUH JAMAAH DI MASJID.
ortuku memang hebat,
meski awwam tapi pembelajar,
dan sangat sering mengingatkanku..alhamdulillah.
kembali ke Amar,
subuh tadi,
seperti biasa dia selalu hadir di masjid,
masjid dekat sekretariat YOUTHCARE.
Amar penjual roti bakar,
dia jualan dari jam 12 malam sampai jam 6 pagi,
melayani ratusan pedagang dan ribuan pembeli pasar minggu,
amar yang ulet,
dan amar yang soleh,
dengan baju lusuhnya dia langsung dengan langkah cekatan ke masjid seketika mendengar adzan,
"saya titip di pedagang lain" demikian ucapnya saat kutanya gerobak roti bakarnya dimana.
sesampai di masjid dia agak lama di kamar mandi,
mengganti baju lusuhnya dengan baju koko sederhana, tapi bersih,
kemudian sudah rapi dan melaksanakan dua rakaat qobliyah.
selesai subuh dia masuk kamar mandi lagi,
kembali dengan baju lusuhnya dan berjualan lagi...roti bakar.
Amar kawan,
dia hanya penjual roti bakar,
lulusan SD dan pemuda lugu sederhana,
tapi pecinta ibadah,
pernah suatu saat kutanya,
"Amar...pingin tau nih yang bikin Amar rajin sholat apa?"
dan kawan,
jawabannya simpel,
sederhana,
tapi dalem,
"pingin masuk surga mas.."
pernah juga kutanya,
tentang semangatnya berjamaah,
terutama berjamaah subuh di masjid,
dan yang mantab,
si Amar gapernah ketinggalan dua rakaat fajar-nya,
"saya pernah dengar mas,
saat ikut pengajian,
ada hadist yang berbunyi,
barangsiapa yang mendirikan 2 rakaat sebelum subuh,
maka pahalanya sama dengan dunia dan seisinya"
"dan saya gamau rugi mas,
hanya beberapa menit terlewat,
sedangkan pahalanya berlipat dan luar biasa"
demikian jawabnya lugu.
ah Amar,
dia memang hebat,
manusia lugu sederhana yang hebat,
dia tau harga surga,
dia bisa melihat akhirat lebih dasyat,
dia tau dunia tak seberapa,
"yang hanya dapat 100ribu saja ribuan orang berbondong-bondong gak tidur dan jualan di pasar,
masa yang dapat dunia dan seisinya hanya dengan dua rakaat sebelum subuh gak mau diperjuangkan?"
malu deh ama Amar,
malu yang pendidikannya lulus SMP,
malu yang lulus SMA,
apalagi yang sarjana,
tapi masih sering meninggalkan subuh jamaah di masjid
amar hanya lulusan SD kawan...
malu deh ama Amar,
pekerjaannya tukang jualan roti bakar,
penghasilannya tak lebih dari 50 ribu sehari,
dan paling hanya bisa nyimpen 10-15 ribu sehari,
bahkan tak jarang harus pinjem uang untuk menutup kebutuhan,
atau menahan lapar gak makan,
makan saja harganya yang 5ribuan seporsi,
tapi dia inspirasi untuk subuh berjamaah..
dia pecinta surga dan mau membayar harga untuknya
malu deh ama Amar...
pagi yang dingin di jendela sekretariat YOUTHCARE,
sambil melihat pedagang lalu lalang,
dan disuguhi lantunan Musyari Rasyid,
untuk menginspirasin kita,
06.06 WIB
23 Februari 2012
Mokhamad Kusnan
subuh ini kawan,
sekali lagi subuh,
di waktu subuh memang banyak spirit, banyak inspirasi,
Amar kawan,
yang pernah saya ceritakan di catatan yang lama saya di FB,
Amar,
dia pemuda pasar yang rajin ke masjid,
pemuda lugu pecinta ilmu penjual roti bakar,
iya...penjual roti bakar...
subuh ini di masjid dekat sekretariat YOUTHCARE,
malam tadi aku menginap di YOUTHCARE,
beberapa urusan membuatku terjaga sampai larut malam,
jadi memutuskan menginap di kantor sederhana YOUTHCARE.
Subuh kawan,
orang tuaku berpesan,
yang sekaligus peringatan,
"pokoknya kalo kamu ndak tidur dirumah harus jamaah ke masjid,
kalo gak subuh jamaah di masjid harus tidur dirumah"
demikian peringatan ortuku,
karena beberapa hari ini memang aku jarang tidur dirumah,
pesannya satu...HARUS SUBUH JAMAAH DI MASJID.
ortuku memang hebat,
meski awwam tapi pembelajar,
dan sangat sering mengingatkanku..alhamdulillah.
kembali ke Amar,
subuh tadi,
seperti biasa dia selalu hadir di masjid,
masjid dekat sekretariat YOUTHCARE.
Amar penjual roti bakar,
dia jualan dari jam 12 malam sampai jam 6 pagi,
melayani ratusan pedagang dan ribuan pembeli pasar minggu,
amar yang ulet,
dan amar yang soleh,
dengan baju lusuhnya dia langsung dengan langkah cekatan ke masjid seketika mendengar adzan,
"saya titip di pedagang lain" demikian ucapnya saat kutanya gerobak roti bakarnya dimana.
sesampai di masjid dia agak lama di kamar mandi,
mengganti baju lusuhnya dengan baju koko sederhana, tapi bersih,
kemudian sudah rapi dan melaksanakan dua rakaat qobliyah.
selesai subuh dia masuk kamar mandi lagi,
kembali dengan baju lusuhnya dan berjualan lagi...roti bakar.
Amar kawan,
dia hanya penjual roti bakar,
lulusan SD dan pemuda lugu sederhana,
tapi pecinta ibadah,
pernah suatu saat kutanya,
"Amar...pingin tau nih yang bikin Amar rajin sholat apa?"
dan kawan,
jawabannya simpel,
sederhana,
tapi dalem,
"pingin masuk surga mas.."
pernah juga kutanya,
tentang semangatnya berjamaah,
terutama berjamaah subuh di masjid,
dan yang mantab,
si Amar gapernah ketinggalan dua rakaat fajar-nya,
"saya pernah dengar mas,
saat ikut pengajian,
ada hadist yang berbunyi,
barangsiapa yang mendirikan 2 rakaat sebelum subuh,
maka pahalanya sama dengan dunia dan seisinya"
"dan saya gamau rugi mas,
hanya beberapa menit terlewat,
sedangkan pahalanya berlipat dan luar biasa"
demikian jawabnya lugu.
ah Amar,
dia memang hebat,
manusia lugu sederhana yang hebat,
dia tau harga surga,
dia bisa melihat akhirat lebih dasyat,
dia tau dunia tak seberapa,
"yang hanya dapat 100ribu saja ribuan orang berbondong-bondong gak tidur dan jualan di pasar,
masa yang dapat dunia dan seisinya hanya dengan dua rakaat sebelum subuh gak mau diperjuangkan?"
malu deh ama Amar,
malu yang pendidikannya lulus SMP,
malu yang lulus SMA,
apalagi yang sarjana,
tapi masih sering meninggalkan subuh jamaah di masjid
amar hanya lulusan SD kawan...
malu deh ama Amar,
pekerjaannya tukang jualan roti bakar,
penghasilannya tak lebih dari 50 ribu sehari,
dan paling hanya bisa nyimpen 10-15 ribu sehari,
bahkan tak jarang harus pinjem uang untuk menutup kebutuhan,
atau menahan lapar gak makan,
makan saja harganya yang 5ribuan seporsi,
tapi dia inspirasi untuk subuh berjamaah..
dia pecinta surga dan mau membayar harga untuknya
malu deh ama Amar...
pagi yang dingin di jendela sekretariat YOUTHCARE,
sambil melihat pedagang lalu lalang,
dan disuguhi lantunan Musyari Rasyid,
untuk menginspirasin kita,
06.06 WIB
23 Februari 2012
Mokhamad Kusnan
Rabu, 21 Desember 2011
ibuku tetap ibu nomor satu sedunia....
semalam,
sudah larut malam,
saat aku asyik sms dengan salah satu muridku,
tentang agenda rafting,
arung jeram yang hebat itu,
aku sempatkan diri untuk sms ke orang tua,
bahwa aku belum bisa pulang kerumah,
selain kesibukan mengurus bisnis,
juga masih ada cinta,
cinta yang masih banyak menuntut,
dialah VISIku, YOUTHCARE,
ah, dialah cintaku....
aku masih mencintai sekretariat YOUTHCARE sebagai rumah keduaku,
bahkan, pernah ortuku cemburu,
dengan YOUTHCARE,
hingga keluar ucapan bijaksananya,
"memang lebih baik cintamu untuk YOUTHCARE,
ummat lebih membutuhkanmu"
ah semalam,
aku terkejut bukan main,
dengan sms beliau,
menjawab sms permintaan maafku,
jawabnya singkat,
padat,
tapi penuh cinta,
"ok tak apa.
take ya sayang,
jaga kesehatanmu"
ah romantis banget,
dialah wanita ketiga dengan cinta besarnya untukku,
entah belas kasihan atau apa,
yang jelas dia mencintaiku,
jadi teringat bunda kandungku,
wanita penuh cinta yang perkasa,
wanita paling hebat,
ibu nomor satu sedunia,
suatu hari,
saat itu usiaku masih teramat kecil,
masih memakai seragam putih merah,
masih suka menangis,
masih minta diantar ke sekolah,
ah...bahkan masih minta ditunggu di sekolah,
masih makan disuapi,
masih sering minta digendong,
ah....masih penuh kemanjaan.
saat itu aku sedang bermain,
tak lama pulang,
untuk sekedar menghilangkan rasa haus di tenggorokan,
menuju rumah sederhana di pelosok desa itu,
setelah usai memuaskan tenggorokan,
mataku tertuju pada uang 100 rupiah yang ada di meja,
diantara uang ribuan yang lain,
lalu aku ambil saja uang itu,
100 rupiah itu,
dan kubelikan permen.
sore,
saat aku baru pulang,
ibuku tanya,
tentang uangnya yang ada di meja,
dan menanyakan,
karena kata beliau kurang 100 rupiah,
lalu kukatakan saja aku yang mengambilnya, tanpa perasaan bersalah,
saat itu,
ibuku langsung marah buikan kepalang,
telingaku di jewernya,
bahkan,
dalam tangisku,
beliau memintaku meletakkan tangan diatas meja,
dan dengan gagang sapu beliau memukul tanganku,
hingga ada patah, membekas hingga kini,
yang kutangkap saat itu,
cinta ibuku seolah hilang,
padahal sebelumnya dia yang paling menyayangiku,
kemanapun aku digendongnya,
hanya karena uang 100 rupiah miliknya yang kuambil,
dia tega memukul jemariku hingga patah,
dan sejak saat itu,
aku selalu menjaga agar tidak manja kepada beliau,
dan mengurangi rasa sayangku,
dialah ibuku,
dia pergi saat aku masih belia,
dia pergi setelah ebebrapa bulan melahirkan adikku,
dia pergi...untuk selamanya.
hingga aku beranjak besar,
setelah ibu paling hebat sedunia itu tiada,
pesan itu baru kumengerti,
ibuku mengajarkan,
agar tidak mengambil yang bbukan haknya,
dan bukan 100 rupiah,
bukan besar kecilnya nilai,
tapi pelanggaran,
seolah dialah ibuku,
ibu paling anti korupsi,
bahkan hanya uang 100 rupiah..
episode wanita penuh cinta,
yang kadang merealisasikan bukti cinta dengan ketegasan,
tapi itulah cinta,
dan dialah ibuku,
ibuku tetap ibu nomor satu sedunia....
ibu,
maafkan anakmu yang bodoh,
maafkan anakmu yang kurang bersyukur memilikimu,
maafkan anakmu yang belum tulus mencintaimu,
semoga aku bisa menjadi amal jariyah terbaik untukmu,
agar kelak kau bisa bahagia di surga,
ibuku tetap nomor satu sedunia,
kini sudah 19 tahun kepergiannya,
namun masih terasa cintanya,
dan akan terus keukenang pelajaran itu,
bukti cinta itu,
ibuku tetap ibu nomor satu sedunia,
mari nyatakan cinta pada wanita itu,
wanita sahaja yang telah melahirkan kita,
wanita rapuh yang rela mempertaruhkan nyawa,
wanita hebat luar biasa,
yang melahirkan kita,
yang juga akan menjadi manusia hebat,
menjadi amal jariyah baginya,
ibuku tetap ibu nomor satu sedunia....
pagi cerah di ibukota,
kamis, 22 desember 2011,
bertepatan dengan hari ibu,
Mokhamad Kusnan
share for all
Senin, 19 Desember 2011
percayalah, aku masih mencintaimu.....
setelah beberapa hari tidak kerumah,
seperti yang aku ceritakan,
aku pulang hanya untuk menukar baju,
baju kotor dengan yang bersih,
benar seperti katanya,
rumah sudah seperti tempat laundri aja,
hanay untuk menukar baju,
tapi malam ini aku tergerak untuk pulang,
ingin menyapanya,
ingin merebahkan tubuhku,
ingin sejenak istirahat,
meski diluar sana banyak pekerjaan,
pekerjaan dunia dan akhirat,
entahlah,
bisnis dan organisasi yang kubangun,
menuntut semua dariku,
dan malam ini,
aku terpukul,
saat langkah kecilku sampai di depan rumah,
tak seperti biasanya, gerbang tak dikunci,
suara ramai dari dalam terdengar,
sandal banyak terhampar di depan pintu,
lampu hampir semua menyala,
hanya kamarku yang ada diatas, masih gelap.
ruhaku bertabur cinta,
wanita yang paling aku kagumi,
wanita penuh cinta itu sedang milad,
hari kelahirannya yang ke 70...,
sejenak aku terdiam saat beliau menatapku,
matanya berkaca,
akupun demikian,
terdiam tanpa kata,
hingga perlahan kudekatkan diri,
penuh hormat kuraih tangannya,
kucium penuh,
dalam dekapannya,
aku ucapkan doa untuknya,
dialah wanita penuh cinta,
yang sering khawtair saat aku tak pulang,
pernah aku beberapa hari tak pulang,
akupun lupa memberitahunya,
dan beliau tak sempat membeli pulsa,
dan saat aku pulang beliau menangis,
katanya bersyukur dalam keaadaan sehat saat aku pulang,
hemmm...beliau sempat sedih,
karena tidak bisa mengabari,
saat malam miladnya ini,
beberapa kali mencoba menghubungiku,
tapi tak bisa,
untuk sekedar sms,
maaf beliau juga tak bisa.
tapi alhamdulillah,
di malam miladnya ini,
beliau masih menunggu cintaku,
beliau berpuasa sunnah,
dan sengaja tidak makan malam,
sampai menungguku pulang,
dan semalam aku pulang nyaris jam 10 malam,
saat kutanya ingin kado apa,
perlahan dengan lembut beliau berucap,
"buatkan mie, seperti yang sering kusnan buat,
itupun kalau kusnan tidak lelah"
hanya itu,
sesederhana itu,
sesingkat itu,
namun kutangkap,
beliau merindukan cintaku,
merindukan aku disampingnya,
memberikan bakti terbaiknya,
disisa usianya,
pernah aku meminta maaf,
jika selama beberapa hari tidak pulang,
untuk mengurus bisnis dan youthcare,
dengan santun dan bijak beliau berucap,
"YOUTHCARE lebih membutuhkanmu,
YOUTHCARE lebih membutuhkan cintamu,
tak apa tidak dirumah"
demikian,
singkat,
tapi aku selalu saja menangkap,
beliau merindukanku,
merindukan bersama menikmati sajian malam,
diskusi bisnis atau sekedar bercanda,
merindukan berjamaah dirumah,
merindukan lantunan rakaat panjangku,
merindukan masakan karyaku,
atau....
merindukan kecupan di rambutnya,
seperti yang sering kulakukan saat aku ingin pergi,
sedang beliau sedang sibuk menelpon kawannya,
bukan cintaku pada kalian berkurang,
tapi ummat lebih membutuhkanku diluar.
bukan berapa lama waktuku bersama kalian,
tapi berapa berbaktiku selama bersama kalian.
percayalah, aku mencintai kalian......
dan terlebih,
percayalah, aku masih mencintaimu,
episode cinta kepada orang tua, meski mereka bukan orang tua kandungku,
Alhamdulillah beliau kini memahami,
sang anak sedang dituntut besar diluar,
tanggungjawab besar peradaban,
hemmm.....YOUTHCARE
mengingat episode cinta wanita terhebat ketiga didunia,
jelang tengah malam,
15 12 2011
mokhamad kusnan
seperti yang aku ceritakan,
aku pulang hanya untuk menukar baju,
baju kotor dengan yang bersih,
benar seperti katanya,
rumah sudah seperti tempat laundri aja,
hanay untuk menukar baju,
tapi malam ini aku tergerak untuk pulang,
ingin menyapanya,
ingin merebahkan tubuhku,
ingin sejenak istirahat,
meski diluar sana banyak pekerjaan,
pekerjaan dunia dan akhirat,
entahlah,
bisnis dan organisasi yang kubangun,
menuntut semua dariku,
dan malam ini,
aku terpukul,
saat langkah kecilku sampai di depan rumah,
tak seperti biasanya, gerbang tak dikunci,
suara ramai dari dalam terdengar,
sandal banyak terhampar di depan pintu,
lampu hampir semua menyala,
hanya kamarku yang ada diatas, masih gelap.
ruhaku bertabur cinta,
wanita yang paling aku kagumi,
wanita penuh cinta itu sedang milad,
hari kelahirannya yang ke 70...,
sejenak aku terdiam saat beliau menatapku,
matanya berkaca,
akupun demikian,
terdiam tanpa kata,
hingga perlahan kudekatkan diri,
penuh hormat kuraih tangannya,
kucium penuh,
dalam dekapannya,
aku ucapkan doa untuknya,
dialah wanita penuh cinta,
yang sering khawtair saat aku tak pulang,
pernah aku beberapa hari tak pulang,
akupun lupa memberitahunya,
dan beliau tak sempat membeli pulsa,
dan saat aku pulang beliau menangis,
katanya bersyukur dalam keaadaan sehat saat aku pulang,
hemmm...beliau sempat sedih,
karena tidak bisa mengabari,
saat malam miladnya ini,
beberapa kali mencoba menghubungiku,
tapi tak bisa,
untuk sekedar sms,
maaf beliau juga tak bisa.
tapi alhamdulillah,
di malam miladnya ini,
beliau masih menunggu cintaku,
beliau berpuasa sunnah,
dan sengaja tidak makan malam,
sampai menungguku pulang,
dan semalam aku pulang nyaris jam 10 malam,
saat kutanya ingin kado apa,
perlahan dengan lembut beliau berucap,
"buatkan mie, seperti yang sering kusnan buat,
itupun kalau kusnan tidak lelah"
hanya itu,
sesederhana itu,
sesingkat itu,
namun kutangkap,
beliau merindukan cintaku,
merindukan aku disampingnya,
memberikan bakti terbaiknya,
disisa usianya,
pernah aku meminta maaf,
jika selama beberapa hari tidak pulang,
untuk mengurus bisnis dan youthcare,
dengan santun dan bijak beliau berucap,
"YOUTHCARE lebih membutuhkanmu,
YOUTHCARE lebih membutuhkan cintamu,
tak apa tidak dirumah"
demikian,
singkat,
tapi aku selalu saja menangkap,
beliau merindukanku,
merindukan bersama menikmati sajian malam,
diskusi bisnis atau sekedar bercanda,
merindukan berjamaah dirumah,
merindukan lantunan rakaat panjangku,
merindukan masakan karyaku,
atau....
merindukan kecupan di rambutnya,
seperti yang sering kulakukan saat aku ingin pergi,
sedang beliau sedang sibuk menelpon kawannya,
bukan cintaku pada kalian berkurang,
tapi ummat lebih membutuhkanku diluar.
bukan berapa lama waktuku bersama kalian,
tapi berapa berbaktiku selama bersama kalian.
percayalah, aku mencintai kalian......
dan terlebih,
percayalah, aku masih mencintaimu,
episode cinta kepada orang tua, meski mereka bukan orang tua kandungku,
Alhamdulillah beliau kini memahami,
sang anak sedang dituntut besar diluar,
tanggungjawab besar peradaban,
hemmm.....YOUTHCARE
mengingat episode cinta wanita terhebat ketiga didunia,
jelang tengah malam,
15 12 2011
mokhamad kusnan
Langganan:
Postingan (Atom)


















