"paman buatkan jaketnya, paman kan YOUTHCARE"
demikian ucapnya saat pertemuan terakhirku dengannya,
dialah paman kandungku,
perawakannya hitam legam, tinggi, kurus,
tapi dialah paman terhebat,
paman nomor satu sedunia,
aku tak asal menyebut dia paman nomor satu sedunia,
tapi memang dialah orangnya,
cintanya dalam,
sedalam lautan terdalam,
cintanya nyata,
senyata pandangan mata,
cintanya tulus,
setulus hembusan angin,
dia yang lama tak pernah kujumpa,
ah, bahkan aku tak sempat mengenalnya,
hanya ingatan sayu saat masa kecilku,
bagaimana tidak, dia menghilang entah kemana sejak aku masih belia,
masih menjadi bayi yang hanya bisa menangis untuk komunikasi,
tapi pamanku malah pergi,
dia hilang entah kemana,
hilang ditelan bumi,
ah bukan,
dia mencari penghidupan,
dia merantau,
dia berjuang untuk mimpi dan masa depannya,
Dumai kawan,
Dumai, Riau,
ya, itulah destinasinya,
dia memilih masa depannya disana,
lama....
teramat lama aku tak melihatnya,
bahkan akupun sempat bingung,
bagaimana wajah pamanku ini,
2007,
mungkin di pertengahan tahun itu,
untuk pertama kalinya aku harus menemuinya,
bukan keinginanku, aku hanya menjalankan perintah budeku,
menjemputnya di bandara Soekarno Hatta,
ah, kalo tak ada alat komunikasi bernama HP itu, aku akan cukup kesulitan,
betapa tidak,
terakhir aku melihatnya aku masih orok,
tak kuat lah ingatanku akan wajahnya,
dan belum lagi waktu pasti merubah wajahnya,
dan siang itu aku cukup kaget,
kalo kebanyakan orang bilang aku berkulit gelap, hitam,
pamanku mungkin biangnya,
ya...
siang itu aku nyaris tidak percaya,
seperti dipaksa mengakui,
ternyata pamanku sehitam orang negro.
saat itu, untuk beberapa bulan,
pamanku di ibukota untuk menyelesaikan pendikannya,
==
dan setelah sekian lama tak berjumpa,
Allah pertemukan kembali aku dengannya,
Milad YOUTHCARE kawan,
NYC, dan Sinergi Cinta,
pernikahanku kawan....
tadinya aku sempat bingung,
bagaimana bisa menjelaskan kepada keluarga besarku,
keluarga di kampung halaman sana,
juga sleuruh keluarga besarku, di kota dan desa,
bingung untuk menjelaskan, apa itu YOUTHCARE,
dan apa kesibukanku selama ini,
yang menyita waktu dan nyaris seluruh kehidupanku,
dan akhirnya kupilih,
menyatukan beberapa acara YOUTHCARE,
mulai dari Konferensi Pemuda Nasional, HUT YOUTHCARE, dan pernikahanku.
aku sudah siap,
entah apa kata orang nantinya,
aku siap akan smeua kritik dan gunjingan,
dan memang benar saja kawan,
acara 20 januari 2013 itu banyak menuai kritik,
kritik dari keluarga besarku, dan kritik dari peserta,
ah,
selagi yang kulakukan tak melanggar hukum, tak melanggar syari'at,
tak apa jika hanya dibenci manusia,
ditinggalkan manusia tak mengurangi amalan kita,
"memanfaatkan YOUTHCARE untuk keuntungan pribadi"
"memakai uang YOUTHCARE untuk diri sendiri"
dan bla-bla-bla....banyak fitnahan itu...
atau kritikan dari keluargaku,
"kayak gabisa cari duit aja, nikahan digabung segala..."
apapun itu aku hanya bisa diam,
aku hanya yakin pilihanku benar,
aku hanya tak ingin pernikahanku mubadzir,
sementara YOUTHCARE butuh dana besar untuk acaranya,
aku hanya ingin tak mementingkan pribadi,
sementara keuangan YOUTHCARE butuh dukungan,
hingga acara itu berjalan,
alhamdulillah,
semua untuk visiku, untuk YOUTHCAREku,
seolah tak ada yang lebih ingin aku perjuangkan,
kecuali logo tangan menyokong dunia itu benar-benar menjadi nyata,
memberikan kontribusi terbesar untuk ummat manusia,
==
kembali ke pamanku,
dialah paman nomor satu sedunia,
dia tak peduli sindiran beberapa keluarga,
dia hanya tersenyum saat lihat resepsi pernikahanku,
dia tetap tersenyum dalam ramainya mansuai yang hadir itu,
dia paman nomor satu sedunia,
bukan omong kosong,
ini alasanku kawan,
menyebutnya sebagai paman nomor satu sedunia,
betapa tidak,
saat itu,
dalam jasadnya sebuah penyakit kronis menggerogotinya,
tubuh kokoh dan kuat dibuatnya ringkih,
dan...
dia bungkus semua rasa sakitnya untuk acaraku,
dia paksa meninggalkan Pekanbaru ke Jakarta untuk melihatku,
dia perjuangkan dan kuatkan jasadnya untuk hadiri undanganku,
ya,
dialah paman nomor satu sedunia,
aku tau,
senyuman waktu itu untuk membungkus rasa sakitnya,
menutup rasa sakit dari organ dalam yang sudah sekarat itu,
cintanya dalam,
demi keluarga dan keponakannya,
demi aku dan ibunya,
dia bungkus semua rasa sakit yang dirasa,
==
dan benar saja kawan,
tak lama sepulang dari menghadiri undanganku,
tak lama sepulang dri ibukota,
dia kembali harus dirawat,
bahkan beberapa hari sempat tak sadarkan diri,
jasadnya sudah payah,
darah keluar dari mulutnya,
organ dalamnya tak berfungsi seperti mansuia biasa,
otaknya mulai mengalami pendarahan,
dan saat itu,
cintaku diujinya,
tapi dialah pamanku,
paman nomor satu sedunia,
lewat istrinya dia tak ingin aku tau kondisinya,
dia hanya berpesan "sampaikan ke kusnan kalo paman baik-baik saja"
padahal nyatanya, dia diujung usianya.
==
Rumah Sakit Santa Maria, Pekanbaru,
Jum'at pukul 21.50,
dia menghembuskan nafas terakhirnya,
menyudahi seluruh perjuangnnya,
tanpa aku disisinya,
seolah dia ingin buktikan,
dialah paman nomor satu sedunia.
tak peduli dengan sakitnya,
tak peduli seberapa besar biaya yang ahrus dibayarnya,
cintanya dalam, tak bisa dihalangi apapun, dia bungkus semua penghalang,
dia buktikan cintanya,
dialah paman nomor satu sedunia.
==
teruntuk seorang yang paling menginspirasi,
manusia paling tangguh yang kukenal,
paman nomor satu sedunia,
yang kini sudah tersenyum selamanya,
di dunia yang lebih indah dari dunia nyata.
doaku semoga dipertemukan kelak di surga,
di tempat yang tiada rasa sakit untuknya,
amin.
pagi jelang subuh di Ibukota,
dalam kedukaan yang harus membangkitkan,
6 jam setelah wafatnya beliau,
16 februari 2013, pukul 04.35
Mokhamad Kusnan
dia tetap tersenyum membungkus sakit yang diderita,
aku sempat mencium keningnya.
Tampilkan postingan dengan label spirit of life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label spirit of life. Tampilkan semua postingan
Jumat, 15 Februari 2013
Minggu, 18 Maret 2012
narasi indah itu berjudul "hilang"
pertama kali aku kehilangan barang,
aku sangat sedih,
lalu aku sadar,
bahwa aku banyak dosa,
dan aku bertaubat.
tapi sempat kaget saat salah satu ustadku kehilangan,
bahkan kehilangan barang lebih besar....mobil,
padahal beliau ulama, sangat sholeh,
dan aku belajar,
semua kejadian beda porsinya,
hilang bisa jadi ahzab,
hilang bisa jadi teguran,
tapi aku paling suka dengan yang ketiga...
HILANG HANYA SARANA ALLAH MENGGANTI DENGAN YANG LEBIH BAIK.
mil,
demikian panggilannya,
namanya Jamil,
nama lengkapnya aku sendiri tak tahu,
Jamil kawan,
dia hanya seorang anak muda,
anak remaja yang sedang bertumbuh,
anak pelosok kampung miskin,
yang merantau ke kota besar...jakarta,
berharap bisa banyak membuat perubahan,
untuk dirinya...terlebih untuk emak dan bapaknya...keluarganya.
dan Jakarta kawan,
menawarkan berbagai pesonanya,
termasuk pesona kekayaan..uang.
dan jamil-pun tertarik padanya,
jamil kecil merantau ke jakarta,
tinggal di sebuah masjid, menjadi marbot.
dialah jamil,
disela kerjaannya membersihkan masjid,
dia melanjutkan sekolah yang sempat terputus,
sampai lulus sekolah menengah atas kawan,
lagi-lagi dialah jamil,
dalam kesederhanaan kawan,
sosok jamil juga menginginkan sesuatu,
memimpikan punya barang...hape, motor, laptop, mobil.
hemm..sama lah dengan mimpinya anak-anak seusianya,
hanya ada yang beda kawan,
jamil yanga seorang marbot,
untuk sebuah mimpi benda-benda seperti itu,
jamil harus banyak menelan ludah,
tak hanya biaya sekolahnya,
jamilpun punya keluarga dinkampung halaman,
orangtua yang sudah tua...juga adik-adik yang masih meminta.
dan inilah narasi hidupnya,
jamiln harus sesah payah mengusahakan semua,
menyisihkan lembar demi lembar rupiah,
untuk mimpinya kawan, barang-barang itu.
"man jadda wajada"
dan demikian jamil lakukan,
hingga akhirnya sebagian mimpinya terwujud,
jamil sudah memegang hape,
jamil juga memiliki laptop,
dan jamil kini sudah bisa pergi dengan motor,
benar kawan,
keuletan dan kegigihan,
menyisihkan selembar demi lembar rupiah,
terbeli juga benda-benda itu,
meski kadang beli untuk sekian tahun...kredit,
seperti motornya itu,
"pingin naik motor, pingin naik motor sendiri"
demikian akunya ringan,
seolah tak ada halangan siapapun boleh punya motor,
alasan itulah penyemangat Jamil, dan Allah kabulkan pintanya,
dan narasi itupun berjalan,
iya..narasi episode Jamil,
narasi kehidupan jamil,
narasi kisah demi kisahnya,
jamil serba terbatas,
hidup dalam kesulitan,
namun kebangkitan tekadnya merubah perlahan,
dia bukan lagi anak miskin kampungan,
tapi setidaknya kini sudah memiliki barang-barang sendiri,
termasuk motor sebagai kendaraan pribadinya.
padahal dia hanay seorang marbot kawan,
diantara narsi indah hidupnya,
Allah gilirkan narasi kepedihan pada Jamil,
seusai lebaran kemarin,
motornya hilang...
ya...kendaraan pribadinya hilang,
bertahun-tahun uang itu dikumpulkan,
bertahun=tahun menahan kesenangan,
untuk bisa kredit sebuah motor,
baru saja senang bisa membawa pulang motor ke kampungnya,
ternyata Allah punya narasi lain untuknya,
gundah hati kawan,
demikian yang dirasa jamil,
kesulitan hidup,
diiringi semangat dan kerja kerasnya,
sampai dia bisa kredit motor,
namun belum juga setahun kreditnya itu...Allah uji dengan kehilangan.
"hanya berpindah tangan, namanya juga titipan, sabar mil..."
demikian nasihat disampaiakan banyak jamaah masjid tempat jamil mengabdi,
jamil hanya bisa terdiam,
dalam kepiluan panjang,
usahanya bertahun-tahun,
jeripayah dan pengorbanan bertahun-tahun,
kini beralih menjadi kisah kesedihan.
mimpinya pudar..raib entah kemana.
==
adalagi Dar,
dia hyanya seorang mahasiswa pertengahan,
seorang anak muda kampung pinggiran Kalimantan,
yang merantau ke ibukota karena beasiswa melanjutkan pendiikan,
dar hanya lulusan sekolah kejuruan,
dia mengambil keahlian di tehnik mesin,
berharap bisa menjadi mortir di bengkel-bengkel kecil,
untuk kemudian mendapatkan upah dan membantu orangtuanya,
tapi Allah punya rencana lain,
Dar mendapat beasiswa,
melanjutkan pendidikan ke ibukota,
'sebuah kampus dakwah swasta memebrinya peluang,
untuk banyak belajar guna menjadi da'i nantinya,
menjadi pejuang bumi dengan amanah langit.
kegembiraan bersambut,
Dar tak hanya menjadi mahasiswa,
dia juga diberi kelengkapan alat...laptop.
pemberian kawan,
tapi inilah narasi indah itu,
dipergilirkan juga pada Dar,
disaat dia sedang banyaknya amanah,
sebagai ketua redaktur buletin jum'at di kampusnya,
dengan lagi seabreg tugas kuliahnya,
dia sangat ketergantungan dengan laptopnya,
seolah laptop itu separuh nyawanya,
dan inilah narasi itu kawan,
saat pesta buku islam kemarin,
Dar datang kesana,
membawa tas dan laptopnya,
niatannya baik,
dar menuju mushola saat kumandang adzan terdengar,
Dar shalat di sebuah mushoila besar,
mushola yang ada di tempat pesta buku Islam itu,
bukan kelalalianj kawan,
tapi inilah narasi itu bicara,
tas dan laptop dar hilang,
berpindah tangan,
==
narasi indah itu bernama hilang,
iya...kehilangan kawan,
kehilangan akan benda-benda yang kita miliki,
mungkin tak apa bagi yang memiliki banyak uang,
kehilangan mobil-pun dalam sekejap bisa datang lagi,
lalu bagaimana dengan Jamil dan Dar?
seolah kehidupan tak adil bagi mereka,
tapi beginilah narasi indah itu berkisah,
bahwa hidup itu penuh rasa kawan,
ada manis ada pahit,
narasi indah itu bernama kehilangan,
mungkin benar juga kita harus banyak belajar,
belajar kehilangan kawan,
belajar memaknai kehilangan,
lebih tepatnya...belajar memaknai kepemilikan barang kita,
penjaga parkir,
mungkin ini paling tepat,
untuk menggambarkan kepemilikan abrang kita,
bahwa sesungguhnya semua hanya titipan saja,
belajarlah dari tukang parkir,
saat yang datang mobil butut, dia tersenyum,
saat yang datang mobil mewahpun, dia tersenyum,
dan senyumannya hanya berubah sedikit,
sedikit lebih menarik dan lebih lebar senyumnya,
bagi yang narsis, dia bisa foto disamping mobil mewah itu,
tak apa kawan,
tak harus menyentuh untuk sekedar berdiri di samping mobil,
lalu dengan hape kameranya dia berfoto,
meminta teman sepenanggungan memotonya,
dan diupload di pesbuk,
memotivasi diri,
atau visualisai,
atau untuk sekedar nampang,
tapi begitulah tukang parkir..itulah hiburannya.
belajarlah dari tukang parkir,
saat dia mulai menyukai mobil mewah itu,
saat bata dan perhatiannya ditujukan ke modifiksi baja bermesin itu,
tiba-tiba datang sang empunya,
masuk ke mobil dan meninggalkannya,
meninggalkan sang tukang parkir,
mobil itu tak hilang,
tapi berpindah btempat,
dan tukang parkir paham,
mobil itu hanya titipan yang punya,
tak ada hak kita melarangnya memindahkan,
tukang parkir,
ah mungkin kurang seru,
"dia kan nggak mengusahakan datangnya mobil,
dia kan hanya menunggu dan menjaga"
oke,
kini kita pakai perumpamaan lain,
makanan contohnya,
makanan apa saja yang mahal,
pizza misal,
hari demi hari,
kadang gaji sebulan UMR kita pertahankan,
menahan kerinduan makanan mahal,
hingga suatu saat kita mewujudkan,
kita datang ke restoran yang menjual pizza,
hemm...inilah narasi itu kawan,
pizza itu hanya titipan,
perjuangan mendapatkan sangat keras,
tapi kenikmatan memiliki dan menikmatinya hanya sepanjang ujung mulut sampai tenggorokan,
selebihnya tak ada yang bisa dirasakan,
dan tak lama akan menjadi kotoran yang harus kita buang,
kita harus ikhlas membuangnya,
narasi indah itu bernama hilang...
bahwa semua barang itu hanya titipan,
meski kita harus mengusahakan untuk benda itu datang,
seperti makanan tadi,
kita ahrus ikhlas mmebuangnya saat sudah jadi kotoran,
demikian juga seharusnya kita menyikapi kepemilikan,
narasi indah itu bernama hilang...
pelajaran untuk kita kawan,
untuk lebh siap dan ikhlas dengan setiap episode,
dengan setiuap kisah yang akan kita lewati,
semua narasi sudah dijanjikan,
sabar dan ikhlas itulah kuncinya,
sekali lagi karena kita hanya menjalankan peran,
sang pembuat narasi, Dialah yang berkuasa.
narasi inah itu bernama hilang...
pagi gerimis di ibukota,
06.45 WIB 19 maret 2012
Mokhamad Kusnan
#dedikasi untuk seseorang yang kehilangan,
percayalah itu tak hilang,
hanya berpindah tangan,
mengikuti alur cerita di narasi indah itu,
tahukah bahwa akupoun sering kehgilangan,
dan aku hanya bisa tersenyum saat hilang,
semoga bukan ahzab atau peringatan,
tapi hanya sarana untuk Allah gantikan dengan yang lebih baik. amin.
Selasa, 13 Maret 2012
keberkahan tukang cukur...
tak ada yang istimewa,
dia sama seperti tukang cukur lainnya,
alatnyapun tak ada yang istimewa,
namunj kawan,
senyumannya sangat murah,
dia berikan gratis ke siapa saja yang datang ke tempatnya,
dan kawan,
demikian dengan harga,
murah sangat,
hanya 8 ribu rupiah saja,
ya 8 ribu untuk 20 menitan dicukur plus dipijat,
dan aku kawan,
aku yang paling sering datang padanya,
untuk sekedar meminta dipijit sambil potong kumis tipisku,
atau untuk sekedar dipijat saja,
dan demikian kemarin saat aku hendak memangkas rambutku yang sudah panjang,
"A... sayang rambutnya dipotong,
dipanjangin aja,
bagus nih rambutnya, lebat dan sehat"
demikian pujinya padaku,
aku singkat saja bilang;
"iya pak, rambutnya lebat sehat, tebal pula,
tapi kayak benalu,
nih tubuh kerempeng diambil buat menyuburkan rambut doang"
dia tersenyum,
dialah tukang pangkas rambutku,
dia yang seringkali menanyakan kesibukanku,
hingga aku sampaiakan aku sibuk mengurus YOUTHCARE,
sibuk dari sekolah ke sekolah mengisi kajian,
sibuk mendidik anak-anak belia di jalanan,
"terus yang gaji siapa a kalo kerja kayak gitu?"
demikian jawabnya.
"saya punya usaha pak,
Allah gak biarkan hambanya yang usaha,'
dan Alhamdulillah selalu ada saja rezeki,
meski tak banyak, yang penting keberkahan pak"
demikian jelasku,
dan semakin sering aku ke tempatnya,
semakin sering aku menasihatinya,
sampai sapaan "Aa Ustad" menambah nama depanku,
dan setelah sekian lama kawan,
dia juga sering aku ajak shalat saat kumandang adzan terdengar,
dan dia mengiyakan,
dan kawan,
inilah keberkahan tukang cukur itu,
dia sangat ramah,
dia memberikan tambahan pijatan,
dan tak pernah pandang bulu meski seringkali pelanggannya minta pijatan lebih lama,
dan yang berkahnya,
selalu saja sang pelanggan memeberikan uang lebih,
harganya 8ribu,
tapi hampir tak ada yang memberikan sebesar itu,
kadang 10ribu,
kadang 15ribu,
kadang bahkan sering malah 20ribu,
keberkahan tukang cukur,
karena memebrikan pelayanan lebih,
senyum lebih,
dan ketulusan yang lebih,
keberkahan tukang cukur,
seharusnya kita banyak belajar darinya,
sore di sekretariat YOUTHCARE,
dalam mendung yang dingin,
15:15 WIB, 13 maret 2012
Mokhamad Kusnan
Sabtu, 10 Maret 2012
masih kenal saya?
"Assalamualaikum Akh Kusnan...
semoga masih ingat dengan saya (STP angkatan 40),kita dulu sempat Mukhoyyam bareng di Cibubur...."
demikian sebuah message di inbox FB,
saat kubuka FB pagi ini,
semalam training dasyat pengurus komitmen berlangsung sampai pagi,
seperti biasa, upgrading pekanan itu selalu dinikmati,
mengalir dan terus berjalan dengan kesungguhan,
sampai larut dan seringkali berakhir hingga pagi,
dan message tadi,
akupun melihat profil yang mengirimkannya,
subhanallah...beliau sedang aad di sebuah kota di Belanda..
akupun mencoba mengingat,
aha...
teringat juga,
waktu itu kami sempat ketemu dalam mkukhoyyam bersama,
di Cibubur, dalam mukhoyyam gabungan se-DKi itu.
"Alhamdulillah akh...
saya sekarang lanjut kuliah S2 di Groningen, Belanda.
tadi terlihat timeline saya dialog antum dengan Alfan.
makanya saya ingat lagi, semoga ini menjadi jalan penyambung silaturahim lagi akh..
saya lihat profil antum luar biasa sekarang,
sampe-sampe gak bisa saya add lagi karena uda kebanyakan temen...hehe..."
demikian jelasnya.
tarbiyah kawan,
dakwah ini,
tarbiyahlah yang pernah mempertemukan kami,
tarbiyah pula yang mengingatkannya untuk menyapaku kembali,
tarbiyah kawan,
sekolah kedinasan perikanan itu,
aku banyak menyambung silaturahim dengan para taruna disana,
aha...
bahkan sampai saat ini masih sering mengisi kajian bulanan,
berdiri diantara ratusan taruna disana,
menyemangati dan menginpsirasi,
menjelaskan dan menggambarkan indahnya tarbiyah,
tarbiyah kawan,
yang membuat dia masih ingat padaku,
dan kini dia sedang di negara sebrang nan jauh,
tapi ingatan indahnya tarbiyah masih mengenang.
"ana lulus STP 2008,
kemudian pulang ke kampung halaman di Langkat, Aceh,
dan sempat kerja beberapa bulan,
dan ada info beasiswa study keluar negeri dari pemerintah daerah,
dan Alhamdulillah saya lulus akh...
sekarang disini, Groningen, Belanda...."
demikian ceritanya,
dia dengan semangat menceritakan,
perjalanannya hingga kini di Eropa,
"antum hebat akh...sudah banyak kontribusinya,
ana lihat profil YOUTHCARE,
dan sedang bertumbuh dan berkembang,
ingin juga ana menginspirasi pelajar dan pemuda Indonesia seperti antum"
demikian lanjut ceritanya,
kami berdialog dengan SKYPE,
banyak bercerita tentang perjalanannya,
tentang kerinduannya pada dakwah ini,
tentang keinginannya kontribusi untuk ummat ini.
"oh, sepertinya ana kenal,
ana pernah dengar juga di Jerman ada YOUTHCARE,
Jadi itu dari antum juga?"
dia cukup kaget,
saat kukatakan bahwa di Eropa sana juga sudah menyebar VOLUNTEER YOUTHCARE,
dialog pagi ini sangat menyemangati,
tentang geliat YOUTHCAREku,
dan tentang perjuangannya,
tentang mimpinya membangun Indonesia,
tentang harapan besarnya bisa kontribusi untuk bangsa,
masih kenal saya?
sepertinya kian hari Allah kian bukakkan pintu saja,
bahwa dakwah ini akan terus terbuka,
mengalir dan menyentuh setiap ujung dunia,
pintu-pintu itu mulai terbuka,
setelah beberapa hari lalu dialog dengan yang di Kanada, Hongkong, Jepang, Jerman, Syiria, Mesir, Amerika...
dan mereka sangat antusias dengan YOUTHCARE,
dan mereka sangat ingin kembali membangun bangsa,
dan mereka rindu tarbiyah,
masih kenal saya?
pagi dingin di jendela kantor YOUTHCARE
diiringi lantunan "OPEN YOUR EYES" Maher Zain,
bahwa saat membuka mata ALlah perlihatkan semua,
dakwah ini besar dan akan makin besar,
masih kenal saya?
kutulis sambil menahan kantuk,
namun tak bisa terpejam,
masih banyak agenda kerja,
hari ini akan kedatangan banyak pelajar di YOUTHCARE,
tarbiyah akan membentuk mereka,
inpsirasi mimpi akan membimbing mereka,
YOUTHCARE akan membantu mereka,
masih eknal saya?
kutulis untuk inspirasi kita,
bahwa tarbiyah terlalu manis untuk dikenangkan,
terlalu indah untuk dirindukan,
7. 25 WIB 11 maret 2012
Mokhamad Kusnan
Rabu, 22 Februari 2012
malu deh ama Amar...
seri subuh#2
subuh ini kawan,
sekali lagi subuh,
di waktu subuh memang banyak spirit, banyak inspirasi,
Amar kawan,
yang pernah saya ceritakan di catatan yang lama saya di FB,
Amar,
dia pemuda pasar yang rajin ke masjid,
pemuda lugu pecinta ilmu penjual roti bakar,
iya...penjual roti bakar...
subuh ini di masjid dekat sekretariat YOUTHCARE,
malam tadi aku menginap di YOUTHCARE,
beberapa urusan membuatku terjaga sampai larut malam,
jadi memutuskan menginap di kantor sederhana YOUTHCARE.
Subuh kawan,
orang tuaku berpesan,
yang sekaligus peringatan,
"pokoknya kalo kamu ndak tidur dirumah harus jamaah ke masjid,
kalo gak subuh jamaah di masjid harus tidur dirumah"
demikian peringatan ortuku,
karena beberapa hari ini memang aku jarang tidur dirumah,
pesannya satu...HARUS SUBUH JAMAAH DI MASJID.
ortuku memang hebat,
meski awwam tapi pembelajar,
dan sangat sering mengingatkanku..alhamdulillah.
kembali ke Amar,
subuh tadi,
seperti biasa dia selalu hadir di masjid,
masjid dekat sekretariat YOUTHCARE.
Amar penjual roti bakar,
dia jualan dari jam 12 malam sampai jam 6 pagi,
melayani ratusan pedagang dan ribuan pembeli pasar minggu,
amar yang ulet,
dan amar yang soleh,
dengan baju lusuhnya dia langsung dengan langkah cekatan ke masjid seketika mendengar adzan,
"saya titip di pedagang lain" demikian ucapnya saat kutanya gerobak roti bakarnya dimana.
sesampai di masjid dia agak lama di kamar mandi,
mengganti baju lusuhnya dengan baju koko sederhana, tapi bersih,
kemudian sudah rapi dan melaksanakan dua rakaat qobliyah.
selesai subuh dia masuk kamar mandi lagi,
kembali dengan baju lusuhnya dan berjualan lagi...roti bakar.
Amar kawan,
dia hanya penjual roti bakar,
lulusan SD dan pemuda lugu sederhana,
tapi pecinta ibadah,
pernah suatu saat kutanya,
"Amar...pingin tau nih yang bikin Amar rajin sholat apa?"
dan kawan,
jawabannya simpel,
sederhana,
tapi dalem,
"pingin masuk surga mas.."
pernah juga kutanya,
tentang semangatnya berjamaah,
terutama berjamaah subuh di masjid,
dan yang mantab,
si Amar gapernah ketinggalan dua rakaat fajar-nya,
"saya pernah dengar mas,
saat ikut pengajian,
ada hadist yang berbunyi,
barangsiapa yang mendirikan 2 rakaat sebelum subuh,
maka pahalanya sama dengan dunia dan seisinya"
"dan saya gamau rugi mas,
hanya beberapa menit terlewat,
sedangkan pahalanya berlipat dan luar biasa"
demikian jawabnya lugu.
ah Amar,
dia memang hebat,
manusia lugu sederhana yang hebat,
dia tau harga surga,
dia bisa melihat akhirat lebih dasyat,
dia tau dunia tak seberapa,
"yang hanya dapat 100ribu saja ribuan orang berbondong-bondong gak tidur dan jualan di pasar,
masa yang dapat dunia dan seisinya hanya dengan dua rakaat sebelum subuh gak mau diperjuangkan?"
malu deh ama Amar,
malu yang pendidikannya lulus SMP,
malu yang lulus SMA,
apalagi yang sarjana,
tapi masih sering meninggalkan subuh jamaah di masjid
amar hanya lulusan SD kawan...
malu deh ama Amar,
pekerjaannya tukang jualan roti bakar,
penghasilannya tak lebih dari 50 ribu sehari,
dan paling hanya bisa nyimpen 10-15 ribu sehari,
bahkan tak jarang harus pinjem uang untuk menutup kebutuhan,
atau menahan lapar gak makan,
makan saja harganya yang 5ribuan seporsi,
tapi dia inspirasi untuk subuh berjamaah..
dia pecinta surga dan mau membayar harga untuknya
malu deh ama Amar...
pagi yang dingin di jendela sekretariat YOUTHCARE,
sambil melihat pedagang lalu lalang,
dan disuguhi lantunan Musyari Rasyid,
untuk menginspirasin kita,
06.06 WIB
23 Februari 2012
Mokhamad Kusnan
subuh ini kawan,
sekali lagi subuh,
di waktu subuh memang banyak spirit, banyak inspirasi,
Amar kawan,
yang pernah saya ceritakan di catatan yang lama saya di FB,
Amar,
dia pemuda pasar yang rajin ke masjid,
pemuda lugu pecinta ilmu penjual roti bakar,
iya...penjual roti bakar...
subuh ini di masjid dekat sekretariat YOUTHCARE,
malam tadi aku menginap di YOUTHCARE,
beberapa urusan membuatku terjaga sampai larut malam,
jadi memutuskan menginap di kantor sederhana YOUTHCARE.
Subuh kawan,
orang tuaku berpesan,
yang sekaligus peringatan,
"pokoknya kalo kamu ndak tidur dirumah harus jamaah ke masjid,
kalo gak subuh jamaah di masjid harus tidur dirumah"
demikian peringatan ortuku,
karena beberapa hari ini memang aku jarang tidur dirumah,
pesannya satu...HARUS SUBUH JAMAAH DI MASJID.
ortuku memang hebat,
meski awwam tapi pembelajar,
dan sangat sering mengingatkanku..alhamdulillah.
kembali ke Amar,
subuh tadi,
seperti biasa dia selalu hadir di masjid,
masjid dekat sekretariat YOUTHCARE.
Amar penjual roti bakar,
dia jualan dari jam 12 malam sampai jam 6 pagi,
melayani ratusan pedagang dan ribuan pembeli pasar minggu,
amar yang ulet,
dan amar yang soleh,
dengan baju lusuhnya dia langsung dengan langkah cekatan ke masjid seketika mendengar adzan,
"saya titip di pedagang lain" demikian ucapnya saat kutanya gerobak roti bakarnya dimana.
sesampai di masjid dia agak lama di kamar mandi,
mengganti baju lusuhnya dengan baju koko sederhana, tapi bersih,
kemudian sudah rapi dan melaksanakan dua rakaat qobliyah.
selesai subuh dia masuk kamar mandi lagi,
kembali dengan baju lusuhnya dan berjualan lagi...roti bakar.
Amar kawan,
dia hanya penjual roti bakar,
lulusan SD dan pemuda lugu sederhana,
tapi pecinta ibadah,
pernah suatu saat kutanya,
"Amar...pingin tau nih yang bikin Amar rajin sholat apa?"
dan kawan,
jawabannya simpel,
sederhana,
tapi dalem,
"pingin masuk surga mas.."
pernah juga kutanya,
tentang semangatnya berjamaah,
terutama berjamaah subuh di masjid,
dan yang mantab,
si Amar gapernah ketinggalan dua rakaat fajar-nya,
"saya pernah dengar mas,
saat ikut pengajian,
ada hadist yang berbunyi,
barangsiapa yang mendirikan 2 rakaat sebelum subuh,
maka pahalanya sama dengan dunia dan seisinya"
"dan saya gamau rugi mas,
hanya beberapa menit terlewat,
sedangkan pahalanya berlipat dan luar biasa"
demikian jawabnya lugu.
ah Amar,
dia memang hebat,
manusia lugu sederhana yang hebat,
dia tau harga surga,
dia bisa melihat akhirat lebih dasyat,
dia tau dunia tak seberapa,
"yang hanya dapat 100ribu saja ribuan orang berbondong-bondong gak tidur dan jualan di pasar,
masa yang dapat dunia dan seisinya hanya dengan dua rakaat sebelum subuh gak mau diperjuangkan?"
malu deh ama Amar,
malu yang pendidikannya lulus SMP,
malu yang lulus SMA,
apalagi yang sarjana,
tapi masih sering meninggalkan subuh jamaah di masjid
amar hanya lulusan SD kawan...
malu deh ama Amar,
pekerjaannya tukang jualan roti bakar,
penghasilannya tak lebih dari 50 ribu sehari,
dan paling hanya bisa nyimpen 10-15 ribu sehari,
bahkan tak jarang harus pinjem uang untuk menutup kebutuhan,
atau menahan lapar gak makan,
makan saja harganya yang 5ribuan seporsi,
tapi dia inspirasi untuk subuh berjamaah..
dia pecinta surga dan mau membayar harga untuknya
malu deh ama Amar...
pagi yang dingin di jendela sekretariat YOUTHCARE,
sambil melihat pedagang lalu lalang,
dan disuguhi lantunan Musyari Rasyid,
untuk menginspirasin kita,
06.06 WIB
23 Februari 2012
Mokhamad Kusnan
Senin, 19 Desember 2011
inilah dakwah, Rik....
namanya Erik,
dia karyawan baru di Yayasan Pemuda Kreatif,
temoat dimana YOUTHCARE bernaung,
dialah Erik,
perawakannya lebih gemuk dariku,
gemuk sih tidak, tapi karena akunya yang kurus jadi bagiku dia gemuk,
suaranya lebih lembut dariku,
berasal dari pelosok suka bumi,
masih satu nafas bahasa dengan Fikri atau Emu, dua karyawan yang lain.
ba'da subuh tadi,
aku ajak dia melihat pasar minggu sebenarnya,
melihat ribuan manusia malam bergerilya dalam jual beli,
melihat sosok wanita-wanita tanggung pengais rezeki,
mereka yang menukar malam dengan kesibukan super tinggi,
menjual waktu tidurnya dengan rupiah kumal,
hanya Erik,
sementara Emul dan Fikri masih sulit untuk dihidupkan lagi dari mimpinya,
hanya Erik,
yang selalu saja bangun begitu adzan kumandang,
gaya bangunnya seolah dikagetkan sesuatu,
yang membuat munajatku sedikit terganggu,
setelah siap ke masjid,
aku belum beranjak dari munajatku,
hanya menegurnya pelan "bangunkan yang lain rik, ajak ikut jamaah juga di masjid"
mencontoh suaraku,
seolah dia sudah menjadi batak,
lantang dia teriak "bangun...bangun...sholat...sholat " yang diarahkan ke penghuni sekret yang lain.
sayang sautannya tak direspon,
hanya jawaban setengah sadar...
hingga tadi,
ba'da subuh, kami masih tetap berdua,
perjalanan ke pasar dengan beebrapa langkah kaki saja,
dan sepanjang perjalanan itu aku selipkan nasihat,
"ada dua jenis manusia di dunia rik,
manusia yang orientasi dunia dan manusia yang orientasi akhirat"
si Erik menunduk dan mendengarkan sesksama,
"manusia orientasi dunia itu yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk dunia, dunia selalu dikejar,
seolah hidup hanay di dunia saja, bahkan tak jarang mereka menjual akhiratnya,
mengorbankan akhirat hanya untuk dunianya. dan mereka dapat rik, dapat dunia"
si Erik mendengarkan, sesekali bertanya.."terus bang..."
"manusia kedua yang orientasi akhirat, seluruh hidupmnya didedikasikan untuk akhirat,
dia tetap bekerja, menjalani kehidupan dunia, tapi semuanya dioriantasikan untuk akhirat, akhirat tujuannya,
mereka dunia dapat, tapi akhirat juga dapat" jelasku, sa,mbil menunjukkan fakta yang ada di sekitar pasar itu.
kamipun sampai terminal pasar minggu,
yang berubah menjadi pasar malam,
terminal menjelma menjadi supermarket kumuh,
ratusan kaum hawa menjajagak sayur mayur,
tak kalah semangatnya dengan para lelaki...
mereka menjadi saksi kami,
kami menjadi saksi mereka,
ba'da subuh sahdu menyelimuti,
angin bertiup seolah membuat mereka nyaman,
menahan mereka agar terus melanjutkan aktivitas jual-beli,
hingga sampai ke penjual makanan,
aku berhenti dan membeli sesuatu,
sambil berani kutanyakan "udeh sholat bu?"
si Erik menatapku tajam,
si ibu enteng saja menjawab "lha wong lagi jualan kok suruh sholat, ndak sempat mas.."
akupun beralih ke pedagang lain, sama menanyakan perihal sholat,
"ndak keburu sholat mas...lagi rame-ramenya jam segini" sambil diiringi gelak tawa..
"ndak bawa mukena mas..."
dan banyak lagi jawaban, atau sekedar "lagi dapet mas..." sambil tertawa dengan sebelahnya.
"itu rik orang yang orientasi dunia..." ucapku pada Erik pelan.
namun ada juga,
saat kutanya mereka menjawab "Alhamdulillah sudah mas, tadi jamaah di masjid Al-Furqon..."
tapi sedikit, jauh lebih sedikit dari yang tidak sholat.
"itulah yang orientasi akhirat rik..." ucapku pada Erik..
perjalanan pulang,
sambil terus aku jelaskan,
setelah beberapa lama diam,
Erik bertanya,
"ngapain tadi bang Kusnan nanya-nanya gitu,,,
nyuruh-nyuruh sholat segala,
yang mereka pasti menolak?"
"inilah dakwah, Rik"
jawabku pelan...
"sama saat kenapa tadi abang suruh bangunkan yang lain,
inilah dakwah rik...
inilah amalan yang berpahala paling besar,
inilah kerjaannya para nabi dan Rasul,
mengajak dan mengingatkan,
pada akhirat, pada Allah, pada ibadah"
jelasku,
si erik mangut-mangut aja,
seolah dia mencerna penjelasanku,
sambil menunduk mendengarkanku,
"inilah dakwah, Rik..."
subuh syahdu di pinggiran pasar minggu,
di sekretariat YOUTHCARE yang dingin,
diantara bunyi pasar yang layu,
diantara manusia-manusia pencari rupiah,diantara pragmatisme,
"inilah dakwah, Rik..."
inilah pekerjaan mulia,
inilah pekerjaan para nabi,
inilah orientasi akhirat,
inilah jula beli yang tak pernah rugi,
inilah dakwah, Rik....
"inilah dakwah, Rik..."
refleksi untuk kita semua,
bahwa mereka butuh nasihat dan teguran dari kita,
butuh sentuhan cinta sesungguhnya,
butuh makanan yang dapat menmghidupkan jiwa,
butuh bahan bakar yang bisa menyalakan hati mereka,
butuh sekedar pertanyaan "udah sholat belum?"
atau ajakan pelan "yuk shalat...yuk ke surga..."
"inilah dakwah, Rik..."
pagi syahdu di sekretariat YOUTHCARE,
diiringi instrumentalia The Elegance of Pachelbel -01- SERENADE,
Selasa, 20 12 2011,
Mokhamad Kusnan
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150548953132049
dia karyawan baru di Yayasan Pemuda Kreatif,
temoat dimana YOUTHCARE bernaung,
dialah Erik,
perawakannya lebih gemuk dariku,
gemuk sih tidak, tapi karena akunya yang kurus jadi bagiku dia gemuk,
suaranya lebih lembut dariku,
berasal dari pelosok suka bumi,
masih satu nafas bahasa dengan Fikri atau Emu, dua karyawan yang lain.
ba'da subuh tadi,
aku ajak dia melihat pasar minggu sebenarnya,
melihat ribuan manusia malam bergerilya dalam jual beli,
melihat sosok wanita-wanita tanggung pengais rezeki,
mereka yang menukar malam dengan kesibukan super tinggi,
menjual waktu tidurnya dengan rupiah kumal,
hanya Erik,
sementara Emul dan Fikri masih sulit untuk dihidupkan lagi dari mimpinya,
hanya Erik,
yang selalu saja bangun begitu adzan kumandang,
gaya bangunnya seolah dikagetkan sesuatu,
yang membuat munajatku sedikit terganggu,
setelah siap ke masjid,
aku belum beranjak dari munajatku,
hanya menegurnya pelan "bangunkan yang lain rik, ajak ikut jamaah juga di masjid"
mencontoh suaraku,
seolah dia sudah menjadi batak,
lantang dia teriak "bangun...bangun...sholat...sholat " yang diarahkan ke penghuni sekret yang lain.
sayang sautannya tak direspon,
hanya jawaban setengah sadar...
hingga tadi,
ba'da subuh, kami masih tetap berdua,
perjalanan ke pasar dengan beebrapa langkah kaki saja,
dan sepanjang perjalanan itu aku selipkan nasihat,
"ada dua jenis manusia di dunia rik,
manusia yang orientasi dunia dan manusia yang orientasi akhirat"
si Erik menunduk dan mendengarkan sesksama,
"manusia orientasi dunia itu yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk dunia, dunia selalu dikejar,
seolah hidup hanay di dunia saja, bahkan tak jarang mereka menjual akhiratnya,
mengorbankan akhirat hanya untuk dunianya. dan mereka dapat rik, dapat dunia"
si Erik mendengarkan, sesekali bertanya.."terus bang..."
"manusia kedua yang orientasi akhirat, seluruh hidupmnya didedikasikan untuk akhirat,
dia tetap bekerja, menjalani kehidupan dunia, tapi semuanya dioriantasikan untuk akhirat, akhirat tujuannya,
mereka dunia dapat, tapi akhirat juga dapat" jelasku, sa,mbil menunjukkan fakta yang ada di sekitar pasar itu.
kamipun sampai terminal pasar minggu,
yang berubah menjadi pasar malam,
terminal menjelma menjadi supermarket kumuh,
ratusan kaum hawa menjajagak sayur mayur,
tak kalah semangatnya dengan para lelaki...
mereka menjadi saksi kami,
kami menjadi saksi mereka,
ba'da subuh sahdu menyelimuti,
angin bertiup seolah membuat mereka nyaman,
menahan mereka agar terus melanjutkan aktivitas jual-beli,
hingga sampai ke penjual makanan,
aku berhenti dan membeli sesuatu,
sambil berani kutanyakan "udeh sholat bu?"
si Erik menatapku tajam,
si ibu enteng saja menjawab "lha wong lagi jualan kok suruh sholat, ndak sempat mas.."
akupun beralih ke pedagang lain, sama menanyakan perihal sholat,
"ndak keburu sholat mas...lagi rame-ramenya jam segini" sambil diiringi gelak tawa..
"ndak bawa mukena mas..."
dan banyak lagi jawaban, atau sekedar "lagi dapet mas..." sambil tertawa dengan sebelahnya.
"itu rik orang yang orientasi dunia..." ucapku pada Erik pelan.
namun ada juga,
saat kutanya mereka menjawab "Alhamdulillah sudah mas, tadi jamaah di masjid Al-Furqon..."
tapi sedikit, jauh lebih sedikit dari yang tidak sholat.
"itulah yang orientasi akhirat rik..." ucapku pada Erik..
perjalanan pulang,
sambil terus aku jelaskan,
setelah beberapa lama diam,
Erik bertanya,
"ngapain tadi bang Kusnan nanya-nanya gitu,,,
nyuruh-nyuruh sholat segala,
yang mereka pasti menolak?"
"inilah dakwah, Rik"
jawabku pelan...
"sama saat kenapa tadi abang suruh bangunkan yang lain,
inilah dakwah rik...
inilah amalan yang berpahala paling besar,
inilah kerjaannya para nabi dan Rasul,
mengajak dan mengingatkan,
pada akhirat, pada Allah, pada ibadah"
jelasku,
si erik mangut-mangut aja,
seolah dia mencerna penjelasanku,
sambil menunduk mendengarkanku,
"inilah dakwah, Rik..."
subuh syahdu di pinggiran pasar minggu,
di sekretariat YOUTHCARE yang dingin,
diantara bunyi pasar yang layu,
diantara manusia-manusia pencari rupiah,diantara pragmatisme,
"inilah dakwah, Rik..."
inilah pekerjaan mulia,
inilah pekerjaan para nabi,
inilah orientasi akhirat,
inilah jula beli yang tak pernah rugi,
inilah dakwah, Rik....
"inilah dakwah, Rik..."
refleksi untuk kita semua,
bahwa mereka butuh nasihat dan teguran dari kita,
butuh sentuhan cinta sesungguhnya,
butuh makanan yang dapat menmghidupkan jiwa,
butuh bahan bakar yang bisa menyalakan hati mereka,
butuh sekedar pertanyaan "udah sholat belum?"
atau ajakan pelan "yuk shalat...yuk ke surga..."
"inilah dakwah, Rik..."
pagi syahdu di sekretariat YOUTHCARE,
diiringi instrumentalia The Elegance of Pachelbel -01- SERENADE,
Selasa, 20 12 2011,
Mokhamad Kusnan
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150548953132049
masihkah negeri ini bisa menyulap tongkat jadi tanaman?
katim,
singkat,
teramat singkat untuk diucapkan,
tapi jujur aku sendiri masih bingung,
entah apa artinya,
yang jelas begitu saja dia mengucapkan,
saat akhirnya aku beranikan diri bertanya,
badannya kurus,
kulitnya kuning langsat,
tapi karena mungkin jarang mandi dan tidak dirawat jadi coklat,
hemm...kalo aku tempel tanganku,
kulitku lebih cerah dari kulitnya.
pagi tadi, aku tak sempat menyapanya,
dia biasa shalat subuh di masjid dekat sekretariat YOUTHCARE,
nah pagi tadi aku entah kenapa,
tertidur,
padahal sudah aku niatkan untuk tidak tidur sampai subuh,
maklum mengisi training pengurus YOUTHCARE sampai pagi,
belum lagi mencari makanan sahur,
dan akhirnya aku selesai sahur dan 3 rakaat witir sampai setengah 4.
menunggu adzan,
aku baringkan tubuh,
dan ternyata barui terbangun setelah jam 5, astaghfirulloh,
alhamdulillah sih bisa jamaah dengan penghuni sekret YOUTHCARE.
kembali ke Katim,
dia anak belasan tahun yang mencoba mandiri,
nekat sih,
konflik orang tuanya,
juga lilitan kemiskinan membawanya kabur dari rumah,
beberapa hari ini dia gentayangan di pasar minggu,
kadang di larut malam,
dia menjual plastik,
kadang juga tak segan mengumpulkan sayuran yang terbuang dan memakannya,
pernah kutemui dia memakan kentang mentah.
pernah juga dia memakan wortel.
di kota, tapi primitif seperti di hutan,
lagi-lagi dialah Katim,
manusia yang terbuang,
terbuang dari kasih sayang orang tua,
terbuang dari lingkungan,
tereliminasi oleh kemiskinan yang kian menjerat.
ibunya sakit, tak bisa kerja selama dua tahun, biasanya mencuci baju tetangga.
sang ayah juga hanya menjadi pemulung,
kadang mengumpulkan sampah di komplek-komplek, kadang jualan rokok di jalanan.
sama dengan Katim,
namun katim memiliki kekurangan,
mentalnya lemah, gaya bicaranya parau, seringkali ketakutan saat disapa orang.
baru empat hari lalu aku memberanikan diri bertanya,
sambil memberikan sepotong roti bakar,
dia senang sekali,
dia bahkan bilang,
kalo dirinya pernah nunggu satu jam hanya untuk melihat sang pedagang roti bakar membakar rotinya,
dia ingin menikmati aromanya...itu saja.
Katim,
ba'da magrib tadi terlihat menungguku,
di depan masjid dekat sekret YOUTHCARE,
rupanya dia ingin pamit,
entah kemana aku tak tahu,
katanya dia dapat ilham untuk ke suatu tempat,
entahlah,
kadang kelaparan yang sangat emmbuat dia ngigau.
dua lembar uang aku berikan ke dia,
dia agak malu menerima,
meski akhirnya kupaksa,
sedikit air mata,
menetes dari pipinya yang dekil,
dia pergi...
dan aku tak bisa berbuat apa-apa
katim,
bagai ranting yang kering,
kini ia patah dan hilang,
aku berharap dia masih bernyawa,
untuk kemudian tumbuh menjadi batang yang kokoh,
bukankah negeri ini bisa menumbuhkan kayu yang dilempar?
ah, "tongkat dilempar jadi tanaman",
demikian bunyi lagunya,
aku masih ingat.
semoga saja
ba'da Isya,
sekret YOUTHCARE.
12 12 2011
Mokhamad Kusnan
singkat,
teramat singkat untuk diucapkan,
tapi jujur aku sendiri masih bingung,
entah apa artinya,
yang jelas begitu saja dia mengucapkan,
saat akhirnya aku beranikan diri bertanya,
badannya kurus,
kulitnya kuning langsat,
tapi karena mungkin jarang mandi dan tidak dirawat jadi coklat,
hemm...kalo aku tempel tanganku,
kulitku lebih cerah dari kulitnya.
pagi tadi, aku tak sempat menyapanya,
dia biasa shalat subuh di masjid dekat sekretariat YOUTHCARE,
nah pagi tadi aku entah kenapa,
tertidur,
padahal sudah aku niatkan untuk tidak tidur sampai subuh,
maklum mengisi training pengurus YOUTHCARE sampai pagi,
belum lagi mencari makanan sahur,
dan akhirnya aku selesai sahur dan 3 rakaat witir sampai setengah 4.
menunggu adzan,
aku baringkan tubuh,
dan ternyata barui terbangun setelah jam 5, astaghfirulloh,
alhamdulillah sih bisa jamaah dengan penghuni sekret YOUTHCARE.
kembali ke Katim,
dia anak belasan tahun yang mencoba mandiri,
nekat sih,
konflik orang tuanya,
juga lilitan kemiskinan membawanya kabur dari rumah,
beberapa hari ini dia gentayangan di pasar minggu,
kadang di larut malam,
dia menjual plastik,
kadang juga tak segan mengumpulkan sayuran yang terbuang dan memakannya,
pernah kutemui dia memakan kentang mentah.
pernah juga dia memakan wortel.
di kota, tapi primitif seperti di hutan,
lagi-lagi dialah Katim,
manusia yang terbuang,
terbuang dari kasih sayang orang tua,
terbuang dari lingkungan,
tereliminasi oleh kemiskinan yang kian menjerat.
ibunya sakit, tak bisa kerja selama dua tahun, biasanya mencuci baju tetangga.
sang ayah juga hanya menjadi pemulung,
kadang mengumpulkan sampah di komplek-komplek, kadang jualan rokok di jalanan.
sama dengan Katim,
namun katim memiliki kekurangan,
mentalnya lemah, gaya bicaranya parau, seringkali ketakutan saat disapa orang.
baru empat hari lalu aku memberanikan diri bertanya,
sambil memberikan sepotong roti bakar,
dia senang sekali,
dia bahkan bilang,
kalo dirinya pernah nunggu satu jam hanya untuk melihat sang pedagang roti bakar membakar rotinya,
dia ingin menikmati aromanya...itu saja.
Katim,
ba'da magrib tadi terlihat menungguku,
di depan masjid dekat sekret YOUTHCARE,
rupanya dia ingin pamit,
entah kemana aku tak tahu,
katanya dia dapat ilham untuk ke suatu tempat,
entahlah,
kadang kelaparan yang sangat emmbuat dia ngigau.
dua lembar uang aku berikan ke dia,
dia agak malu menerima,
meski akhirnya kupaksa,
sedikit air mata,
menetes dari pipinya yang dekil,
dia pergi...
dan aku tak bisa berbuat apa-apa
katim,
bagai ranting yang kering,
kini ia patah dan hilang,
aku berharap dia masih bernyawa,
untuk kemudian tumbuh menjadi batang yang kokoh,
bukankah negeri ini bisa menumbuhkan kayu yang dilempar?
ah, "tongkat dilempar jadi tanaman",
demikian bunyi lagunya,
aku masih ingat.
semoga saja
ba'da Isya,
sekret YOUTHCARE.
12 12 2011
Mokhamad Kusnan
Langganan:
Postingan (Atom)






